Rabu, 21 Juli 2010

Bersama2 Memberitakan Keselamatan dan Membangun Kehidupan

Bersama2 Memberitakan Keselamatan dan Membangun Kehidupan
Kis 16:16-34
Maz 97
Why 22:12-14,16-17,20-21
Yoh 17:20-26

Tahukah saudara bahwa Tuhan memanggil saudara dan saya untuk memberitakan keselamatan bagi seluruh dunia? Pasti tahu yaaa.... dari Matius 28 saja kita sudah dapat mengetahui bahwa Tuhan ingin kita menyebarkan berita keselamatan itu hingga ke seluruh penjuru dunia. Apakah menurut saudara, kita dapat memberitakan keselamatan bila kita tidak tahu bagaimana sesungguhnya rasanya diselamatkan? Bila tidak, lalu bagaimana rasanya keselamatan itu? Bagaimana rasanya telah diselamatkan? Perubahan apa yang terjadi dalam hidup saudara, yang dapat membuktikan bahwa anda telah diselamatkan di hadapan orang lain? Apa jaminannya bahwa anda sudah benar2 diselamatkan? Bila kita tidak dapat menjawabnya, jangan-jangan saudara dan saya belum diselamatkan.

Namun kini pertanyaanya, keselamatan macam apa yang hendak saudara beritakan kepada dunia?Apakah keselamatan di akherat, dimana kita akan hidup selamanya di Sorga yang tidak mengenal ratap tangis, gertak gigi, kegelapan? Keselamatan dari hukuman dosa? Keselamatan di dunia berupa hidup berkecukupan, sejahtera, damai atau apa?


Keselamatan tidak hanya dapat diberitakan, namun terutama dan terlebih dahulu harus dialami. Karena keselamatan bukan hanya sekedar pengakuan atau syahadat yang diucapkan, namun suatu pengalaman iman yang harus dirasakan, dihayati, dan dibuktikan. Bila tidak, keselamatan hanyalah sebuah formalitas dari keberadaan agama. Dan bila keselamatan tidak menjadi sebuah pengalaman yang menghidupkan, kita tidak akan pernah mengerti apa itu hidup, untuk apa hidup dan mau dibawa kemana hidup ini. Maka membangun kehidupan adalah sesuatu yang mustahil kita lakukan. Apa yang hendak kita bangun, kehidupan macam apa bila kita tidak mengerti apa sesungguhnya hidup.

Memberitakan keselamatan tidak dapat dilepaskan dari membangun kehidupan yang lebih baik bagi diri kita dan orang lain di sekitar kita. Karena kehidupan adalah buah keselamatan. Nah, tentu hal yang perlu kita cari tahu adalah apa keselamatan menurut Yesus sendiri, Sang Pembawa Keselamatan.

Mengalami Keselamatan adalah:
1. Hidup dalam dan bersama Allah (Yoh 17:26) Hidup dalam Allah tidak semata-mata rajin beribadah ke gereja, rajin melayani, menjadi pengurus komisi, melayani lewat kepanitiaan, musik dan macam pelayanan yang ada. Hidup dalam Allah berarti hidup dalam kasih. Namun hidup dalam kasih juga lebih dari sekedar hidup dalam kerukunan, kedamaian, sukacita antara satu dengan yang lain, atau hidup dengan senantiasa memberi kepada orang lain. Lalu apa yang disebut dengan hidup dalam kasih?
• Hidup dalam kasih adalah hidup dalam kesabaran;
• dalam pemberian yang bijak;
• ketulusan dan bukan kecemburuan;
• kerendahan hati dan bukan kesombongan bahwa kita sudah melakukan, memberi ini dan itu;
• dalam kesopanan;
• dengan tidak mencari keuntungan bagi diri sendiri;
• dalam pengampunan bukan dendam; dalam keadilan ilahi bukan keadilan duniawi.

Sudahkah kita hidup demikian? Paulus sudah mengalami keselamatan itu. Dan keselamatan yang ia beritakan kepada jemaat mula2 menjadi kesalamatan yang dinyatakan tidak hanya lewat pengajarannya yang luar biasa, namun terutama pada perubahan hidupnya. Allah-lah ia menjadi manusia yang sabar menanggung penderitaan, ketika ia disesah karena mengusir roh tenung yang mengikat seorang perempuan dan membuat tuan si perempuan rugi besar. Allahlah yang membuatnya tetap dapat berdoa,menaikan puji2an bagi Allah walau dengan tangan dan kaki yang terpasung dalam penjara. Allahlah yang membuat Paulus tidak mencari keuntungan bagi diri sendiri dengan cara melarikan diri, ketika gemba bumi besar menggoyahkan sendi2 penjara, membuka pintu2 dan melepas belenggu2 mereka. Allahlah yang membuatnya mampu mengampui bahkan mengabarkan keselamatan bagi kepala penjara, dan bukan membiarkannya bunuh diri. Allahlah yang memampukan Paulus untuk tetap rendah hati dan mengaggungkan Allah kepada Sang Kepala Penjara dengan mengatakan “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu” dan bukan mencari celah bagi keselamatan dirinya sendiri.

2. Hidup menggunakan kesempatan yang Allah beri untuk menunjukkan kasih Allah, bukan menjadi ‘allah’ lain bagi orang lain (Yoh 17:23)Manusia yang sudah mengalami keselamatan akan menggunakan kesempatan apapun itu, baik sebagai pendeta, penatua, pelayan, orang tua, pengusaha, pegawai, pelajar untuk menjadikan hidup orang lain menjadi lebih hidup, bukan mengambil kesempatan hidup, menghambat jalan hidup, apalagi mematikan semangat hidup orang lain. Berapa banyak dari manusia yang lebih suka menjadi ‘allah’ bagi orang lain, menguasai orang lain baik dengan kuasa, materi, ilmu pengetahuan, dan pengalaman; Merasa paling tahu hingga yang lain menjadi paling tidak tahu apa2 dan menjadi pihak yang selalu diremehkan; Merasa sudah mahir, pintar, profesional hingga yang lain tidak diberikan kesempatan untuk berbuat apa2; Merasa punya kuasa dan uang hingga yang lain dapat diperintah, digunakan, diperdayakan (bukan diberdayakan), dibinasakan; Merasa paling pantas untuk menjadi pelayan, hingga dengan mudah menghakimi, menyalahkan, berkata kasar, tidak pantas dan tidak sopan kepada pelayan yang lain. Hasilnya...kita akan menjadi manusia yang arogan, yang tidak mampu membangun kehidupan, malah menjadi neraka bagi orang lain yang mengenal kita.

3. Memiliki kesadaran untuk hidup bersama (Yoh 17:21) bukan hanya karena bersama lebih baik dari sendiri, atau karena bersama kita bisa, tapi karena adanya kesadaran bahwa keselamatan yang Tuhan berikan bagi kita adalah keselamatan yang universal, keselamatan yang dianugerahkan bagi siapapun yang bersedia menerima dan memeliharanya, tanpa batas-batas berupa perbedaan dan keanekaragaman, apapun bentuknya itu. Keselamatan adalah milik dunia, milik saya, saudara, pemulung yang biasa menghampiri rumah saudara dan saya, penjual sayur yang biasa menawarkan bahan pokok dengan harga miring, Pak Satpam yang begitu rajinnya mengetok tiang listrik depan rumah anda setiap jamnya dari pukul 1 hingga pukul 5, saudara yang duduk di sebelah anda di kursi angkutan umum atau yang berdiri di depan anda ketika mengantri tiket bioskop.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar