Kamis, 07 Mei 2009

Mengasihi Dengan Rela Berkorban

Kis 4:5-12
Maz 23
1 yoh 3:16-24
Yoh 10: 11-18

Tujuan:
Anggota jemaat memiliki kepedulian kepada sesama yang mengalami penderitaan dan membutuhkan uluran kasih.

Pertanyaan;
1. apa arti mengasihi?
2. bagaimana cara Tuhan mengasihi umatNya?
3. bagaimana cara kita mengasihi?

Rela berkorban bukan hal yang mudah untuk dilakukan oleh sebagian besar masyarakat kota dewasa ini. Hidup yang semakin modern, dilengkapi oleh berbagai macam teknologi tinggi, menjadikan manusia semakin tidak perduli dengan sesamanya, lingkungan sekitarnya. Belum lagi tingkat kesibukan yang luar biasa, 24 jam sehari menjadi waktu yang sangat singkat untuk beraktivitas di tengah padatnya kota. Tuntutan hidup, pekerjaan, relasi dan komunitas harus dapat dipenuhi untuk tetap eksis di dalam geliat kehidupan kota. Boro-boro memikirkan kepentingan dan kebutuhan orang lain, kepentingan diri saja belum tentu dapat dipenuhi. Tidak mengherankan bila pada akhirnya, rela berkorban hanya menjadi materi pelajaran di sekolah yang hilang ditelan kesibukan dan kehidupan kota. Rela berkorban hanya bisa didengar dan dipelajari namun tidak untuk dilakukan.

Banyak pandangan mengapa manusia dewasa kini memilih untuk mementingkan dirinya daripada harus berkorban bagi orang lain. Ada yang berpendapat bahwa menjadi orang yang rela berkorban dewasa ini, sama dengan menjadi orang yang bodoh. Ia akan menjadi orang yang sering kali kehilangan kesempatan untuk meraih baik itu prestasi, materi, bahkan pasangan yang lebih baik, karena mengutamakan orang lain. Tidak ada manusia yang tidak menginginkan yang terbaik bagi dirinya sendiri bukan? Jadi, orang yang menyerahkan apa yang terbaik baginya kepada orang lain, atas nama rela berkorban, adalah orang yang bodoh.

Ada juga yang mengatakan, bahwa rela berkorban adalah tindakan yang merugikan diri sendiri. Ya, mungkin pandangan ini juga ada benarnya bila dilihat dari sudut pandang ekonomi. Dalam dunia ekonomi, segala hal harus mendatangkan keuntungan, baik bagi penjual maupun bagi pembeli. Menjual sesuatu yang tidak menghasilkan keuntungan sama dengan membuang waktu, tenaga dan dana. Seorang yang rela berkorban adalah seorang yang tidak mengutamakan keuntungan bagi diri sendiri, lebih dari itu, ia memikirkan apa yang menguntungkan bagi orang lain.

Semua pendapat itu memang ada benarnya. Menjadi orang yang rela berkorban adalah tantangan yang luar biasa berat, yang juga sering kali dianggap kebodohan bagi sebagian orang. Itulah juga pendapat orang tentang apa yang dilakukan Yesus, termasuk juga beberapa dari kita. Apa yang dilakukan Yesus dianggap suatu kebodohan bagi dunia. Ia dianggap mati untuk sesuatu yang sia-sia. Ia juga mempertahankan sesuatu yang tidak nyata, yang dianggap oleh dunia sebagai obsesi yang tidak kesampaian, kegilaan, dan lain sebagainya. Apakah itu juga makna kematian, dan kebangkitanNya bagi kita?

Kematian Yesus memang suatu kebodohan bagi dunia. Buat apa Yesus mati bagi manusia-manusia tidak tahu diuntung sseperti kita? Untuk apa Ia mati untuk manusia yang selalu memberontak, bahkan tidak mau mengakuiNya? Untuk apa Ia mati bagi manusia yang lebih suka menolak, memusuhi, menjadikan Ia kambing hitam, menyalahkanNYa? Untuk apa Ia susah-susah hidup di dunia yang membenciNYa? Pekerjaan yang sia-sia kah? Sungguhkah apa yang dilakukan Yesus hanyalah kesia-siaan belaka? YA. BAGI ORANG YANG TIDAK MENGERTI, YANG DIBATASI OLEH PANDANGAN DUNIA DAN BUKAN CARA PANDANG ALLAH.

Dunia tidak mengerti bahwa rela berkorban adalah wujud kasih yang paling nyata. Kasih tidak hanya diwujudkan lewat kata dan bahasa, lewat materi dan berlimpah harta benda. Kasih bukan mencari untung semata, bukan juga suatu kebodohan, kasih adalah memberikan yang terbaik yang dapat kita berikan, termasuk memberikan apa yang menurutnya paling berharga untuk dipertahankan. Kasih tidak menuntut, meminta balasan, Ia hanya ingin menyatakan apa yang ia rasakan kepada manusia.

Berbeda dengan cinta ala manusia, kasih tidak buta, kasih menunjukkan jalan yang benar dan yang terbaik untuk dilalui manusia. Hanya saja, Kasih Allah yang penuh dengan ketulusan itu telah dinodai oleh manusia dengan kesombongan, kepentingan diri, dan kepicikan. Hasilnya, bukan hanya manusia tidak lagi mampu memaknai kasih, bahkan menolak kasih itu. Bagi manusia, kasih hanyalah sebatas perasaan, yang sering kali menipu, menutup mata dan telinga. Bagi sebagian manusia pengorbanan diri bagi cinta hanya ada di dongeng dan legenda, namun tidak akan pernah ada di kehidupan nyata.

Saudara-saudara sekalian Yesus bukanlah tokoh rekaan, bukan legenda taupun dongeng. Apa yang dilakukanNya adalah sesuatu yang nyata. KasihNya itu yang membuat Dia menyerahkan diri untuk menjadi korban. Pertanyaannya adalah kasih seperti apa yang Ia miliki?

1. Kasih yang mau menyerahkan nyawa. apa dengan begitu kita harus mati? Harus menyerahkan nyawa bagi orang lain? Perbuatan bodoh apa lagi itu? Tidak seperti itu! Pun nyawa kita tidak akan bisa menggantikan nyawa orang lain. Seorang manusia tidak akan dapat menggantikan manusia lainnya. Tidak akan pernah bisa, dan tidak akan pernah sepadan. Menyerahkan nyawa dissini bukan semata-mata memberikan nyawa, tapi apakah kita memau memberikan yang paling berharga dari diri kita? Apa yang paling berharga bagi seorang manusia? Tidak lain adalah nyawanya, bukan hartanya, bukan kesehatannya, bukan anak atau orang tua, bukan juga suami atau isteri. Tapi nyawanya!!
2. Kasih yang diwujudnyatakan dengan perbuatan dan bukan hanya dengan perkataan. Berkata itu mudah bukan? Bagaimana dengan melakukan apa yang dikatakan? Banyak orang lebih mudah untuk berjanji daripada menepati janji itu. Lidah memang tidak bertulang. Sering kali kita mengatakan sesuatu berdasarkan emosi, nafsu dan hasrat tapi bukan dengan akal sehat. Namun bukan berarti mencintai hanya dapat dilakukan dengan akal sehat. Apa yang dilakukan Yesus dalam hidupNya bagi kita, sesungguhnya bukan sesuatu yang bisa diterima akal sehat. Yang pasti adalah: ketika Yesus mengatakan bahwa Ia mencintai kita, maka apa yang Ia katakan diwujudnyatakan melalui seluruh hidupNya, yaitu melakukan segala sesuatu yang benar menurut kehendak BapaNya, bukan semata-mata yang benar menurut pendapatNya.
3. Kasih yang didasarkan pada ketaatan kepada Tuhan dan bukan kepada nafsu. Apa yang membedakan manusia dengan binatang? Manusia dikuasai oleh akalnya sedang binatang pada nalurinya. Ketika seorang mengasihi manusia lain, sudah sepatutnya ia menggunakan bukan hanya emosi, dan naluri namun juga akal sehatnya. Realitanya: banyak manusia yang lebih dikuasai oleh nafsu dan nalurinya dibanding dengan akal sehatnya ketika ia mengasihi manusia yang lain. Ketika manusia sadar bahwa ia memiliki Tuhan, sebagai pemilik hidupnya, sudah sepatutnya ia memberi hidupnya bagi Tuhan dan bukan hanya untuk memenuhi nafsunya. Karena kasih kepada manusia seharusnya lahir dari kasih kepada Tuhan. Manusia dapat mengasihi orang lain, karena manusia terlebih dahulu mendapatkan kasih Allah. Oleh karena itu kasih kepada sesama juga harus dilandaskan dengan kasih Allah dan bukan kasih menurut dunia.

Mengasihi hingga berkorban diri tentunya bukan perkara mudah. Siapa manusia yang tidak memikirkan dirinya sendiri. Tapi Yesus telah menajdi teladan yang hidup bagi kita semua. Ia tidak hanya menajdi gembala yang baik, yang memberikan segala hal yang terbaik, namun juga memberikan apa yang dinggapnya sebagai sesuatu yang layak dipertahankan. Bila Dia yang Tuhan saja memberikan segalanya bagi kita yang sering kali membuatNya kecewa dan sedih. Bagaimana dengan kita? Mari kita belajar mengasihi dari hal kecil, berkorban dari hal kecil. Karena pengorbanan bukan dilihar dari berapa banyaknya yang kita berikan, namun seberapa kita berikan hati kita di dalam pengorbanan itu.
amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar