Jumat, 02 Maret 2012
Dua Jalan
Lebar dan sempit mana kau pilih?
Yang lebar api, jiwamu mati
Tapi yang sempit, Tuhan berkati
Kebanyakan kita pernah mengikuti sekolah minggu pasti mengenal dengan baik lagu ini. Lagu yang dinyanyikan dengan gerakkan ini kerap kali membuat tersenyum siapapun yang melihatnya. Namun, bila dimaknai lebih dalam lagi, lagu tersebut bukan sekedar lagu sekolah minggu yang hanya sekedar riang dan minim makna. Lagu “Di dalam Dunia” adalah lagu yang sarat makna, bahkan lebih dari yang sering kali kita bayangkan, karena liriknya merupakan realita hidup yang setiap hari kita jumpai. Selama kita masih hidup di dunia, kita masih akan dan selalu menemukan diri kita berada di persimpangan. Persimpangan yang membawa kita pada hasil yang sama sekali berbeda.
Persimpangan itu menujukkan dua jalan yang harus dipilih oleh setiap manusia. Jalan pertama adalah jalan yang sulit untuk ditempuh, panjang, berliku, berbatu, mengharuskan kita naik dan turun. Jalan yang sungguh mengueras emosi, hati, tenaga, bahkan seringkali membuat kita menyerah dan kehilangan tujuan. Begitu suitnya hingga banyak orang tidak memilh jalan yang ini, oleh karena banyak orang yang memilih jalan ini merasa sendiri dan ditinggalkan.
Di sisi lain, jalan yang lain adalah jalan yang sangat menyenangkan, bebas hambatan, tidak ada kemacetan, jalannya begitu mulus, dikelilingi pemandangan yang menyenangkan mata dan hati manusia. Jalannya lebar, dan ternyata banyak yang memilih untuk menempuh perjalanan hidup melalui jalan ini, sehingga kita tidak merasa sendirian. “Menyenangkan deh pokoknya.”
Namun bagaimana akhirnya? Ternyata jalan yang sempit berakhir pada sebuah taman yang sangat indah, dimana manusia mendapatkan segala sesuatu yang ia butuhkan, yang baik. Disanalah ia mendapatkan ketenangan hidup yang kekal yang tidak akan pernah diperolehnya bila ia memilih jalan yang lebar. Lalu bagaimana akhir jalan yang lebar dan menyenangkan itu? Nampaknya sebuah jurang tanpa dasar menganga begitu rupa menanti kedatangan mereka yang memilih jalan itu.
Jadi apa pilihan Saudara?(YLH_12)
Selasa, 07 Februari 2012
Perjumpaan Yang Mengubahkan
Perjumpaan yang mengubahkan
Pernahkan Anda berjumpa dengan seseorang yang baik secara langsung atau tidak langsung mengubah hidup anda? Orang seperti apakah ia? Apa yang membuat Anda mengatakan bahwa ia mengubah hidup Anda? Dan apa yang berubah?
Anda pasti memiliki alasan dan jawaban sendiri-sendiri yang berbeda satu dengan yang lain dan subjektif sifatnya. Misalkan saja Anda bertemu dengan seorang pemulung tua yang sedang bekerja di tengah siang hari bolong, bagi Anda, pemulung tua tersebut menjadi sebuah inspirasi yang begitu melekat pada hati Anda. Tapi orang lain belum tentu merasakan hal yang sama dengan Anda. Mengapa demikian? Karena, perjumpaan bersifat pribadi. Mengubah seseorang, belum tentu mengubah orang yang lain.
Kini, yang menjadi permasalahan adalah ketika manusia berjumpa dengan Tuhan. Bukankah Tuhan terlalu besar untuk ditolak? Bukankah Tuhan terlalu besar untuk tidak menjadi sebuah inspirasi? Rasanya tidak mungkin bila Tuhan tidak dapat menjadi sebuah inspirasi. Namun, pada kenyataannya memang seperti itu. Tidak semua orang yang berjumpa dengan Tuhan mengalami perubahan. Dimana letak kekeliruannya? Apakah Tuhan bisa mengalami kegagalan juga?
Ternyata kuncinya bukan pada perjumpaan tapi pada kesiapan hati untuk mengalami perubahan. Bukan Tuhan yang gagal tapi manusia yang gagal memaknai perjumpaan dengan Tuhan, manusia yang mengeraskan hati dan tetap pada pendirian mereka yang mereka anggap benar. Orang Farisi dan Ahli taurat contohnya. Mereka berjumpa dengan Yesus setiap hari, bahkan dalam setiap hari itu mereka dapat menemukan Yesus mengajar dengan penuh hikmat dan melakukan mujizat-mujizat, tapi apakah mereka berubah? TIDAK. Alih alih seorang perempuan Samaria yang baru pertama kali berjumpa dengan Yesus, ternyata dapat mengalami perubahan dalam seluruh hidupnya.
Jadi bila kini kita belum mengalami perubahan, jangan cepat-cepat berkata: “Tuhan mujizatnya kurang nyata!” atau “ Tuhan berkatnya kurang banyak.” Tapi mari periksa dengan seksama kesiapan hati kita untuk berubah menjadi lebih baik. (YL_12)
Kamis, 10 Maret 2011
Dengarkanlah Kristus Anak Allah Yang Terkasih
Keluaran 24:12-18
Mazmur 2
2 Petrus 1:16-21
Matius 17:1-9
Apa pentingnya kita, sebagai anak-anak Allah mendengarkan Yesus? Bagaimana bila pertanyaannya saya ganti menjadi: Siapakah Yesus? “Bagaimana sih Ibu ini, siapapun tahu Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat manusia” Apakah benar semua orang tahu? Kalau semua orang tahu lalu mengapa banyak orang yang tidak mau percaya? Bahkan kita yang adalah orang Kristen, yang juga pasti tahu bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat manusia belum tentu percaya 100% pada Dia, yang kita panggil Tuhan itu, bukan?
Yesus adalah anak Allah. Kini bagaimana kita memperlakukan anak? Biasanya anak diperlakukan sebagai yang lebih kecil, yang tidak berpengalaman, yang tidak mampu mandiri, yang tidak seberkuasa orang tuanya. Tanpa sadar paradigma budaya kita memandang seorang anak, menghantar kita pada paradigma yang demikian pula dalam memandang Yesus. Menjadi anak bukan berarti menjadi lebih lemah, lebih kecil, lebih terbatas kuasaNya. Yesus adalah Allah bukan hanya sekedar anak Allah, tapi sungguh-sungguh Allah. Kata anak ingin menggambarkan betapa sesungguhnya Ia memiliki persamaan dengan BapaNya, dan betapa Ia memiliki hubungan yang intim dengan bapaNya. Yesus mendapat kepercayaan dan kuasa penuh dari BapaNya, bukan hanya karena Ia adalah anak, namun karena Ia adalah Allah itu sendiri. Ia ada dan telah ada sebelum manusia dijadikan. (Bdg Yoh 1:1-3)
Kini kembali pada pertanyaan awal kita? Apa pentingnya mendengarkan Yesus, Anak Allah yang Terkasih? Tentunya mendengarkan Yesus bukan seperti mendengarkan siaran radio, atau lagu favorit. Karena mendengarkan yang demikian hanya akan membawa kita mendengar dengan telinga, dan bukan mendengarkan dengan hati. Lebih lagi mendengar yang demikian adalah mendengar sesuai dengan tuntutan selera, bukan mendengar karena adanya ketergantungan yang benar,iman. Karena mendengar karena iman adalah mendengar yang membuahkan hasil dalam bentuk yang nyata bukan hanya teori atau sesuatu yang bersifat ambigu. Lalu apa pentingnya kita mendengar Yesus sebagai anak Allah:
1. Menerima kemuliaan Allah yang menjadikan kita berbeda dengan manusia lain. Keluaran 24: 16-17 Apa sih kemuliaan Allah itu? Macam apa kemuliaan Allah itu? Kata kemuliaan menggunakan kata dasar bahasa Ibrani kabod yang artinya kehormatan, (penghormatan, mendapatkan rasa hormat), keagungan, keluhuran, kemegahan, keindahan, takzim. Pertama-tama yang harus kita sadari adalah menerima Yesus sebagai Allah akan menghantarkan kita pada sikap menghormati, mengangungkan, memegahkan Allah, sebagai Tuhan dan pemilik hidup. Yang kedua, mendengarkan Allah, akan membawa kita pada kemuliaan Allah yang bertahta dalam diri kita. 2 TESALONIKA 2:14 Untuk itulah Ia telah memanggil kamu oleh Injil yang kami beritakan, sehingga kamu boleh memperoleh kemuliaan Yesus Kristus, Tuhan kita. Nah, kini apa maksudnya kita boleh memperoleh kemuliaan Yesus Kristus? Orang orang yang memiliki kemuliaan Kristus, juga akan mendapatkan kehormatan, keindahan, kemegahan, ketakziman Kristus. Mengapa ? karena orang melihat Kristus dalam kita. Orang mendengar perkataan Kristus yang keluar dari lidah bibir kita. Orang melihat tindakan-tindakkan Kristus melalui tindakan kita. Akhirnya orang mulai bertanya, Hebat sekali orang itu, bisa sabar, bisa murah hati, bisa lembut. Kemuliaan Allah membuat kita berbeda dengan orang lain. Pernahkah anda melihat seseorang yang membuat anda kagum, sepertinya orang tersebut adalah orang yang sangat baik, sampai kita tidak mampu menyakitinya? Seperti itulah kurang lebih kemuliaan Tuhan dalam diri manusia.
2. Menjaga terang dalam hati manusia. 2 Pet 1: 19. Mendengarkan Allah akan menjadikan kita tetap menyala di tengah kegelapan yang paling pekat sekalipun. “Give me oil in my lamp keep me burning...give me oil in my lamp i’ll pray” Karena manusia hidup tidak hanya dari roti saja, tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Sayangnya banyak manusia yang tidak sadar betapa pentingnya Firman. manusia modern lebih dikuasai dan dipengaruhi oleh geliat kehidupan yang berada di luar dirinya: pekerjaan, pakaian, ketenaran, kuasa, kehormatan, namun tidak pernah peduli betapa kosongnya dirinya. Orang tua modern lebih suka memenuhi dan memperhatikan yang kelihatan seperti kebutuhan materi, dan fisik anak-anaknya ketimbang memperhatikan dan memenuhi kebutuhan rohani dan memperhatikan perkembangan jiwa si anak. Mendengarkan Allah adalah salah satu cara manusia memperhatikan apa yang ada di dalam. Mendengarkan Allah membuat kita mengisi, melengkapi, menumbuhkan yang ada di dalam, tapi mana ada waktu. Sedangkan untuk mengisi, melengkapi dan menumbuhkan yang di luar saja masih kurang waktu. Tapi sadarkah kita bila kita tidak menyediakan waktu untuk mendengar maka, kegelapan akan dengan mudahnya menguasai hati dan pikiran kita. Bahkan bagi kita yang sudah menyediakan waktu untuk mendengar saja menjaga terang itu tetap menyala sungguhlah amat sulit, apalagi bagi kita yang tidak mau mendengar. Ingatlah hidup dalam kegelapan adalah hidup dalam maut!
3. Menghadapi ketakutan. Hidup bersama Yesus, bukan berarti rasa takut hilang. Para murid masih dapat merasakan ketakutan ketika mereka melihat Yesus dimuliakan. Mereka tersungkur dan tak mampu memandang Yesus. Sering kali hidup kita juga dirundung ketakutan. Bukan hanya ketakutan dan kekhawatiran yang biasa kita rasakan, kuatir cuaca, kuatir makanan, kuatir jabatan dll. Lalu ketakutan macam apa? Ketakutan kepada Allah. Berapa banyak dari kita memiliki rasa takut yang tidak wajar kepada Allah. loh kok? Ngak wajar? bukankah takut sama Tuhan Allah itu wajar? Hohoho..jangan salah! Takut pada Tuhan Allah memang bukan hal yang wajar, karena yang wajar adalah sikap takjub dan hormat, bukan takut. Mengapa? Karena ketakutan memiliki sifat negatif, merusak, bukannya membangun. Tapi, bukannya ketakutan dapat menjadikan manusia taat? Ketaatan yang dilandasi oleh rasa takut adalah ketaatan yang palsu, karena ketaatan yang demikian adalah ketaatan yang dijalankan karena takut akan konsekuwensinya, bukan manfaatnya. Mengapa ketakutan seperti itu bisa muncul dalam hati kita? Karena banyak dari kita menganggap bahwa Allah adalah Allah yang keras, yang kejam, Dia adalah pemberi hukuman yang tidak kenal ampun. Disinilah Yesus hendak menunjukkan bahwa Tuhan Allah bukanlah seperti yang manusia pikirkan. Dia memang Allah yang mengaggumkan, yang kekuasaan dan kekuatannya tak terbandingi oleh apapun. Namun Dia juga adalah Allah yang peduli, Allah yang lembut dan Allah yang mau berbicara dari hati ke hati, Ia adalah Allah yang mau memandang wajah kita dan memegang tangan kita. Ia adalah Allah yang mau menyentuh dan menjalin hubungan secara pribadi dengan manusia ciptaanNya. Dengan mendengar Dia, kita akan mengetahui dengan pasti siapa sesungguhnya Allah kita. Kita tidak akan dipenuhi oleh rasa takut dan gentar, namun dengan rasa sukacita yang meluap karena kasihNya. Sehingga ketaatan kita bukanlah ketaatan yang lahir dari ketakutan, tapi karena Ia mau menyapa dan mendekat sekalipun di dalam ruang yang paling gelap di hati kita.
Spiritual Journey
IT DOESN'NT PROVE THAT YOU ARE ALONE
YOU FEEL THAT NOBODY WANT YOU
IT DOESN'T MEAN THAT NO ONE CARES ABOUT YOU
Lahir dan tumbuh sebagai anak tunggal, sering kali membuat saya merasa kesepian. Mungkin banyak dari Anda berpikir wahh enaknya menjadi anak tunggal karena pasti seluruh perhatian diberikan pada saya. Ya, memang tidak salah menjadi anak tunggal membuat seluruh perhatian kedua orang tua saya tertuju pada saya. Namun, tidak seperti anak tunggal yang lain, saya memiliki kedua orang tua yang ‘unik’. Mereka tidak pernah memanjakan saya.
Papa yang notabene adalah seorang tentara UN (Batalyon IV, Garuda VIII) adalah seorang yang lembut sekaligus disiplin. Pengalaman hidupnya yang keras dan penuh perjuangan, juga pergaulannya yang sangat luas menjadikan ia pribadi yang sangat terbuka. Apapun pilihan saya didukungnya. Izin untuk naik gunung setiap tahun (dan pulang dengan sedikit babak belur karena jatuh dan gigitan lintah di wajah, perut hingga kaki), mengikuti segala macam kegiatan di sekolah, hingga masuk STT Jakarta, dengan mudah saya kantongi. Hingga usianya kini, 64 tahun beliau masih berprofesi sebagai dosen di PUSDIKLAT Badan Meteorologi dan Geofisika.
Mama. Bagi saya mama adalah sosok pekerja yang tidak pernah lelah. Sejak usia muda (SMA) hingga usianya kini, 64 tahun beliau masih bekerja sebagai asisten apoteker di salah satu apotik di kawasan Green Garden. Segala macam usaha dicobanya, maklum ia lahir sebagai anak dari keluarga besar (bahkan besar sekali). Memasak, bekerja, mencuci baju, mengepel, menjahit, mengelap....dan semua (saya tegaskan: SEMUA) pekerjaan rumah tangga diselesaikannya dengan sangat sangat...baik sekali. Karenanya kami tidak membutuhkan seorang pembantu di rumah. Dengan kedua orang tua yang pekerja keras seperti mereka saya harus memilih untuk dapat juga mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga sejak saya kecil. Hasilnya: saya memang tumbuh sebagai anak perempuan yang mandiri sekaligus keras kepala (karena semuanya sudah dapat dikerjakan sendiri).
Tentu bukan tanpa alasan kedua orang tua saya bekerja sedemikian rupa. Papa yang saat itu bekerja di Departemen Perhubungan dengan gaji yang ‘secukupnya’, harus membiayai saya yang bersekolah di BPK Penabur. Memang mama juga bekerja namun untuk mencukupkan segala kebutuhan hingga kami juga tetap memiliki tabungan, bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu mereka mencoba segala sesuatu untuk mencukupkan keluarga kami. Mulai dari berjualan sepatu, kaos, daster hingga makanan kecil dilakukan mama, sedangkan papa juga bekerja sebagai pelatih tenis di waktu luangnya atau setelah ia pulang bekerja. Yahh, itulah yang membuat saya benar-benar kesepian. Mama dan papa memang sangat sibuk waktu itu. Tapi, namanya anak kecil, belum dapat berpikir secara realistis membuat saya merasa tidak berharga. Lebih dari itu saya memiliki begitu banyak trauma (karena saat ini sudah tidak menjadi trauma, maka tidak perlu diungkapkan lagi ) di masa kecil saya yang membuat saya tiba pada kesimpulan semua orang tidak menginginkan saya. Saya merasa tidak disayang dan itulah awal mula pemberontakan saya.
Tidak ada kenakalan anak yang tidak pernah saya lakukan (bila saya sebutkan semuanya, mungkin buku ini akan menjadi sangat tebal, dan akhirnya anda akan berpikir untuk membatalkan saja penahbisan ini, hehehe) Saya mencoba untuk melarikan diri dari rasa kesepian saya, namun sayangnya saya salah memilih. Saya memilih untuk melakukan apa yang buruk, yang jahat, yang membuat kedua orang tua saya marah dan kecewa. Mungkin anda bertanya, apakah saya tidak pernah mendengar firman Tuhan? Apakah saya tidak pernah ke gereja? Berbicara soal Firman Tuhan, tentu saya belajar melalui pelajaran agama. Sejak TK hingga SMA saya bersekolah di sekolah Kristen yang sesungguhnya cukup untuk membuat saya mengerti siapa Yesus. Tapi yaahhh sebatas tahu saja. Kalo soal pengetahuan tentang agama, mudah sekali mendapatkannya bukan? Tapi melakukannya? Hmmm...saya akan pikir beribu-ribu kali untuk menjadi seorang Kristen. Bagaimana dengan gereja? GEREJA?! Jauh-jauh dari kehidupan saya. Saya tidak suka ke gereja, bahkan saya sangat membenci gereja. Bagi saya gereja hanya tempat anak-anak yang suka menyakiti orang lain, mereka suka mengejek, mengancam dan melakukan hal-hal yang menyakiti hati. Jadi gereja adalah tempat yang paling saya benci hingga saya beranjak remaja.
IF YOU THINK THAT YOU'RE NOTHING
BUT FOR ME YOU ARE SOMETHING BEAUTIFUL
PERJUMPAAN DENGAN TUHAN YANG MENGUBAH JALAN HIDUP
Lelah...lelah menjadi anak yang nakal, anak pemberontak, anak yang terluka...saya memutuskan untuk mengakhiri hidup. Saya benci hidup, saya benci sekolah (karena saya juga tidak punya teman, cenderung anti sosial dan kuper) saya benci semua yang pernah saya alami di manapun. Tak pelak lagi inilah saat-saat kritis dalam hidup saya, ketika saya tidak dapat menemukan satu orangpun yang berada di sisi saya. Kesepian saya sudah berada pada tingkat yang paling membahayakan. Tangis sudah tidak mampu membuat saya lega, malah dalam tangis munculah berbagai ide perbuatan bodoh yang mungkin akan membuat saya mati muda. Tapi disitulah saya menemukan Tuhan!! Di tengah derai air mata yang tak kunjung berhenti saya mendengar suara Tuhan dengan lembut berkata dalam hati dan pikiran saya: “Aku mengasihimu. Sekalipun semua orang menolakmu, Aku mengasihimu, dan untuk itu Aku mau mati bagimu.” Tidak pernah ada kalimat yang begitu indah mengisi relung batin saya yang kosong selain apa yang saya dengar dan imani sebagai suara Tuhan menyapa saya malam itu. Di sanalah letak perjumpaan yang mengubah seluruh jalan hidup saya dan disanalah perjalanan saya mencari Tuhan dimulai.
Hari demi hari saya belajar untuk membuka Alkitab dan membacanya. Dan saya sungguh dibuatnya terkejut. Apapun pertanyaan saya waktu itu dijawab-Nya dengan cara yang luar biasa melalui Alkitab. Kesadaran saya bahwa Tuhan sedang menggiring saya kedalam rancangan-Nya yang indah menjadikan saya luluh, tak berdaya dibuatnya, menyerah, dan memberikan diri saya untuk ‘digiring-Nya’ kemanapun Ia membawa saya.
YOU THINK THAT YOU CAN'T DO ANYTHING
BUT YOU CAN DO A LOT OF THINGS WITH ME
MAUKAH ENGKAU MELAYANIKU?
Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, gereja bukanlah tempat yang saya sukai. Hingga perjumpaan dengan Tuhan saya alami, gereja tetap belum menjadi pilihan saya untuk dikunjungi. Apalagi untuk bekerja secara fulltime di tempat itu. Aduhhhh, ga mungkin dehhh!!! Tapi ternyata saya sadar, bahwa saya tidak akan pernah dapat melawan kehendak Tuhan, lebih lagi bila itu sudah digariskan oleh-Nya.
Pemanggilan saya dimulai dari sebuah kunjungan saya ke rumah salah satu tetangga saya yang seusia dengan saya. Dalam kunjungan saya tersebut ia memperlihatkan sebuah selebaran yang diterimanya siang itu. Saya membacanya sebagai sebuah iklan untuk penerimaan mahasiswa baru dari sebuah STT di Jakarta, STT RII. Dia bertanya pada saya perihal keinginannya untuk masuk ke sekolah tersebut. Jawab saya: “Yah terserah kamu, kalau kamu rasa itu adalah yang terbaik, masuk saja.” Sepulangnya saya dari rumahnya, entah mengapa, hati saya jadi tidak karuan. Saya merasa selebaran itu ditujukkan untuk saya, bukan untuk tetangga saya, dan saya mengutarakan perasaan saya tersebut pada mama. Namun beliau tidak terlalu merespon karena mungkin pikirnya, saya masih labil soal menentukan kemana saya ingin melanjutkan kuliah. Apalagi saat itu saya ditawari beasiswa untuk masuk ke sebuah universitas swasta untuk mengambil jurusan komputer akutansi. Malam itu adalah malam pergumulan saya yang pertama.
Suatu saat, beberapa hari kemudian, hmmmm....sebelumnya saya ingatkan bahwa anda boleh percaya boleh juga atas kisah yang saya beritakan ini, tapi bagi saya ini adalah awal perjalanan, pergumulan dan perjuangan iman saya hingga hari ini anda membaca kisah saya. Beberapa hari kemudian ketika saya sedang belajar untuk ujian, saya dikejutkan kembali oleh suara yang dengan lembut menyapa dan bertanya: “Yael, maukah kamu melayani-Ku penuh waktu?” Kaget, binggung...semuanya bercampur aduk dalam benak dan hati saya dan saya mulai bertanya dalam hati benarkah semua ini, apakah ini hanya khayalan saya atau memang saya mendengar ada suara yang bertanya pada saya. Yang saya lakukan saat itu adalah berdoa, bertanya dan meminta tanda lebih lanjut untuk panggilan ini. Kalau ini memang panggilan Tuhan maka saya yakin Tuhan akan membukakan banyak pintu dan memberikan banyak kunci untuk membukanya. Dan Ia sungguh melakukannya!!
Tidak sampai 1 menit selesai saya berdoa, seorang kerabat, yang adalah ibu dari Pdt. Cipto M. Sapangi menghubungi saya dan bertanya akan kesiapan saya menjadi seorang mahasiswa teologi dan kesiapannya untuk mendukung saya dalam pilihan saya itu. Terkejut, itulah respon saya saat itu, tak mampu berkata, hanya mampu menangis dan mengucap terima kasih. Ternyata Tuhan tidak berhenti sampai di situ. Ia memberi lebih dari cukup tanda, pintu dan kunci yang paling tepat untuk membukanya.
LISTEN TO THE WORD I SAY
THAT I WILL ALWAYS BY YOUR SIDE
STT JAKARTA VS DUTA WACANA VS STT RII
Memilih sekolah teologi mana yang saya inginkan bukanlah hal yang mudah bagi saya. Saya tidak punya informasi sama sekali tentang STT mana yang terbaik, kelebihan dan kekurangannya. Pdt. Evelyn Yudiarti dan Pdt. Linna Gunawan adalah dua orang yang paling menolong saya menentukan pilihan yang terbaik. STT Jakarta menjadi pilihan saya. Dan tahukah anda pilihan saya itu membawa saya pada perbedaan pendapat dengan seorang kerabat yang pada saat itu berjemaat di salah satu gereja Bethel. Baginya STT Jakarta bukanlah pilihan tepat. Saya yang tidak tahu-menahu hanya mampu setuju dengannya. Tapi entah mengapa Tuhan menutup semua jalan bagi saya untuk memilih STT yang lain selain STT Jakarta. Dengan segala desas-desus, keburukan yang saya dengar tentang sekolah tinggi teologi tersebut, saya memutuskan untuk tetap memilh STT Jakarta sebagai tempat saya belajar. Dengan itu mama harus rela (walaupun lebih banyak bersusah hati karena harus melepas anak tunggalnya) membiarkan saya masuk dan menjadi mahasiswa teologi di tempat itu. Saya yakin apa yang Tuhan pilihkan bagi saya adalah pilihan yang terbaik bagi saya, tentunya tanpa merendahkan sekolah lain. Tapi karena saya yakin bahwa di tempat inilah Tuhan akan menempa, membentuk dan melengkapi saya menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab.
Suatu saat dalam doa saya mendengar dalam hati dan pikiran saya bahwa Ia berjanji tidak akan pernah meninggalkan saya , dan akan senantiasa memegang tangan saya selama saya berada dalam jalannNya. Itulah yang membuat saya semakin yakin atas pilihan ini. Dan sekali lagi Tuhan membuktikan bahwa pilihan-Nya adalah pilihan yang terbaik!
YOU MEAN EVERYTHING TO ME
THAT I WILL NEVER LEAVE YOU
CAUSE I LOVE YOU SO
TULANG RUSUK
Seorang kekasih diberikan kepada saya sejak semula saya memasuki panggilan ini. Saya menyebutnya tulang rusuk saya, karena memang Tuhanlah yang memilihkannya bagi saya (mau cerita lengkapnya silahkan diunduh www.kambinggunungdantulangrusuk.blogspot.com). Tanpa beliau (dan tentunya tanpa Tuhan) saya tidak akan sampai pada hari ini. Bagi saya dialah yang paling mengerti susah payah, pergumulan dan perjuangan saya berada di jalan yang UNIK ini. Dengan dialah saya menjalani hari-hari yang berat, yang menyakitkan, menyebalkan dan menguras air mata selama 5 tahun berkuliah di STT jakarta, dan 3 tahun setelahnya. Bersama dia jugalah saya menikmati banyaknya mujizat, berkat, dan jalan keluar dari masalah yang tidak pernah saya bayangkan terjadi dalam hidup saya sebelumnya. Kini, bersama dialah saya juga akan menghabiskan sisa hidup saya. Tuhan sungguh baik, bahkan sangat baik!
SEORANG SAHABAT YANG LAIN: PDT. HARRY KURNIAWAN DANI
Tuhan tidak pernah membiarkan saya sendiri, ia memberikan seorang sahabat yang luar biasa. Saya yang dapat dikatakan tidak pernah memiliki sahabat hingga duduk di bangku SMA, kini memperoleh kesempatan untuk menikmati yang saya namakan persahabatan yang terbaik yang pernah saya alami. Ia memberi 2 orang sahabat terbaik saya sepanjang perjalanan hidup saya hingga kini, Ebed Yosua Lamorahan, yang tak lain adalah suami saya, dan Harry!
Bersama beliau saya menjalani hari-hari di kelas, menjadi panitia selama lima tahun di STT Jakarta, di setiap event, di bidang yang sama: DEKORASI! Itulah yang membuat saya lulus dari STT Jakarta dengan predikat: tukang listrik, tukang kayu, tukan cat, tukang pohon, dan tukang segala-galanya. Bekerja mendekor aula STT Jakarta dengan dana yang sangaaaatttt terbatas hingga malam tak kunjung membuat saya lelah karena beliau selalu punya cara yang luar biasa membuat saya tersenyum. Di situ ada Yael di situ jugalah Harry berada. (kecuali toilet). Tak heran banyak adik kelas kami yang menyangka kami adalah sepasang kekasih.
Kehadirannya bagi saya layaknya air yang memberikan kesejukan tanpa batas, memberi saya semangat dan sukacita menjalani berat dan bosannya perkuliahan. Hingga kini, beliau sudah berkeluarga, dan menjadi seorang pendeta Gereja Kristen Pasundan, persahabatan kami masih seperti dulu. Saya dapat katakan bahwa saya sungguh bangga dan bersyukur punya sahabat seperti beliau! Thanks Harry!! thanks juga Irene yang tetap mengijinkan saya bersabat dengan suami terkasihnya! Tentunya terimakasih Tuhan yang telah mengasihi saya sedemikian rupa melalui mereka berdua.
WHEN I SAY THAT I LOVE YOU
IT'S MEAN I GIVE THE BEST FOR YOU
WHEN I SAY THAT I LOVE YOU
I WILL GIVE EVERYTHING FOR YOU
GKI KAVLING POLRI
Perjalanan saya di GKI Kavling polri juga termasuk tak terduga. Lulus pada tahun 2007 dari STT jakarta, ketika semua teman-teman seangkatan masih dapat bernafas setelah ‘kerja rodi’ selama 5 tahun, seorang pendeta datang menghampiri saya ketika saya sedang bertugas menjadi notulis di Persidangan MKJB di tahun yang sama. Mungkin anda sudah dapat menebak siapakah beliau. Ya! Pdt. Santoni mengajak saya untuk ‘bantu-bantu’ (yang berakhir dengan ‘terjebaknya’ saya yang saya imani bukan kebetulan) di GKI Kavling Polri, khususnya untuk pelayanan remaja dan pemuda karena adanya kekosongan pembina.
Keras dan sulit, itulah perasaan yang saya alami ketika memasuki masa ‘diperbantukan’ saya di sana. Bagaimana tidak, saya, yang baru lulus ini, harus menggantikan sosok pembina sebelumnya yang sudah sangat senior dan berkualitas. Tahu apa yang saya rasakan? Saya seperti orang asing yang tidak tahu bahasa, kebudayaan, kebiasaannya. Intinya, saya seperti orang bodoh. Tidak mudah untuk membuat mereka menerima kehadiran saya di tengah-tengah mereka. Di tengah kebimbangan (karena saat itu saya juga diperhadapkan dengan pilihan GKI Kayu Putih sebagai tempat yang sudah dipersiapkan Sinode), saya ingat Firman Tuhan yang menyatakan, “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda...tapi jadilah teladan.” Yups...saya sadar bahwa mereka tetap akan menganggap saya masih hijau dan tidak berpengalaman bila saya tidak mampu menunjukkan keteladanan.
SUUUUSAAAHHHHH!! Apa yang mereka harapkan dari seorang remaja berusia 24 tahun? Itulah pikiran saya. Saya masih belum mau serius, masih pengen main, tapi sudah dituntut sedemikian rupa. Kembali, saya diyakinkan bahwa apapun proses yang harus saya alami di sini adalah bagian dari pembentukan dan cara Tuhan melengkapi dan mengasihi saya. DANNN KEMBALI IA BUKTIKAN BAHWA SAYA TIDAK SALAH MEMILIH, DAN PILIHANNYA ADALAH YANG TERBAIK!
3 tahun lebih saya melayani di GKI Kavling Polri, dan tahukah saudara GKI Kavling Polri adalah tempat yang palinggg tepat bagi saya untuk BELAJAR! Belajar mengendalikan diri, belajar sabar, belajar mengasihi dengan tulus, belajar mengampuni, belajar berbela rasa, belajar untuk mengerti sebelum dimengerti, belajar bahwa hidup ini indah oleh karenanya kita patut mensyukuri setiap kesempatan dan anugrah yang datang dalam hidup kita. Dia sungguh memberikan segala sesuatu yang saya perlukan bagi masa depan saya.
NO MORE FEAR ABOUT THE FUTURE
AND BLAME FOR THE PAST
I'LL GIVE EVERYTHING WHEN I SAY THAT I LOVE YOU
DARI INDONESIA KE NEGRI PAMAN SAM.
Menjadi delegasi GKI untuk event besar seperti Konfrensi Gereja-gereja Reform se-Dunia, bukanlah impian saya. Terbersitpun tidak! Tapi Tuhan beri saya kesempatan besar itu melalui Pnt. Rumeser, Pdt. Santoni, Pdt. Lazarus Purwanto, Pdt Jusak Soleeman, Pdt. Stephen Suleeman, Pdt. Kuntadi Sumadikarya, Pdt. Arliyanus Larosa, Pdt. Mungki A. Sasmita dan Pdt. Lindawati Chong.
Saya tidak akan sampai pada pengalaman yang demikian, bila Tuhan tidak pernah membentuk saya melalui kedua orang tua saya yang luar biasa, berbagai pengalaman pahit, pedih, sakit, dikecewakan, dikhianati, difitnah yang saya alami di masa lalu saya. Saya yakin ini bukanlah pengalaman yang dibentuk oleh kebetulan semata atau kesempatan yang datang tiba-tiba. Namun melalui perjalanan panjang yang terangkai dari masa lalu hingga masa kini, yang telah dirancangkan-Nya jauh sebelum saya dibentuk.
Dia meremukkan saya untuk membentuk saya menjadi pribadi yang lebih mengasihi-Nya, mengasihi ciptaan-Nya, dan mengasihi hidup yang sudah Ia karuniakan. Tuhan selalu punya cara untuk meyakinkan saya bahwa pilihan-Nya tidak salah, pilihan-Nya tidak kurang suatu apapun, pilihan-Nya adalah yang terbaik.
Kini, saya sadar tugas dan tanggung jawab yang ada di pundak saya semakin besar dengan menjadi pendeta dan menjadi salah satu Executive Committee dari badan dunia baru WCRC selama 7 tahun ke depan. Entah perjalanan seperti apa yang Tuhan rancangkan bagi saya di tahun-tahun ke depan, tapi yang saya yakini adalah RANCANGANNYA BUKAN RANCANGAN SAYA, DAN JALANNYA BUKANLAH JALAN SAYA, TAPI JALAN DAN RANCANGANNYA ADALAH YANG TERBAIK BAGI SAYA. JADI...IA PASTI MEMAMPUKAN SAYA DI TENGAH KETERBATASAN DAN KELEMAHAN SAYA SEBAGAI MANUSIA.
Takut? Kuatir? Ragu? Masih dapat saya rasakan tapi itu sama sekali tidak membuat saya ragu bahwa masa depan saya ada pada tangan yang tepat! Tuhan sendiri.
“Memohonlah agar engkau dimasukkan kedalam daftar pemaksaan Tuhan,
yang Kehendaknya Tak Dapat Diingkari untuk kebahagiaan dan kesejahteraanmu”
(Mario Teguh)
I WANT YOU TO KNOW THAT I DIED FOR YOU
I WANT YOU TO KNOW THAT I'LL GIVE ALL MY LIFE FOR YOU
WHEN I SAY THAT I LOVE... SAY THAT I LOVE YOU
Kamis, 17 Februari 2011
Kataatan Sejati
Maz 119:1-8
1 Korintus 3: 1-9
Matius 5: 21-37
Ketaatan macam apa yang saudara miliki? Ketaatan yang semu, yang pura-pura, yang dipenuhi dengan keterpaksaan atau apa? Dapatkah anda memberikan jawabannya? Wah sepertinya pertanyaan ini adalah pertanyaan lanjutan, jadi saya akan memberikan pertanyaan awalnya: apakah yang disebut ketaatan itu? Pasti banyak dari saudara yang mengatakan bahwa ketaatan adalah kepatuhan, lalu apa yang disebut dengan kepatuhan? Apakah cukup dengan mengatakan ya terhadap segala perintah atau permohonan?
Taat memang merupakan kata yang sangat sederhana. Ia hanya terdiri dari 4 buah huruf yang untuk mengeja ataupun menulisnya merupakan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Hanya saja kesederhanaan kata taat ini bertolak belakang dari makna yang sesungguhnya. Untuk menjadi orang yang taat manusia membutuhkan waktu berhari-hari hingga berpuluh-puluh tahun lamanya. Mengapa? Karena taat bukan soal mengatakan ya dan melakukan apa yang diperintahkan. Taat lebih rumit dan kompleks dari hanya sekedar mengatakan ya. Lalu apa yang penting soal ketaatan yang sejati?
1. KETAATAN ADALAH SOAL SIKAP HATI. Ulangan 30: 17. Ketaatan bukan soal melakukan diperintahkan Tuhan pada ayat 16. Kemalangan akan datang bukan ketika bangsa Israel tidak mengerjakan apa yang Allah perintahkan pada ayat 16 “karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya.” Lalu karena apa? Coba perhatikan ayat ke 17. Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya. Jadi sesungguhnya ketaatan pertama-tama adalah soal sikap hati kita. Apakah mengasihi Allah dapat dilakukan tanpa sikap hati yang benar? Mengasihi perlu menggunakan hati, bukan hanya dengan tangan atau kaki, karena kasih seperti itu akan menjadi kasih yang palsu. Apakah ketaatan adalah hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya, namun dengan sungut-sungut, dengan kemarahan, dengan ketidakpuasan? Dan bukan dengan sukacita? Matius 5 :22-25 Hidup dalam jalan Tuhan tidak dapat dijalankan tanpa hati yang terarah kepada Tuhan, karena tanpa mengarahkan hati kepada Tuhan, kita akan menajdi orang yang mudah berhenti, dan berpaling pada yang lain. Lebih lagi, untuk hidup dalam jalan Tuhan, kita harus senantiasa mendengar suara Tuhan yang mengarahkan, menuntun, mengayomi kita, karena jalan Tuhan adalah jalan yang tak nampak bagi kita. Ia ada dalam kacamata iman, ia membawa kebaikkan dan kebahagiaan dalam persepsi Allah sendiri. Jadi hidup dalam jalan Tuhan adalah hal yang mustahil dilakukan tanpa memberi hati untuk mendengar apa yang Ia katakan bagi kita. Berpegang pada perintah juga tidak akan pernah dapat kita lakukan bila kita tidak memberikan hati kita untuk menyembah (worship: shachah) Allah. Karena berpegang pada perintah Allah harus didahului dengan kerelaan untuk mengakui kekuasaanNya, tunduk dan menerima perintahNya; untuk menyerahkan hak kita kepadaNya dan membiarkan Dia berkuasa atas segala hak kita.
2. KETAATAN ADALAH PENGAKUAN BAHWA MANUSIA TERBATAS. 1 Kor 3:1-9 Paulus adalah bapak Kekristenan yang luar biasa berpengaruh baik dari jemaat mula-mula hingga kekristenan modern seperti sekarang ini. Surat-surat Paulus bahkan lebih sering dikutip dari pada perkataan Yesus sendiri. Paulus adalah orang yang sangat menguasai Taurat, lebih dari itu ia adalah sosok yang sangat pandai, kritis, dan berpengetahuan sangat luas. Ia adalah orang yang sangat ahli di bidangnya, sehingga sulit mencari orang yang mampu menandingi kemahiran Paulus. Namun nyatanya, dibalik kemahiran dan kejeniusannya, ia adalah tetap seorang manusia yang terbatas.Ia sadar sepenuhnya ia hanya dapat menanam, Apolos hanya dapat menyiram. Tapi tanpa pertumbuhan, semua yang dilakukannya adalah suatu kesia-siaan. Yang terpenting bagi sebatang pohon, bukanlah siapa yang menyiram, siapa yang memberi pupuk, siapa yang menyiangi, namun apakah ia dapat hidup dan bertumbuh menjadi pohon yang sehat dan yang berbuah lebat . Paulus tidak dapat memberi hidup, karena hidupnya sendiri adalah belas kasih Allah, anugerah! Imannya sekalipun adalah pemberian, dan bukan hasil usahanya sendiri. Itulah yang membuat Paulus sang ahli taurat memiliki ketaatan penuh kepada Allahnya, karena hanya Allahnya-lah yang mampu membuatnya sungguh hidup
3. KETAATAN ADALAH WUJUD PENGENALAN DIRI AKAN ALLAH. Matius 5. Yesus menggunakan kata: Kamu telah mendengar Firman. Ternyata mendengar Firman Allah atau mendengar siapa Allah saja tidaklah cukup untuk dapat membuat seseorang menjadi taat kepada Allah. Seseorang haruslah mengenal dan mengalami Allah secara pribadi untuk dapat menjadi taat. Seseorang yang hanya mendengar bahwa berkendaraan roda 2 haruslah menggunakan helm, akan tetap menggunakan helmnya di tangan. Bila ia berkendara di dalam kompleks, ingat harus memakai helm saja tidak. Tapi bagi mereka yang pernah mengalami pentingnya helm sebagai pelindung kepala mereka, akan dengan rela dan taat menggunakan helm walau hal tersebut seringkali membuatnya pengap dan kepanasan. Pengalaman adalah unsur yang paling penting dalam kehidupan manusia. Karena melalui pengalaman manusia belajar tentang apa yang baik, yang tidak, yang berguna, yang tidak; dan dari pengalaman pula manusia belajar memperbaiki hidupnya menjadi lebih baik. Paulus mengalami Allah secara pribadi itulah yang menjadikan Ia menjadi pribadi yang taat sampai mati, dan bukan karena pengetahuannya yang sempurna tentang taurat serta tradisi Yahudi. Semakin seseorang kenal siapa Allahnya semakin ia menjadi manusia yang taat. Loh ko bisa? Karena Ia semakin sadar bahwa tidak ada yang mampu menyaingi Allah dalam hal kasih, kesabaran, pengatahuan, karena hanya Dialah yang Maha, dan tidak ada yang lain.
Minggu, 09 Januari 2011
Kasih seperti apa yang dimiliki dunia?
Kasih seperti apa yang ada di dalam hatimu? Hatiku?
Kasih seperti apa yang kita berikan pada orang lain?
Kasih seperti apa yang kita beritakan melalui kehidupan, perkataan dan perbuatan kita?
Kasih seperti apa yang kita ingin miliki dalam keluarga, gereja, masyarakat kita?
Apakah semua jawabannya sama?
Atau berbeda satu dengan yang lain?
Apakah kita memilih kasih yang tulus, yang sabar, yang murah hati bagi diri kita sendiri?
Dan apakah kita memilih kasih yang munafik, yang mencari keuntungan bagi diri sendiri, yang akan kita berikan kepada dunia dan sesama kita?
Kalau kasih kita berikan, dengan penantian ucapan terima kasih, Itu bukan kasih.
Kalau kasih kita ucapkan hanya untuk membuat kita juga dikasihi, itu bukan kasih.
Kalau kasih kita lakukan, dengan harapan orang lain melakukan yang sama, itu bukan kasih
Itu hanya keegoisan kita...
Dan kegagalan kita mengerti Kasih yang sesungguhnya.
Kita dipilih..
Dipilih untuk menjadi pewarta kasih...
Kasih seperti apa?
Kasih yang sama dengan yang Tuhan berikan bagi kita.
Kasih yang tanpa pamrih, tanpa berkata ‘karena’, tapi kasih yang berkata ‘walaupun’
Kasih yang sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Kasih yang tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Kasih yang tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Kasih yang menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Kasih yang tidak berkesudahan
Kasih yang tanpa kesemuanya itu, bukanlah kasih.
Sudahkah kita terpilih untuk memberitakan kasih?
Bila sudah, maka lakukanlah kesemuanya itu.
Tahun Baru, Harapan Baru Dengan Sinergi
Fil 3: 13b, Roma 5:3-5
2011 telah tiba, apa yang menjadi harapan anda di tahun yang baru ini? Biasanya, kebanyakan dari kita akan membuat komitmen, rencana2 dan cita-cita baru yang belum sempat dicapai pada tahun sebelumnya. Banyak dari kita yang membuat komitmen yang sama dengan komitmen tahun yang lalu, tapi bukan karena terlalu banyak target yang harus dicapai, hingga kita kehabisan tenaga untuk mencapainya, namun karena kita pandai untuk memulai tapi tidak pandai dalam menyelesaikannya.
coba kita lihat, berapa banyak dari kita yang bertekad untuk mulai membaca Alkitab dari kejadian sampai Wahyu selama satu tahun, dan akhirnya berhenti di akhir Kitab Kejadian, atau malah melompat langsung ke Wahyu? Berapa banyak kita berjanji pada diri kita sendiri untuk memasuki semester baru dengan semangat belajar yang baru nyatanya malah memiliki semangat belajar yang ngak jauh beda bahkan lebih buruk? Berapa banyak dari kita yang berjanji untuk lebih memperhatikan orangg tua, sahabat hingga kekasih, tapi malah semakin tidak punya waktu untuk mereka. Pun punya waktu, malah digunakan untuk bertengkar.
Kita dapat melontarkan berbagai macam alasan dari yang rasional hingga irrasional. Tapi sebenarnya alasan kita hanya kita lontarkan untuk menutupi kemalasan kita. Kita memang manusia yang pandai untuk mencapai sesuatu, tapi tidak cakap mempertahankannya. Kenapa itu kerap kali terjadi dalam hidup kita? Tentunya bukan tanpa alasan, bukan? Mari kita periksa diri:
1. Apa yang biasanya membuat kita merancangkan sebuah komitmen, cita2, atau harapan? Kebanyakan manusia, mulai merancangkan sebuah komitmen ketika berada dalam situasi dan kondisi tertentu. Misalnya: ketika teman buat komitmen, ketika habis pulang Re-treat, habis ibadah KKR akhir tahun yang ada altar callnya, abis baca buku Mario Teguh...dll. Kesimpulan pertama, kita ini manusia baru mau maju kalo ada yang dorongan positif yang menggugah, menyentuh, intinya banyak manusia tidak punya INISIATIF mengubah diri menjadi lebih baik, bila tidak ada keadaan yang merangsang, berpihak dan mendukungnya untuk menjadi lebih baik.
Mari kita lihat apa yang dilakukan Paulus:
- Ay 10. Merupakan kehendak, cita-cita dan komitmen Paulus. Coba perhatikan adakah kondisi dan situasi positif yang mendorong atau merangsang Paulus untuk membuat sebuah komitmen? Bisa dikatakan malah nyaris tidak ada. Yang tadinya berada di pihaknya sekarang menjadi sekutunya. Yang tadinya membelanya sekarang malah mau menghabisinya, dan dapat dikatakan semua orang meninggalkan Paulus karena komitmen yang dibuatnya itu. Tapi adakah Paulus mundur? TIDAK!! Dia sendirian, tidak ada yang mendukung dan membantunya untuk mewujudkan komitmennya tersebut (selain jemaat yang dilayaninya). Tapi ia tidak menyerah, Paulus tetap menjalankan dan mewujudkan komitmen yang ia yakini sebagai yang baik baginya dan benar di hadapan Allah. KINI, bagaimana dengan kita? Bila kita jadi Paulus, akankah kita melakukan hal yang sama seperti Paulus? Atau kita memilih jalan yang aman, yaitu memilih menjadi sama dengan rekan kita, sahabat kita, mereka yang berpengaruh dalam hidup kita, atau berani menyatakan komitmen kita yang benar bagi dan di hadapan Allah dan berbalik menjadi ‘lawan’ sahabat, rekan bahkan orang yang berpengaruh dalam hidup kita?
2. Kehidupan manusia di masa kini memang dipengaruni oleh masa lalu dan kehidupan di masa depan dipengaruhi oleh pilihan-pilihan yang kita ambil pada masa kini. Anda sepakat dengan pernyataan ini? Saya sepakat! Masa lalu saya yang saya nilai tidak bersahabat dengan saya telah membentuk pribadi saya yang keras kepala, tapi ketika saya telah mengetahui kebenaran bahwa Kasih adalah kelemah lembutan dan bukan keras kepala (tentunya dengan menyadari bahwa keras kepala sama sekali berbeda dengan berprinsip), tentunya seharusnya saya berkomitmen untuk menjadi lemah lembut di masa mendatang, bukan? Tapi saya tidak akan dapat menjadi orang yang lemah lebut di kemudian hari bila saya tidak memulainya dari sekarang. Nah, bagaimana kalau saya memutuskan untuk tidak berubah dan terus mengingat masa lalu saya yang buruk yang menjadikan saya keras kepala bahkan menjadi pemurung? Saya tidak akan pernah menajdi manusia yang lembut hingga kapanpun. Tahukah kita mengapa banyak dari kita tidak berhasil menjalankan komitmen yang telah kita buat? Karena kita biarkan diri kita terikat pada masa lalu yang mengingatkan kita pada hal hal-negatif seperti kegagalan, sakit hati, kepahitan, kesedihan, ataupun yang ‘positif’ kenyamanan, kenikmatan, kebahagiaan, kemakmuran dan banyak hal lain... Maukah anda menjadi manusia yang lebih baik kalau mau bersikaplah seperti Paulus bersikap:
- Ay.13b. menjadi cara Paulus untuk dapat mewujudkan komitmennya. Ia meninggalkan apa yang dibelakang dan mengarahkan diri kepada apa yang ada dihadapannya. Ia tidak mengingat betapa bahagianya ia ketika menjadi seorang Yahudi yang menghabisi orang Kristen dimanapun. Ia tidak mengingat betapa ia dibenci oleh orang Kristen dimanapun karena sikapnya yang membenci mereka. Tapi ia mengarahkan hidupnya pada panggilan Tuhan, yaitu menjadi pelayan Tuhan yang setia. Dan ia membuktikannya dengan kehidupan dan pelayanannya sepanjang sisa hidupnya.
3. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, adalah pribahasa yang selalu dikatakan oleh ibu saya ketika saya mulai malas belajar. Masakan kita mau senangnya saja dan tidak mau merasakan susahnya hidup. Kita ingin kaya tapi tak mau bekerja. Kita ingin pandai tapi ngak mau belajar. Kita ingin naik kelas dengan nilai baik tapi masuk sekolah saja malas. Intinya untuk meraih harapan baru, dan sungguh-sungguh mewujudkannya harus pakai usaha. Kita ingin jadi orang sabar, tapi kita tidak pernah menghadapi sesuatu, kondisi atau situasi yang buat kita ngak sabar, gimana caranya kita bisa belajar sabar? Harapan, cita-cita dan komitmen adalah sesuatu yang harus kita capai bukan kita tunggu hingga ia menghampiri kita. Jangan lihat kesulitannya, sengsaranya, susahnya, lihat tujuannya, lihat Goalnya!! Kita menjadi pribadi yang makin baik, makin dikasihi Tuhan, makin jadi berkat...dengan begitu kita akan mendapat semangat dorongan untuk menajdi tekun, seperti kata Paulus pada jemaat di Roma:
- “karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan” pernyataan ini memang agak bertentangan dengan pernyataan Phk bahwa hidup adalah kesia-siaan. Tapi mengapa itu bertentangan? Karena Paulus memandang hidup, kesulitan, tantangan dari kacamata Allah dan bukan kacamata manusia. Hidup memang kesia-siaan, ya! Bila tanpa Allah di dalamnya!
Paulus dapat berkomitmen, meninggalkan masa lalu dan menatap ke depan dengan penuh harapan bukan karena ia memang orang yang hebat, kuat dan mampu. Tapi karena Ia sadar bahwa Ia punya Allah yang menjadikan hidupnya tidak sia-sia
Bertahan di Tengah Dunia Yang Membenci Kebenaran
Matius 5: 10-12
10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.
Apa pendapat Saudara tentang ucapan bahagia menurut Yesus ini? Adakah dari kita yang mengatakan bahwa kotbah Yesus adalah kotbah yang tidak masuk akal, tidak humanis, dan tidak normal bagi manusia. Ya! Termasuk saya pernah mengatakan yang demikian. Siapa yang mau dianiaya. Mendengar seorang pendeta dianiaya karena berkotbah di gereja yang sedang disengketakan saja sudah bikin merinding apalagi menyerahkan diri secara sukarela untuk dianiaya. Anda dan saya mungkin akan lebih memilih mencari cara untuk tidak mengungkapkan kebenaran bila dengan mengungkapkannya hidup kita bahkan orang-orang yang kita kasihi terancam.
Tapi...ternyata sesuatu yang pernah saya anggap tidak masuk akal ini, menginspirasi banyak orang Kristen, termasuk para rasul dan bapa-bapa gereja hingga jemaat2 Tuhan di berbagai tempat dan benua di seluruh penjuru dunia ini. Begitu menginspirasinya hingga mereka begitu rela dan sukacita melakukannya. Meskipun mereka harus menderita, dikejar, dimasukkan ke dalam penjara, diancam untuk dibunuh hingga benar-benar dibunuh, mereka menjalaninya dengan penuh harapan. Bagi kita yang tinggal di jaman modern sekarang ini mungkin akan menyebut mereka sebagai orang –orang sakaw, atau orang orang yang putus asa. Lebih baik mati!
Pertanyaannya adalah mengapa? Mengapa mereka mau? Apakah yang mereka berikan sepadan dengan yang akan mereka terima? Memangnya apa yang akan mereka terima? Apakah yang akan mereka terima adalah sesuatu yang benar-benar nyata? Atau hanya ilusi bahkan mimpi? Menerima uang atau rumah, atau harta benda lainnya akan menjadikannya hal yang sepedan bagi banyak orang, tapi Kerajaan Allah? Apa yang membuatnya menjadi sepadan?
Tentunya kerajaan Allah disini bukanlah kerajaan Allah yang anda bayangkan layaknya sebuah kastil yang dikelilingi oleh taman yang berbunga beserta aliran air jernih dengan bebatuan mulia yang membuatnya nampak sangat mewah dan berkilau. Kerajaan Allah juga bukan soal tempat yang aman, yang membuat kita merasa hommie karena dijaga oleh pasukan malaikat Allah, yang akan menjamin kehidupan yang bebas dari kejahatan, kriminalitas, perampokan, dan semua yang membuat hidup menjadi penuh dengan ketakutan, alias nyaman selama-lamanya. Bukan juga karena yang namanya kerajaan Allah yang pasti berkelimpahan, maka hidup kita juga akan berkelimpahan, kaya, makmur, hingga turunan keberapapun...
Lalu seperti apa kerajaan Allah yang diidamkan para rasul, Bapa Gereja dan sedikit pengikut Kristus ini? Hal pertama yang harus kita sadari adalah kerajaan Allah bukanlah tempat. Bukan juga lokasi dan bangunan yang mewah dan megah. Kerajaan Allah adalah soal eksistensi Allah yang membentuk sikap hati yang benar, yang kuat, yang positif, yang membawa kedamaian dan sukacita. Dan hal tersebut tidak akan pernah terwujud tanpa menjadikan Allah sendiri sebagai pemerintah di dalamnya, karena kerajaan Allah juga adalah keadaan dimana Allah berperan sebagai pemimpin, raja, Tuhan dan penguasa baik pikiran hati dan tubuh.
Nah, bila hal itu memang terjadi, bila Allah sungguh memerintah hati dan pikiran manusia, apa yang paling mungkin terjadi? Damai, sukacita, ketenangan yang sejati. Bukan yang ditawarkan dunia, putaw, estacy, alkohol, seks, bahkan kekayaan bukan? Dan mungkin yang bagi dunia hanya sebuah impian bahkan khayalan. Tapi nyatanya tidak bagi mereka yang mengalaminya. Damai, sukacita, ketenangan dan keselamatan sejati, yang tidak terbatas oleh situasi dan kondisi itulah yang menyebabkan mereka mau mengalami penganiayaan.
Apakah semua ini sungguh nyata bagi mereka yang mengalaminya? Bukan sekedar euforia belaka, atau khayalan karena banyaknya tekanan dan penderitaan yang harus dihadapi? Ternyata bukan. Mengapa?Karena Yesus bukan khayalan. Ia ada dalam sejarah manusia dan bahkan mengubah sejarah manusia. Masalahnya kini adalah bagaimana caranya kita bisa menikmati dan mengalami kerajaan Allah itu. Kerajaan Allah yang tidak ada tandingannya di dunia ini?
Yesus mengatakan: Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran. Berarti yang membawa manusia pada pengalaman Kerajaan Allah (pengalaman kebahagiaan yang sejati ) sesungguhnya bukan aniayanya, melainkan...kebenarannya, righteousness. Apakah kebenaran itu? Apakah lawannya kebohongan? Apakah lawannya penipuan? Atau apa saja yang dianggap benar oleh dunia? Tidak! Lalu apakah kebenaran itu? Allah sendiri, Yesus sendiri, Kristus sendiri!! Jadi ayatnya sesungguhnya dapat berubah menjadi “berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab Kristus” mengapa?
Karena orang yang memilih Kristus adalah orang yang memilih hidup dan bukan kematian. Orang yang memilih Kristus adalah orang yang menang dan bukan yang kalah, orang yang memilih Kristus adalah orang yang menjadi berkat dan bukan kutuk, orang yang memilih Kristus adalah orang yang memilih menjadi benar lebih dari sekedar menjadi baik. Orang yang memilih Kristus adalah orang yang hidupnya berarti, artinya tidak sia-sia. Ia akan selalu menjadi inspirasi, apa yang dilakukannya akan menjadi sumber kekuatan bagi orang lain yang melimpahkan berkat.
Berarti orang yang akan memiliki kerajaan Allah adalah orang orang yang memilih untuk hidup seperti, bagi dan oleh Kristus. Mereka yang melakukan Kebenaran yang seturut dengan kebenaran Kristus, bukan apa yang dianggap benar oleh dunia. 2 Kor 6: 9-10 Tapi bagaimana kita dapat bertahan di dalam dunia yang tidak mengenal kebenaran ini?
1. Fokus pada tujuan. Proses seberat apapun bila kita tahu tujuannya yang luar biasa (BAHAGIA). Maka kita akan mendorong diri kita untuk sampai pada tujuan akhir, hidup yang berkemenangan bersama Tuhan. Ingat, hidup berkemenangan bukan soal keselamatan di akherat saja, namun keselamatan di dunia, sukacita, damai, tentram yang hadir setiap hari, waktu dalam hidup anda. Bukan juga berarti tidak ada yang akan membuat kita sedih, tertekan, marah, tapi bagaimana dari semuanya itu kita menjadi pribadi yang lebih baik.
2. Karena kita manusia tidak akan pernah mampu melakukan apa yang benar menurut Tuhan tanpa Tuhan sendiri menolong kita, maka jadikan Ia pusat dalam hidup kita. Kita tidak akan pernah bisa hidup benar tanpa sumber yang benar. Karena sama seperti bagaimana kita akan mengeluarkan seekor gajah dari dalam kamar kita tanpa memasukkannya terlebih dahulu? Bagaiamana sebuah talang air akan dapat mengalirkan air tanpa ada air yang mengalirinya? Hidup kita tidak akan pernah jadi benar tanpa Tuhan. Kita akan senantiasa memilih apa yang tidak benar, tanpa Tuhan mengaliri kita dengan kebenaran sejati.
Rabu, 21 Juli 2010
Diperbaharui Untuk Mempertemukan Orang Lain Dengan Kuasa Tuhan.
Wahyu 21: 10,22-22:5
Yohanes 5: 1-9
Tujuan: Anggota jemaat dimampukan untuk mengalami perubahan hidup sehingga mampu mempertemukan orang lain dengan kuasa Tuhan.
Apa yang anda bayangkan tentang kuasa Tuhan? Adakah dari saudara yang pernah merasakan kuasa Tuhan? Seperti apakah kuasa Tuhan itu? Mungkin anda akan menjawab kuasa Tuhan itu besar, tidak dapat terduga, tidak dapat didefinisikan, bahkan irrasional (padahal seharusnya suprarasional=melampaui akal pikiran manusia). Atau anda akan berkata bahwa kuasa Tuhan akan mendatangkan damai sejahtera, sukacita, kekuatan, penghiburan dan lain sebagainya. Jawaban2 itu saya katakan sebagai jawaban klise. Anda dapat menjawab itu semua berdasarkan apa yang ditulis dan dinyatakan oleh para penulis Alkitab yang telah mengalaminya.
Namun kini, saya bertanya kepada anda sebagai pribadi, apakah anda sungguh2 mengalaminya? mengalami kuasa Tuhan itu sendiri, hingga anda dapat memahami dan mengalami benar apa yang dikatakan oleh para penulis Alkitab itu? Apakah anda sungguh dapat mengatakan bahwa apa yang disaksikan oleh Alkitab adalah ya dan amin, dan bukan sekedar mengekor karena tidak tahu harus berkata apa, karena kita sendiri belum merasakan kuasa Allah? Atau tidak sadar bahwa setiap hari dalam hidup anda, anda sesungguhnya merasakan kuasa Allah?
Ada seorang remaja berkata: “Kak tahukah kakak apa yang akan kita rasakan ketika mengalami kuasa Tuhan? Malu ka! Karena Dia saja yang memiliki kuasa begitu besar untuk mengubah diri saya tidak sombong, dan tidak pernah memegahkan diriNya, tapi saya yang tidak ada apa2nya, yang begitu dikasihiNya, sudah merasa menjadi segalanya.” Ada lagi yang mengatakan: “Sedih dan terharu, karena Dia sesungguhnya punya kuasa untuk melenyapkan saya ketika saya terus menerus memilih untuk berdosa dan bukan taat, tapi Ia tetap memberikan saya kesempatan, bahkan dengan kuasaNya Ia menolong saya menjadi pribadi yang lebih baik.”
Perjumpaan Saulus dengan Tuhan untuk pertama kalinya, mungkin tidak membawa sukacita, namun ketakutan. Bagaimana tidak, ia yang tadinya penuh kuasa untuk mengejar dan membunuh orang Kristen, menjadi tak berdaya karena kebutaannya. Tapi Bagaimana dengan orang lumpuh di tepi kolam Bethesda? Tidak ada reaksi signifikan yang dialami olehnya, ia cenderung hanya mengikuti perintah, bahkan ia tidak sadar siapa yang telah menyembuhkannya. (Yoh 5:8-13)
Apa yang dapat kita pelajari dari 2 pengalaman di atas? Perjumpaan dengan Tuhan tidak semata-mata mendatangkan damai, sukacita, kebahagiaan, penghiburan namun juga rasa malu, terharu, sedih, bahkan tidak sadar bahwa sesungguhnya kuasa Tuhan sudah dialami. Tuhan selalu punya 1001 cara berbeda untuk menunjukkan kuasaNya kepada manusia, dan perasaan yang ditimbulkan juga berbeda. Kini, apa yang menjadi persamaannya? perjumpaan dengan kuasa Tuhan membawa kita kepada perubahan hidup dan pertobatan yang sejati artinya PERUBAHAN! Saulus berubah, Orang lumpuh itu juga berubah (paling tidak ia dapat berjalan, walau tidak pernah diceritakan bagaimana perubahan hidupnya melawan dosa. Ay.14)
Menurut anda apakah Dia akan sembarangan mencari orang yang akan mempertemukan kuasaNya dengan orang lain ? Saya rasa tidak, Ia ingin setiap kita mengalami KuasaNya terlebih dahulu. Karena hanya kuasaNya yang memampukan seseorang mengalami perubahan. “hidupku, bukannya aku lagi, tapi Kristus!” itulah perkataan Paulus yang begitu terkenal. Tapi bagaimana ia dapat berkata demikian hanya karena ia telah ‘ditangkap’ oleh Kuasa Kristus (Filipi 3:12).
Jadi....sesungguhnya kita tidak akan pernah dapat mempertemukan orang lain dengan kuasa Tuhan, tanpa kita mengalami kuasaNya yang mengubahkan tersebut terlebih dahulu. Atau kita akan seperti seorang anak yang berkata betapa enaknya makan es krim coklat padahal ia tidak pernah merasakan bagaimana sesungguhnya enaknya makan es krim coklat. Ia hanya mengatakan hal tersebut supaya teman2nya tahu bahwa ia telah mencoba es krim coklat. Hasilnya....Ia hanya mengatakan sesuatu berdasarkan pengetahuannya tentang apa itu es krim coklat dan bukan berdasarkan perasaan yang ia peroleh ketika ia mengalami nikmatnya es krim coklat. Orang lain akan melihat bedanya!! Apa yang membuat berbeda? Karena berbeda berkata2 dengan kekuatan dan pengetahuan kita sendiri dengan berkata2 dengan kekuatan dan hikmat Allah, maksudnya? KUASA ALLAH ITU SENDIRILAH YANG AKAN MEMANCAR DARI HIDUP KITA ketika kita berjumpa setiap harinya dengan orang2 di sekitar kita.
Sekarang.....bagaimana caranya mengalami kuasa Allah yang memperbaharui hidup kita itu, hingga kita sungguh menjadi baru dan dimampukan untuk mempertemukan kuasa tersebut kepada orang lain?
1. Pembaharuan hidup yang sungguh, dapat dirasakan oleh mereka yang mau belajar untuk TAAT. Dapatkah orang lumpuh di tepi kolam Bethesda kembali berjalan tanpa mau bangun, mengangkat tilam dan mulai berjalan? TIDAK saudara2. kesembuhan itu tidak akan pernah terjadi! Taat bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, sekalipun kita sudah menerima Yesus dalma hidup kita. Karena ketaatan tidak hanya membutuhkan kemauan, ketekunan, tapi juga iman yang tidak sekedar percaya. Bila anda mengalami apa yang dialami oleh orang lumpuh itu, dan ada seorang yang asing di hadapan anda mengangatakan hal yang sama yang Yesus katakan kepada orang lumpuh tersebut, maukan anda mengikutinya? Alih2 anda akan mengatakan: “kamu gila ya!! Atau, kamu tuh bukan Tuhan tau! Tau gak saya ini udah puluhan tahun lumpuh sarafnya sudah putus, mana mungkin bisa berjalan lagi, kamu mau mengejek saya yaa!!” Taat kepada Tuhan itu berbeda dengan ketaatan kita kepada sesama manusia. Terhadap manusia kita dapat berkata: siapa kamu, atau kita akan mengolah semua perintah dengan rasio (baik atau tidak menurut saya, mudah atau sulit untuk saya lakukan) kita terlebih dahulu. Tapi tidak begitu dengan ketaatan kepada Tuhan. Kita tidak akan pernah bisa berkata: Siapa anda, mau perintah2 saya?! Atau menggunakan rasio kita terlebih dahulu. Karena Allah tidak selalu dapat dimengerti dengan rasio, walau tetap kita harus mengujinya menggunakan rasio dan hikmat Allah secara terus menerus.
2. Mau dan siap untuk BANGUN, MENGANGKAT TILAM DAN BERJALAN. Apa yang akan terjadi bila anda hanya duduk atau tidur selama berpuluh tahun karena sakit penyakit, masih adakah kemauan untuk bangun hingga mengangkat tilam? Pun masih ada kemauan, kita tahu bahwa itu tidak mungkin menurut rasio manusia. Puluhan tahun tidak menggunakan kaki, menurut logika, menyebabkan kaki tidak dapat digerakkan sama sekali karena otot2nya juga sudah tidak mampu berfungsi dengan baik, oleh karena itu dibutuhkan terapi yang lama dan kemauan untuk melatih kembali semua otot yang membuat kita dapat berjalan kembali. Begitu juga dengan kita yang sudah puluhan tahun hidup dalam keberdosaan. Dosa membuat kita tidak mampu berjalan dalam kebenaran, dan karena lamanya kita hidup dalam dosa, kita sudah ‘terbiasa’ untuk hidup seperti itu, maka butuh kemauan dan kesiapan untuk meninggalkan keberdosaan kita, dan memulai ‘terapi’ hidup dalam kebenaran. Bila orang sakit di pinggir kolam Bethesda itu tidak bertanya, menyanggah ataupun menolak sedikitpun, hanya bangun, mengangkat tilamnya dan berjalan, bagaimana dengan kita?Apakah kita mau dan siap mengubah kebiasaan kita hingga memiliki kebiasaan yang baru? Ingat di Rumah Bapa tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu. (Why 21:27)
3. (Why 22:5) Tanpa HIDUP DITERANGI TERANG KASIH ALLAH, maka ketaatan dan kemauan untuk bangun, mengangkat tilam dan berjalan menjadi suatu beban yang terlampau berat yang tidak mungkin dilakukan. Gerutu, marah, kesal, dan bukan syukur, sukacita, damai, menjadi bagian yang tak terelakan setiap hari. Karena perubahan dianggap sesuatu keharusan bukan kerinduan. Paksaan dan bukan keinginan. Oleh karena itu perubahan apapun yang kita alami dalam hidup haruslah kita dasarkan pada kasih kita kepada Tuhan
Allah Tritunggal Mengasihi Kita
Amsal 8:1-4, 22-31
Maz 8
Roma 5: 1-5
Yohanes 16: 12-15
Dapatkah saudara menjelaskan apa yang dimaksud Allah Tritunggal? Bagi kebanyakan orang Kristen, Doktrin Allah Tritunggal adalah doktrin yang cukup membingungkan untuk dijelaskan. Bahkan banyak dari kita, yang telah sekian lama mengakui Allah kita sebagai Allah Tritunggal, juga tidak dapat menjelaskan apa dan bagaimana Allah Tritunggal itu. Ya, memang kita tidak dapat dengan mudah menjelaskan bagaimana ALLAH Tritunggal itu, termasuk tidak dapat mencari padanan yang dapat menjelaskan secara sederhana, dengan makna yang tepat. Tapi bukan karena kita memiliki doktrin yang tidak jelas, atau Allah kita merupakan Allah yang tidak sempurna loh! Lalu, bagaimana menyikapi berbagai macam pendapat yang membuat kita semakin bingung bahkan memojokkan kita sebagai umat Allah dan Allah yang kita sembah?
