Rabu, 10 Juni 2009

Memandang Ke Depan

Filipi 3: 13
“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku”

Ibrani 12: 2-3
“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.”


Pertanyaan:
1. apa arti memandang?
2. apa arti ke depan?

Memandang: memandang memiliki arti harafiah mengarahkan padangan, mengarahkan mata untuk dapat melihat dan mengamati. Memandang tidak hanya berarti sesuatu yang dapat dilakukan oleh mata. Mata memang adalah jendela dunia. Dengan mata kita memperoleh banyak pengetahuan, pengalaman dan lain sebagainya. Tapi nampaknya bukan hanya mata yang mempu menjadi jendela dunia, karena pun orang yang memiliki mata belum tentu dapat melihat kebenaran. Mata adalah organ yang terbatas dan memiliki kelemahan.

Bagi Paulus menatap ke depan, bukan berati melihat apa yang ada di depan mata manusiawinya, namun apa yang berada di depan mata imannya. Yaitu rencana dan rancangan Allah baginya. Ketika ia berbicara tentang apa yang ada di depannya, bukan berarti ia sudah tahu dengan pasti dan jelas apa yang akan ia hadapi. Apa yang didepannya masih tampak buram bahkan tak nampak apapun, tapi itulah bukti dari keberimanannya kepada Allah. imannya-lah yang menuntun ia untuk dapat menatap apa yang ada di depan bukan hanya menatap masa lalu.

Baginya menatap ke depan juga bukan karena ia telah benar-benar menjadi manusia baru, telah benar-benar menjadi serupa dengan Allah, telah benar-benar mengenal Allah, dan telah sempurna. Ia tahu dengan pasti ketika ia tidak mampu melepaskan masa lalunya, maka masa lalu akan menjadi rantai yang menahannya untuk dapat maju. Ia sadar bahwa masa lalu dapat menjadi pusaran air yang menariknya hingga ia sungguh tenggelam dan akhirnya mati.
Apa masa lalu bagi kita?
- perasaan bersalah: gue berdosa
- perasaan tidak berharga: gue ga layak
- perasaan ditinggalkan: orang tua, sahabat, pacar gue meninggalkan gue
- perasaan dikhianati: gue dibohongin
- perasaan disakiti: gue dipukulin
- perasaan diremehkan: gue dibilang bodoh
- perasaan dilecehkan, dsb...

kita tidak akan dapat maju menjadi pelayan yang berfungsi secara utuh dengan terus digelayuti oleh masa lalu.
Tentunya menatap masa depan bukan sembarang masa depan. Masa depan yang ada di hadapan kita tetap terdiri dari berbagai jalan dan berbagai cara untuk melewatinya. Jadi, sebelum melangkah kita juga perlu menentukan dan memilih masa depan seperti apa yang kita harapkan dan impikan. Masa depan yang pasti, yang tidak pasti, yang mudah menggapainya atau yang sulit tergapai?
Bagaimana caranya?
1. Tentukan tujuan hidup! Kemana kita akan membawa hidup kita? Hidup yang berkemenangan atau hidup yang merana oleh berbagai masalah penghidupan?

Bila kita menginginkan hidup yang bekemenangan, maka carilah sosok yang mampu menunjukkan dan menuntun kita kepada kemenangan. Tentu ia haruslah menjadi orang yang tahu apa itu kemenangan, lebih dari itu ia sendiri harus juga telah merasakan kemenangan. Bagi Paulus, sosok itu adalah Yesus seorang. Kenapa?
1. karena hanya Yesus yang mampu membawanya kepada kesempurnaan iman.
2. karena hanya Yesus yang memberinya teladan untuk dapat tekun memikul salib.
3. karena hanya Yesus yang dapat memberikan sukacita yang sejati itu dalam dirinya.
4. karena hanya Yesus yang menjadikannya pribadi yang tekun
5. karena hanya Yesus yang membuatnya dapat menahan hinaan dan bantahan dari manusia
6. dan hanya Yesus yang membuatnya kuat, tidak lemah dan putus asa.

Bagi paulus tidak ada satupun manusia yang bisa melakukan apa yang Yesus lakukan baik sebagai manusia, maupun sebagai Allah. Ia adalah sosok yang dalam hidupnya mampu menunjukkan kesempurnaan total, tanpa cela sedikitpun.

Masa depan bukan hanya milik Allah semata, namun juga milik kita, kita yang memilih, menentukan kemana kita akan melangkah. Tuhan telah memberi kita jalan, Dia jugalah yang telah memberi kita teladan untuk dapat melakukan apa yang baik. Tapi ingat bahwa andil kita sangatlah besar dalam menentukan masa depan. Tuhan tidak akan mengubah nasib kita bila kita sendiri tidak mau mengubahnya. Itulah kehendak bebas!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar