Allah peduli?
“Bagaimana mungkin Allah peduli terhadap mereka yang lemah dan tertindas? Buktinya yang lemah semakin lemah yang tertindas semakin tertindas. Lebih lagi di masa modern seperti ini kita masih semakin banyak menjumpai mereka yang lemah dan tertindas bukan? Lalu dimana Allah? Apakah Allah memang ada? Bila Ia memang ada mengapa Ia berpangku tangan? Mengapa Dia membiarkan banyak hal buruk terjadi pada manusia?”
Benarkah pernyataan di atas? Apakah anda setuju, bahwa Allah adalah Allah yang tidak peduli akan penderitaan manusia? Atau anda lebih setuju bahwa Allah membiarkan penderitaan ada dalam hidup manusia agar manusia lebih peka terhadap apa yang sedang dialami oleh dunia, alam, dan sesama manusia? Anda dapat setuju dapat juga tidak setuju dengan pernyataan di atas. Namun bagaimana Firman Tuhan melihat penderitaan, penindasan manusia?
Pertama-tama tentunya kita harus menggunakan cara pandang Allah terhadap segala sesuatu (selalu cara pandang Allah, dan bukan cara pandang kita). Mengapa? Karena kita tidak akan pernah dapat mendapatkan pengertian yang benar yang membawa kita pada pengaminan atas apa yang Tuhan perbuat dalam kehidupan manusia. Tuhan tidak pernah melihat penderitaan dan kelemahan sebagai suatu aib, suatu yang perlu dijauhi, bahkan sesuatu yang membuat manusia tidak bahagia. Sebaliknya Ia memberi nilai positif terhadap segala hal yang manusia anggap kesialan dan segala sesuatu yang tidak menyenangkan.
Apakah nilai positif yang dimaksud di sini? Ini tentang kelimpahan! Bagi Allah kelimpahan bukanlah kekayaan, kelimpahan bukan juga kekuasan dan hormat, kelimpahan juga bukan bagaimana kita dapat memenuhi kebutuhan anak cucu kita hingga 7 turunan sekalipun. Tapi kelimpahan adalah soal sikap hati manusia. Kelimpahan tidak akan pernah dapat dinikmati oleh manusia bila manusia memiliki sikap hati yang salah.. Ia tidak akan pernah merasa cukup dalam hidup. Ia akan selalu merasa kurang dan kurang, kurang ini, kurang itu, suami saya kurang begini, isteri saya kurang begitu, anak anak saya kurang sekali dalam hal ini, orang tua saya apalagi....Hasilnya? Mengeluh! Walau hidup yang sedang dijalani sesungguhnya jauh dari yang namanya menderita, lemah dan tertindas. Karena kita tertindas oleh keinginan, cara pandang dan keangkuhan kita sendiri. Hasil terakhir kita akan merasa Allah tidak peduli terhadap hidup kita. Kita akan menyalahkan Allah yang dirasa berpangku tangan terhadap semua persoalan hidup yang kita alami.
Jadi bagaimana seharusnya? Imani Allah tidak akan pernah meninggalkan umatNya sedetikpun, segala sesuatu yang Allah izinkan terjadi dalam hidup manusia adalah untuk kebaikkan manusia itu sendiri dan bukan untuk kesenangan apalagi kepuasanNya. Dia bukan Allah macam itu. Dan tentunya milikilah sikap hati yang benar, dengan menggunakan kacamata Allah dalam melihat segala sesuatu. Maka dengan demikian anda kan melihat bahwa Allah begitu peduli akan hidup anda!
Jumat, 28 Januari 2011
Selasa, 25 Januari 2011
Dapatkah Keselamatan Dibatalkan?
Dapatkah Keselamatan Dibatalkan?
Yohanes 10 : 28, Fil 2: 12
Tujuan dan Sasaran :
Membukakan kepada jemaat pemuda apa artinya bahwa keselamatan itu adalah pekerjaan Allah, menjelaskan juga apakah mungkin orang yang sudah diselamatkan oleh Yesus dapat meninggalkan imannya (murtad) dan juga menjelaskan apa arti bahwa keselamatan itu bersifat tetap dan permanen dalam Yohanes 10: 28
Jemaat Pemuda mengerti konsekwensi logis dari keselamatan, yaitu iman yang menghasilkan perbuatan. Karena iman tanpa perbuatan adalah mati.
Jemaat Pemuda didorong untuk memaknai dan terus mengerjakan keselamatan yang telah diterimanya.
Bila saya bertanya kepada saudara apakah keselamatan kita dapat dibatalkan ? Apa jawaban saudara DAN kenapa? Bila anda tidak dapat menjadwab pertanyaan ini maka saya ajukan pertanyaan yang paling mendasar: Apakah saudara dan saya sudah diselamatkan? Bila sudah apa buktinya? Apakah itu secarik surat baptis, surat pernyataan sidi, kartu keanggotaan gereja, atau KTP yang menyatakan bahwa kita adalah orang Kristen? Keselamatan itu bukan soal akhirat loh. Bukan juga soal masuk sorga atau masuk neraka. Keselamatan yang sejati langsung diterima, dirasakan dan dialami oleh sang penerima keselamatan. Nggak nunggu sampe Tuhan memanggil kembali ke pangkuannya. Kalo kita belum dapat menjelaskan paling tidak menceritakan bagaimana rasanya keselamatan itu jangan-jangan kita belum selamat loh! Waaahhhh...serius? Ya. Karena keselamatan adalah hal yang serius dalam kekristenan maka cara memperlakukannya juga harus serius. Ingat bahwa keselamatan kita memang diberikan Tuhan dengan Cuma-Cuma, tapi itu tidak membuatnya jadi murahan! Nah, Kalo kita tidak dapat mendefinisikan apa itu keselamatan paling tidak kita harus tahu apa saja tanda-tandanya dan syaratnya
Apa sih syarat keselamatan kita?
Ef 2:8 mengatakan: Keselamatan merupakan ANUGERAH. Apa artinya? Artinya keselamatan kita diawali oleh sebuah pemberian Allah sendiri, bukan karena kita memohon keselamatan. (nggak mungkin, manusia terlalu sombong untuk memohon keselamatan kepada Allah)
Namun anugerah yang Cuma-Cuma itu tidak dapat berlaku tanpa adanya confirmasi dari setiap kita. Mengapa? Karena Allah tidak pernah memaksakan keselamatanNya. Ia ingin kita dengan rela dan yakin menyambut keselamatan tersebut. Oleh karena itu 2 Tim 3:15 mengatakan syarat keselamatan yaitu: IMAN KEPADA KRISTUS YESUS.Iman adalah respon manusia terhadap kasih anugerah Allah. Kini, aspek apa yang utama dalam beriman? Yups, benar sekali PERCAYA.
Tentunya orang beriman dan percaya memiliki tanda-tanda (bukti yang dapat diaminkan oleh orang lain bahwa memang kita telah diselamatkan) yang berbeda dengan mereka yang tidak beriman dan tidak percaya kepada Yesus. Kalau kita tidak dapat menunjukkaan tanda-tanda atau bukti bahwa kita memang sudah diselamatkan bagaimana kita dapat membawa orang lain pada keselamatan? Nah, Kini apa tandanya? Apa buktinya.
Efesus 4:23-24 dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan hidup sebagai manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Apa artinya? Kita punya cara hidup yang baru,(kalo dulu hidup dalam percabulan sekarang hidup dalam persekutuan, kalau dulu hidup mencari eksistensi sekarang mencari jiwa, kalo hidup untuk diri sendiri, untuk mengejar kehendak dan cita-cita diri sekarang untuk mengejar dan melakukan kehendak Tuhan) cara pikir (kalo dulu liat cewek pikirannya jorok mulu, sekarang liat cewek pikirannya gimana caranya saya bisa bawa ke Tuhan, kalo dulu liat orang baru pikirannya nekting mulu, kalo sekarang liat orang baru diajak pelayanan)dengan motivasi baru yang lahir dari Roh Allah (kalo dulu melayani karena popularitas,sekarang melayani karena membalas kebaikkan Tuhan, kalo dulu melayani karena ikut pacar, sekarang pelayanan melayani sang pacar) yaitu hidup dalam kehendak, kebenaran dan kekudusan standar Allah. Dan tanda-tanda ini tidak hanya kita yang merasakannya. Tapi orang orang lain yang ada di sekitar kita juga merasakannya. Kenapa? Karena memang keselamatan kita bukanlah keselamatan pribadi tapi keselamatan komunal. Semua orang boleh dan bahkan harus merasakan keselamatan yang kita miliki.
Nahhhh, kalo dah tau tanda tandanya, sekarang cek ada nggak itu tanda tanda pada diri kita. Kalo nggak ada tanda-tanda tersebut jangan heran kita suka ragu kalo ditanya kita ini sudah selamat belum. Kalo kita sendiri ragu gimana orang lain. Bisa bisa orang lain mengklaim keselamatan kita dibatalkan sama Tuhan!
Sekarang, sebenarnya keselamatan kita bisa dibatalkan tidak sih? Yoh 10:28 mengatakan: dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Wahhhh...jangan seneng dulu. Mari kita lihat ayat2 sebelumnya, karena ayat dalam Alkitab ini tidak dapat berdiri sendiri kalau tidak bisa kacau dunia. Lihat ayat 25-27.
25 Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku. Coba perhatikan perkataan Yesus dengan seksama. kata kunci pertama dari ucapan Yesus kali ini adalah percaya. Oh saya sudah percaya kok!! Makanya saya memeluk agama Kristen. Ingat loh percaya bukan sekedar hitam di atas putih. Percaya adalah sebagian kecil dari mempercayakan diri kepada Allah. Dan mempercayakan diri artinya memberi hidup untuk diatur masa depannya, diperintah hidupnya, diutus kemanapun, kapanpun bagi siapapun, singkatnya mempercayakan diri adalah bagian dari pemberian hak kita kepada Tuhan. Memang Tuhan telah memegang hak hidup kita sebagai ciptaanNya, namun hak yang lain biasanya dimonopoli oleh kita sendiri. Dari hak mencari sekolah, pekerjaan, pasangan hidup, cara memperlakukan pasangan, memperlakukan sahabat, teman, musuh , anak-anak, orang tua. Coba perhatikan berapa banyak hak yang kita monopoli sendiri dan tidak membiarkan Tuhan ikut serta di dalamnya ?
26-27 tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku. Apa kata kunci kita kali ini? Mendengarkan suara-Ku, mengenal dan mengikut. Mendengar disini menggunakan kata akouo yang arti harafiahnya adalah mendengar dengan seksama, hingga sungguh sadar apa yang telah dikatakan, memberi telinga untuk mendengar pengajaran, mengerti dan memahami dengan benar. Alias nggak asal dengar, atau pura-pura dengar, apalagi kayanya dengar. Mengenal menggunakan kata ginoskow, yang artinya mengetahui, mencari tahu, mengenal secara dalam (sexual intercourse). Bukan hanya tau, bukan asal kenal, bukan juga asal tahu. Tapi layaknya suami mengenal isterinya dan sebaliknya. Tentunya mengenal yang seperti ini akan melahirkan suatu hubungan yang intim, karena kita sungguh2 bergaul dengan Tuhan. Mengikut (akoloutheo) yang bukan hanya berjalan dibelakang tapi menyertai, disertai, menjadi murid.
Dan bagi Domba-dombaNya tersedia hidup kekal selama-lamanya yang tidak terampas oleh siapapun.
Kini, sudahkah kita jadi dombaNya?
Yohanes 10 : 28, Fil 2: 12
Tujuan dan Sasaran :
Membukakan kepada jemaat pemuda apa artinya bahwa keselamatan itu adalah pekerjaan Allah, menjelaskan juga apakah mungkin orang yang sudah diselamatkan oleh Yesus dapat meninggalkan imannya (murtad) dan juga menjelaskan apa arti bahwa keselamatan itu bersifat tetap dan permanen dalam Yohanes 10: 28
Jemaat Pemuda mengerti konsekwensi logis dari keselamatan, yaitu iman yang menghasilkan perbuatan. Karena iman tanpa perbuatan adalah mati.
Jemaat Pemuda didorong untuk memaknai dan terus mengerjakan keselamatan yang telah diterimanya.