Tentunya, ketika kita mengakui Allah yang tritunggal, kita harus paham dengan benar mengapa Allah kita mendapat sebutan Allah Tritunggal. Tapi bukan berarti ketika kita pulang dari gereja ini, saudara merasa sudah mengenal dengan benar Allah yang kita sembah. Mengapa? Karena kita hanya mampu memahami Allah yang tak terbatas itu dengan keterbatasan kita memahami tindakan Allah sebagai manusia. Kita hanya mampu memahami karya Allah sebatas apa yang mampu kita pahami dengan cara pikir, pandang, pemahaman kita tentang siapa Allah, dan apa yang mungkin Ia lakukan dan beri bagi kita.
Tapi, jangan pesimis dulu. Tidak terlalu sulit kok bagi kita untuk memahami Allah walau pemahaman kita tidak akan penah menjadi sempurna. Hal pertama yang perlu kita sadari adalah pengenalan kita terhadap Allah bukan pengenalan yang semata-mata berasal dari diri kita (karena kita pandai, karena kita banyak membaca, giat berdoa dan lain sebagainya), namun karena Allah berkenan menyatakan diriNya kepada kita. Ia menjadi Allah yang senantiasa ingin mendekatkan diri, menunjukkan kasih setiaNya pada kita, agar setiap kita yang mengenalNya dapat hidup dalam perdamaian denganNya. Ia bukan Allah yang mencari popularitas, bukan juga menjadi Allah yang mencari sensasi. Ia hanya ingin kita tahu, bahwa Ia mengasihi kita lebih dari apapun dan kita begitu berharga di mataNya.
Kini, Apa buktinya? Sebenarnya kita tidak perlu bertanya lagi apa bukti Allah mengasihi kita? Karena Allah bukan kita yang lebih suka mengumbar kata-kata cinta tanpa mampu membuktikannya. Lebih dari itu Ia selalu memberikan yang terbaik kepada kita lebih dari apa yang dunia beri bagi kita, bukan? Namun karena kini kita hendak mengingat Allah kita yang adalah Tritunggal, mari kita coba memahami apa saja yang telah Ia perbuat bagi kita sebagai Allah yang Tritunggal:
1. Apa yang kita bayangkan tentang Allah Bapa? Adakah kita membayangkan Dia sebagai sosok yang besar, berbaju putih, bermahkota emas, berkumis dan berjanggut tebal layaknya Santa Claus, atau mungkin memiliki sorot mata tajam, dan senyuman hangat? Beberapa pandangan Kristen mula2 yang mengatakan bahwa Allah perjanjian Lama adalah Allah yang kejam dan penuh amarah. Ada juga yang mengatakan Allah yang kejam, dan lain sebagainya. Benarkah pendapat mereka itu? Amsal 8: 1-4, 22-31 menceritakan bagaimana Allah perjanjian Lama atau yang lebih kita kenal dan sapa sebagai Allah Bapa, ternyata bukan Allah yang kejam seperti yang banyak disimpulkan dan dinilai oleh beberapa kalangan. Ia adalah Allah yang menjadikan kita sebagai anak kesayangan, yang setiap hari dapat bermain denganNya, bahkan menjadi sumber kesenangan (baca: sukacita). Dapatkah kita membayangkan bahwa kita adalah sumber sukacita Tuhan? Ketika Tuhan melihat kita yang lucu, sedang tersenyum, atau belajar berjalan ia tersenyum sambil merentangkan kedua tanganNya? Ia adalah Allah yang menjadi Bapa kita, lebih dari bapa yang ada di dunia. Sebagai bapa sorgawi, Ia tidak hanya punya kuasa atas diri kita dan saya, baik itu kuasa untuk tetap membuat saya dan kita hidup ataupun pulang ke rumahNya, ia juga mendidik anak-anakNya, menghajarnya bila mereka salah, tahu dengan pasti apa yang mereka butuhkan dan bukan sekedar inginkan, dan yang terutama....berbeda dengan bapa atau ibu di bumi, Ia tahu dengan pasti apa yang terbaik bagi anak-anakNya.
2. Bila tadi saya mengajak kita membayangkan seperti apakah sosok Bapa, maka kini saya mengajak kita untuk membayangkan sosok Allah Yesus. Siapakah Yesus buat kita? Adakah kita menyebutnya Tuhan, Allah, nabi, tabib, sahabat??? Adakah kita membayangkan Yesus sebagai pria kecil hitam yang kekar, dengan rambut panjang dikuncir, kemana2 membawa perkakas kayu atau? Bagaimana sesungguhnya fisik Yesus mungkin tak perlu kita bahas panjang dan lebar ya... karena bagaimana tampak Yesus sesungguhNya tidak mempengaruhi dan merubah kasih dan karyaNya bagi manusia. Apa karyaNya? Untuk dapat sungguh2 merasakan karya Tuhan, pertanyaan ini mungkin dapat membantu kita, “ Bila kita adalah seorang pembunuh, yang setiap hari kerjaannya membunuh paling tidak 3 makhluk hidup, dan kita melakukannya sepanjang hidup kita, dan diakhir hidup kita Tuhan mengatakan kita tidak bersalah, bagaimana perasaan kita ?” “ Oh maaf itu tidak relevan bagi saya, saya tidak pernah membunuh!” Yakinkanlah diri kita bahwa sesungguhnya setiap hari kita membunuh, memang kita tidak membunuh dengan menggunakan pisau dapur yang ditusukkan di dada suami, isteri, anak, dan orang tua kita, tapi sayangnya lidah tidak bertulang dan kata-kata pedas yang sering kali kita katakan terhadap mereka itulah yang perlahan tapi pasti membunuh mereka. Membunuh kualitas mereka, sukacita, kedamaian, hingga menjadikan mereka makhluk yang tidak lagi dapat mengasihi dengan tulus, tidak berpengharapan dan tidak beriman. Yesus membenarkan kita, Yesus memberikan pengharapan dan perubahan hidup bagi kita, yang tidak dapat kita lakukan sendiri hanya dengan kekuatan dan kepandaian kita. Kita yang tidak berhak menerima kasih karunia, diberiNya kasih karunia berlimpah ruah.
3. Bagaimana dengan Allah Roh Kudus? Adakah Ia juga menjadi perwujudan kasih setia Allah kepada kita, manusia? Ya!! Dialah yang memampukan kita menjadi benar dan membuktikan kepada dunia bahwa kita adalah anak-anak Allah yang sudah dibenarkan, Krena pembenaran yang Ia berikan bukan ketika kita berada di alam maut atau di dalam penghakiman, namun kini, sekarang , ketika kita semua mengaku Dia sebagai Allah, Tuhan dan manusia.Roh kudus tidak bekerja nanti ketika kita sudah di alam kubur atau di hadapan taktha Allah untuk mempertangungjawabkan kehidupan kita bukan, namun Ia bekerja sekarang, disini, di hati kita. Jadi kita tidak hanya dibenarkan melalui karya Yesus namun juga dimampukan berlaku, berkata, benar menurut Allah.
Kini, apa lagi yang kurang? Ia menjadi Allah yang sempurna bagi setiap kita, tidak ada kekurangan dalam diriNya. Dalam ke-tritunggalanNya Ia menjadi Allah yang sempurna dalam karya penyelamatanNya, bagi dunia, lebih dari itu Ialah yang sanggup menyempurnakan hidup kita yang sering kali kita nilai tidak sempurna, tidak ideal. Bila karyaNya bagi kita adalah sempurna, bagaimana ia harus berwujud, berperan dan menyatakan diri bukanlah sesuatu yang harus kita perdebatkan. Karena Ia adalah Allah yang dapat berperan, berwujud, menyatakan diri sesuai dengan kehendakNya, dan tidak selalu dapat kita pahami dengan segala keterbatasan kita. Alkitab menuntun kita pada suatu keutuhan karya, bukan kepada bentuk dan wujud semata-mata. Jadi marilah kita pahami karyanya yang utuh sejak masa lampau, kini, hingga nanti, Ialah Alfa dan Omega!!
Diambang Batas
Maz 30
Galatia 1: 11-24
Lukas 7: 11-17
Perasaan marah, sedih, benci, kesal, pupus harapan dan tidak tahu harus berbuat apa lagi menjadi hal yang biasa dialami dan dirasakan oleh manusia yang dilanda pergumulan, masalah, dan kepahitan hidup. Lumrahkah itu? Tentu...bukan manusia bila kita tidak merasa marah ketika orang yang kita cintai harus pergi meninggalkan kita, karena menjadi korban tabrak lari. Bukan manusia bila kita tidak merasa sedih bila anak yang kita banggakan tidak mampu bersekolah lagi karena keadaan ekonomi keluarga yang sedang morat marit. Bukan manusia bila kita tidak merasa benci kepada dokter yang seharusnya menolong alih2 membunuh sanak keluarga kita, karena perbuatan malprakteknya, atau ketika seorang guru yang seharusnya mendidik dan menjadi teladan malah menodai putra-putri kita. Tak usahlah kita mengalaminya terlebih dahulu untuk membayangkan bagaimana rasanya. Mendengar berita semacam itu di televisi saja sudah dapat membuat kita marah, kesal, dan sedih. Kejadian2 yang saya ungkapkan adalah kejadian2 yang biasa terjadi dalam hidup manusia, termasuk kejadian yang mungkin saja terjadi dalam kehidupan saya dan saudara, walau kita mengatakan lebih suka mengatakan “amit2 deh, kejadian sama saya”
Hidup tidak akan pernah berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan, hidup tidak pernah menjadi ideal seperti apa yang kita bayangkan tetang suatu yang ideal dan tidak. Ada kalanya, bahkan banyak kalanya kita merasa di ambang batas kekuatan dan kesabaran. “Manusia kan terbatas, semuanya ada batasnya, kesabaran saya ada batasnya begitu juga dengan kekuatan saya.” Menjadi pembelaan yang senantiasa kita katakan kepada Tuhan ketika kita lebih memilih untuk mulai marah, mengeluh, menyalahkan keadaan dan lain sebagainya. Tak mampu untuk maju namun tak mungkin juga untuk mundur, hasilnya kita akan menjadi hidup enggan mati tak mau, pun kita memutuskan untuk tetap melanjutkan hidup, maka kita akan menjadi manusia yang hidup dalam dendam dan keputusasaan.
Lalu bagaimana kita dapat melanjutkan hidup yang berada dalam ambang batas? Di ujung tanduk? Setiap manusia pasti pernah mengalaminya, tua muda, miskin kaya, siapapun dia. Begitu juga dengan para tokoh Alkitab. Mereka juga menjadi makhluk yang rentan akan kepedihan hidup, tapi mengapa kisah-kisah mereka menjadi inspirasi selama ribuan tahun? Bukan karena betapa hebatnya pergumulan hidup mereka, namun karena betapa mereka telah menjadi teladan yang baik dalam menghadapi masalah terberat sekalipun. Apa teladan mereka?
1. Banyak dari saudara masih mengingat kisah tentang Janda di Sarfat. Ia adalah seorang perempuan miskin yang hidup bersama anak tunggalnya. Ia bertahan hidup hanya dengan sedikit tepung dan minyak untuk membuat roti hingga Elia datang sebagai hamba Allah membawa berkat Tuhan yang tak henti kepada keluarganya. Namun disuatu waktu Tuhan mengambil anaknya yang satu-satunya itu. Apa yang mungkin terjadi padanya? Hancur hatinya sebagai seorang ibu, menjadi sebatang kara tanpa orang-orang yang ia kasihi. Ia merasa semua yang ia hadapi termasuk kematian anaknya menjadi suatu hukuman bahkan kutukkan baginya, yang menyadarkan ia akan kesalahan2nya. Lalu bagaimna dengan Elia? Adakah Ia marah kepada Tuhan, karena Tuhanlah yang mengutusnya untuk tinggal bersama dengan janda miskin tersebut ketika ia berada dalam pelariannya dari Raja Ahab dan Izebel isterinya yang hendak membunuhnya? Adakah ia marah karena kini ia harus berhadapan dengan janda yang berduka, karena kehilangan anaknya. Apa yang mungkin dirasakan Elia? Mungkin ia akan berkata: “Aduh Tuhaaannn, Engkau ini mau apa sihh...aku membelamu, dan aku hampir mati karenanya, kini aku seakan2 membawa musibah dan kutuk bagi keluarga yang Kau utus untuk memelihara aku."
