Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Januari 2012

WANTED: 10 Check List PENOLONG YANG SEPADAN

Lanjutan...


Hi!! Jumpa lagi kita di rubrik LSD. Kali ini kita masih melanjutkan kriteria PENOLONG YANG SEPADAN dari 2 edisi sebelumnya (semoga kalian masih ingat yaa) ({}) Kalo masih nggak ingat juga ini ringkasan 8 check list yang sudah ada: cinta Tuhan, dewasa, mampu menjadi ayah atau ibu, mampu menjadi sahabat, mampu menjadi kekasih, mau buka-bukaan, mau ditegur, dievaluasi, ditingkatkan kualitasnya, dan berani mengampuni.
Apakah kalian sudah punya semuanya, kalo belum...usahakan hingga semuanya ada pada kalian, supaya kalian jadi pasangan yang sempurna bagi si doi. Kalo sudah punya semua?Nah, artinya kalian siap menjalin hubungan yang lebih lanjut nich...apa aja ya check listnya?

9. Mapan & Bertanggung jawab
Sebelumnya jangan salah faham dulu terhadap point yang ke 9 ini. Yuk, kita lihat apa sih maksudnya: Yang pertama, mapan dan bertanggungjawab ini nggak bersifat gender ya! So, sama sekali nggak dikaitkan dengan pandangan bahwa seorang laki-laki harus memiliki penghasilan yang lebih besar dari isteri ( baca: lebih mapan), atau penghasilan isteri harus dibawah suami. Atau, dalam hal tanggung jawab, sang suamilah yang harus bekerja mencari uang, sedangkan tanggungjawab mendidik anak dibebankan hanya kepada isteri. Yang kedua, mapan disini bukan melulu soal materi, tapi soal kesiapan mental, jiwa, spiritual, yang artinya dewasa secara hati dan batin bukan hanya dewasa secara fisik. Apakah kalian mau menikah atau berpacaran dengan orang yang usianya cukup dewasa, kekayaannya cukup banyak, tapi sifatnya kaya anak-anak, galau misalnya? Wah bakal cape banget hidup kita kalo harus mendampingi pasangan yang seperti itu.
So, kalo kita dan pasangan kita telah menjadi manusia yang telah mapan dan bertanggung jawab, maka kita akan akan menjadi pasangan yang betul-betul menjadi penolong bagi satu dengan yang lain. Oh iya, satu hal yang penting, karena kemapanan dan tanggungjawab pada realitanya adalah sesuatu yang sifatnya relatif, maka kalian harus betul-betul melakukan percakapan dengan pasangan, (misalnya dengan menyamakan cara pandang, berbagi pendapat dan memutuskan bersama segala hal yang berkaitan dengan dengan kemapanan dan tanggung jawab ini) supaya di masa mendatang tidak menjadi sumber masalah dan konflik.

10. Siap berkomitmen
Sebelum kita bahas point yang ke 10 ini, kita harus kembali mengingat 9 point sebelumnya karena dapat dikatakan bahwa point ini harus ada menjadi pelengkap yang menyempurnakan point-point sebelumnya. Karena segala sesuatu yang pernah kita bahas dalam 2 edisi yang lalu hanyalah sebuah kesempurnaan yang tidak akan pernah jadi kenyataan tanpa sebuah KOMITMEN!! Mencintai Tuhan membutuhkan komitmen, menjadi dewasa, memberi yang terbaik, menjadi sahabat, kekasih, memberi diri untuk mau ditegur, mau terbuka, dan memiliki keberanian untuk mengampuni, menjadi pribadi yang bertanggung jawab...semuanya butuh KOMITMEN. Karena komitmen sebenarnya lebih dari sekedar janji. Komitmen adalah sebuah tindakan nyata yang mampu membuktikan semua janji yang pernah terucap.
Komitmen adalah kata yang mudah untuk ditulis, tapi sangat tidak mudah untuk dilakukan (kecuali dengan kekuatan dari Tuhan, (Everything is easy with and through God, isn’t it?) karena komitmen adalah kesetiaan tanpa akhir. Setia artinya tidak berpaling, apapun yang terjadi tidak berpindah hati. makna sesungguhnya dari “sampai maut memisahkan kita”, bukan berarti ketika pasangan kita meninggal kita dapat dengan bebas menikah dengan orang lain, namun ketika kita memilih seseorang untuk menjadi pasangan atau teman hidup, kita menetapkan hati bahwa dialah yang pertama dan terakhir, tak tergantikan. Itu idealnya, tapi ternyata banyak manusia tidak mampu bertahan ketika ia sudah ditinggal oleh pasangannya. Dan bila ia tidak mampu menguasai dirinya, maka lebih baiklah ia menikah lagi daripada berzinah. Oleh karena itu baik hukum maupun gereja tidak menghalangi seseorang untuk menikah lagi, tentunya dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dan dirancang dalam undang-undang.

Karena...
Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang menerima pasangannya dengan segala kekurangan dan kelemahannya tanpa menghakimi. Bersyukur ketika pasangannya tampil menawan, dan sama bersyukurnya ketika pasangannya mengenakan baju sederhana.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat sepasang suami istri memutuskan untuk terus mengikatkan diri dalam pernikahan, dengan tulus dan sukacita, meskipun salah satu dari mereka tidak bisa memberikan anak

Komitmen adalah sesuatu yang melampaui segala bentuk perbedaan, perselisihan dan pertengkaran. Ia tidak dapat dihancurkan oleh kekurangan, kelemahan maupun keterbatasan lahiriah. karena ketika kita berani mengikatkan diri dalam sebuah komitmen, kita telah 'mati' terhadap kepentingan diri sendiri.
http://www.jakartalantern.com/content/self-development/80-komitmen.html

Nah itu semua 10 check list dalam mencari PENOLONG YANG SEPADAN. Jangan lupakan karena sudah terbukti kebenarannya! 

Kamis, 10 Maret 2011

Spiritual Journey

YOU FEEL THAT YOU'RE LONELY
IT DOESN'NT PROVE THAT YOU ARE ALONE
YOU FEEL THAT NOBODY WANT YOU
IT DOESN'T MEAN THAT NO ONE CARES ABOUT YOU
Lahir dan tumbuh sebagai anak tunggal, sering kali membuat saya merasa kesepian. Mungkin banyak dari Anda berpikir wahh enaknya menjadi anak tunggal karena pasti seluruh perhatian diberikan pada saya. Ya, memang tidak salah menjadi anak tunggal membuat seluruh perhatian kedua orang tua saya tertuju pada saya. Namun, tidak seperti anak tunggal yang lain, saya memiliki kedua orang tua yang ‘unik’. Mereka tidak pernah memanjakan saya.
Papa yang notabene adalah seorang tentara UN (Batalyon IV, Garuda VIII) adalah seorang yang lembut sekaligus disiplin. Pengalaman hidupnya yang keras dan penuh perjuangan, juga pergaulannya yang sangat luas menjadikan ia pribadi yang sangat terbuka. Apapun pilihan saya didukungnya. Izin untuk naik gunung setiap tahun (dan pulang dengan sedikit babak belur karena jatuh dan gigitan lintah di wajah, perut hingga kaki), mengikuti segala macam kegiatan di sekolah, hingga masuk STT Jakarta, dengan mudah saya kantongi. Hingga usianya kini, 64 tahun beliau masih berprofesi sebagai dosen di PUSDIKLAT Badan Meteorologi dan Geofisika.
Mama. Bagi saya mama adalah sosok pekerja yang tidak pernah lelah. Sejak usia muda (SMA) hingga usianya kini, 64 tahun beliau masih bekerja sebagai asisten apoteker di salah satu apotik di kawasan Green Garden. Segala macam usaha dicobanya, maklum ia lahir sebagai anak dari keluarga besar (bahkan besar sekali). Memasak, bekerja, mencuci baju, mengepel, menjahit, mengelap....dan semua (saya tegaskan: SEMUA) pekerjaan rumah tangga diselesaikannya dengan sangat sangat...baik sekali. Karenanya kami tidak membutuhkan seorang pembantu di rumah. Dengan kedua orang tua yang pekerja keras seperti mereka saya harus memilih untuk dapat juga mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga sejak saya kecil. Hasilnya: saya memang tumbuh sebagai anak perempuan yang mandiri sekaligus keras kepala (karena semuanya sudah dapat dikerjakan sendiri).
Tentu bukan tanpa alasan kedua orang tua saya bekerja sedemikian rupa. Papa yang saat itu bekerja di Departemen Perhubungan dengan gaji yang ‘secukupnya’, harus membiayai saya yang bersekolah di BPK Penabur. Memang mama juga bekerja namun untuk mencukupkan segala kebutuhan hingga kami juga tetap memiliki tabungan, bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu mereka mencoba segala sesuatu untuk mencukupkan keluarga kami. Mulai dari berjualan sepatu, kaos, daster hingga makanan kecil dilakukan mama, sedangkan papa juga bekerja sebagai pelatih tenis di waktu luangnya atau setelah ia pulang bekerja. Yahh, itulah yang membuat saya benar-benar kesepian. Mama dan papa memang sangat sibuk waktu itu. Tapi, namanya anak kecil, belum dapat berpikir secara realistis membuat saya merasa tidak berharga. Lebih dari itu saya memiliki begitu banyak trauma (karena saat ini sudah tidak menjadi trauma, maka tidak perlu diungkapkan lagi ) di masa kecil saya yang membuat saya tiba pada kesimpulan semua orang tidak menginginkan saya. Saya merasa tidak disayang dan itulah awal mula pemberontakan saya.
Tidak ada kenakalan anak yang tidak pernah saya lakukan (bila saya sebutkan semuanya, mungkin buku ini akan menjadi sangat tebal, dan akhirnya anda akan berpikir untuk membatalkan saja penahbisan ini, hehehe) Saya mencoba untuk melarikan diri dari rasa kesepian saya, namun sayangnya saya salah memilih. Saya memilih untuk melakukan apa yang buruk, yang jahat, yang membuat kedua orang tua saya marah dan kecewa. Mungkin anda bertanya, apakah saya tidak pernah mendengar firman Tuhan? Apakah saya tidak pernah ke gereja? Berbicara soal Firman Tuhan, tentu saya belajar melalui pelajaran agama. Sejak TK hingga SMA saya bersekolah di sekolah Kristen yang sesungguhnya cukup untuk membuat saya mengerti siapa Yesus. Tapi yaahhh sebatas tahu saja. Kalo soal pengetahuan tentang agama, mudah sekali mendapatkannya bukan? Tapi melakukannya? Hmmm...saya akan pikir beribu-ribu kali untuk menjadi seorang Kristen. Bagaimana dengan gereja? GEREJA?! Jauh-jauh dari kehidupan saya. Saya tidak suka ke gereja, bahkan saya sangat membenci gereja. Bagi saya gereja hanya tempat anak-anak yang suka menyakiti orang lain, mereka suka mengejek, mengancam dan melakukan hal-hal yang menyakiti hati. Jadi gereja adalah tempat yang paling saya benci hingga saya beranjak remaja.

IF YOU THINK THAT YOU'RE NOTHING
BUT FOR ME YOU ARE SOMETHING BEAUTIFUL
PERJUMPAAN DENGAN TUHAN YANG MENGUBAH JALAN HIDUP
Lelah...lelah menjadi anak yang nakal, anak pemberontak, anak yang terluka...saya memutuskan untuk mengakhiri hidup. Saya benci hidup, saya benci sekolah (karena saya juga tidak punya teman, cenderung anti sosial dan kuper) saya benci semua yang pernah saya alami di manapun. Tak pelak lagi inilah saat-saat kritis dalam hidup saya, ketika saya tidak dapat menemukan satu orangpun yang berada di sisi saya. Kesepian saya sudah berada pada tingkat yang paling membahayakan. Tangis sudah tidak mampu membuat saya lega, malah dalam tangis munculah berbagai ide perbuatan bodoh yang mungkin akan membuat saya mati muda. Tapi disitulah saya menemukan Tuhan!! Di tengah derai air mata yang tak kunjung berhenti saya mendengar suara Tuhan dengan lembut berkata dalam hati dan pikiran saya: “Aku mengasihimu. Sekalipun semua orang menolakmu, Aku mengasihimu, dan untuk itu Aku mau mati bagimu.” Tidak pernah ada kalimat yang begitu indah mengisi relung batin saya yang kosong selain apa yang saya dengar dan imani sebagai suara Tuhan menyapa saya malam itu. Di sanalah letak perjumpaan yang mengubah seluruh jalan hidup saya dan disanalah perjalanan saya mencari Tuhan dimulai.
Hari demi hari saya belajar untuk membuka Alkitab dan membacanya. Dan saya sungguh dibuatnya terkejut. Apapun pertanyaan saya waktu itu dijawab-Nya dengan cara yang luar biasa melalui Alkitab. Kesadaran saya bahwa Tuhan sedang menggiring saya kedalam rancangan-Nya yang indah menjadikan saya luluh, tak berdaya dibuatnya, menyerah, dan memberikan diri saya untuk ‘digiring-Nya’ kemanapun Ia membawa saya.
YOU THINK THAT YOU CAN'T DO ANYTHING
BUT YOU CAN DO A LOT OF THINGS WITH ME
MAUKAH ENGKAU MELAYANIKU?
Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, gereja bukanlah tempat yang saya sukai. Hingga perjumpaan dengan Tuhan saya alami, gereja tetap belum menjadi pilihan saya untuk dikunjungi. Apalagi untuk bekerja secara fulltime di tempat itu. Aduhhhh, ga mungkin dehhh!!! Tapi ternyata saya sadar, bahwa saya tidak akan pernah dapat melawan kehendak Tuhan, lebih lagi bila itu sudah digariskan oleh-Nya.
Pemanggilan saya dimulai dari sebuah kunjungan saya ke rumah salah satu tetangga saya yang seusia dengan saya. Dalam kunjungan saya tersebut ia memperlihatkan sebuah selebaran yang diterimanya siang itu. Saya membacanya sebagai sebuah iklan untuk penerimaan mahasiswa baru dari sebuah STT di Jakarta, STT RII. Dia bertanya pada saya perihal keinginannya untuk masuk ke sekolah tersebut. Jawab saya: “Yah terserah kamu, kalau kamu rasa itu adalah yang terbaik, masuk saja.” Sepulangnya saya dari rumahnya, entah mengapa, hati saya jadi tidak karuan. Saya merasa selebaran itu ditujukkan untuk saya, bukan untuk tetangga saya, dan saya mengutarakan perasaan saya tersebut pada mama. Namun beliau tidak terlalu merespon karena mungkin pikirnya, saya masih labil soal menentukan kemana saya ingin melanjutkan kuliah. Apalagi saat itu saya ditawari beasiswa untuk masuk ke sebuah universitas swasta untuk mengambil jurusan komputer akutansi. Malam itu adalah malam pergumulan saya yang pertama.
Suatu saat, beberapa hari kemudian, hmmmm....sebelumnya saya ingatkan bahwa anda boleh percaya boleh juga atas kisah yang saya beritakan ini, tapi bagi saya ini adalah awal perjalanan, pergumulan dan perjuangan iman saya hingga hari ini anda membaca kisah saya. Beberapa hari kemudian ketika saya sedang belajar untuk ujian, saya dikejutkan kembali oleh suara yang dengan lembut menyapa dan bertanya: “Yael, maukah kamu melayani-Ku penuh waktu?” Kaget, binggung...semuanya bercampur aduk dalam benak dan hati saya dan saya mulai bertanya dalam hati benarkah semua ini, apakah ini hanya khayalan saya atau memang saya mendengar ada suara yang bertanya pada saya. Yang saya lakukan saat itu adalah berdoa, bertanya dan meminta tanda lebih lanjut untuk panggilan ini. Kalau ini memang panggilan Tuhan maka saya yakin Tuhan akan membukakan banyak pintu dan memberikan banyak kunci untuk membukanya. Dan Ia sungguh melakukannya!!
Tidak sampai 1 menit selesai saya berdoa, seorang kerabat, yang adalah ibu dari Pdt. Cipto M. Sapangi menghubungi saya dan bertanya akan kesiapan saya menjadi seorang mahasiswa teologi dan kesiapannya untuk mendukung saya dalam pilihan saya itu. Terkejut, itulah respon saya saat itu, tak mampu berkata, hanya mampu menangis dan mengucap terima kasih. Ternyata Tuhan tidak berhenti sampai di situ. Ia memberi lebih dari cukup tanda, pintu dan kunci yang paling tepat untuk membukanya.
LISTEN TO THE WORD I SAY
THAT I WILL ALWAYS BY YOUR SIDE
STT JAKARTA VS DUTA WACANA VS STT RII
Memilih sekolah teologi mana yang saya inginkan bukanlah hal yang mudah bagi saya. Saya tidak punya informasi sama sekali tentang STT mana yang terbaik, kelebihan dan kekurangannya. Pdt. Evelyn Yudiarti dan Pdt. Linna Gunawan adalah dua orang yang paling menolong saya menentukan pilihan yang terbaik. STT Jakarta menjadi pilihan saya. Dan tahukah anda pilihan saya itu membawa saya pada perbedaan pendapat dengan seorang kerabat yang pada saat itu berjemaat di salah satu gereja Bethel. Baginya STT Jakarta bukanlah pilihan tepat. Saya yang tidak tahu-menahu hanya mampu setuju dengannya. Tapi entah mengapa Tuhan menutup semua jalan bagi saya untuk memilih STT yang lain selain STT Jakarta. Dengan segala desas-desus, keburukan yang saya dengar tentang sekolah tinggi teologi tersebut, saya memutuskan untuk tetap memilh STT Jakarta sebagai tempat saya belajar. Dengan itu mama harus rela (walaupun lebih banyak bersusah hati karena harus melepas anak tunggalnya) membiarkan saya masuk dan menjadi mahasiswa teologi di tempat itu. Saya yakin apa yang Tuhan pilihkan bagi saya adalah pilihan yang terbaik bagi saya, tentunya tanpa merendahkan sekolah lain. Tapi karena saya yakin bahwa di tempat inilah Tuhan akan menempa, membentuk dan melengkapi saya menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab.
Suatu saat dalam doa saya mendengar dalam hati dan pikiran saya bahwa Ia berjanji tidak akan pernah meninggalkan saya , dan akan senantiasa memegang tangan saya selama saya berada dalam jalannNya. Itulah yang membuat saya semakin yakin atas pilihan ini. Dan sekali lagi Tuhan membuktikan bahwa pilihan-Nya adalah pilihan yang terbaik!

YOU MEAN EVERYTHING TO ME
THAT I WILL NEVER LEAVE YOU
CAUSE I LOVE YOU SO
TULANG RUSUK
Seorang kekasih diberikan kepada saya sejak semula saya memasuki panggilan ini. Saya menyebutnya tulang rusuk saya, karena memang Tuhanlah yang memilihkannya bagi saya (mau cerita lengkapnya silahkan diunduh www.kambinggunungdantulangrusuk.blogspot.com). Tanpa beliau (dan tentunya tanpa Tuhan) saya tidak akan sampai pada hari ini. Bagi saya dialah yang paling mengerti susah payah, pergumulan dan perjuangan saya berada di jalan yang UNIK ini. Dengan dialah saya menjalani hari-hari yang berat, yang menyakitkan, menyebalkan dan menguras air mata selama 5 tahun berkuliah di STT jakarta, dan 3 tahun setelahnya. Bersama dia jugalah saya menikmati banyaknya mujizat, berkat, dan jalan keluar dari masalah yang tidak pernah saya bayangkan terjadi dalam hidup saya sebelumnya. Kini, bersama dialah saya juga akan menghabiskan sisa hidup saya. Tuhan sungguh baik, bahkan sangat baik!
SEORANG SAHABAT YANG LAIN: PDT. HARRY KURNIAWAN DANI
Tuhan tidak pernah membiarkan saya sendiri, ia memberikan seorang sahabat yang luar biasa. Saya yang dapat dikatakan tidak pernah memiliki sahabat hingga duduk di bangku SMA, kini memperoleh kesempatan untuk menikmati yang saya namakan persahabatan yang terbaik yang pernah saya alami. Ia memberi 2 orang sahabat terbaik saya sepanjang perjalanan hidup saya hingga kini, Ebed Yosua Lamorahan, yang tak lain adalah suami saya, dan Harry!
Bersama beliau saya menjalani hari-hari di kelas, menjadi panitia selama lima tahun di STT Jakarta, di setiap event, di bidang yang sama: DEKORASI! Itulah yang membuat saya lulus dari STT Jakarta dengan predikat: tukang listrik, tukang kayu, tukan cat, tukang pohon, dan tukang segala-galanya. Bekerja mendekor aula STT Jakarta dengan dana yang sangaaaatttt terbatas hingga malam tak kunjung membuat saya lelah karena beliau selalu punya cara yang luar biasa membuat saya tersenyum. Di situ ada Yael di situ jugalah Harry berada. (kecuali toilet). Tak heran banyak adik kelas kami yang menyangka kami adalah sepasang kekasih.
Kehadirannya bagi saya layaknya air yang memberikan kesejukan tanpa batas, memberi saya semangat dan sukacita menjalani berat dan bosannya perkuliahan. Hingga kini, beliau sudah berkeluarga, dan menjadi seorang pendeta Gereja Kristen Pasundan, persahabatan kami masih seperti dulu. Saya dapat katakan bahwa saya sungguh bangga dan bersyukur punya sahabat seperti beliau! Thanks Harry!! thanks juga Irene yang tetap mengijinkan saya bersabat dengan suami terkasihnya! Tentunya terimakasih Tuhan yang telah mengasihi saya sedemikian rupa melalui mereka berdua.
WHEN I SAY THAT I LOVE YOU
IT'S MEAN I GIVE THE BEST FOR YOU
WHEN I SAY THAT I LOVE YOU
I WILL GIVE EVERYTHING FOR YOU
GKI KAVLING POLRI
Perjalanan saya di GKI Kavling polri juga termasuk tak terduga. Lulus pada tahun 2007 dari STT jakarta, ketika semua teman-teman seangkatan masih dapat bernafas setelah ‘kerja rodi’ selama 5 tahun, seorang pendeta datang menghampiri saya ketika saya sedang bertugas menjadi notulis di Persidangan MKJB di tahun yang sama. Mungkin anda sudah dapat menebak siapakah beliau. Ya! Pdt. Santoni mengajak saya untuk ‘bantu-bantu’ (yang berakhir dengan ‘terjebaknya’ saya  yang saya imani bukan kebetulan) di GKI Kavling Polri, khususnya untuk pelayanan remaja dan pemuda karena adanya kekosongan pembina.
Keras dan sulit, itulah perasaan yang saya alami ketika memasuki masa ‘diperbantukan’ saya di sana. Bagaimana tidak, saya, yang baru lulus ini, harus menggantikan sosok pembina sebelumnya yang sudah sangat senior dan berkualitas. Tahu apa yang saya rasakan? Saya seperti orang asing yang tidak tahu bahasa, kebudayaan, kebiasaannya. Intinya, saya seperti orang bodoh. Tidak mudah untuk membuat mereka menerima kehadiran saya di tengah-tengah mereka. Di tengah kebimbangan (karena saat itu saya juga diperhadapkan dengan pilihan GKI Kayu Putih sebagai tempat yang sudah dipersiapkan Sinode), saya ingat Firman Tuhan yang menyatakan, “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda...tapi jadilah teladan.” Yups...saya sadar bahwa mereka tetap akan menganggap saya masih hijau dan tidak berpengalaman bila saya tidak mampu menunjukkan keteladanan.
SUUUUSAAAHHHHH!! Apa yang mereka harapkan dari seorang remaja berusia 24 tahun? Itulah pikiran saya. Saya masih belum mau serius, masih pengen main, tapi sudah dituntut sedemikian rupa. Kembali, saya diyakinkan bahwa apapun proses yang harus saya alami di sini adalah bagian dari pembentukan dan cara Tuhan melengkapi dan mengasihi saya. DANNN KEMBALI IA BUKTIKAN BAHWA SAYA TIDAK SALAH MEMILIH, DAN PILIHANNYA ADALAH YANG TERBAIK!
3 tahun lebih saya melayani di GKI Kavling Polri, dan tahukah saudara GKI Kavling Polri adalah tempat yang palinggg tepat bagi saya untuk BELAJAR! Belajar mengendalikan diri, belajar sabar, belajar mengasihi dengan tulus, belajar mengampuni, belajar berbela rasa, belajar untuk mengerti sebelum dimengerti, belajar bahwa hidup ini indah oleh karenanya kita patut mensyukuri setiap kesempatan dan anugrah yang datang dalam hidup kita. Dia sungguh memberikan segala sesuatu yang saya perlukan bagi masa depan saya.
NO MORE FEAR ABOUT THE FUTURE
AND BLAME FOR THE PAST
I'LL GIVE EVERYTHING WHEN I SAY THAT I LOVE YOU
DARI INDONESIA KE NEGRI PAMAN SAM.
Menjadi delegasi GKI untuk event besar seperti Konfrensi Gereja-gereja Reform se-Dunia, bukanlah impian saya. Terbersitpun tidak! Tapi Tuhan beri saya kesempatan besar itu melalui Pnt. Rumeser, Pdt. Santoni, Pdt. Lazarus Purwanto, Pdt Jusak Soleeman, Pdt. Stephen Suleeman, Pdt. Kuntadi Sumadikarya, Pdt. Arliyanus Larosa, Pdt. Mungki A. Sasmita dan Pdt. Lindawati Chong.
Saya tidak akan sampai pada pengalaman yang demikian, bila Tuhan tidak pernah membentuk saya melalui kedua orang tua saya yang luar biasa, berbagai pengalaman pahit, pedih, sakit, dikecewakan, dikhianati, difitnah yang saya alami di masa lalu saya. Saya yakin ini bukanlah pengalaman yang dibentuk oleh kebetulan semata atau kesempatan yang datang tiba-tiba. Namun melalui perjalanan panjang yang terangkai dari masa lalu hingga masa kini, yang telah dirancangkan-Nya jauh sebelum saya dibentuk.
Dia meremukkan saya untuk membentuk saya menjadi pribadi yang lebih mengasihi-Nya, mengasihi ciptaan-Nya, dan mengasihi hidup yang sudah Ia karuniakan. Tuhan selalu punya cara untuk meyakinkan saya bahwa pilihan-Nya tidak salah, pilihan-Nya tidak kurang suatu apapun, pilihan-Nya adalah yang terbaik.
Kini, saya sadar tugas dan tanggung jawab yang ada di pundak saya semakin besar dengan menjadi pendeta dan menjadi salah satu Executive Committee dari badan dunia baru WCRC selama 7 tahun ke depan. Entah perjalanan seperti apa yang Tuhan rancangkan bagi saya di tahun-tahun ke depan, tapi yang saya yakini adalah RANCANGANNYA BUKAN RANCANGAN SAYA, DAN JALANNYA BUKANLAH JALAN SAYA, TAPI JALAN DAN RANCANGANNYA ADALAH YANG TERBAIK BAGI SAYA. JADI...IA PASTI MEMAMPUKAN SAYA DI TENGAH KETERBATASAN DAN KELEMAHAN SAYA SEBAGAI MANUSIA.
Takut? Kuatir? Ragu? Masih dapat saya rasakan tapi itu sama sekali tidak membuat saya ragu bahwa masa depan saya ada pada tangan yang tepat! Tuhan sendiri.
“Memohonlah agar engkau dimasukkan kedalam daftar pemaksaan Tuhan,
yang Kehendaknya Tak Dapat Diingkari untuk kebahagiaan dan kesejahteraanmu”
(Mario Teguh)

I WANT YOU TO KNOW THAT I DIED FOR YOU
I WANT YOU TO KNOW THAT I'LL GIVE ALL MY LIFE FOR YOU
WHEN I SAY THAT I LOVE... SAY THAT I LOVE YOU

Rabu, 21 Juli 2010

Diambang Batas

1 Raja2 17:17-24
Maz 30
Galatia 1: 11-24
Lukas 7: 11-17

Perasaan marah, sedih, benci, kesal, pupus harapan dan tidak tahu harus berbuat apa lagi menjadi hal yang biasa dialami dan dirasakan oleh manusia yang dilanda pergumulan, masalah, dan kepahitan hidup. Lumrahkah itu? Tentu...bukan manusia bila kita tidak merasa marah ketika orang yang kita cintai harus pergi meninggalkan kita, karena menjadi korban tabrak lari. Bukan manusia bila kita tidak merasa sedih bila anak yang kita banggakan tidak mampu bersekolah lagi karena keadaan ekonomi keluarga yang sedang morat marit. Bukan manusia bila kita tidak merasa benci kepada dokter yang seharusnya menolong alih2 membunuh sanak keluarga kita, karena perbuatan malprakteknya, atau ketika seorang guru yang seharusnya mendidik dan menjadi teladan malah menodai putra-putri kita. Tak usahlah kita mengalaminya terlebih dahulu untuk membayangkan bagaimana rasanya. Mendengar berita semacam itu di televisi saja sudah dapat membuat kita marah, kesal, dan sedih. Kejadian2 yang saya ungkapkan adalah kejadian2 yang biasa terjadi dalam hidup manusia, termasuk kejadian yang mungkin saja terjadi dalam kehidupan saya dan saudara, walau kita mengatakan lebih suka mengatakan “amit2 deh, kejadian sama saya”

Hidup tidak akan pernah berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan, hidup tidak pernah menjadi ideal seperti apa yang kita bayangkan tetang suatu yang ideal dan tidak. Ada kalanya, bahkan banyak kalanya kita merasa di ambang batas kekuatan dan kesabaran. “Manusia kan terbatas, semuanya ada batasnya, kesabaran saya ada batasnya begitu juga dengan kekuatan saya.” Menjadi pembelaan yang senantiasa kita katakan kepada Tuhan ketika kita lebih memilih untuk mulai marah, mengeluh, menyalahkan keadaan dan lain sebagainya. Tak mampu untuk maju namun tak mungkin juga untuk mundur, hasilnya kita akan menjadi hidup enggan mati tak mau, pun kita memutuskan untuk tetap melanjutkan hidup, maka kita akan menjadi manusia yang hidup dalam dendam dan keputusasaan.

Lalu bagaimana kita dapat melanjutkan hidup yang berada dalam ambang batas? Di ujung tanduk? Setiap manusia pasti pernah mengalaminya, tua muda, miskin kaya, siapapun dia. Begitu juga dengan para tokoh Alkitab. Mereka juga menjadi makhluk yang rentan akan kepedihan hidup, tapi mengapa kisah-kisah mereka menjadi inspirasi selama ribuan tahun? Bukan karena betapa hebatnya pergumulan hidup mereka, namun karena betapa mereka telah menjadi teladan yang baik dalam menghadapi masalah terberat sekalipun. Apa teladan mereka?

1. Banyak dari saudara masih mengingat kisah tentang Janda di Sarfat. Ia adalah seorang perempuan miskin yang hidup bersama anak tunggalnya. Ia bertahan hidup hanya dengan sedikit tepung dan minyak untuk membuat roti hingga Elia datang sebagai hamba Allah membawa berkat Tuhan yang tak henti kepada keluarganya. Namun disuatu waktu Tuhan mengambil anaknya yang satu-satunya itu. Apa yang mungkin terjadi padanya? Hancur hatinya sebagai seorang ibu, menjadi sebatang kara tanpa orang-orang yang ia kasihi. Ia merasa semua yang ia hadapi termasuk kematian anaknya menjadi suatu hukuman bahkan kutukkan baginya, yang menyadarkan ia akan kesalahan2nya. Lalu bagaimna dengan Elia? Adakah Ia marah kepada Tuhan, karena Tuhanlah yang mengutusnya untuk tinggal bersama dengan janda miskin tersebut ketika ia berada dalam pelariannya dari Raja Ahab dan Izebel isterinya yang hendak membunuhnya? Adakah ia marah karena kini ia harus berhadapan dengan janda yang berduka, karena kehilangan anaknya. Apa yang mungkin dirasakan Elia? Mungkin ia akan berkata: “Aduh Tuhaaannn, Engkau ini mau apa sihh...aku membelamu, dan aku hampir mati karenanya, kini aku seakan2 membawa musibah dan kutuk bagi keluarga yang Kau utus untuk memelihara aku."
Dalam kehidupan kita sehari2, bagi sebagian kita, melihat kemalangan, kesusahan, hingga penderitaan, datang sebagai sebuah hukuman dan kutukan yang menyengsarakan, sedangkan sebagian yang lain melihatnya sebagai teguran hingga ujian yang dapat mendewasakan dan menumbuhkan iman. Kini, respon mana yang kita pilih? Elia memilih untuk meresponi hal2 buruk yang terjadi dengan kemarahan dan kekecewaan terhadap Tuhan yang telah mengutusnya, alih2 Ia mencari Tuhan dan memohon kepadaNYa untuk mengembalikan nyawa anak sang Janda. Entah berapa lama ia berdoa dan berseru kepada Tuhan. Alkitab hanya mencatat bahwa ia berseru kepada Tuhan sebanyak 3 kali. Memang tiga kali bukanlah jumlah yang banyak, namun itu 3 x menyatakan kegigihan Elia dalam ambang batasnya (baca: ketakutan terhadap ahab dan isterinya, kepedihan melihat siapa yang menolongnya bukanlah bangsanya tapi mereka yang ditolak, kesedihan melihat mereka yang menerimanya dilanda kesulitan, kegeraman terhadap bangsanya yang bebal). Ia tidak mudah menyerah dan memilih untuk terus berharap kepada Tuhan walau mungkin Tuhan mengatakan TIDAK. Lalu apa yang terjadi? Bukan hanya kebangkitan sang anak yang terjadi, namun perjumpaan Sang Janda dengan Allah yang luar biasa itu. Kepasrahan dan pengabdiannya kepada Tuhan, ketika hidupnya berada di ambang batas, menjadi teladan yang tidak hanya memberikan jalan keluar, tapi juga membawa keselamatan yaitu kehidupan yang sesungguhnya bagi keluarga janda itu.
2. Apa yang akan terjadi pada seseorang yang gagah, dihormati, ditakuti, berkuasa, pandai, ketika ia kehilangan segalanya sesuatunya itu? Adakah dari anda yang akan menjawab sakit2an lalu mati? YA, bagi manusia itu adalah hal yang paling mungkin terjadi. Namun tidak bagi manusia yang mengandalkan Allah. Dimanakan batas ambang Paulus? Yaitu ketika ia kehilangan semuanya termasuk kuasanya. Dulu ketika ia masih menjadi musuh Allah ia dapat melakukan apapun yang ia suka, menggunakan kekuatan dan pengaruhnya untuk membawa banyak orang ke penjara. Namun kini ketika ia memilih untuk berjalan dalam dan bersama Tuhan, ia kehilangan semuanya. Ia yang menangkap kini ditangkap, ia yang dahulu memukul kini dipukul, ia yang dahulu mengikat kini diikat...siapa yang tahan? Bukankah bagi manusia itu semua adalah hal yang tidak mudah untuk dilalui. Terlebih lagi Paulus mengatakan bahwa ia pergi ke Damsyik tempat dimana ia banyak membunuh dan mengejar orang Kristen. Orang-orang tentu tahu apa tujuannya ketika terakhir kali ia datang ke kota itu, maka kembali ke Damsyik dilakukannya dengan penuh keberanian. Bagaimana dengan Yerusalem? Disanalah orang orang Yahudi yang dulu adalah kawan dan sekarang menjadi lawan bagi Paulus. Meraka tidak suka akan perubahan yang terjadi dalam diri Paulus. Ia juga kembali ke kampung halamannya, tempat ia dibesarkan, Siria dan kilikia. Tentu orang2 di sana tahu dengan pasti orang seperti apa Paulus itu. Menghadapi masa lalu adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan oleh manusia, namun Paulus berani menghadapi masa lalunya itu.
Lalu bagaimana Paulus menghadapi ambang batasnya? Kesadaran bahwa hidupnya ada dalam rancangan kasih karunia Allah dan panggilan Allah. (Ay 14) sukacita karena Allah berkenan menyatakan diri kepadanya. Sejak Paulus mengalami ‘pencerahan’ itu, tidak sekalipun ia meminta pertimbangan manusia. Surat Galatia menjadi jawaban Paulus akan segala tuduhan yang ditujukkan kepadanya, yang menyerangnya secara pribadi, dengan tujuan melemahkan pengaruhnya. Keberaniannya menghadapi masa lalu, datang kepada mereka yang dulu ia kejar dan benci menjadi teladan yang tidak hanya membawa sukacita, namun juga kekaguman yang besar terhadap Tuhan yang dapat mengubah seseorang dengan begitu rupa.

My Family, My Cross...

“Gue sebel sama ade gue, tadi dia ngaduin gue ke nyokap, kalo gue yang mecahin vas bunga mahal punya nyokap. Tuh mulutnya kaya ember banget! Nyesel gue dulu pernah minta ade sama nyokap gue!!”
Adakah dari kita yang pernah mengucapkan kalimat penyesalan seperti di atas? Atau dalam bentuk yang lain misalnya kepada orang tua, kakak atau saudara yang lain? Jangan takut untuk mengakuinya loh! Karena kalimat tersebut adalah kalimat yang paling sering terlontar secara spontan karena emosi sesaat yang dialami oleh anggota keluarga karena adanya hal yang berjalan diluar kehendak dan kendalinya. Kalo dipikir-pikir kata-kata tersebut memang sangat normal dan manusiawi (bukan berarti kita boleh mengatakannya loh), karena kebanyakan manusia ingin memiliki keluarga ataupun anggota keluarga yang sesuai dengan harapannya. Sedangkan pada kenyataannya kita memang tidak dapat memilih siapa yang akan menjadi orang tua ataupun saudara kita; seperti apa rupa orang tua dan saudara-saudara kita; keadaan ekonomi; sifat-sifat buruk yang tidak diharapkan, dan lain sebagainya.
Pdt. Em Andar Ismail, pernah mengatakan bahwa setiap keluarga memiliki salibnya masing-masing, yang berbeda satu keluarga dengan yang lain, baik dalam hal rupa dan beratnya. Hal-hal yang tidak kita harapkan terjadi dalam keluarga kita, masalah-masalah ringan hingga yang seakan tidak dapat kita tanggung, konflik antara anggota keluarga, perbedaan pendapat dan prinsip, dan lain sebagainya, itulah yang diumpakan beliau sebagai salib.
Masalahnya, banyak dari kita yang merasa salib kita terlalu berat atau salib keluarga lain jauh lebih ringan. Sehingga ungkapan ‘rumput tetangga jauh lebih hijau dari rumput di halaman sendiri’ menjadi hal yang biasa. Padahal, bagi yang mengalaminya sendiri mungkin rumput di halaman kitalah yang jauh lebih hijau, lebih subur dibanding rumput di halaman kita. Atau dengan kata lain, ketika kita mulai mengatakan enaknya punya keluarga seperti seperti keluarga si A, atau keluarga si B, mereka juga mungkin berpikir betapa enaknya memiliki keluarga seperti yang kita miliki.
Nah kalau sudah begitu, kita akan menjadi anak-anak pemimpi yang tidak mau menghadapi realitas yang telah Tuhan karuniakan kepada kita, dalam rupa keluarga dan segenap permasalahannya. Lalu apa yang dapat kita lakukan? Hal pertama yang harus kita sadari adalah bahwa Tuhan tidak pernah asal-asalan menempatkan kita di sebuah keluarga loh! Segala sesuatu sudah dirancangkan jauh-jauh hari sebelum kita berada di dalam kandungan ibu kita, serperti yang Tuhan katakan kepada Nabi Yeremia dalam Yeremia 1: 5a yang berbunyi: “sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau.” Ia tahu keluarga yang ‘terbaik’ bagi setiap kita untuk bertumbuh dan berkembang.
Memang kita dapat berkata: “ Bagaimana keluarga saya dapat dikatakan tempat yang baik bagi saya untuk bertumbuh dan berkembang, ketika saya merasa orang tua saya menyakiti saya lewat perkataan, dan perbuatan mereka.” Tapi kita juga harus menyadari bahwa cara Tuhan membentuk kita tidak kadang tidak sejalan dengan cara kita, bahkan kadang Tuhan membentuk kita dengan proses yang tidak menyenangkan hingga menyakitkan. Tentunya bukan untuk sekedar menguji, atau untuk kepentingan DiriNya semata, tapi untuk menjadikan kita anak-anakNya yang berkualitas, bermartabat dihadapanNya dan di hadapan sesama manusia.
Nah, karena cara Tuhan kadang tidak sejalan dengan cara kita, bagaimana kita merespon cara Tuhan ini?
1. Bersyukurlah. Bersyukur bukan hanya ketika kita mengatakan terima kasih Tuhan telah memberikanku orang tua yang baik, yang sudah menyekolahkanku hingga sebesar ini. Tapi ketika kita menggunakan kesempatan yang Tuhan beri sebagai sebuah keluarga untuk saling memberi yang terbaik selama kita bisa. Bersyukur untuk semua pahit manis yang kita jalani sebagai sebuah keluarga dengan tetap meyakini janji Tuhan, bahwa segala sesuatu akan dibuatNya menjadi kebaikkan bagi setiap kita yang percaya kepadaNya. (Roma 8:28.)
2. Tempatkan diri sebagai Sahabat bagi setiap anggota keluarga. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menajdi saudara di dalam kesukaran” Amsal 17:17. Kadang kita tidak dapat memahami mengapa orang tua, saudara kita melakukan ini dan itu yang membuat kita kesal, marah hingga sedih. Bahkan kita sering kali tidak dapat memahami siapa sebenarnya orang tua dan saudara kita. Oleh karena itu, cobalah menjadi seorang sahabat bagi mereka, yang siap mengerti, mendengar, menolong setiap anggota keluarga kita, dan bukan hanya meminta untuk dimengerti, didengar, ditolong!
3. Jadilah pribadi yang bersikap positif satu terhadap yang lain, dengan cara mengevaluasi diri tentang seberapa banyak kita, sebagai anggota keluarga telah mengubah anggota keluarga kita yang lain menjadi lebih baik. Sudahkah, dengan keberadaan kita sebagai anak, kakak, adik, menjadikan hidup orang tua, kakak dan adik kita menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Senin, 02 Maret 2009

Merayakan Tuhan di Tengah Keluarga


Yoh 12:1-8

Pertanyaan:

  1. apa yang dimaksud dengan merayakan Tuhan di tengah keluarga?
  2. mengapa kita perlu merayakan Tuhan di tengah keluarga?
  3. bagaimana cara merayakan Tuhan di tengah keluarga?
  4. kapan waktu yang tepat bagi kita merayakan Tuhan di tengah keluarga?

Merayakan itu apa sih? Apa saja sih yang biasanya dirayakan? Ulang tahun, kelulusan, keberhasilan, kelahiran dan lain sebagainya. Yaaa memang sering kali kita memahami perayaan/ merayakan hanya sebatas pada event2 bahagia dimana ada makan-makan, senang-senang, ada sukacita, ada hadiah, ketemu sama saudara jauh, ramai dan lain sebagainya. Namun ternyata merayakan lebih dari hanya sekedar senang-senang. Merayakan memiliki arti memperingati: melakukan sesuatu untuk menunjukkan ‘sesuatu’ (hari, event, seseorang, dll) itu penting, atau melakukannya untuk menunjukkan penghormatan terhadap sesuatu atau seseorang.

Ketika kita merayakan Tuhan di tengah keluarga kita, berarti kita juga:

1. Harus menganggap Tuhan sebagai sosok yang penting dalam keluarga kita.

2. Merayakan Tuhan juga dilakukan atas dasar rasa hormat kepada Tuhan.

Nah kini pertanyaannya adalah, apakah kita sungguh menganggap Tuhan penting dalam keluarga kita, bagi kita? apakah kita sungguh menghormati Tuhan dalam keluaga kita? Mustahil bagi kita untuk dapat merayakan Tuhan dalam keluarga kita tanpa adanya sikap hormat kepada Tuhan dan menganggap Tuhan sebagai sosok yang penting dalam kehidupan. Coba saja kita lihat apa dan siapa yang kita rayakan dalam keluarga kita. Bukan orang yang tidak kita kenal bukan, mereka tentu orang-orang yang kita anggap penting dan memiliki peran dalam hidup kita. Misalnya : tidak mungkin kita merayakan ulang tahun tetangga kita kan? Apalagi orang yang tidak punya ‘dampak’ apa-apa buat kita.