Bila saya bertanya kepada saudara apakah keselamatan kita dapat dibatalkan ? Apa jawaban saudara DAN kenapa? Bila anda tidak dapat menjadwab pertanyaan ini maka saya ajukan pertanyaan yang paling mendasar: Apakah saudara dan saya sudah diselamatkan? Bila sudah apa buktinya? Apakah itu secarik surat baptis, surat pernyataan sidi, kartu keanggotaan gereja, atau KTP yang menyatakan bahwa kita adalah orang Kristen? Keselamatan itu bukan soal akhirat loh. Bukan juga soal masuk sorga atau masuk neraka. Keselamatan yang sejati langsung diterima, dirasakan dan dialami oleh sang penerima keselamatan. Nggak nunggu sampe Tuhan memanggil kembali ke pangkuannya. Kalo kita belum dapat menjelaskan paling tidak menceritakan bagaimana rasanya keselamatan itu jangan-jangan kita belum selamat loh! Waaahhhh...serius? Ya. Karena keselamatan adalah hal yang serius dalam kekristenan maka cara memperlakukannya juga harus serius. Ingat bahwa keselamatan kita memang diberikan Tuhan dengan Cuma-Cuma, tapi itu tidak membuatnya jadi murahan! Nah, Kalo kita tidak dapat mendefinisikan apa itu keselamatan paling tidak kita harus tahu apa saja tanda-tandanya dan syaratnya
Apa sih syarat keselamatan kita?
Ef 2:8 mengatakan: Keselamatan merupakan ANUGERAH. Apa artinya? Artinya keselamatan kita diawali oleh sebuah pemberian Allah sendiri, bukan karena kita memohon keselamatan. (nggak mungkin, manusia terlalu sombong untuk memohon keselamatan kepada Allah)
Namun anugerah yang Cuma-Cuma itu tidak dapat berlaku tanpa adanya confirmasi dari setiap kita. Mengapa? Karena Allah tidak pernah memaksakan keselamatanNya. Ia ingin kita dengan rela dan yakin menyambut keselamatan tersebut. Oleh karena itu 2 Tim 3:15 mengatakan syarat keselamatan yaitu: IMAN KEPADA KRISTUS YESUS.Iman adalah respon manusia terhadap kasih anugerah Allah. Kini, aspek apa yang utama dalam beriman? Yups, benar sekali PERCAYA.
Tentunya orang beriman dan percaya memiliki tanda-tanda (bukti yang dapat diaminkan oleh orang lain bahwa memang kita telah diselamatkan) yang berbeda dengan mereka yang tidak beriman dan tidak percaya kepada Yesus. Kalau kita tidak dapat menunjukkaan tanda-tanda atau bukti bahwa kita memang sudah diselamatkan bagaimana kita dapat membawa orang lain pada keselamatan? Nah, Kini apa tandanya? Apa buktinya.
Efesus 4:23-24 dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan hidup sebagai manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Apa artinya? Kita punya cara hidup yang baru,(kalo dulu hidup dalam percabulan sekarang hidup dalam persekutuan, kalau dulu hidup mencari eksistensi sekarang mencari jiwa, kalo hidup untuk diri sendiri, untuk mengejar kehendak dan cita-cita diri sekarang untuk mengejar dan melakukan kehendak Tuhan) cara pikir (kalo dulu liat cewek pikirannya jorok mulu, sekarang liat cewek pikirannya gimana caranya saya bisa bawa ke Tuhan, kalo dulu liat orang baru pikirannya nekting mulu, kalo sekarang liat orang baru diajak pelayanan)dengan motivasi baru yang lahir dari Roh Allah (kalo dulu melayani karena popularitas,sekarang melayani karena membalas kebaikkan Tuhan, kalo dulu melayani karena ikut pacar, sekarang pelayanan melayani sang pacar) yaitu hidup dalam kehendak, kebenaran dan kekudusan standar Allah. Dan tanda-tanda ini tidak hanya kita yang merasakannya. Tapi orang orang lain yang ada di sekitar kita juga merasakannya. Kenapa? Karena memang keselamatan kita bukanlah keselamatan pribadi tapi keselamatan komunal. Semua orang boleh dan bahkan harus merasakan keselamatan yang kita miliki.
Nahhhh, kalo dah tau tanda tandanya, sekarang cek ada nggak itu tanda tanda pada diri kita. Kalo nggak ada tanda-tanda tersebut jangan heran kita suka ragu kalo ditanya kita ini sudah selamat belum. Kalo kita sendiri ragu gimana orang lain. Bisa bisa orang lain mengklaim keselamatan kita dibatalkan sama Tuhan!
Sekarang, sebenarnya keselamatan kita bisa dibatalkan tidak sih? Yoh 10:28 mengatakan: dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Wahhhh...jangan seneng dulu. Mari kita lihat ayat2 sebelumnya, karena ayat dalam Alkitab ini tidak dapat berdiri sendiri kalau tidak bisa kacau dunia. Lihat ayat 25-27.
25 Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku. Coba perhatikan perkataan Yesus dengan seksama. kata kunci pertama dari ucapan Yesus kali ini adalah percaya. Oh saya sudah percaya kok!! Makanya saya memeluk agama Kristen. Ingat loh percaya bukan sekedar hitam di atas putih. Percaya adalah sebagian kecil dari mempercayakan diri kepada Allah. Dan mempercayakan diri artinya memberi hidup untuk diatur masa depannya, diperintah hidupnya, diutus kemanapun, kapanpun bagi siapapun, singkatnya mempercayakan diri adalah bagian dari pemberian hak kita kepada Tuhan. Memang Tuhan telah memegang hak hidup kita sebagai ciptaanNya, namun hak yang lain biasanya dimonopoli oleh kita sendiri. Dari hak mencari sekolah, pekerjaan, pasangan hidup, cara memperlakukan pasangan, memperlakukan sahabat, teman, musuh , anak-anak, orang tua. Coba perhatikan berapa banyak hak yang kita monopoli sendiri dan tidak membiarkan Tuhan ikut serta di dalamnya ?
26-27 tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku. Apa kata kunci kita kali ini? Mendengarkan suara-Ku, mengenal dan mengikut. Mendengar disini menggunakan kata akouo yang arti harafiahnya adalah mendengar dengan seksama, hingga sungguh sadar apa yang telah dikatakan, memberi telinga untuk mendengar pengajaran, mengerti dan memahami dengan benar. Alias nggak asal dengar, atau pura-pura dengar, apalagi kayanya dengar. Mengenal menggunakan kata ginoskow, yang artinya mengetahui, mencari tahu, mengenal secara dalam (sexual intercourse). Bukan hanya tau, bukan asal kenal, bukan juga asal tahu. Tapi layaknya suami mengenal isterinya dan sebaliknya. Tentunya mengenal yang seperti ini akan melahirkan suatu hubungan yang intim, karena kita sungguh2 bergaul dengan Tuhan. Mengikut (akoloutheo) yang bukan hanya berjalan dibelakang tapi menyertai, disertai, menjadi murid.
Dan bagi Domba-dombaNya tersedia hidup kekal selama-lamanya yang tidak terampas oleh siapapun.
Kini, sudahkah kita jadi dombaNya?
Merasa Benar di Jalan Yang Salah
Merasa Benar di Jalan Yang Salah
Yoh 14:6
1 Yoh 4:1
Roma 12:2
“Teologi abu-abu” pernah mendengarnya? Ya itu judul sebuah buku yang ditulis oleh seorang hamba Tuhan yang berpendapat bahwa Teologi Abu-abu adalah posisi theologi kaum pluralis. Karena teologi yang mereka bangun merupakan integrasi dari pelbagai warna kebenaran dari semua agama, filsafat dan budaya yang ada di dunia. Alkitab dipakai hanya sebagai salah satu sumber, itupun dianggap sebagai mitos. Dari perpaduan multi kebenaran ini, lahirlah theologi abu-abu, yaitu teologi bukan hitam, bukan juga putih, bukan teologi Kristen, bukan juga theologi salah satu agama yang ada di dunia ini. Inilah teologi abu-abu yang dengan bangga ditawarkan oleh kaum pluralis, sebagai teologi yang sempurna dan sangat tepat untuk menjawab persoalan fenomena pluralitas agama dan budaya di dunia. Menurutnya,teologi ini sedang meracuni, baik agama Kristen, maupun semua agama, dengan cara mencabut dan membuang semua unsur-unsur absolut yang diklaim oleh masing-masing agama. Dia berpendapat bahwa kaum pluralis sedang bermimpi untuk mengulangi keindahan taman Eden, dan membangun kembali menara Babel (Utopia).
Kini, kita juga tidak dapat memungkiri kita hidup dalam dunia yang abu-abu, yang memutarbalikan yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Kita hidup dalam dunia yang nyaris dan bahkan telah membuat kita bertindak, berpikir seperti dunia bertindak dan berpikir. Yang baik jadi jahat, yang jahat jadi baik; yang normal jadi tidak normal dan begitu juga sebaliknya. Akhirnya membuat kita merasa benar di jalan yang salah. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?
HIDUP DALAM DUNIA MEMBUAT KITA BIASA HIDUP DENGAN CARA DUNIA. Hidup dalam dunia tanpa dipengaruhi dunia sangatlah sulit, karena untuk menjadi warga dunia kita juga harus memiliki kriteria yang tepat hingga kita dapat di terima oleh dunia. Misalnya: kita tidak akan menggunakan daster saat kita pergi ke kantor, atau menggunakan kaus singlet ketika kita memimpin rapat di perusahaan kita. Kita tidak makan batu atau biji-bijian, karena itu adalah makanan burung dan ayam bukan manusia. Apa yang terjadi bila kita melakukannya? Kita akan dianggap makhluk aneh, tidak biasa! Bahkan mungkin kita akan menjadi tikus percobaan oleh Ilmu pengetahuan.
Kuncinya adalah BIASA. Dunia berkata MENYONTEK, MENYUAP, MENYOGOK, itu biasa. Maka kita akan berlaku seperti apa yang biasa dunia lakukan. Sehingga kita dengan mudah mengatakan “Semua orang melakukannya kok! Kenapa saya tidak boleh.” Ingat bagaimana perasaan anda ketika anda pertama kali mencontek? TAKUT. Jawaban yang sama juga saya peroleh ketika saya bertanya kepada seorang gadis belia tentang perasaannya pertama kali melakukan hubungan seks di luar nikah. Takut! Tapi bagaimana perasaannya setelah dua, tiga, sepuluh bahkan lebih? Jawabannya adalah BIASA.
Orang-orang yang biasa akan jadi terbiasa. Orang orang yang terbiasa akan menjadikan dirinya tajam pada satu sisi dan tumpul pada bagian yang lain. Tapi bukankah pisau yang baik harus memiliki syarat seperti itu, tajam di satu sisi dan tumpul di sisi yang lain? Memamg benar, tapi bagaimana bila tajam dan tumpul di sisi yang salah? Dapatkah ia menjadi pisau yang baik? Atau dia hanya akan melukai dirinya sendiri. Begitulah orang-orang yang terbiasa dengan dosa. Perlahan tapi pasti ia akan menggiring dirinya kepada kematian.
Untungnya kita bukan hanya menjadi warga dunia, tapi kita dipilih dan dipanggil untuk menjadi warga kerajaan Allah. Apa dampaknya? Kita diperhadapkan dengan kriteria menjadi warga kerajaan Allah yang sama sekali berbeda dengan Kriteria yang diharapkan dunia, bahkan kriteria yang saling berlawanan satu dengan yang lain. Kini tugas kita adalah memilih! Kita akan ada di dalam dunia, tapi tidak serupa dengan dunia. Bagaimana? Apakah saya tidak disebut orang aneh nantinya?
1. Roma 12:2 “...berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Kata kunci yang pertama adalah berubahlah. Paulus menggunakan istilah Methaphor yang artinya adalah perubahan dari bentuk satu ke bentuk yang lain, namun Metafor adalah perubahan yang sama sekali berbeda dengan sekedar bentuk seperti air menjadi uap, es, atau sebaliknya. Adakah seekor kupu-kupu dapat berubah kembali ke bentuk ulat? TIDAK. Ya! Itulah perubahan yang dimaksud oleh Paulus. Perubahan yang benar2 berubah bukan karena tempat, situasi, dan kondisi. Perubahan yang 180 bukan 360 derajat. Kata kunci ke dua adalah oleh pembaharuan budimu. Paulus menggunakan kata nous yang berarti pikiran atau mind. Tahukah anda betapa bahayanya sebuah pikiran? Dari pikiran timbullah berbagai rancangan jahat. Oleh karena itu Paulus dalam 2 KOR 10:5, mengingatkan bahwa pikiran kita harus ditundukkan di dalam Kristus. Agar apa? Agar Kristus yang memegang kendali atas pikiran kita dan bukan diri kita sendiri atau iblis. Ketika Kristus sudah benar-benar menguasai pikiran kita, maka apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna menjadi pilihan kita. Lebih dari itu, ketika kita memilih apa yang salah, maka Dia sendiri yang akan menolong kita keluar dari pilihan tersebut dan kembali kepada pilihan yang tepat. Jadi berubalah oleh pembaharuan budimu artinya berubahlah dan engkau pasti berubah bila engkau telah dibaharui Kristus.
2. 1 Yoh 4:1 Ujilah tiap roh. Ujilah tiap perkataan. Ujilah tiap tindakan. Ujilah tiap pilihan...karena tidak semua perkataan, tindakan, pilihan, roh berasal dari Allah sendiri, tapi dari Nabi-nabi palsu yang pergi ke penjuru dunia. Apa tandanya anda menjawab soal ulangan dengan benar semua? Hasilnya bukan? 100, sempurna. Nah, kini Apa tandanya bahwa perkataan, tindakan, pilihan anda tepat atau benar di mata Tuhan? Hasilnya juga bukan? Hasil yang membuat diri kita dan orang lain lebih baik, lebih berkualitas, lebih meningkat dalam kasihnya, imannya, pengharapannya kepada Tuhan dan bukan kepada yang lain. Gimana caranya? Lihat buahnya!!! Kalo pohon kita adalah pohon yang baik, maka buahnya juga baik! Tapi bila pohon kita adalah pohon yang buruk maka buahnya buruk! Kini, lihat, rasakan, renungkan: apakah yang kita perbuat itu adalah sesuatu yang mendatangkan sukacita, damai, kasih, pengendalian diri...dkk (Gal 5:22)
3. Yoh 14:6. “Mengubah Tuan hidup kita dari diri kita sendiri kepada Tuhan susah...menguji tiap roh juga susah, ga bisa deh!” terlalu ambigu, terlalu rohani, susah untuk direalisasi. Yakin susah? Susah sih iyaa... tapi kalo mau ngak ada yang susah!! Yesus sudah membuktikannya dengan hidupnya. Maka dekat-dekatlah dengan Dia, bergaullah dengan Dia, teladanilah hidupNya, bacalah kesaksian hidupNya. maka tidak ada pilihan yang salah pilih lagi, tidak ada merasa benar di jalan yang salah. Kenapa karena Yesus sudah jadi cermin kita! Anytime, kita bis belajar dan bercermin pada kehidupan Yesus. Gelang WWJD, jangan Cuma dijadikan fashion!! Karena itu pengingat kita sebelum bertindak! Apa yang Yesus lakukan bila Ia berada dalam keadaan seperti saya? Belajar dariNya maka hidupmu akan menuju kepada keselamatan.
Yoh 14:6
1 Yoh 4:1
Roma 12:2
“Teologi abu-abu” pernah mendengarnya? Ya itu judul sebuah buku yang ditulis oleh seorang hamba Tuhan yang berpendapat bahwa Teologi Abu-abu adalah posisi theologi kaum pluralis. Karena teologi yang mereka bangun merupakan integrasi dari pelbagai warna kebenaran dari semua agama, filsafat dan budaya yang ada di dunia. Alkitab dipakai hanya sebagai salah satu sumber, itupun dianggap sebagai mitos. Dari perpaduan multi kebenaran ini, lahirlah theologi abu-abu, yaitu teologi bukan hitam, bukan juga putih, bukan teologi Kristen, bukan juga theologi salah satu agama yang ada di dunia ini. Inilah teologi abu-abu yang dengan bangga ditawarkan oleh kaum pluralis, sebagai teologi yang sempurna dan sangat tepat untuk menjawab persoalan fenomena pluralitas agama dan budaya di dunia. Menurutnya,teologi ini sedang meracuni, baik agama Kristen, maupun semua agama, dengan cara mencabut dan membuang semua unsur-unsur absolut yang diklaim oleh masing-masing agama. Dia berpendapat bahwa kaum pluralis sedang bermimpi untuk mengulangi keindahan taman Eden, dan membangun kembali menara Babel (Utopia).
Kini, kita juga tidak dapat memungkiri kita hidup dalam dunia yang abu-abu, yang memutarbalikan yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Kita hidup dalam dunia yang nyaris dan bahkan telah membuat kita bertindak, berpikir seperti dunia bertindak dan berpikir. Yang baik jadi jahat, yang jahat jadi baik; yang normal jadi tidak normal dan begitu juga sebaliknya. Akhirnya membuat kita merasa benar di jalan yang salah. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?
HIDUP DALAM DUNIA MEMBUAT KITA BIASA HIDUP DENGAN CARA DUNIA. Hidup dalam dunia tanpa dipengaruhi dunia sangatlah sulit, karena untuk menjadi warga dunia kita juga harus memiliki kriteria yang tepat hingga kita dapat di terima oleh dunia. Misalnya: kita tidak akan menggunakan daster saat kita pergi ke kantor, atau menggunakan kaus singlet ketika kita memimpin rapat di perusahaan kita. Kita tidak makan batu atau biji-bijian, karena itu adalah makanan burung dan ayam bukan manusia. Apa yang terjadi bila kita melakukannya? Kita akan dianggap makhluk aneh, tidak biasa! Bahkan mungkin kita akan menjadi tikus percobaan oleh Ilmu pengetahuan.
Kuncinya adalah BIASA. Dunia berkata MENYONTEK, MENYUAP, MENYOGOK, itu biasa. Maka kita akan berlaku seperti apa yang biasa dunia lakukan. Sehingga kita dengan mudah mengatakan “Semua orang melakukannya kok! Kenapa saya tidak boleh.” Ingat bagaimana perasaan anda ketika anda pertama kali mencontek? TAKUT. Jawaban yang sama juga saya peroleh ketika saya bertanya kepada seorang gadis belia tentang perasaannya pertama kali melakukan hubungan seks di luar nikah. Takut! Tapi bagaimana perasaannya setelah dua, tiga, sepuluh bahkan lebih? Jawabannya adalah BIASA.
Orang-orang yang biasa akan jadi terbiasa. Orang orang yang terbiasa akan menjadikan dirinya tajam pada satu sisi dan tumpul pada bagian yang lain. Tapi bukankah pisau yang baik harus memiliki syarat seperti itu, tajam di satu sisi dan tumpul di sisi yang lain? Memamg benar, tapi bagaimana bila tajam dan tumpul di sisi yang salah? Dapatkah ia menjadi pisau yang baik? Atau dia hanya akan melukai dirinya sendiri. Begitulah orang-orang yang terbiasa dengan dosa. Perlahan tapi pasti ia akan menggiring dirinya kepada kematian.
Untungnya kita bukan hanya menjadi warga dunia, tapi kita dipilih dan dipanggil untuk menjadi warga kerajaan Allah. Apa dampaknya? Kita diperhadapkan dengan kriteria menjadi warga kerajaan Allah yang sama sekali berbeda dengan Kriteria yang diharapkan dunia, bahkan kriteria yang saling berlawanan satu dengan yang lain. Kini tugas kita adalah memilih! Kita akan ada di dalam dunia, tapi tidak serupa dengan dunia. Bagaimana? Apakah saya tidak disebut orang aneh nantinya?
1. Roma 12:2 “...berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Kata kunci yang pertama adalah berubahlah. Paulus menggunakan istilah Methaphor yang artinya adalah perubahan dari bentuk satu ke bentuk yang lain, namun Metafor adalah perubahan yang sama sekali berbeda dengan sekedar bentuk seperti air menjadi uap, es, atau sebaliknya. Adakah seekor kupu-kupu dapat berubah kembali ke bentuk ulat? TIDAK. Ya! Itulah perubahan yang dimaksud oleh Paulus. Perubahan yang benar2 berubah bukan karena tempat, situasi, dan kondisi. Perubahan yang 180 bukan 360 derajat. Kata kunci ke dua adalah oleh pembaharuan budimu. Paulus menggunakan kata nous yang berarti pikiran atau mind. Tahukah anda betapa bahayanya sebuah pikiran? Dari pikiran timbullah berbagai rancangan jahat. Oleh karena itu Paulus dalam 2 KOR 10:5, mengingatkan bahwa pikiran kita harus ditundukkan di dalam Kristus. Agar apa? Agar Kristus yang memegang kendali atas pikiran kita dan bukan diri kita sendiri atau iblis. Ketika Kristus sudah benar-benar menguasai pikiran kita, maka apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna menjadi pilihan kita. Lebih dari itu, ketika kita memilih apa yang salah, maka Dia sendiri yang akan menolong kita keluar dari pilihan tersebut dan kembali kepada pilihan yang tepat. Jadi berubalah oleh pembaharuan budimu artinya berubahlah dan engkau pasti berubah bila engkau telah dibaharui Kristus.
2. 1 Yoh 4:1 Ujilah tiap roh. Ujilah tiap perkataan. Ujilah tiap tindakan. Ujilah tiap pilihan...karena tidak semua perkataan, tindakan, pilihan, roh berasal dari Allah sendiri, tapi dari Nabi-nabi palsu yang pergi ke penjuru dunia. Apa tandanya anda menjawab soal ulangan dengan benar semua? Hasilnya bukan? 100, sempurna. Nah, kini Apa tandanya bahwa perkataan, tindakan, pilihan anda tepat atau benar di mata Tuhan? Hasilnya juga bukan? Hasil yang membuat diri kita dan orang lain lebih baik, lebih berkualitas, lebih meningkat dalam kasihnya, imannya, pengharapannya kepada Tuhan dan bukan kepada yang lain. Gimana caranya? Lihat buahnya!!! Kalo pohon kita adalah pohon yang baik, maka buahnya juga baik! Tapi bila pohon kita adalah pohon yang buruk maka buahnya buruk! Kini, lihat, rasakan, renungkan: apakah yang kita perbuat itu adalah sesuatu yang mendatangkan sukacita, damai, kasih, pengendalian diri...dkk (Gal 5:22)
3. Yoh 14:6. “Mengubah Tuan hidup kita dari diri kita sendiri kepada Tuhan susah...menguji tiap roh juga susah, ga bisa deh!” terlalu ambigu, terlalu rohani, susah untuk direalisasi. Yakin susah? Susah sih iyaa... tapi kalo mau ngak ada yang susah!! Yesus sudah membuktikannya dengan hidupnya. Maka dekat-dekatlah dengan Dia, bergaullah dengan Dia, teladanilah hidupNya, bacalah kesaksian hidupNya. maka tidak ada pilihan yang salah pilih lagi, tidak ada merasa benar di jalan yang salah. Kenapa karena Yesus sudah jadi cermin kita! Anytime, kita bis belajar dan bercermin pada kehidupan Yesus. Gelang WWJD, jangan Cuma dijadikan fashion!! Karena itu pengingat kita sebelum bertindak! Apa yang Yesus lakukan bila Ia berada dalam keadaan seperti saya? Belajar dariNya maka hidupmu akan menuju kepada keselamatan.
Label:
Hidup,
Iman,
Keselamatan,
Pelayanan
Kuasailah Dirimu dan Jadilah Tenang
Kuasailah Dirimu dan Jadilah Tenang
1 Petrus 4: 7
Mudahkah untuk menguasai diri dan menjadi tenang itu? Pasti banyak dari kita yang mengatakan sulit! Di jaman yang ‘panas’ini, orang-orang lebih mudah untuk menjadi panas dan tidak terkontrol, ketimbang tetap tenang dan berpikiran dingin. Pertanyaannya mengapa hal tersebut dapat terjadi? Tentunya bukan karena bumi sedang mengalami pemanasan global atau yang sering kita sebut sebagai Global Warming, tapi karena dunia sedang berada dalam kondisi Global Warning!
Apa maksud global warning disini? Dunia kita, perlahan tapi pasti akan menghadapi apa yang disebut dengan The End Of The World, Kiamat, Akhir Jaman, Harmagedon, Hari Penghakiman, Jaman Baru, atau apalah sebuatannya. Tanda bahaya dimana-mana mulai tampak. Bila Firman Tuhan mengingatkan bahwa di jaman akhir ini akan semakin banyak pengajar sesat dan nabi palsu, makin banyak orang yang tidak takut pada Tuhan, banyak juga manusia yang murtad, yang mulai meninggalkan Tuhannya untuk mencari tuhan lain, baik itu rasio, ilmu pengetahuan hingga ilmu gaib. kejahatan merajalela, bencana alam dan peperangan terjadi di seluruh dunia. Hasilnya ? dunia dilanda ketakutan masal!! Coba? Siapa yang tidak takut kalau begitu?
Ya!! Memang kondisi yang dunia alami membuat kita jadi takut, kuatir. Itu benar dan alamiah. Apalagi bila kita menyaksikan apa yang ditawarkan oleh media massa: ancaman “ Ditemukan jejak UFO di Sleman.” “Banjir bandang melanda Brisbane, menghanyutkan ratusan orang, mobil dan rumah.” Semua orang merasa terancam! Oleh karena itu mereka hidup dalam ketidaktenangan, ketakutan dan kekuatiran yang berlebihan bahkan mengikat kehidupan mereka. Manusia dipaksa untuk melihat apa yang terjadi di dalam dunia, sekarang, hari ini. Mereka dipaksa untuk melihat apa yang ada di depan mata beserta seluruh dampaknya bagi kehidupan manusia. Itulah yang membuat manusia hidup dipenuhi ketakutan dari yang wajar hingga tidak wajar.
Kini kalau dunia yang penuh ancaman ini membuat kita hidup dalam ketakutan, bagaimana kita dapat menjadi tenang? Apakah benar hidup kita berada dalam ancaman yang mematikan, yang tidak dapat kita hadapi dan kita kendalikan?
Eitsss!!! Tunggu dulu!! Adakah perkara yang tidak dapat kita hadapi bersama Tuhan? TIDAK bukan! Begitu juga ancaman hidup, kematian , akhir jaman, UFO sekalipun. Tidak ada satupun kekuatan yang dapat mengungguli dan melampaui kekuatan dan kuasa Tuhan. Firman Tuhan telah menyatakan dan membuktikannya kepada kita. Namun mengapa kita masih kuatir? Jawabannya: bukan perkaranya, persoalannya, ancamannya yang terlalu besar, tapi hati kita terlalu kecil untuk menghadapinya. Kita tidak dapat mengendalikan diri kita, pikiran kita, hati kita alih alih hidup,hingga keputusan kita dikendalikan oleh situasi, kondisi, termasuk oleh apa kata orang!
Nah kini bagaimana cara kita mengendalikan dan menguasai diri hingga kita tidak takluk terhadap ancaman dunia?
1. Kenali kuasa yang kita miliki sebagai orang percaya. Banyak dari kita sering berkata saya tidak bisa. Tahukah ketika kita mengatakan TIDAK BISA, kita sedang menutup banyak pintu bahkan mungkin seluruh pintu bagi kuasa Tuhan yang sudah diberikan kepada kita untuk bekerja! Luk 10: 19 “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.” Kita tahu bahwa kita bisa, tentunya bukan karena diri kita sendiri, tapi karena Tuhan yang memberikannya kepada kita. Sadarkah kita bahwa pemberian Tuhan adalah pemberian terbaik sehingga tidak ada yang dapat menandingi atau lebih baik dari pemberianNya tersebut. Konsekuwensinya adalah: Kuasa yang diberikanNya pasti MANJUR!! Dan bila kita memang sungguh-sungguh menggunakanNya , maka seperti yang telah diFirmnakanNya: tidak ada yang akan membahayakan kita! Tentu bukan berarti kita menjadi kebal terhadap segala penderitaan, bencana, kejahatan yang mungkin datang dalam hidup kita. Tapi kita akan tetap dapat selamat dari bahaya godaan, pikiran negatif, bisikkan, umpan, dakwaan dari IBLIS yang membuat kita kalah,lemah, jatuh, tidak berdaya dalam ketakutan dan kekuatiran kita!!
2. Pikirkan apa yang pantas, bukan apa yang tidak pantas. Roma 12:3 “ Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” Berapa banyak kita yang pikirannya suka melampaui apa yang pantas kita pikirkan sebagai manusia. Ini tidak ada hubungannya dengan cita-cita setinggi langit loh! Lalu apa yang tidak pantas? Bila kita mulai ‘bernubuat’ atas apa yang anda tidak inginkan: nanti kalau... nanti anak saya kecelakaan naik motor gimana? Nanti kalau suami saya selingkuh, saya gimana? Nanti kalau saya mati muda gimana? Kalau rumah saya kena tsunami gimana? Nanti kalau hidup saya tidak bahagia setelah saya menikah bagaimana? Nanti kalau saya tidak dapat punya anak bagaimana? Kalau..kalau..kalau.... Kita sering kali berfokus terhadap apa yang tidak bisa kita hadapi. Mengapa kita tidak mengubah cara pandang kita dengan berfokus pada janji Allah, Firman Allah, dan iman kepada Allah. Oleh karena itu Rasul Paulus menekankan “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Fil 4:8
3. Biarkan Tuhan yang pegang kendali. Yakobus 3: 3-4 “3 Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi.” “Bagaimana bisa kita dapat mengendalikan diri dengan kekuatan kita sendiri?” memang tidak bisa! Kita tidak akan pernah dapat mengendalikan diri dengan baik hanya dengan kekuatan kita sendiri. Oleh karena itu biarlah Dia yang empunya kuasa dan kendali dalam hidup kita mengendalikan kita sepenuhnya. Hingga walau kerasnya hidup menerpa kita akan tetap ada pada jalur yang tepat!
4. Kuasailah dirimu! 1 Petrus 4: 7 Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. Bila Tuhan sudah pegang kendali, apa yang harus kita lakukan. Tokh kita bukan robot yang sekali dikendalikan, diprogram semuanya akan beres! Petrus tetap mengatakan bahwa kita harus menguasai diri kita. Bagaimana? Kata kuasailah (Sophroneo)dalam 1 petrus 4: 7 memiliki arti tidak hanya kuasai, namun juga melatihnya. Melatihnya tunduk dalam kuasa Allah, melatihnya berada dalam Firman Allah, melatihnya untuk menjadi sesuai dengan kehendak Allah, melatihnya agar dapat berfungsi sebagaimana yang Allah inginkan, yaitu agar kita senantiasa dapat berkomuniakasi dan bergaul dengan Allah melalui doa.
Tenang bukanlah barang langka bagi anak-anak Allah. karena di dalam Allah ketenangan adalah hal yang sangat lumrah, yang dapat diperoleh oleh setiap orang yang sungguh tinggal di dalam Allah
1 Petrus 4: 7
Mudahkah untuk menguasai diri dan menjadi tenang itu? Pasti banyak dari kita yang mengatakan sulit! Di jaman yang ‘panas’ini, orang-orang lebih mudah untuk menjadi panas dan tidak terkontrol, ketimbang tetap tenang dan berpikiran dingin. Pertanyaannya mengapa hal tersebut dapat terjadi? Tentunya bukan karena bumi sedang mengalami pemanasan global atau yang sering kita sebut sebagai Global Warming, tapi karena dunia sedang berada dalam kondisi Global Warning!
Apa maksud global warning disini? Dunia kita, perlahan tapi pasti akan menghadapi apa yang disebut dengan The End Of The World, Kiamat, Akhir Jaman, Harmagedon, Hari Penghakiman, Jaman Baru, atau apalah sebuatannya. Tanda bahaya dimana-mana mulai tampak. Bila Firman Tuhan mengingatkan bahwa di jaman akhir ini akan semakin banyak pengajar sesat dan nabi palsu, makin banyak orang yang tidak takut pada Tuhan, banyak juga manusia yang murtad, yang mulai meninggalkan Tuhannya untuk mencari tuhan lain, baik itu rasio, ilmu pengetahuan hingga ilmu gaib. kejahatan merajalela, bencana alam dan peperangan terjadi di seluruh dunia. Hasilnya ? dunia dilanda ketakutan masal!! Coba? Siapa yang tidak takut kalau begitu?
Ya!! Memang kondisi yang dunia alami membuat kita jadi takut, kuatir. Itu benar dan alamiah. Apalagi bila kita menyaksikan apa yang ditawarkan oleh media massa: ancaman “ Ditemukan jejak UFO di Sleman.” “Banjir bandang melanda Brisbane, menghanyutkan ratusan orang, mobil dan rumah.” Semua orang merasa terancam! Oleh karena itu mereka hidup dalam ketidaktenangan, ketakutan dan kekuatiran yang berlebihan bahkan mengikat kehidupan mereka. Manusia dipaksa untuk melihat apa yang terjadi di dalam dunia, sekarang, hari ini. Mereka dipaksa untuk melihat apa yang ada di depan mata beserta seluruh dampaknya bagi kehidupan manusia. Itulah yang membuat manusia hidup dipenuhi ketakutan dari yang wajar hingga tidak wajar.
Kini kalau dunia yang penuh ancaman ini membuat kita hidup dalam ketakutan, bagaimana kita dapat menjadi tenang? Apakah benar hidup kita berada dalam ancaman yang mematikan, yang tidak dapat kita hadapi dan kita kendalikan?
Eitsss!!! Tunggu dulu!! Adakah perkara yang tidak dapat kita hadapi bersama Tuhan? TIDAK bukan! Begitu juga ancaman hidup, kematian , akhir jaman, UFO sekalipun. Tidak ada satupun kekuatan yang dapat mengungguli dan melampaui kekuatan dan kuasa Tuhan. Firman Tuhan telah menyatakan dan membuktikannya kepada kita. Namun mengapa kita masih kuatir? Jawabannya: bukan perkaranya, persoalannya, ancamannya yang terlalu besar, tapi hati kita terlalu kecil untuk menghadapinya. Kita tidak dapat mengendalikan diri kita, pikiran kita, hati kita alih alih hidup,hingga keputusan kita dikendalikan oleh situasi, kondisi, termasuk oleh apa kata orang!
Nah kini bagaimana cara kita mengendalikan dan menguasai diri hingga kita tidak takluk terhadap ancaman dunia?
1. Kenali kuasa yang kita miliki sebagai orang percaya. Banyak dari kita sering berkata saya tidak bisa. Tahukah ketika kita mengatakan TIDAK BISA, kita sedang menutup banyak pintu bahkan mungkin seluruh pintu bagi kuasa Tuhan yang sudah diberikan kepada kita untuk bekerja! Luk 10: 19 “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.” Kita tahu bahwa kita bisa, tentunya bukan karena diri kita sendiri, tapi karena Tuhan yang memberikannya kepada kita. Sadarkah kita bahwa pemberian Tuhan adalah pemberian terbaik sehingga tidak ada yang dapat menandingi atau lebih baik dari pemberianNya tersebut. Konsekuwensinya adalah: Kuasa yang diberikanNya pasti MANJUR!! Dan bila kita memang sungguh-sungguh menggunakanNya , maka seperti yang telah diFirmnakanNya: tidak ada yang akan membahayakan kita! Tentu bukan berarti kita menjadi kebal terhadap segala penderitaan, bencana, kejahatan yang mungkin datang dalam hidup kita. Tapi kita akan tetap dapat selamat dari bahaya godaan, pikiran negatif, bisikkan, umpan, dakwaan dari IBLIS yang membuat kita kalah,lemah, jatuh, tidak berdaya dalam ketakutan dan kekuatiran kita!!
2. Pikirkan apa yang pantas, bukan apa yang tidak pantas. Roma 12:3 “ Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” Berapa banyak kita yang pikirannya suka melampaui apa yang pantas kita pikirkan sebagai manusia. Ini tidak ada hubungannya dengan cita-cita setinggi langit loh! Lalu apa yang tidak pantas? Bila kita mulai ‘bernubuat’ atas apa yang anda tidak inginkan: nanti kalau... nanti anak saya kecelakaan naik motor gimana? Nanti kalau suami saya selingkuh, saya gimana? Nanti kalau saya mati muda gimana? Kalau rumah saya kena tsunami gimana? Nanti kalau hidup saya tidak bahagia setelah saya menikah bagaimana? Nanti kalau saya tidak dapat punya anak bagaimana? Kalau..kalau..kalau.... Kita sering kali berfokus terhadap apa yang tidak bisa kita hadapi. Mengapa kita tidak mengubah cara pandang kita dengan berfokus pada janji Allah, Firman Allah, dan iman kepada Allah. Oleh karena itu Rasul Paulus menekankan “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Fil 4:8
3. Biarkan Tuhan yang pegang kendali. Yakobus 3: 3-4 “3 Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi.” “Bagaimana bisa kita dapat mengendalikan diri dengan kekuatan kita sendiri?” memang tidak bisa! Kita tidak akan pernah dapat mengendalikan diri dengan baik hanya dengan kekuatan kita sendiri. Oleh karena itu biarlah Dia yang empunya kuasa dan kendali dalam hidup kita mengendalikan kita sepenuhnya. Hingga walau kerasnya hidup menerpa kita akan tetap ada pada jalur yang tepat!
4. Kuasailah dirimu! 1 Petrus 4: 7 Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. Bila Tuhan sudah pegang kendali, apa yang harus kita lakukan. Tokh kita bukan robot yang sekali dikendalikan, diprogram semuanya akan beres! Petrus tetap mengatakan bahwa kita harus menguasai diri kita. Bagaimana? Kata kuasailah (Sophroneo)dalam 1 petrus 4: 7 memiliki arti tidak hanya kuasai, namun juga melatihnya. Melatihnya tunduk dalam kuasa Allah, melatihnya berada dalam Firman Allah, melatihnya untuk menjadi sesuai dengan kehendak Allah, melatihnya agar dapat berfungsi sebagaimana yang Allah inginkan, yaitu agar kita senantiasa dapat berkomuniakasi dan bergaul dengan Allah melalui doa.
Tenang bukanlah barang langka bagi anak-anak Allah. karena di dalam Allah ketenangan adalah hal yang sangat lumrah, yang dapat diperoleh oleh setiap orang yang sungguh tinggal di dalam Allah
Jumat, 14 Januari 2011
Dipanggil, Dibentuk, Diutus
Dipanggil, Dibentuk, Diutus
Yesaya 49:1-7 Mazmur 40:1-11 I Korintus 1:1-9 Yohanes 1:29-42
Apakah saudara dan saya sudah merasa dipanggil? Atau jangan-jangan kita hanya merasa dipanggil? Bila sudah kira-kira mengapa Tuhan memanggil saudara dan saya? Apa keistimewaan saudara dan saya, hingga Allah memanggil kita? Apakah kita adalah manusia yang dapat dipercaya? Yang dapat dipegang janjinya? Yang setia? Yang berpengaruh? Yang tidak hidup dalam kemunafikan? Kemarahan, dengki dan dendam dan memiliki hidup yang ‘bersih’ di hadapanNya, Atau apa? Dapat dikatakan kita ini bukan manusia yang dapat dipercaya, kita kurang pandai dalam memegang janji, jauh dari setia, masih memilih untuk dipenuhi dengan kemarahan yang tidak sehat, dengan dengki dan dendam yang menghasilkan relasi yang buruk dengan orang lain, dan jauh dari hidup berkenan di hadapanNya! Tapi mengapa Allah tetap memanggil kita?
Alasan Allah memanggil, membentuk dan mengutus kita adalah:
1. Yesaya 42:6: Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa.
2. 1 Petrus: supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:
3. Yesaya 49: 6: supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.
Ia ingin kita tidak hanya menjadi objek tapi subjek penyelamatan. Ingat, hal ini dilakukanNya bukan karena Ia tidak bisa atau tidak biasa bekerja sendiri tapi karena Ia ingin kita kembali pada hakekat penciptaan kita, yaitu serupa dan segambar dengan diriNya, ciptaan yang mulia dan sempurna. Ia ingin kita memancarkan terang kemuliaanNya dalam dunia yang gelap ini dan menjadi perjanjian yang hidup, bukan hanya perjanjian hitam diatas putih, atau perjanjian dengan simbol-simbol keagamaan, namun perjanjian yang nyata bahwa melalui diri kita Allah memelihara dan menunjukkan Kasih setiaNya kepada dunia, dengan melakukan juga perbuatan-perbuatan yang ‘besar’ bagi dunia. Ia ingin dunia menikmati keselamatanNya! Dunia, bukan hanya Yesaya, Petrus, Paulus! Tapi dunia! Untuk itulah Ia memanggil kita.
Waduh! Bagaimana saya bisa melakukan perbuatan yang besar? Saya Cuma orang kecil yang tidak bisa apa-apa, tidak punya posisi, kuasa, pengaruh untuk bisa melakukan perbuatan besar. Coba kita lihat apa yang terbesar menurut Allah? Kasih! Mereka yang merendahkan diri seperti anak kecil! Yang mau menjadi pelayan dan bukan Bos! Mereka yang menyambut Tuhan layaknya seorang anak kecil yang penuh semangat, rasa ingin tahu, ingin kenal!Namun untuk dapat sungguh-sungguh melakukan hal-hal besar, perbuatan-perbuatan besar seseorang yang dipanggil tidak cukup hanya dengan berkata YA, SAYA BERSEDIA DIPANGGIL! Ia harus bersedia juga menjadi pribadi yang dibentuk dan ditempa agar ia dapat berfungsi sebagaimana Ia DIPANGGIL oleh Allah. Bagaimana Allah membentuk kita?
1. Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya.(Yes 49:2). Apa fungsi utama dari sebilah pisau, anak panah? Untuk memotong bukan dan untuk ditembakkan pada sasaran yang tepat bukan? Membuat yang dipotong memiliki ukuran yang lebih baik, lebih pantas. Menacap tepat pada sasaran dan tidak mental dari sasaran karena ia tumpul. anda tidak akan memasukkan seekor ayam bulat-bulat ke dalam panci tanpa memotongnya menjadi beberapa bagian untuk membuat sepanci sup ayam yang lezat. Atau anda juga tidak akan memasukkan ayam bulat bulat yang baru saja selesai dipanggang ke dalam mulut anda bukan? Anda membutuhkan pisau untuk menjadikannya pantas! Begitu juga anda ingin anak panah anda dapat menancap pada sasaran yang tepat ketika anda berburu, yaitu pada buruan anda. Tapi banyak orang Krsiten termasuk saya menafsirkan: mulut sebagai pedang yang tajam, dengan cara yang berbeda, yaitu untuk menyakiti, untuk memberikan kritikan pedas, untuk menghujat, untuk membicarakan keburukkan orang lain, untuk menghina dan menjatuhkan orang lain. Melakukan hal tersebut sama dengan memnggunakan pisau untuk hal yang salah. Tuhan membuat mulut kita tajam layaknya pedang untuk membuat mereka yang mendengar menjadi lebih pantas untuk memperoleh keselamatan, menjadikan hati mereka lebih pantas untuk dipersembahkan kepada Tuhan, menjadikan perilaku mereka pantas disebut sebagai anak Tuhan, menjadikan mereka pribadi-pribadi yang pantas untuk kemuliaan Tuhan, dan bukan untuk menyakiti, membuat orang lain memiliki dendam kesumat dan kepahitan pada kita. Oleh karena itu yang membuat nya harus Allah sendiri bukan kita, dan yang menggunakannya juga harus Allah bukan kita dengan pengertian yang salah. Karena hasilnya akan salah sasaran semua!! Tuhan mengasah mulut (baca:ucapan) kita dengan hikmatNya yang menghibur, menguatkan, menyadarkan, menegur dengan lembut dan menyapa, agar apa yang kita ucapkan benar-benar tepat sasaran, yaitu memperkenalkan dunia kepada keselamatan dari Allah.
2. Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu.Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus. (1 Kor 1:5-6) bagaimana sebuah batu permata berharga dapat sungguh-sungguh menjadi batu yang berharga. Pertama-tama ia harus dicuci bersih, dipisahkan dari bebatuan yang tidak berharga, tanah dan kotoran yang menempel padanya oleh seorang penambang berlian. Lalu ia harus diasah dengan batu yang sama kerasnya oleh Sang pengasah batu. Tak lupa, sang pengasah batu juga harus sungguh-sungguh mahir membuat sudut-sudut yang tepat, agar batu permata anda menghasilkan cahaya yang indah, karena kesempurnaan sudut-sudutnya. Tentunya, bila anda memiliki batu permata yang berharga, anda tidak akan menyimpannya terus menerus, tapi akan memakainya dan menunjukkan bertaoa dia indah dan berharga. Tapi tanpa sebuah cangkang yang kokoh dan indah pula maka ia akan nampak tidak berharga. Misalnya anda membuatkan cangkang permata anda dari besi biasa yang dapat berkarat dan menjadi hitam. Anda akan membuatkan sebuah cangkang dari emas murni yang tidak luntur dan berkarat dengan kualitas pembuatan yang baik, tidak kasar tapi rapi. Nah...coba hitung sekarang berapa banyak penambahan nilai yang anda lakukan untuk permata anda? Banyak bukan? Ya untuk menjadi sungguh-sungguh berharga, sebuah permata yang sudah berharga sekalipun harus dilengkapi oleh banyak hal yang membuatnya menjadi lebih sempurna dalam kualitas, bentuk dan keindahan. Begitu juga dengan kita. KITA INI DASARNYA SUDAH SANGAT BERHARGA DI MATA TUHAN, bahkan sangat berharga. Tapi pembentukkanNya akan membuat kita jadi lebih indah, lebih bernilai, lebih kaya, lebih lengkap dan tidak kekurangan suatu apapun.
Sesungguhnya iapapun yang melihat kita yang sudah sedemikian rupa dibentuK dan dilengkapi baik dengan hikmat, pengetahuan, dan berbagai karunia akan kagum pada dia Sang Pembuat Maha Karya. Siapa lagi kalau bukan Allah sendiri! TAPIIIII....Ia buat itu semua bukan untuk kemuliaan dan kemashuran diriNya sendiri, bukan juga semata-mata agar kita siap diutus kemanapun, kapanpun dan dalam keadaaan apapun. Loh? Lalu untuk apa? Paulus dalam 1 Kor 1:8-9 menyatakan maksud Allah membentuk dan memperlengkapi kita adalah agar kita teguh dan tidak bercacat hingga kesudahannya, dan agar kita menjadi layak masuk dalam persekutuan dengan anakNya Yesus Kristus yang adalah setia.
Allah tidak egois. Ia tidak memikirkan misi, kehendak dan impianNya saja, tapi Ia ingin kita memiliki kehidupan yang terbaik, yang sempurna. Ia ingin kita menjadi layak. Ia ingin kita menjadi manusia-manusia yang berhasil mengatasi tantangan hidup dan menang oleh pilihan kita, bukan karena Ia yang memilihkannya bagi kita. Tapi melengkapi membentuk dan melengkapi kita saja tidak cukup bagi Allah untuk membuat kita sungguh2 mendapatkan kehidupan yang terbaik, yang sempurna yang tidak bercacat. Mengapa? Karena ernyata membentuk dan memperlengkapi berlianjauh lebih mudah dari pada membentuk dan memperlengkapi manusia. Loh ko bisa? Karena manusia punya FREEWILL. Manusia adalah makhluk hidup yang punya pilihan. Andaikata si batu permata punya FREEWILL ia juga mungkin akan melakukan hal yang sama dengan kita. Dengan kehendak bebasnya si batu permata dapat berkata saya tidak mau diasah, sudut2 saya sudah sempurna kok. Saya tidak mau diberi cangkang, saya tidak mau dibatasi oleh lapisan emas yang tidak seberapa. Duh bagaimana tuh?Kalau begitu bagaimana mau diutus? Menyebarkan keselamatan hingga ke penjuru dunia? Kita tetap memilih kehidupan yang biasa-biasa saja, yang tidak sempurna, dan yang bercacat.