Dalam kehidupan kita sehari2, bagi sebagian kita, melihat kemalangan, kesusahan, hingga penderitaan, datang sebagai sebuah hukuman dan kutukan yang menyengsarakan, sedangkan sebagian yang lain melihatnya sebagai teguran hingga ujian yang dapat mendewasakan dan menumbuhkan iman. Kini, respon mana yang kita pilih? Elia memilih untuk meresponi hal2 buruk yang terjadi dengan kemarahan dan kekecewaan terhadap Tuhan yang telah mengutusnya, alih2 Ia mencari Tuhan dan memohon kepadaNYa untuk mengembalikan nyawa anak sang Janda. Entah berapa lama ia berdoa dan berseru kepada Tuhan. Alkitab hanya mencatat bahwa ia berseru kepada Tuhan sebanyak 3 kali. Memang tiga kali bukanlah jumlah yang banyak, namun itu 3 x menyatakan kegigihan Elia dalam ambang batasnya (baca: ketakutan terhadap ahab dan isterinya, kepedihan melihat siapa yang menolongnya bukanlah bangsanya tapi mereka yang ditolak, kesedihan melihat mereka yang menerimanya dilanda kesulitan, kegeraman terhadap bangsanya yang bebal). Ia tidak mudah menyerah dan memilih untuk terus berharap kepada Tuhan walau mungkin Tuhan mengatakan TIDAK. Lalu apa yang terjadi? Bukan hanya kebangkitan sang anak yang terjadi, namun perjumpaan Sang Janda dengan Allah yang luar biasa itu. Kepasrahan dan pengabdiannya kepada Tuhan, ketika hidupnya berada di ambang batas, menjadi teladan yang tidak hanya memberikan jalan keluar, tapi juga membawa keselamatan yaitu kehidupan yang sesungguhnya bagi keluarga janda itu.
2. Apa yang akan terjadi pada seseorang yang gagah, dihormati, ditakuti, berkuasa, pandai, ketika ia kehilangan segalanya sesuatunya itu? Adakah dari anda yang akan menjawab sakit2an lalu mati? YA, bagi manusia itu adalah hal yang paling mungkin terjadi. Namun tidak bagi manusia yang mengandalkan Allah. Dimanakan batas ambang Paulus? Yaitu ketika ia kehilangan semuanya termasuk kuasanya. Dulu ketika ia masih menjadi musuh Allah ia dapat melakukan apapun yang ia suka, menggunakan kekuatan dan pengaruhnya untuk membawa banyak orang ke penjara. Namun kini ketika ia memilih untuk berjalan dalam dan bersama Tuhan, ia kehilangan semuanya. Ia yang menangkap kini ditangkap, ia yang dahulu memukul kini dipukul, ia yang dahulu mengikat kini diikat...siapa yang tahan? Bukankah bagi manusia itu semua adalah hal yang tidak mudah untuk dilalui. Terlebih lagi Paulus mengatakan bahwa ia pergi ke Damsyik tempat dimana ia banyak membunuh dan mengejar orang Kristen. Orang-orang tentu tahu apa tujuannya ketika terakhir kali ia datang ke kota itu, maka kembali ke Damsyik dilakukannya dengan penuh keberanian. Bagaimana dengan Yerusalem? Disanalah orang orang Yahudi yang dulu adalah kawan dan sekarang menjadi lawan bagi Paulus. Meraka tidak suka akan perubahan yang terjadi dalam diri Paulus. Ia juga kembali ke kampung halamannya, tempat ia dibesarkan, Siria dan kilikia. Tentu orang2 di sana tahu dengan pasti orang seperti apa Paulus itu. Menghadapi masa lalu adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan oleh manusia, namun Paulus berani menghadapi masa lalunya itu.
Lalu bagaimana Paulus menghadapi ambang batasnya? Kesadaran bahwa hidupnya ada dalam rancangan kasih karunia Allah dan panggilan Allah. (Ay 14) sukacita karena Allah berkenan menyatakan diri kepadanya. Sejak Paulus mengalami ‘pencerahan’ itu, tidak sekalipun ia meminta pertimbangan manusia. Surat Galatia menjadi jawaban Paulus akan segala tuduhan yang ditujukkan kepadanya, yang menyerangnya secara pribadi, dengan tujuan melemahkan pengaruhnya. Keberaniannya menghadapi masa lalu, datang kepada mereka yang dulu ia kejar dan benci menjadi teladan yang tidak hanya membawa sukacita, namun juga kekaguman yang besar terhadap Tuhan yang dapat mengubah seseorang dengan begitu rupa.
“ Teladan: Menjadi Duta Iman, Pengharapan dan Kasih”
Setiap kita pasti punya panggilan masing2. Di rumah seorang laki-laki saja mungkin mendapat beberapa panggilan dari anggota keluarganya. Sebagai seorang suami dia mendapat panggilan sanyang, sebagai seorang ayah dia dipanggil ayah atau papa, sebagai seorang anak laki-laki tertua ia bisa saja mendapat panggilan kakak, atau koko, dan lain sebagainya.
Setiap manusia punya status, dan identitas; setiap orang dapat memiliki 1 bahkan banyak sekali status bagi dirinya sendiri, baik sebagai Ayah, karyawan, pemimpin perusahaan, suami, kakak, adik, mahasiswa/i, pelayan, hingga menjadi hamba Allah dan duta Allah. Namun kini yang menjadi pertanyaan pentingnya adalah sejauh mana kita memenuhi dan memaknai panggilan akan statusnya itu?
Adakah kita hanya menjalankan satu dua status yang kita anggap mudah? Ataukah kita menjalani semuanya dengan asal saja, setengah2? Atau kita menjalankan status dan panggilan kita tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab dan kesungguhan hati dan mengerahkan segala daya dan upaya untuk memberikan yang terbaik pada setiap panggilan tersebut?
Nah, kini apa arti menjadi duta?
Dalam KBBI, duta (Sangsekerta) adalah orang yang diutus untuk melakukan tugas khusus, menjadi utusan untuk melakukan misi tertentu, orang yang mewakili suatu negara untuk mengurus kepentingan negara yang diwakilinya, membantu, melindungi warga negara yang tinggal di negara itu. Ketika kita dipanggil menjadi duta Allah, maka tugas kita adalah menjadi utusan untuk melakukan misi tertentu. Tentunya ketika berbicara tentang misi Allah, kita akan membicarakan banyak hal yang tidak akan dapat dibahjas dalam percakapan satu malam, (di STT Jakarta saja misiologi dibahas 2 semester, masing2 3 sks) Tapi melalui bacaan kita hari ini, kita diajak untuk menjalani tugas untuk mewartakan apa itu IMAN, PENGHARAPAN dan KASIH melalui teladan hidup kita.
Apa yang dihadapi jemaat Tesalonika?
Di tesalonika untuk pertama kalinya pemberitaan Paulus mendapat banyak pengikut dari golongan masyarakat kelas atas. Lawannya tidak berhasil mempengaruhi pemerintah seperti di tempat lain, sehingga mereka memilih jalan menimbulkan kerusuhan dengan maksud memaksa pemerintah kota untuk mengambil tindakkan. Para penguasa yang tertangap oleh tuduhan tidak patuh terhadap kaisar, mengambil tindakan dengan menyingkirkan Paulus tanpa melakukan kekerasan.
Oleh karena itu sekitar tahun 50 M paulus dan rekan2 meninggalkan Tesalonika, yaitu sesudah beberapa orang bertobat dan satu jemaat didirikan. Dengan situasi demikian, dapat dipastikan bahwa orang –orang yang bertobat itu akan mendapatkan penganiayaan, padahal untuk meghadapi itu mereka belum siap. Sebab Paulus tidak punya cukup waktu untuk mengajar dan menemani mereka bertumbuh. Namun, ketika Timotius kembali kepada Paulus di kota Korintus, ia membawa kabar baik tentang keteguhan hati jemaat di Tesalonika dan kegiatan mereka dalam penyebaran Injil.
Apa saja yang telah dibuat jemaat Tesalonika hingga mereka menjadi teladan di dalam pekerjaan iman, usaha kasihmu, dan ketekunan pengharapan mereka?
1. Ayat 6. Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus; menjadi penurut bukanlah hal yang mudah. Di saat menyenangkan saja tidak mudah untuk menjadi penurut2 Allah, apalagi pada masa sukar, penuh tekanan dan kesulitan. Tapi dengan teguh jemaat Tesalonika memberi diri untuk taat kepada Allah, mengapa? Apakah karena mereka memang kuat? Atau mereka pura2 kuat, seperti kebanyakan kita? Dari manakah kekuatan yang mereka miliki? Bukan karena kuasa mereka sendiri, mereka mampu untuk menjadi taat, tapi karena iman yang telah dianugerahkan kepada mereka oleh Allah sendiri yang memabntu mereka untuk taat. Ketaatan adalah bukti kepercayaan, dan pemberian diri kepada Tuhan. Karena beriman bukan hanya percaya, namun mempercakan diri, dan ketaatan menjadi bukti nyata dari jemaat tesalonika yang mempercayakan diri kepada Allah walau kondisi, situasi, kebahagiaan tidak berpihak kepada kita sekalipun. Di saat-saat sulit inilah Jemaat Tesalonika menjadi teladan dalam pengharapan yang tidak putus2nya kepada Allah. Dengan hidup berdasakan pengharapan itulah jemaat Tesalonika melakukan hal yang dianggap manusia lain adalah hal yang terberat sekalipun, dan dengan melakukannyalah sukacita tak terkira dialami oleh jemaat ini.
Sudahkah kita menjadi teladan dalam ketaatan kita kepada Allah dalam segenap bidang kehidupan kita? Di dalam keluarga, sudahkah kita sebagai isteri, suami, anak, orang tua menunjukkan ketaatan kepada Kristus sebagai kepala?
Sudahkah di dalam hidup kita kita menyatakan bahwa kita adalh orang yang berpengharapan dengan melakukan apa yang Ia inginkan untuk kita lakukan dengan sukacita bukan dengan gerutu, kemarahan dan kekesalan terus menerus? Karena pengharapan sesungguhnya menjadi kekuatan dan sumber sukacita bagi manusia di dalam masa tersulit sekalipun
2. Ayat 9 bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar. Sulitkah membuktikan rasa sayang anda kepada mereka yang anda kasihi? Banyak yang mengatakan mudah, namun tidak sedikit pula yang mengatakan sulit. Hal itu dikarenakan memberi bukti memang bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan dibandingkan berkata2 dan memberikan janji manis. Bila keapda manusia yang ada di hadapan kita saja kita sulit untuk membuktikan janji kita, bagaimana kepada Allah yang tidak nampak? Namun ternyata hal tersebut bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan oleh Jemaat Tesalonika. Mereka membuktikan kasih mereka pertama-tama kepada Tuhan dengan berbalik dari berhala2, ilah2 mereka yang lama, sungguh melayani Allah dengan hidup benar.
Dalam hidup kita, sudahkah kita meninggalkan berhala2 hati (materi, orang-orang terdekat, intelektual, kuasa) kita yang lama, yang membawa kita menjauh dari Tuhan, yang membuat kita menduakan Tuhan? Seberapa besar usahala yang kita berikan untuk membuktikan kasih kita kepada Tuhan, dengan memberikan bukti untuk dilihat, dirasakan dan menjadi inspirasi bagi orang –orang disekitar kita?