Tampilkan postingan dengan label Uang dan Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uang dan Allah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Januari 2012

Orang Beriman : Menabung

Orang Beriman : Menabung

Orang beriman tuh nggak perlu nabung!
Bukannya hari esok kita dipimpin
dan dipelihara Tuhan, ngapain juga kita tidak perlu menabung?
Kan nanti Tuhan yang kasih!
Apa benar orang Kristen nggak perlu nabung? Wah itu nggak benar sama sekali loh!! Orang Kristen juga harus menabung. Dan tahukah kalian bahwa menabung adalah salah satu cara orang Kristen beriman? Hanya saja, menabung sama sekali berbeda dengan menimbun. Oleh karena itu aktivitas menabung sebagai tanda orang beriman didasari oleh motivasi yang benar. Nah, kalau ada motivasi yang benar maka pasti ada motivasi yang salah bukan? Apa saja motivasi yang benar dan yang salah itu ya? Yuk kita check melalui Firman Tuhan

Motivasi yang Tepat
Masih ingatkah teman-teman dengan mimpi Raja yang diterjemahkan Yusuf dalam Kejadian 41, tentang masa kelimpahan dan masa kekeringan yang akan dialami oleh bangsa Mesir, 7 tahun lamanya masing-masing. Tuhan menyuruh bangsa Mesir bergegas dalam menyiapkan masa-masa sukar dengan menyimpan bahan makanan sebanyak banyaknya dengan 2 alasan. Yang pertama adalah supaya bangsa Mesir dapat bertahan dalam masa kelaparan yang akan melanda mereka selama 7 masa. Yang kedua adalah supaya bangsa Mesir dapat menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain di sekitarnya, termasuk bangsa Israel yang pada saat itu adalah saudara-saudara Yusuf yang pada akhir kitab kejadian diboyong ke tanah Mesir. Disinilah Tuhan memelihara bangsa Israel dengan “tabungan” (simpanan) bangsa Mesir. Jadi, motivasi yang tepat untuk kita menabung adalah untuk memelihara kehidupan dan memberkati orang lain.

Motivasi yang Keliru
Lukas 12 mengisahkan seorang kaya yang tidak memiliki tempat lagi untuk menyimpan hasil tanah dan seluruh kekayaannya yang melimpah. Dikisahkan bahwa ia akan merombak lumbung-lumbungnya untuk menyimpan seluruh hasil tani dan seluruh barang-barangnya. Apa yang keliru ya dari merombak lumbung? Memang tidak ada yang keliru bila kisah ini berakhir di sini. Tapi sayangnya kisah ini belum selesai. Lukas 12:19 melanjutkan kisah ini dengan bagaimana orang kaya tersebut memutuskan untuk beristirahat,makan, minum dan bersenang-senang karena hartanya yang banyak. Disinilah nampak motivasi yang keliru dari sang orang kaya tersebut. Ia menyimpan seluruh hartanya untuk dirinya sendiri. Lebih dari itu, ia menjadi seseorang yang malas, dan memiliih untuk bersenang-senang. Tuhan tidak ingin kita menyimpan semata-mata hanya untuk diri kita dan bukan untuk orang lain. Karena di dalam Tuhan bekerja dan menghasilkab bukan sebuah beban ataupun paksaan. Tuhan meminta kita untuk bekerja dan menjadi manusia yang rajin agar kita dapat terus menghasilkan hal yang baik, dan tidak berhenti dalam mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih baik, lebih berkualitas, lebih produktif, lebih memberkati sesamanya dan tentunya semakin sempurna dari waktu ke waktu.

Nah, sekarang mulai nampak kan benang merah antara menabung dan beriman? Yups. Orang-orang yang beriman bukanlah orang-orang yang memikirkan diri sendiri, karena mereka hidup oleh iman, oleh belas kasih kepada Allah maka kehidupan mereka juga menjadi kehidupan untuk berbagi kasih kepada sesamanya dengan apa yang mereka miliki. Dengan begitu, orang beriman juga akan menjadi orang yang bertanggungjawab terhadap segala sesuatu yang telah diberikan Tuhan kepadanya, baik itu pekerjaan, keluarga dan lain-lain dengan memberikan yang terbaik bagi semua pemberian Allah tersebut. Selain itu orang beriman juga akan menjadi orang yang yang rajin dan senantiasa mengembangkan talentanya. Ia tidak akan menjadi malas apalagi berhenti mengembangkan diri, karena hidupnya bukan hanya untuk mencari uang tapi untuk mengembangkan diri setinggi-tingginya.

Oleh karena itu orang-orang beriman akan mengatur sedemikian apa yang ia miliki untuk dapat memenuhi kebutuhannya sambil tetap memberikannya bagi sesamanya. Dan bila suatu saat ia memiliki kekayaan yang tak terhingga, ia tidak akan menjadi malas dan menganggur sambil bersenang-senang, tapi tetap bekerja dan menghasilkan.
Yuk kita menabung, karena itulah wujud iman kita kepada Tuhan

Senin, 02 Maret 2009

KKN

Markus 11:15- 19

Apa yang ada di benak rekan-rekan tentang KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Siapa sih yang tidak tahu arti KKN? Hampir 11 tahun silam istilah ini diperkenalkan kepada khalayak ramai. Bahkan istilah ini telah menjadi istilah yang paling sering di dengar di televisi dan juga di tulis dalam surat kabar. Menurut penelitian dan perbandingan yang dilakukan oleh suatu badan anti korupsi, Negara kita menjadi Negara terkorup ke-dua, dan bukan suatu yang mustahil bila suatu saat nanti Negara kita akan menempati urutan pertama dalam hal KKN.

KKN secara tidak kita sadari telah benar-benar merasuk dalam kehidupan kita, tidak hanya sebagai bangsa, bahkan sebagai individu yang beragama. Departemen Agama memperoleh peringkat ke dua setelah departemen kesehatan sebagai departeman yang terkorup di Indonesia. Bukankah hal tersebut memilukan? Sebagai bangsa yang dikatakan ‘takut akan Tuhan’, bangsa kita ternyata tidak takut melakukan apa yang dilarang oleh Tuhan. Jangan jangan KKN sungguh sudah merasuk ke dalam kehidupan keseharian kita loh? Jangan kira KKN hanya bisa dilakukan dalam bidang pemerintahan saja. Kita terkadang secara sadar maupun tidak sadar telah ikut menjadi oknum pelaku KKN. Berdasarkan KBBI, KKN adalah:

Korupsi : penyelewengan atau penyalahgunaan barang atau uang untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Suka memakai barang atau uang yang dipercayakan kepadanya untuk kepentingan pribadi.

Kolusi: kerja sama untuk maksud untuk maksud tak terpuji, persekongkolan

Nepotisme: perilaku yang memperlihatkan kesukaan yang berlebihan kepada kerabat dekat, kecenderungan mengutamakan kerabat sendiri, terutama untuk memegang jabatan, pangkat di perusahaan maupun di pemerintahan.

Jadi saat kita, misalnya : menyuap adik agar kenakalan yang kita lakukan tidak diketahui oleh orang tua kita, melakukan suap dan kolusi dengan guru supaya mendapatkan kunci jawaban dan lulus dengan nilai yang memuaskan, menggunakan uang atau barang yang dititipkan kepada kita tanpa ijin dari sang pemilik dan lain sebagainya. Kita sudah dapat dikategorikan sebagai pelaku KKN loh.

Ternyata KKN tidak hanya ada di Indonesia dan di dunia pada abad ke 20 ini loh, karena melalui injil markus kita diberi kesaksian Alkitab tentang praktek KKN pada masa Tuhan Yesus. Injil Markus 11: 15-19 menceritakan kepada kita apa yang para imam lakukan di bait Allah yang membuat Yesus marah besar.

Yesus marah bukan tanpa alasan yang jelas. Beberapa hal yang membuat Yesus marah adalah:

1. Ay 16 memberi catatan bahwa pelataran bait Allah digunakan untuk aktifitas jual beli. Coba kita bayangkan bila kita pergi ke pasar. Orang hilir mudik, mungkin ada yang berteriak-teriak, ada yang lalu lalang, dan lain sebagainya. Dengan suasana seperti itu, dapatkah seseorang berdoa ( beribadah ) dengan tenang? Tentu tidak kebisingan seperti itu tentu saja dapat mengganggu aktifitas peribadahan.

2. Ay 16 juga mencatat, bahwa di pelataran itu terdapat penukaran mata uang dan penjual merpati (merpati digunakan sebagai binatang persembahan bagi rakyat miskin). Memang tidak disebutkan binatang lain selain merpati, namun bila merpati sebagai kurban bakaran di jual disana, maka kemungkinan besar binatang lain yang diperdagangkan sebagai hewan bakaran juga akan hadir di sana yaitu kambing dan domba. Apa yang terjadi bila kambing dan domba ada di gereja kita. Tentu selain bising dari para penjual dan pembeli, suara kambing dan domba turut meramaikan suasana. selain itu mereka tentu mengotori pelataran bait Allah dengan segala kotoran dan makanan mereka. Menutut beberapa sumber, mereka juga menggelar dagangannya di antara pilar bait suci di pelataran dalam yang biasanya digunakan untuk pengajaran oleh para ahli taurat. Mengapa Yesus marah, karena mereka melakukan hal yang tidak pada tempatnya, dan tentu saja karena mereka menghambat bahkan menghalangi umat melakukan aktivitas beribadah di Bait Allah.

3. sebenarnya penukaran mata uang adalah layanan resmi di bait Allah. Karena perbendaharaan Bait Suci hanya menerima mata uang Yahudi, sedangkan tidak semua orang punya mata uang Yahudi karena pada saat itu mata uang Roma dan Yunani lebih umum digunakan di pasar luas. Dan layanan ini memang biasa dilakukan di pelataran bangsa-bangsa, sehingga tidak mengganggu kekudusan Bait Allah dan tentunya tidak akan menggangu aktivitas peribadahan. Lalu mengapa Yesus menjadi marah? Bukankah aktivitas perdagangan menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan? Bukan perdagangan dan penukaran uang yang ditentang Yesus, melainkan ‘permainan’ bisnis yang dilakukan oleh para pejabat bait Allah itu. Perdagangan hewan kurban yang dilakukan di Bait Allah merupakan hasil kolusi para imam dengan para pedagang hewan kurban. Pada masa itu hewan kurban dimonopoli oleh para imam dan pejabat Bait Allah, sehingga umat tidak dapat membeli hewan kurban selain di Bait Allah. Selain itu harga jual yang ditawakan kepada umat sangat memberatkan umat. Secara khusus bagi mereka yang miskin. Umat yang mengalami kesulitan ekonomi, yang hanya mampu membeli merpati sebagai hewan kurbannya untuk mengganti hewan kurban yang lebih mahal, semakin dipersulit. Padahal kurban bakaran merupakan hal yang sangat penting pada umat mada masa itu. Kurban digunakan sebagai penebus dosa dan lain sebagainya. Dan para imam mengambil keuntungan dari penjualan tersebut untuk keuntungan mereka sendiri. Oleh karena itu Yesus menyebut mereka sebagai penyamun, (ay. 17) atau dalam terjemahan aslinya lestes yang artinya pencuri.

Dengan melakukan hal tersebut, para pejabat Bait Allah dapat dikatakan menjadi orang orang yang merugikan masyarakat Yahudi, bahkan mengambil yang bukan haknya. Mereka merampok kepentingan masyarakat untuk berbakti kepada Allah. Untuk dapat beribadah umat harus mengeluarkan uang lebih banyak dari seharusnya.

Dan Yesus secara terang terangan mengutuk perbuatan mereka itu. Bukan hanya karena mereka menggunakan Bait Allah yang seharusnya menjadi tempat orang berbakti kepada Tuhan sebagai tempat utuk berdagang, namun terutama karena Yesus datang sebagai sosok yang berpihak kepada mereka yang miskin, mereka yang terbelenggu dan tertekan oleh tirani. Apa yang mereka lakukan di bait Allah adalah sesautu yang pada hakekatnya dapat merusak Bait Allah sebagai rumah doa, rumah tempat Allah berdiam. Doa disini tentu bukan hanya ibadah yang bersifat ritual, karena doa adalah bagian dari hidup, maka apa yang dilakukan oleh para imam dan pemuka agama pada masa itu, dapat merusak seluruh tatanan hidup manusia. Termasuk merusak diri mereka secara pribadi. Doa dan ibadah merupakan keseluruhan hidup manusia, bukan hanya yang kelihatan tapi terutama motivasi di balik suatu perbuatan.

Nah kini gimana caranya supaya kita juga tidak terjebak dengan perilaku yang ‘katanya’ sudah menjadi tradisi dan kebudayaan masyarakat dewasa ini. Kita sdapat melawan KKN dengan KKN juga loh! KKN macam apa yaa?

1. K pertama adalah Ketaatan kepada Tuhan. Tanpa ketaatan kepada Tuhan, manusia akan cenderung takluk terhadap godaan. Siapa sih yang ga suka dapat uang, walaupun uang itu adalah uang panas. Mengapa? Karena kata orang uang dapat membeli segala-galanya. Tanpa uang maka manusia tidak bisa hidup. Dengan meningkatkan ketaatan kita kepada Tuhan kita akan secara tidak langsung kita juga mendorong diri untuk mementingkan kepentingan dan kehendak Tuhan dari pada kehendak diri atau ego kita sebagai manusia. Kehendak Tuhan haruslah menjadi yang utama dalam hidup kita dna bukan keinginan diri apalagi yang dapat merugikan orang lain.

2. K yang kedua adalah Kekuatan dari Tuhan. Kita mungkin masih bisa taat, bila godaan belum terlalu besar. Tapi bagaimana bila godaan yang ada membuat kita lebih memilih jalan pintas melalui KKN, bagaimana bila godaan itu menyangkut kebutuhan dalam hidup, misalnya dengan menyogok guru supaya lulus, menggunakan uang untuk membiayai sanak saudara yang sedang kritis, dan lain sebagainya. Bila kita hanya mengandalkan kekuatan kita sebagai manusia, maka bukan sesautu yang mustahil kita terjebak dengan godaan KKN dan bahkan tenggelam di dalamnya. Dengan mengandalkan kekuatan Tuhan kita akan mampu menolak segala godaan yang datang dalam hidup keremajaan kita. Sama seperti Paulus yang berkata “segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku”

3. N yang terakhir adalah dengarkan Nurani. Nurani adalah suara hati, perasaan hati yang murni, alias belajar mendengarkan suara Tuhan dalam setiap langkah hidup kita sebagai manusia yang terbatas ini. Ketaatan kepada Tuhan dan meminta Kekuatan kepada Tuhan harus disertai dengan ketekunan dalam belajar mendenagr suara Tuhan yang mengingatkan kita. Ketika godaan itu datang menghampiri kita, kadang yang lebih berperan adalah pikiran atau emosi dan disanalah suara hati atau nurani kita diperlukan. Namun karena godaan terlalu besar maka nurani menjadi tertutup suaranya, nyaris….tak terdengar, bahkan tidak terdengar sama sekali. Mari kita belajar juga mendengarkan suara Tuhan dalam hidup kita agar himat Tuhan selalu membantu kita dalam menghadapi segala godaan dan cobaan.