Allah tidak pernah memperlakukan kita seperti prajurit yang selalu harus di depan. Kalo mati ya mati duluan. Ketika Allah mengutus kita Ia tidak sembunyi di belakang kita, alih- alih Ia berada di barisan paling depan. Itulah mengapa pertama-tama Allah mengutus Yesus, bukan hanya untuk berbicara kepada kita tentang apa itu keselamatan bagi dunia, namun juga berbicara secara langsung melalui hidupNya. Ia menyadarkan kita apa arti diutus, yaitu ketaatan penuh terhadap yang mengutus. Ia menunjukkan apa tugas seseorang yang diutus, yaitu menunjukkan kasih dan mewujudkan kerajaan Allah dimanapun, kapanpun. Loh, kan Yesus sudah naik ke sorga, Dia tidak ada di depan kita lagi dong! Eitsss jangan salah Dia memang secara fisik sudah tidak ada di tengah-tengah kita, tapi kita tidak akan pernah mau diutus bila Roh Allah tidak mendorong kita melakukannya. Kita tidak akan pernah benar-benar setia melakukannya bila Roh Allah tidak menguatkan kita.
Jadi apa yang dapat kita simpulkan? Yang melayakkan kita dipanggil, yang membentuk dan melengkapi kita, yang mengutus dan memampukan kita untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab ini hanya TUHAN. Bukan diri kita, bukan kuat kuasa kita. Dialah pemilik inisiatif, Dia pula yang menjadikan segala sesuatu menjadi baik! Kini apa respon kita?
Yesaya 49:1-7 Mazmur 40:1-11 I Korintus 1:1-9 Yohanes 1:29-42
Apakah saudara dan saya sudah merasa dipanggil? Atau jangan-jangan kita hanya merasa dipanggil? Bila sudah kira-kira mengapa Tuhan memanggil saudara dan saya? Apa keistimewaan saudara dan saya, hingga Allah memanggil kita? Apakah kita adalah manusia yang dapat dipercaya? Yang dapat dipegang janjinya? Yang setia? Yang berpengaruh? Yang tidak hidup dalam kemunafikan? Kemarahan, dengki dan dendam dan memiliki hidup yang ‘bersih’ di hadapanNya, Atau apa? Dapat dikatakan kita ini bukan manusia yang dapat dipercaya, kita kurang pandai dalam memegang janji, jauh dari setia, masih memilih untuk dipenuhi dengan kemarahan yang tidak sehat, dengan dengki dan dendam yang menghasilkan relasi yang buruk dengan orang lain, dan jauh dari hidup berkenan di hadapanNya! Tapi mengapa Allah tetap memanggil kita?
Alasan Allah memanggil, membentuk dan mengutus kita adalah:
1. Yesaya 42:6: Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa.
2. 1 Petrus: supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:
3. Yesaya 49: 6: supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.
Ia ingin kita tidak hanya menjadi objek tapi subjek penyelamatan. Ingat, hal ini dilakukanNya bukan karena Ia tidak bisa atau tidak biasa bekerja sendiri tapi karena Ia ingin kita kembali pada hakekat penciptaan kita, yaitu serupa dan segambar dengan diriNya, ciptaan yang mulia dan sempurna. Ia ingin kita memancarkan terang kemuliaanNya dalam dunia yang gelap ini dan menjadi perjanjian yang hidup, bukan hanya perjanjian hitam diatas putih, atau perjanjian dengan simbol-simbol keagamaan, namun perjanjian yang nyata bahwa melalui diri kita Allah memelihara dan menunjukkan Kasih setiaNya kepada dunia, dengan melakukan juga perbuatan-perbuatan yang ‘besar’ bagi dunia. Ia ingin dunia menikmati keselamatanNya! Dunia, bukan hanya Yesaya, Petrus, Paulus! Tapi dunia! Untuk itulah Ia memanggil kita.
Waduh! Bagaimana saya bisa melakukan perbuatan yang besar? Saya Cuma orang kecil yang tidak bisa apa-apa, tidak punya posisi, kuasa, pengaruh untuk bisa melakukan perbuatan besar. Coba kita lihat apa yang terbesar menurut Allah? Kasih! Mereka yang merendahkan diri seperti anak kecil! Yang mau menjadi pelayan dan bukan Bos! Mereka yang menyambut Tuhan layaknya seorang anak kecil yang penuh semangat, rasa ingin tahu, ingin kenal!Namun untuk dapat sungguh-sungguh melakukan hal-hal besar, perbuatan-perbuatan besar seseorang yang dipanggil tidak cukup hanya dengan berkata YA, SAYA BERSEDIA DIPANGGIL! Ia harus bersedia juga menjadi pribadi yang dibentuk dan ditempa agar ia dapat berfungsi sebagaimana Ia DIPANGGIL oleh Allah. Bagaimana Allah membentuk kita?
1. Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya.(Yes 49:2). Apa fungsi utama dari sebilah pisau, anak panah? Untuk memotong bukan dan untuk ditembakkan pada sasaran yang tepat bukan? Membuat yang dipotong memiliki ukuran yang lebih baik, lebih pantas. Menacap tepat pada sasaran dan tidak mental dari sasaran karena ia tumpul. anda tidak akan memasukkan seekor ayam bulat-bulat ke dalam panci tanpa memotongnya menjadi beberapa bagian untuk membuat sepanci sup ayam yang lezat. Atau anda juga tidak akan memasukkan ayam bulat bulat yang baru saja selesai dipanggang ke dalam mulut anda bukan? Anda membutuhkan pisau untuk menjadikannya pantas! Begitu juga anda ingin anak panah anda dapat menancap pada sasaran yang tepat ketika anda berburu, yaitu pada buruan anda. Tapi banyak orang Krsiten termasuk saya menafsirkan: mulut sebagai pedang yang tajam, dengan cara yang berbeda, yaitu untuk menyakiti, untuk memberikan kritikan pedas, untuk menghujat, untuk membicarakan keburukkan orang lain, untuk menghina dan menjatuhkan orang lain. Melakukan hal tersebut sama dengan memnggunakan pisau untuk hal yang salah. Tuhan membuat mulut kita tajam layaknya pedang untuk membuat mereka yang mendengar menjadi lebih pantas untuk memperoleh keselamatan, menjadikan hati mereka lebih pantas untuk dipersembahkan kepada Tuhan, menjadikan perilaku mereka pantas disebut sebagai anak Tuhan, menjadikan mereka pribadi-pribadi yang pantas untuk kemuliaan Tuhan, dan bukan untuk menyakiti, membuat orang lain memiliki dendam kesumat dan kepahitan pada kita. Oleh karena itu yang membuat nya harus Allah sendiri bukan kita, dan yang menggunakannya juga harus Allah bukan kita dengan pengertian yang salah. Karena hasilnya akan salah sasaran semua!! Tuhan mengasah mulut (baca:ucapan) kita dengan hikmatNya yang menghibur, menguatkan, menyadarkan, menegur dengan lembut dan menyapa, agar apa yang kita ucapkan benar-benar tepat sasaran, yaitu memperkenalkan dunia kepada keselamatan dari Allah.
2. Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu.Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus. (1 Kor 1:5-6) bagaimana sebuah batu permata berharga dapat sungguh-sungguh menjadi batu yang berharga. Pertama-tama ia harus dicuci bersih, dipisahkan dari bebatuan yang tidak berharga, tanah dan kotoran yang menempel padanya oleh seorang penambang berlian. Lalu ia harus diasah dengan batu yang sama kerasnya oleh Sang pengasah batu. Tak lupa, sang pengasah batu juga harus sungguh-sungguh mahir membuat sudut-sudut yang tepat, agar batu permata anda menghasilkan cahaya yang indah, karena kesempurnaan sudut-sudutnya. Tentunya, bila anda memiliki batu permata yang berharga, anda tidak akan menyimpannya terus menerus, tapi akan memakainya dan menunjukkan bertaoa dia indah dan berharga. Tapi tanpa sebuah cangkang yang kokoh dan indah pula maka ia akan nampak tidak berharga. Misalnya anda membuatkan cangkang permata anda dari besi biasa yang dapat berkarat dan menjadi hitam. Anda akan membuatkan sebuah cangkang dari emas murni yang tidak luntur dan berkarat dengan kualitas pembuatan yang baik, tidak kasar tapi rapi. Nah...coba hitung sekarang berapa banyak penambahan nilai yang anda lakukan untuk permata anda? Banyak bukan? Ya untuk menjadi sungguh-sungguh berharga, sebuah permata yang sudah berharga sekalipun harus dilengkapi oleh banyak hal yang membuatnya menjadi lebih sempurna dalam kualitas, bentuk dan keindahan. Begitu juga dengan kita. KITA INI DASARNYA SUDAH SANGAT BERHARGA DI MATA TUHAN, bahkan sangat berharga. Tapi pembentukkanNya akan membuat kita jadi lebih indah, lebih bernilai, lebih kaya, lebih lengkap dan tidak kekurangan suatu apapun.
Sesungguhnya iapapun yang melihat kita yang sudah sedemikian rupa dibentuK dan dilengkapi baik dengan hikmat, pengetahuan, dan berbagai karunia akan kagum pada dia Sang Pembuat Maha Karya. Siapa lagi kalau bukan Allah sendiri! TAPIIIII....Ia buat itu semua bukan untuk kemuliaan dan kemashuran diriNya sendiri, bukan juga semata-mata agar kita siap diutus kemanapun, kapanpun dan dalam keadaaan apapun. Loh? Lalu untuk apa? Paulus dalam 1 Kor 1:8-9 menyatakan maksud Allah membentuk dan memperlengkapi kita adalah agar kita teguh dan tidak bercacat hingga kesudahannya, dan agar kita menjadi layak masuk dalam persekutuan dengan anakNya Yesus Kristus yang adalah setia.
Allah tidak egois. Ia tidak memikirkan misi, kehendak dan impianNya saja, tapi Ia ingin kita memiliki kehidupan yang terbaik, yang sempurna. Ia ingin kita menjadi layak. Ia ingin kita menjadi manusia-manusia yang berhasil mengatasi tantangan hidup dan menang oleh pilihan kita, bukan karena Ia yang memilihkannya bagi kita. Tapi melengkapi membentuk dan melengkapi kita saja tidak cukup bagi Allah untuk membuat kita sungguh2 mendapatkan kehidupan yang terbaik, yang sempurna yang tidak bercacat. Mengapa? Karena ernyata membentuk dan memperlengkapi berlianjauh lebih mudah dari pada membentuk dan memperlengkapi manusia. Loh ko bisa? Karena manusia punya FREEWILL. Manusia adalah makhluk hidup yang punya pilihan. Andaikata si batu permata punya FREEWILL ia juga mungkin akan melakukan hal yang sama dengan kita. Dengan kehendak bebasnya si batu permata dapat berkata saya tidak mau diasah, sudut2 saya sudah sempurna kok. Saya tidak mau diberi cangkang, saya tidak mau dibatasi oleh lapisan emas yang tidak seberapa. Duh bagaimana tuh?Kalau begitu bagaimana mau diutus? Menyebarkan keselamatan hingga ke penjuru dunia? Kita tetap memilih kehidupan yang biasa-biasa saja, yang tidak sempurna, dan yang bercacat.
Allah tidak pernah memperlakukan kita seperti prajurit yang selalu harus di depan. Kalo mati ya mati duluan. Ketika Allah mengutus kita Ia tidak sembunyi di belakang kita, alih- alih Ia berada di barisan paling depan. Itulah mengapa pertama-tama Allah mengutus Yesus, bukan hanya untuk berbicara kepada kita tentang apa itu keselamatan bagi dunia, namun juga berbicara secara langsung melalui hidupNya. Ia menyadarkan kita apa arti diutus, yaitu ketaatan penuh terhadap yang mengutus. Ia menunjukkan apa tugas seseorang yang diutus, yaitu menunjukkan kasih dan mewujudkan kerajaan Allah dimanapun, kapanpun. Loh, kan Yesus sudah naik ke sorga, Dia tidak ada di depan kita lagi dong! Eitsss jangan salah Dia memang secara fisik sudah tidak ada di tengah-tengah kita, tapi kita tidak akan pernah mau diutus bila Roh Allah tidak mendorong kita melakukannya. Kita tidak akan pernah benar-benar setia melakukannya bila Roh Allah tidak menguatkan kita.
Jadi apa yang dapat kita simpulkan? Yang melayakkan kita dipanggil, yang membentuk dan melengkapi kita, yang mengutus dan memampukan kita untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab ini hanya TUHAN. Bukan diri kita, bukan kuat kuasa kita. Dialah pemilik inisiatif, Dia pula yang menjadikan segala sesuatu menjadi baik! Kini apa respon kita?