Banyak dari kita terkadang tidak sadar bahwa Tuhan ternyata adalah sosok yang amat penting untuk kita, Ia juga adalah sosok yang membawa dampak yang luar biasa bagi kehidupan kita. karena pengorbanan diriNya di kayu salib kita dapat menikmati keselamatan dan anugerah yang luar biasa. Karena kematianNya jugalah kita bisa menikmati ibadah dalam ruang yang nyaman, bersama teman dari segala suku bangsa, tanpa ada pembatasan dan pelarangan. Namun seringkali apa yang dilakukanNya itu kita anggap angin lalu dan kita anggap sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Padahal apa yang dilakukan Tuhan sama sekali tidak biasa bahkan yang ia lakukan sungguh luar biasa bagi kita. karena sesungguhnya tidak biasa seorang Raja apalagi Tuhan datang ke dunia untuk mati, bagi orang yang dikasihiNya. Trus, apa sih pentingnya merayakan Yesus di tengah keluarga kita? apa keuntungannya? Bukannya malah jadi ribet? Kalo ada Yesus kan kita ga bebas, ga bisa marahan sama mama-papa, adik atau kakak, harus menjaga sikap dan lain sebagainya. Tapi tidakkah kita sadar bahwa Yesuslah yang mampu memberikan kita kekuatan untuk tetap saling mengasihi, saling menghormati, saling memberi dan menerima. Tidakkah kita sadar bahwa Yesus jugalah yang menyatukan dan memelihara kita sebagai keluarga?

Itulah yang dirasakan oleh Lazarus beserta saudaranya, Maria dan Marta. Bagi Lazarus, Yesus adalah sosok yang sangat penting, karena Ia telah memberikan kehidupan baru bagi Lazarus beserta keluarganya. Mujizat yang dialami oleh Lazarus membawanya kepada rasa hormat kepada Yesus. Rasa hormat itulah yang menjadi dasar Lazarus mengadakan perjamuan bagi Yesus, bukan hanya untuk sekedar mengingat apa yang telah Yesus lakukan dalam kehidupannya, namun terutama karena ia sungguh menganggap Yesus sebagai sosok penting, yang telah memberikan perubahan besar dalam kehidupannya.

Bukan hanya Lazarus yang menganggap Yesus penting, Maria, saudara Yesus juga menganggap Yesus sebagai sosok yang penting dalam kehidupannya. Bila kita mengingat apa yang dilakukan oleh Maria ketika Yesus datang ke kediaman mereka. Maria menjadi orang yang dengan setia duduk di bawah kaki Yesus untuk mendengarkan pengajaranNya. Apa yang dilakukan Maria menunjukkan Yesus sebagai prioritas utama dalam hidupnya. Dalam kisah kali ini Maria menjadi perempuan yang memberikan penghormatan dengan cara meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu murni. Minyak Narwastu pada masa Yesus dikenal sebagai minyak yang amat mahal, dan memiliki aroma yang begitu harum, yang biasanya digunakan untuk pengurapan seseorang atau sesuatu yang dianggap spesial, bisa juga digunakan untuk menyembuhkan luka.

Maria juga menyekanya dengan rambutnya (3). Rambut bagi perempuan masa itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Oleh karena itu banyak perempuan tidak memotong rambutnya. Namun bagi Maria sesuatu yang sangat berharga itu tidaklah lebih berharga dari Yesus. Maria menggunakan rambutnya untuk menyeka kaki Yesus yang sebelumnya telah dituanginya dengan minyak termahal yang ia miliki. Kaki tentunya bukan anggota tubuh yang bersih, malah dapat dikatakan merupakan anggota tubuh yang paling banyak mengandung kotoran dan kuman. Apa yang mendorong Maria melakukan semua itu untuk Tuhan, tidak lain selain rasa hormat dan kasih yang tulus kepada Yesus.

Kini apa yang dapat kita lakukan untuk dapat merayakan Yesus di tengah Keluarga kita? Apakah mencontoh apa yang dilakukan Maria? Tentu tidak, hal tersebut sudah tidak bisa dilakukan lagi. Karena YESUS juga telah berada di sorga. Namun bukan berarti Yesus tidak dapat hadir di tengah-tengah keluarga kita. Ia akan tetap hadir dan tinggal di tengah keluarga kita. hanya saja sering kali kehadiran Yesus tidak disadari bahkan Yesus dianggap tidak ada dan tidak pernah ada dalam keluarga kita. apa yang bisa kita lakukan? Apa yang harus kita perhatikan ketika kita merayakan Tuhan di dalam keluarga kita ?

1. MOTIVASI. Ay5-6. menceritakan Yudas yang sinis terhadap apa yang dilakukan Maria untuk Yesus . ia mengatakan: Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" Memang apa yang dilakukan oleh Maria pada masa itu dapat dikatakan sebagai suatu pemborosan, namun motivasi Yudas bukan motivasi yang baik. Yudas berkata demikian bukan karena ia sungguh memang peduli terhadap nasib masyarakat yang miskin. Dan ketika Yesus memilih apa yang Maria lakukan dari pada memuji saran Yudas, bukan karena Yesus tidak perduli terhadap mereka yang kekurangan. Lukas menuliskan, bahwa kehadiran Yesus sesungguhnya adalah bagi mereka yang tersisihkan baik itu secara social, ekonomi. Ia datang untuk mereka yang miskin, lapar, sakit dan terlantar. Namun Yesus melihat bukan pada apa yang diperbuat tapi apa yang ada di dalam hati manusia. Firman Tuhan kepada Samuel: “bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Yang dapat kita pelajari dari Maria sesungguhnya adalah motivasi yang benar di hadapan Tuhan

2. MEMBERIKAN YANG TERBAIK. Maria memberi yang terbaik bagi Yesus dengan memberikan apa yang dimilikinya, yang paling berharga baginya, yang terdapat padanya. Dengan melayani sesama anggota keluarga kita berarti kita juga sedang melayani Tuhan. Jadi merayakan Tuhan di tengah keluarga bukan semata dengan pesta, penuangan minyak, tapi juga dengan melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan bagi sesama anggota keluarga kita. bukan dengan membelikan barang barang yang mahal, tapi terutama memberi dengan dasar kasih sayang. Pemberian terbaik tidak dilihat dari berapa banyak, berapa mahal yang dapat kita berikan, tapi seberapa besar hati kita kita berikan dalam pemberian kita. Karena barang paling mahalpun akan dapat kita beli bila kita punya uang, namun hati dan kasih yang tulus tidak akan pernah bisa terbeli oleh uang sebanyak apapun.