Janganlah KKN menjadi kebudayaan dan tradisi dalam hidup keremajaan kita. Justru kita sebagai generasi muda yang takut akan Tuhan harus menjadi contoh dan pelopor dalam memberantas korupsi di negeri ini. Karena Toh kita juga yang akan menjadi pemimpin bangsa ini kelak. Kiranya Tuhan membantu kita. Amin

Minggu, 08 Februari 2009

Kiat Menyikapi Uang dan Harta

2 Kor 6:10

1 Tim 6:10

Gal 6:10

pertanyaan refleksi:

  1. apakah uang dan harta itu?
  2. apa fungsi dari uang dan harta?
  3. tindakan sepeti apa yang dikategorikan sebagai penyalah gunaan uang dan harta benda?
  4. apa maksud “ menggunakan uang dengan bijaksana dan untuk kemuliaan Tuhan?”

uang dan harta:

uang adalah alat tukar atau standar pengukur nilai baik itu berupa lembaran kertas, emas dan perak atau perunggu. Fungsi awalnya sebagai alat tukar, namun sudah mengalami pergeseran uang menjadi tanda atau alat ukur prestise. Semakin banyak uang yang dimilikinya semakin tinggi harga diri seseorang dimata orang lain. Tak mengherankan uang menjadi sesuatu yang dicari bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok lagi, lebih dari itu uang dicari agar orang semakin dihormati dalam komunitas.

Harta adalah barang yang bernilai, berharga dan menjadi kekayaan yang dimiliki seseorang, tidak melulu uang bentuknya, dapat berupa perusahaan, barang bergerak ataupun tidak seperti baik itu baju, buku, perusahaan, pabrik bahkan juga tubuh kita dan kemampuan yang kita miliki. Tidak mengherankan banyak orang yang juga mengasuransikan anggota tubuh mereka, apalagi bila anggota tubuh itulah yang memberikan pemasukan bagi kehidupan mereka. Namun ternyata pengertian harta tidak hanya sebatas itu, bahkan lebih dari itu banyak hal di dunia dapat dikatakan atau disebut sebagai harta. Misalanya pengetahuan, budaya, bahasa, keluarga (anak, orang tua, sanak saudara) kesetiaan, kebahagiaan, ketulusan, cinta (tidak sekedar sesuatu yang sentimentil kedengarannya => rasul Paulus dalam 1 Kor 13, tentu bukan cinta yang sembarangan tapi cinta atau kasih yang sungguh, termasuk kasih Tuhan yang Priceless!!! Dan satu lagi yang bisa kita sebutr sebagai harta: Alkitab kita!!!

Mengapa Alkitab disebut sebagai harta? Karena hanya Alkitab kitalah yang mampu menunjukan seluruh karya dan bukti cinta kasih Allah bagi manusia. Bahkan ia merupakan buku terpopuler sepanjang masa, dicari oleh setiap generasi. Tapi pada kenyataannya banyak orang tidak menganggap Alkitab sebagai harta. Coba kalo rumah anda kebakaran, yang diselamatkan apa dulu? Harta yang lain dulu kan? Karena banyak orang berpikir bahwa suatu barang dianggap bernilai bila ia memiliki nilai tukar yang besar. Semakin mahal harganya, semakin bernilailah barang itu. Padahal tidak semua yang ada di dunia ini dapat diukur dengan uang bukan?

Sumber:

Untuk itulah kita perlu paham benar dari mana sebenarnya uang dan harta kita bersumber. Banyak orang mengatakan harta atau uang yang dimiliki mereka adalah hasil kerja keras mereka, salahkah? Tidak. Sebagai manusia adalah sesautu yang menusiawi bila kita berpikir seperti itu, karena banyak orang bekerja untuk mencari uang sehingga saya dipaksa untuk bekerja sebaik mungkin agar uang yang saya dapatkan lebih banyak. Akan berbeda dampaknya bila setiap kita bekerja karena bersyukur diberikan berkat oleh Yang Kuasa dalam bentuk pekerjaan dan tanggung jawab, dan saya dibayar pula. Dapat dikatakan saya mendapat anugerah dobel. Dan itulah yang sebenarnya terjadi. Kita lahir ke dunia tidak membawa apapun juga seperti lagu Jonathan Prawira: “ Ku tak membawa apapun juga saat kudatang ke dunia” yaaaa memang benar bahwa tidak ada satupun dari kita yang membawa uang dan harta dari rahim ibu kita. Yang benar benar dapat dikatakan sebagai harta kita hanyalah tubuh dan kemampuan kita, walau itupun bukan milik kita, tapi milik Tuhan, karena talenta yang kita milikipun itu dari Tuhan dan bukan milik kita pribadi Jadi apa maknanya bagi kita? Bahwa apapun milik kita sekarang, baik itu uang, harta bukan karena kita layak memiliki itu semua, tapi karena Tuhan berani mempercayakannya kepada kita. Manusia hanya mengubah bentuk dari apa yang telah Tuhan sediakan dari alam yang diciptakanNya=> uang dari kertas, logam: emas, perak, perunggu. Itu bukan ciptaan kita tapi Tuhan yang telah menyediakannya bagi kita.

Dengan kesadaran bahwa apapun yang kita miliki sekarang ini bukanlah milik kita tapi milik Tuhan, maka kita diajak untuk dapat menggunakan apapun yang Tuhan percayakan ini sebaik dan sebijaksanan mungkin. Selain itu karena ini semua adalah milik Tuhan maka sudah selayaknya kita menggunakannya untuk memuliakan Tuhan

Bagaimana menggunakan uang dan harta kita dengan bijaksana? Apa arti bijaksana? Bijaksana memiliki arti menggunakan akal budi dan bukan nafsu, arif , teliti dan hati-hati (termasuk dalam menggunakan uang milik ‘gereja’ karena ini bukan uang jemaat juga tapi uang Tuhan yang dipercayakan jemaat untuk dapat digunakan sebaik mungkin dan bertanggung jawab dan tentunya bukan untuk berfoya-foya. Bila kita masih menggunakan konsep :” uang punya saya, hasil kerja saya,,, ya terserah dong mau saya beliin apa aja” maka tidak mengherankan bila banyak orang menjadi tidak arif dalam menggunakan uang mereka, dari yang menggunakannnya untuk membeli barang yang dianggap haram seperti obat-obatan, perempuan atau hanya untuk memuaskan nafsu kedagingan (lapar mata=>penimbun)

Memuliakan Tuhan: menjunjung tinggi Tuhan, mengganggap Tuhan yang paling tingii, paling utama. Dengan memahami arti memulikan Tuhan maka kita akan mengutamakan kehendak dan keinginan Tuhan sebagai yang utama dan bukan kesekian. Dengan memberikan perpuluhan misalnya (hati-hati bukan soal berapa banyak uangnya tapi kasih, kesetiaan dan keadilannya, Mat 23:23) memberi apa yang berhak dimiliki Tuhan dan memberi apa yang berhak diterima oleh sesama kita manusia.

Untuk dapat melakuykan itu semua kita harus membekali diri dengan paling tidak 3 sikap berikut ini:

2 Kor 6:10

Belajar merasa cukup. Hidup tidak akan pernah cukup, cukup buat kita masih ada buat anak, cukup buat anak masih ada cucu, cicit dan lain sebagainya. Belajar merasa cukup berarti belajar bersyukur. Belajar menerima hidup apa adanya, mencukupkan diri dengan apa yang ada, bukan apa yang tidak ada. Tentunya belajar merasa cukup bukan berarti kita tidak usah memikirkan masa depan, tapi seperti doa bapa kami yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, berikanlah kami makanan kami pada hari ini yang secukupnya, tidak kekurangan maupun kelebihan. Sesuatu yang berlebihan dan kekurangan tidak ada gunanyadan keduanya dapat menimbulkan penyakit sosial. Sesuatu yang berlebih dapat menimbulkan ketergantungan. Sedangkan kekurangan dapat menimbulkan kejahatan

1 Tim 6:10

Tidak Tamak. Semakin banyak yang didapat semakin banyak pula yang ingin didapat, sebaliknya selalu merasa kurang akan selalu mencoba mencari yang lebih dengan jalan apapun. Apa sih yang membuat manusia ini bersikap tamak ? cinta yang tidak sehat kepada uang. Cinta harusnya diberikan kepada Tuhan dan sesama manusia dan bukan kepada uang. Karena cinta kepada uang akan menimbulkan perbudakan bukan kebahagiaan, karena uang sesungguhnya tidak akan pernah dapat membeli kebahagiaan an kedamaian sejati yang sejatinya hanya dapat kita peroleh dari ketaaatan dan kecintaan kepada Tuhan