Label:
Hidup,
Iman,
Pelayanan,
Spiritualitas
Rabu, 12 Januari 2011
Bersedia Dibersihkan
Yohanes 15: 1-3
Kenapa sih kalau kita mau mengikut Tuhan, kita harus bersedia dibersihkan? Jawabannya harusnya sangat mudah loh!! Alasan yang pertama adalah untuk menjadi orang Kristen yang sejati kita perlu hidup dalam standar Tuhan, karena walaupun Tuhan menerima kita apa adanya, tapi Dia tidak akan membiarkan kita menjadi ciptaan yang seadanya. Yang Kedua, Dia ingin kita tumbuh yang bukan hanya sekedar tumbuh tapi Dia ingin kita menghasilkan apa yang baik, yang berharga, yang berguna bagi orang lain, bukan semata-mata bagi Dia.
Nah sebelum kita mengerti apa dan bagaimana Allah membersihkan kita. Mari kita cari tahu apa apa dan bagaimana berbuah itu. Apa yang dimaksud dengan berbuah? Ada beberapa hal pokok tentang berbuah yang harus kita perhatikan, yang tanpa kesemuanya ini berbuah adalah hal yang tidak mungkin terjadi:
1. Sebatang pohon tidak akan pernah berbuah, bila pertama-tama ia tidak mau mati!(Yoh 12:24). Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Bila biji tidak mau mati, jatuh ke tanah, dia tidak akan pernah bertumbuh menjadi pohon dan berbuah. Mati disini adalah pemberian diri, penyerahan ego dan hak hidup. Sebagai orang Kristen kita tidak akan berbuah, bila kita tidak mau menyerahkan hak kita kepada Allah, mematikan manusia lama dan tumbuh menjadi manusia baru, ciptaan yang baru!
2. Sebatang pohon tidak akan pernah berbuah, bila ia tidak berakar! Karena dari sanalah sumber kehidupannya diperoleh. Kita akan tetap menjadi biji mati yang tidak menghasilkan apapun, bila kita tidak mencari sumber hidup, yaitu sari-sari makanan yang terdapat dalam tanah. Namun untuk itu ia harus berusaha menembus rasa sakit ketika ia harus melewati lapisan tanah yang keras, berbatu, liat, bahkan kering. Tuhan memang hanya sejauh doa, tapi tetap harus ada doa bukan? Apa artinya? Tuhan memang tidak sulit untuk ditemui, Ia adalah Allah yang dekat dan bukan Allah yang jauh dalam hidup kita. Namun kita juga harus berani untuk merespon. Karena hidup manusia merupakan kebebasan yang Tuhan berikan untuk memilih. Kita punya andil yang besar untuk memilih arah hidup kita.
3. Sebatang pohon tidak akan pernah berbuah bila ia tidak mau bertumbuh! Tumbuh artinya bukan hanya soal menjadi besar, tapi menjadi semakin berakar, kuat, tahan dan berkembang. Ia akan semakin kuat menyerap sari-sari makanan dan berbagai mineral dari dalam tanah. Dan kelebihan sari makanan itulah yang kita sebut buah. Kita dapat berbuah bila kita terus menyerap sari makanan yang Allah sediakan bagi kita. Bagaimana kita menyerap. Menyerap adalah suatu proses memasuki yang dilakukan oleh semua bagian sel bukan hanya satu bagian. Kita dapat bertumbuh karena tubuh kita menyerap makanan, bukan hanya usus kita yang menyerap, tapi seluruh sel yang ada di tubuh kita ini menyerap makanan. Karena kalau tidak bentuk kita pasti tidak karuan. Lalu bagaimana kita sari-makanan dari Allah tersebut, yaitu ketika sari-sari makanan (Firman Allah) itu meresap ke dalam seluruh bagian kehidupan kita. Maka orang yang sungguh-sungguh bertumbuh adalah orang yang tidak hanya me dalam pelayanan di gereja, namun juga di rumah, di kantor, di lingkungan RT, RW. Dia akan bertumbuh danberkembang dalam kesemua aspek kehidupan secara adil dan merata, dan saat itulah Ia mulai berbuah
Apa yang dapat kita pelajari dari tahap-tahap sebatang pohon dan seorang pengikut Kristus memiliki kehidupan yang berbuah? Buah adalah hasil dari PROSES. Dia tidak ada dengan sendirinya. Ia ada karena proses yang panjang, sulit dan melelahkan. Tentunya 3 proses di atas tidak cukup untuk sebuah pohon menghasilkan buah yang baik, yang matang di pohon, manis dan tidak masam, banyak tidak sedikit, yang membesar tidak hanya jadi pentil buah. Lalu, butuh apa lagi? Butuh yang namanya PERAWATAN. Buat Saudara yang biasa merawat tumbuhan kesayangan, apa saja yang bisa dikategorikan sebagai perawatan? Menyirami, memberi pupuk, memberi penangkal hama, dan tentunya membersihkan. Nah sekarang, dari apa saja sebatang pohon dan seorang anak Allah harus dibersihkan agar hidupnya berbuah?
1. Ketika ia memiliki terlalu banyak dahan alias terlalu rimbun. Wah. Bukankah rimbun itu baik? Kita akan sangat menikmati pohon yang rimbun, apalagi bila cuaca sedang begitu panas dan kita membutuhkan tempat untuk berteduh dan mencari sedikit udara sejuk. Ya, memang! Tapi sebatang pohon ada bukan hanya untuk memberikan kesejukkan, manusia ada bukan hanya untuk memenuhi bumi, untuk menjadi karyawan, orang tua, atau berbagai macam pencapaian karier manusia. Sebatang pohon mangga akan lebih berarrti bila ia tidak hanya memberikan udara sejuk yang dapat dilakukan oleh setiap pohon, tapi berbuah mangga yang manis yang menambah nilai drinya. Bagaimana manusia dapat menajdi terlalu rimbun? Ketika ia tidak memiliki PRIORITAS. Ia sibuk memberi tapi tidak pernah memberi diri untuk diisi. Ia sibuk menjadi ini itu di sana sini, tapi ia lupa mempertahankan kualitas untuk menjadi ini dan itu, di sana sini. Kita akan senantiasa menjadi orang yang kekurangan dan kelaparan, bila kita tidak pernah memberi waktu untuk Tuhan mengisi hidup kita. “Yahhh...tapikan semua harus diperhatikan.” Saya kan harus menjadi suami, ayah, sekaligus kaka dan adik serta anak, saya juga harus menjadi karyawan yang baik, menjadi atasan yang baik buat karyawan saya, saya juga penatua di gereja kan katanya harus melayani juga” Lalu bagaimana dengan kita sebagai anak Allah. Tentunya kalau kita terus sibuk dengan diri kita dan lupa pada sumber makanan terbesar yang dapat membuat hidup kita bertumbuh dan berbuah, matang pada musimnya. Maz 1:1-3. Maka tentukan prioritas hidupmu! Bukan berarti kita tidak boleh menyediakan waktu untuk sesama kita termasuk untuk diri kita, tapi tentunya hubungan kita dengan sesama tidak akan menjadi hubungan yang berkualitas, bila kita tidak menjaga kualitas hidup kita. Sari-sari makanan apa yang akan disalurkan pada ranting-ranting sebatang pohon bila ia tidak pernah menyediakan waktu untuk menyerap?
2. Ketika ia memiliki banyak benalu dan hama yang menyerangnya. Saya punya satu pot lidah buaya dari ibu saya beberapa waktu lalu. Pertama-tama di dalam pot itu hanya ada lidah buaya yang sedang tumbuh subur, lama kelamaan tumbuh tanamana baru yan saya tidak pernah tau apa itu hingga ibu saya menyebutnya sebagai rumput gajah. Rumput itu menjalar kemana-mana menyebabkan tumbuhan lidah buaya saya mengering, sedang rumput gajahnya semakin subur. Akhirnya saya memutuskan untuk mengembalikan tumbuhan lidah buaya tersebut, karena saya sadar bahwa saya pandai merawat seekor anak anjing tapi tidak sepot tumbuhan. Apa yang ingin say katakan adalah banyak hal dalam hidup kita membuat kita mati. Mereka atau sesuatu itu menyerap seluruh kekuatan kita hingga akhirnya kita menyerah untuk terus bertumbuh dan berbuah. Apa saja itu? PERTAMA, Itu semua bisa berupa perasaan-perasaan yang mengikat kita seperti masa lalu, kepahitan, dendam, kuatir, kekecewaan, kesedihan dan lain sebagainya. KEDUA “bertemanlah dengan siapapun, tapi jangan bergaul dengan setiap orang” anda pernah mendengar pepatah tersebut? Bagi saya pepatah itu ada benarnya. Berteman dan bergaul memiliki kedekatan yang berbeda. Bergaul lebih dalam maknanya hanya sekedar berteman. Bergaul adalah proses pencampuran, pengadukkan pendapat, cara pandang, cara hidup, termasuk pikiran2 negatif. Jadi bergaul dengan sesama yang memiliki cara pandang, cara hidup, termasuk pikiran2 negatif tentu sah-sah saja, tapi tanpa kita bergaul dengan Tuhan, energi positif kita akan segerah habis tak berbekas. Hasilnya? MATI. Mereka dapat menjadi benalu dan hama yang menghambat kita berbuah dan menghasilkan hal yang baik. So, be aware, dengan siapa kita bergaul!
Nah sekarang bagaimana cara membersihkannya? Maz 1: 1-3, Yoh 15: 3 Yups tidak ada yang lain selain dari FIRMAN ALLAH sendiri. Pertanyaannya adalah bagaimana mau bersih bila Firman Tuhan tidak pernah dibaca? Tuhan bukan tukang kebun kita yang bila kita suruh bersihkan maka Ia akan dengan segera membersihkannya. Karena bersedia dibersihkan dalam hidup kita punya arti yang bukan hanya pasif, tapi aktif! Ketika kita, sebagai seorang anak di tangan Tuhan bersedia dibersihkan olehNya. Tuhan tidak akan masuk dalam hati kita tanpa kita membukakannya untukNya. Ia bukan tukang dobrak hati. Ia adalah Allah yang membiarkan kita untuk memilih, memilih untuk dibersihkan, dicuci, kepangkas, dan disitulah Allah membutuhkan kerelaan kita untuk MENYEDIAKAN WAKTU BAGINYA, DIUBAH OLEHNYA, DIPILIHKAN YANG BAIK OLEHNYA, TERMASUK DIKONTROL OLEHNYA...Mau? MAKA KAU AKAN BERBUAH!!
Kenapa sih kalau kita mau mengikut Tuhan, kita harus bersedia dibersihkan? Jawabannya harusnya sangat mudah loh!! Alasan yang pertama adalah untuk menjadi orang Kristen yang sejati kita perlu hidup dalam standar Tuhan, karena walaupun Tuhan menerima kita apa adanya, tapi Dia tidak akan membiarkan kita menjadi ciptaan yang seadanya. Yang Kedua, Dia ingin kita tumbuh yang bukan hanya sekedar tumbuh tapi Dia ingin kita menghasilkan apa yang baik, yang berharga, yang berguna bagi orang lain, bukan semata-mata bagi Dia.
Nah sebelum kita mengerti apa dan bagaimana Allah membersihkan kita. Mari kita cari tahu apa apa dan bagaimana berbuah itu. Apa yang dimaksud dengan berbuah? Ada beberapa hal pokok tentang berbuah yang harus kita perhatikan, yang tanpa kesemuanya ini berbuah adalah hal yang tidak mungkin terjadi:
1. Sebatang pohon tidak akan pernah berbuah, bila pertama-tama ia tidak mau mati!(Yoh 12:24). Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Bila biji tidak mau mati, jatuh ke tanah, dia tidak akan pernah bertumbuh menjadi pohon dan berbuah. Mati disini adalah pemberian diri, penyerahan ego dan hak hidup. Sebagai orang Kristen kita tidak akan berbuah, bila kita tidak mau menyerahkan hak kita kepada Allah, mematikan manusia lama dan tumbuh menjadi manusia baru, ciptaan yang baru!