Gal 6:10

Apa dampak dari cinta kepada uang? Semakin kita cinta kepada uang semakin kita sulit untuk dapat memberi. Uang telah menguasai dunia bahkan hati dan pikiran manusia => waktu adalah uang. Waktu itu memang berharga tapi tidak dapat disejajarkan dengan uang. Karena waktu adalah kesempatan yang Allah berikan bagi kita untuk saling berbagi kasihNya, dan kapan waktu itu akan habis tidak ada yang tahu. Berbeda dengan uang. uang dapat diprediksi dan diatur penggunaannya sedemikian rupa, sehingga kita tidak akan pernah kehabisan uang, kecuali dicuri. Waktu kita bukan kita yang mengatur tapi Tuhan. Bila kita memahami waktu hanya sebatas uang maka kita akan menjadi manusia yang menggunakan waktu untuk mencari uang dan tidak lebih dari itu. Memberi adalah sesuatu yang tidak mudah untuk dilakukan, tapi itulah inti Kritianitas, ketika seseorang memampukan dirinya untuk memberi, bukan dari kelimpahannya namun dari hati dan ketulusannya.

Keseimbangan

2 Kor 8: 13-15

Latar belakang

2 Korintus 8: 1-9: 15 pengaturan persembahan bagi orang miskin di Yerusalem.

Saat surat ini ditulis Paulus sedang berada di Makedonia, yaitu kota pertama yang dikunjungi oleh Paulus di Eropa. Jemaat Makedonia bukanlah jemaat yang kaya, yang berkecukupan, sebaliknya jemaat di Makedonia adalah jemaat yang kekurangan dan bahkan dapat dikatakan miskin. Mereka berada dalam ketertekanan dan penderitaan, namun itu semua tidak melenyapkan sukacita mereka (ay 2) dan keinginan untuk selalu memberi bantukan kepada jemaat di Yerusalem yang sedang membangun bait Allah. Bahkan apa yang dilakukan mereka melampaui apa yang sesungguhnya dapat mereka berikan, sehingga pemberian mereka melebihi dari apa yang diharapkan.

Karena pemberian yang luar biasa yang telah dilakukan oleh jemaat di Makedonia itulah Paulus kemudian menghimbau Jemaat Korintus yang notabene adalah jemaat yang tidak berkekurangan. Korintus memang dikenal sebagai kota yang kaya. Dari mulai kebudayaan, macam pekerjaan (walau didominasi oleh pedagang, mengingat kota ini adalah kota perdagangan dan pelabuhan), macam ras dan kebudayaan hingga kaya akan karunia rohani. Paulus ingin menguji seberapa besar keikhlasan jemaat Korintus dalam hal memberi, bukan untuk membandingkan pemberian mereka, namun untuk saling melengkapi dan memenuhi hukum Kristus (9). Karena Kristus telah menjadi miskin karena kita dan kita telah menjadi kaya karenaNya

Tafsiran

“12 Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.”

RELA:

(KJV) will·ing [wílling] => kehendak yang muncul dari dalam diri sendiri dan bukan karena tekanan, eager (melakukan dengan senang hati dan dengan antusias)

adj

1. ready to do something voluntarily: ready to do something without being forced

2. helpful: cooperative and enthusiastic

3. offered voluntarily: offered or given by somebody readily and enthusiastically

YANG ADA PADAMU:

(KJV) hath [have] => yang kita miliki sebagai milik kita dan bukan yang tidak kita miliki.

13 Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. 14 Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.

SUPAYA ORANG LAIN MENDAPAT KERINGANAN:

KJV eased=> meringankan tanggung jawab atau tugas yang memang harus dijalankan dan diterima sebagai kewajiban, dan bukan meringankan beban.=>membebaskan orang lain dari tanggung jawab.