2. Sebatang pohon tidak akan pernah berbuah, bila ia tidak berakar! Karena dari sanalah sumber kehidupannya diperoleh. Kita akan tetap menjadi biji mati yang tidak menghasilkan apapun, bila kita tidak mencari sumber hidup, yaitu sari-sari makanan yang terdapat dalam tanah. Namun untuk itu ia harus berusaha menembus rasa sakit ketika ia harus melewati lapisan tanah yang keras, berbatu, liat, bahkan kering. Tuhan memang hanya sejauh doa, tapi tetap harus ada doa bukan? Apa artinya? Tuhan memang tidak sulit untuk ditemui, Ia adalah Allah yang dekat dan bukan Allah yang jauh dalam hidup kita. Namun kita juga harus berani untuk merespon. Karena hidup manusia merupakan kebebasan yang Tuhan berikan untuk memilih. Kita punya andil yang besar untuk memilih arah hidup kita.
3. Sebatang pohon tidak akan pernah berbuah bila ia tidak mau bertumbuh! Tumbuh artinya bukan hanya soal menjadi besar, tapi menjadi semakin berakar, kuat, tahan dan berkembang. Ia akan semakin kuat menyerap sari-sari makanan dan berbagai mineral dari dalam tanah. Dan kelebihan sari makanan itulah yang kita sebut buah. Kita dapat berbuah bila kita terus menyerap sari makanan yang Allah sediakan bagi kita. Bagaimana kita menyerap. Menyerap adalah suatu proses memasuki yang dilakukan oleh semua bagian sel bukan hanya satu bagian. Kita dapat bertumbuh karena tubuh kita menyerap makanan, bukan hanya usus kita yang menyerap, tapi seluruh sel yang ada di tubuh kita ini menyerap makanan. Karena kalau tidak bentuk kita pasti tidak karuan. Lalu bagaimana kita sari-makanan dari Allah tersebut, yaitu ketika sari-sari makanan (Firman Allah) itu meresap ke dalam seluruh bagian kehidupan kita. Maka orang yang sungguh-sungguh bertumbuh adalah orang yang tidak hanya me dalam pelayanan di gereja, namun juga di rumah, di kantor, di lingkungan RT, RW. Dia akan bertumbuh danberkembang dalam kesemua aspek kehidupan secara adil dan merata, dan saat itulah Ia mulai berbuah
Apa yang dapat kita pelajari dari tahap-tahap sebatang pohon dan seorang pengikut Kristus memiliki kehidupan yang berbuah? Buah adalah hasil dari PROSES. Dia tidak ada dengan sendirinya. Ia ada karena proses yang panjang, sulit dan melelahkan. Tentunya 3 proses di atas tidak cukup untuk sebuah pohon menghasilkan buah yang baik, yang matang di pohon, manis dan tidak masam, banyak tidak sedikit, yang membesar tidak hanya jadi pentil buah. Lalu, butuh apa lagi? Butuh yang namanya PERAWATAN. Buat Saudara yang biasa merawat tumbuhan kesayangan, apa saja yang bisa dikategorikan sebagai perawatan? Menyirami, memberi pupuk, memberi penangkal hama, dan tentunya membersihkan. Nah sekarang, dari apa saja sebatang pohon dan seorang anak Allah harus dibersihkan agar hidupnya berbuah?
1. Ketika ia memiliki terlalu banyak dahan alias terlalu rimbun. Wah. Bukankah rimbun itu baik? Kita akan sangat menikmati pohon yang rimbun, apalagi bila cuaca sedang begitu panas dan kita membutuhkan tempat untuk berteduh dan mencari sedikit udara sejuk. Ya, memang! Tapi sebatang pohon ada bukan hanya untuk memberikan kesejukkan, manusia ada bukan hanya untuk memenuhi bumi, untuk menjadi karyawan, orang tua, atau berbagai macam pencapaian karier manusia. Sebatang pohon mangga akan lebih berarrti bila ia tidak hanya memberikan udara sejuk yang dapat dilakukan oleh setiap pohon, tapi berbuah mangga yang manis yang menambah nilai drinya. Bagaimana manusia dapat menajdi terlalu rimbun? Ketika ia tidak memiliki PRIORITAS. Ia sibuk memberi tapi tidak pernah memberi diri untuk diisi. Ia sibuk menjadi ini itu di sana sini, tapi ia lupa mempertahankan kualitas untuk menjadi ini dan itu, di sana sini. Kita akan senantiasa menjadi orang yang kekurangan dan kelaparan, bila kita tidak pernah memberi waktu untuk Tuhan mengisi hidup kita. “Yahhh...tapikan semua harus diperhatikan.” Saya kan harus menjadi suami, ayah, sekaligus kaka dan adik serta anak, saya juga harus menjadi karyawan yang baik, menjadi atasan yang baik buat karyawan saya, saya juga penatua di gereja kan katanya harus melayani juga” Lalu bagaimana dengan kita sebagai anak Allah. Tentunya kalau kita terus sibuk dengan diri kita dan lupa pada sumber makanan terbesar yang dapat membuat hidup kita bertumbuh dan berbuah, matang pada musimnya. Maz 1:1-3. Maka tentukan prioritas hidupmu! Bukan berarti kita tidak boleh menyediakan waktu untuk sesama kita termasuk untuk diri kita, tapi tentunya hubungan kita dengan sesama tidak akan menjadi hubungan yang berkualitas, bila kita tidak menjaga kualitas hidup kita. Sari-sari makanan apa yang akan disalurkan pada ranting-ranting sebatang pohon bila ia tidak pernah menyediakan waktu untuk menyerap?
2. Ketika ia memiliki banyak benalu dan hama yang menyerangnya. Saya punya satu pot lidah buaya dari ibu saya beberapa waktu lalu. Pertama-tama di dalam pot itu hanya ada lidah buaya yang sedang tumbuh subur, lama kelamaan tumbuh tanamana baru yan saya tidak pernah tau apa itu hingga ibu saya menyebutnya sebagai rumput gajah. Rumput itu menjalar kemana-mana menyebabkan tumbuhan lidah buaya saya mengering, sedang rumput gajahnya semakin subur. Akhirnya saya memutuskan untuk mengembalikan tumbuhan lidah buaya tersebut, karena saya sadar bahwa saya pandai merawat seekor anak anjing tapi tidak sepot tumbuhan. Apa yang ingin say katakan adalah banyak hal dalam hidup kita membuat kita mati. Mereka atau sesuatu itu menyerap seluruh kekuatan kita hingga akhirnya kita menyerah untuk terus bertumbuh dan berbuah. Apa saja itu? PERTAMA, Itu semua bisa berupa perasaan-perasaan yang mengikat kita seperti masa lalu, kepahitan, dendam, kuatir, kekecewaan, kesedihan dan lain sebagainya. KEDUA “bertemanlah dengan siapapun, tapi jangan bergaul dengan setiap orang” anda pernah mendengar pepatah tersebut? Bagi saya pepatah itu ada benarnya. Berteman dan bergaul memiliki kedekatan yang berbeda. Bergaul lebih dalam maknanya hanya sekedar berteman. Bergaul adalah proses pencampuran, pengadukkan pendapat, cara pandang, cara hidup, termasuk pikiran2 negatif. Jadi bergaul dengan sesama yang memiliki cara pandang, cara hidup, termasuk pikiran2 negatif tentu sah-sah saja, tapi tanpa kita bergaul dengan Tuhan, energi positif kita akan segerah habis tak berbekas. Hasilnya? MATI. Mereka dapat menjadi benalu dan hama yang menghambat kita berbuah dan menghasilkan hal yang baik. So, be aware, dengan siapa kita bergaul!
Nah sekarang bagaimana cara membersihkannya? Maz 1: 1-3, Yoh 15: 3 Yups tidak ada yang lain selain dari FIRMAN ALLAH sendiri. Pertanyaannya adalah bagaimana mau bersih bila Firman Tuhan tidak pernah dibaca? Tuhan bukan tukang kebun kita yang bila kita suruh bersihkan maka Ia akan dengan segera membersihkannya. Karena bersedia dibersihkan dalam hidup kita punya arti yang bukan hanya pasif, tapi aktif! Ketika kita, sebagai seorang anak di tangan Tuhan bersedia dibersihkan olehNya. Tuhan tidak akan masuk dalam hati kita tanpa kita membukakannya untukNya. Ia bukan tukang dobrak hati. Ia adalah Allah yang membiarkan kita untuk memilih, memilih untuk dibersihkan, dicuci, kepangkas, dan disitulah Allah membutuhkan kerelaan kita untuk MENYEDIAKAN WAKTU BAGINYA, DIUBAH OLEHNYA, DIPILIHKAN YANG BAIK OLEHNYA, TERMASUK DIKONTROL OLEHNYA...Mau? MAKA KAU AKAN BERBUAH!!
Minggu, 09 Januari 2011
Kasih seperti apa yang dimiliki dunia?
Kasih seperti apa yang dimiliki dunia?
Kasih seperti apa yang ada di dalam hatimu? Hatiku?
Kasih seperti apa yang kita berikan pada orang lain?
Kasih seperti apa yang kita beritakan melalui kehidupan, perkataan dan perbuatan kita?
Kasih seperti apa yang kita ingin miliki dalam keluarga, gereja, masyarakat kita?
Apakah semua jawabannya sama?
Atau berbeda satu dengan yang lain?
Apakah kita memilih kasih yang tulus, yang sabar, yang murah hati bagi diri kita sendiri?
Dan apakah kita memilih kasih yang munafik, yang mencari keuntungan bagi diri sendiri, yang akan kita berikan kepada dunia dan sesama kita?
Kalau kasih kita berikan, dengan penantian ucapan terima kasih, Itu bukan kasih.
Kalau kasih kita ucapkan hanya untuk membuat kita juga dikasihi, itu bukan kasih.
Kalau kasih kita lakukan, dengan harapan orang lain melakukan yang sama, itu bukan kasih
Itu hanya keegoisan kita...
Dan kegagalan kita mengerti Kasih yang sesungguhnya.
Kita dipilih..
Dipilih untuk menjadi pewarta kasih...
Kasih seperti apa?
Kasih yang sama dengan yang Tuhan berikan bagi kita.
Kasih yang tanpa pamrih, tanpa berkata ‘karena’, tapi kasih yang berkata ‘walaupun’
Kasih yang sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Kasih yang tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Kasih yang tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Kasih yang menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Kasih yang tidak berkesudahan
Kasih yang tanpa kesemuanya itu, bukanlah kasih.
Sudahkah kita terpilih untuk memberitakan kasih?
Bila sudah, maka lakukanlah kesemuanya itu.
Kasih seperti apa yang ada di dalam hatimu? Hatiku?
Kasih seperti apa yang kita berikan pada orang lain?
Kasih seperti apa yang kita beritakan melalui kehidupan, perkataan dan perbuatan kita?
Kasih seperti apa yang kita ingin miliki dalam keluarga, gereja, masyarakat kita?
Apakah semua jawabannya sama?
Atau berbeda satu dengan yang lain?
Apakah kita memilih kasih yang tulus, yang sabar, yang murah hati bagi diri kita sendiri?
Dan apakah kita memilih kasih yang munafik, yang mencari keuntungan bagi diri sendiri, yang akan kita berikan kepada dunia dan sesama kita?
Kalau kasih kita berikan, dengan penantian ucapan terima kasih, Itu bukan kasih.
Kalau kasih kita ucapkan hanya untuk membuat kita juga dikasihi, itu bukan kasih.
Kalau kasih kita lakukan, dengan harapan orang lain melakukan yang sama, itu bukan kasih
Itu hanya keegoisan kita...
Dan kegagalan kita mengerti Kasih yang sesungguhnya.
Kita dipilih..
Dipilih untuk menjadi pewarta kasih...
Kasih seperti apa?
Kasih yang sama dengan yang Tuhan berikan bagi kita.
Kasih yang tanpa pamrih, tanpa berkata ‘karena’, tapi kasih yang berkata ‘walaupun’
Kasih yang sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Kasih yang tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Kasih yang tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Kasih yang menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Kasih yang tidak berkesudahan
Kasih yang tanpa kesemuanya itu, bukanlah kasih.
Sudahkah kita terpilih untuk memberitakan kasih?
Bila sudah, maka lakukanlah kesemuanya itu.
Label:
Cinta,
Hidup,
Pelayanan,
Pengharapan,
Persahabatan
Langganan:
Postingan (Atom)