1. vt make less unpleasant: to make something less unpleasant, difficult, or restrictive

2. vti relieve or abate: to become, or to cause something to become, less strong or intense

4. vt loosen something: to slacken something that is tied or fitted tightly

5. vt make easier: to enable something to take place more easily

SUPAYA ADA KESEIMBANGAN:

KJV bur·dened=> dimana kita juga diberikan tanggung jawab untuk memberi bagi orang lain, karena kita berkecukupan, dan bukan untuk membebani hidup kita. Tetapi karena kita sekarang ini dalam keadaan serba cukup, maka sudah sepatutnyalah kita mencukupi kekurangan mereka. Jadi ‘supaya ada keseimbangan’ disini memiliki makna bahwa kita dipanggil untuk mengambil tanggung jawab dalam hal memberi, sesuai dengan kemampuan dan berkat yang Tuhan berikan untuk kita.

1. give responsibility to somebody: to give somebody a task that is difficult to deal with or something worrying to think about

2. give somebody load to carry: to cause somebody or something to carry a burden

BIS: “Saya sama sekali tidak bermaksud untuk membebaskan orang lain dari tanggung jawab, dan memberatkan kalian. Tetapi karena kalian sekarang ini dalam keadaan serba cukup, maka sudah sepatutnyalah kalian mencukupi kekurangan mereka. Nanti kalau kalian berkekurangan, dan mereka dalam keadaan serba cukup, maka mereka akan membantu kalian. Dengan demikian kedua-duanya sama-sama dilayani.”

Aplikasi

Apa yang bisa kita pelajari tentang keseimbangan disini:

  • Bahwa kita diminta peka terhadap kebutuhan orang lain dalam memberi persembahan sekalipun. Terutama bagi kita yang berkecukupan, hendaklah kita memberi lebih, bukan untuk melepaskan orang lain dari tanggung jawab, namun karena kita memahami kebutuhan dan keadaan mereka.
  • Keseimbangan disini tentunya bukan hanya ketika kita saling mengisi, dan memberi, tanpa menghilangkan tanggung jawab pihak lain. namun keseimbangan disini mengingatkan kita bahwa ketika kita ingin memberi untuk Tuhan, maka kita juga harus mampu ‘mempertanggung jawabkan apa yang sudah kita berikan bagi Tuhan. Karena sesungguhnya Tuhan ingin kita dapat memberi dari apa yang kita punya dan bukan dari apa yang kita tidak punya. Dalam hal ini, memberi disini harus juga rasional. Ketika kita berkata: “ nanti pasti Tuhan kasih gantinya, jadi Tuhan ini saya berikan semua yang ada pada saya. “ bila kita hanya memiliki uang 5000, maka itulah juga yang akan kita berikan. Pemberian seperti itu tidaklah bijaksana, karena kita memberi sesungguhnya bukan untuk mendapatkan balasan, sebaliknya karena kita sungguh ingin memberi tanpa pamrih. Jadi ketika kita memberikan. Tuhan tidak ingin kita tidak makan hanya karena kita ingin memberikan persembahan, atau dalam keadaan sakit yang mengharuskan kita beristirahat, namun kekeuh untuk tetap melayani. Bagi Tuhan persembahan tidak semata-mata uang, tenaga ataupun talenta, namun lebih dari itu hidup yang berkenan di hadapan Tuhan.

Persembahan Kain dan Habil

Pertanyaan refleksi:

  1. Apa makna dari persembahan?
  2. Kenapa saudara memberikan persembahan?
  3. Apa pertimbangan saudara ketika memberikan persembahan?

- jumlahnya? (kuantitas)

- mutunya? (kualitas)

- lain-lain?

  1. Apa yang menyebabkan persembahan Kain ditolak oleh Tuhan? Dan sebaliknya persembahan Habel diterima?
  2. Apa maksud Firman Tuhan pada ayat yang ke 7?

Sembah: pernyataan hormat dan khidmat

Menyembah: menghormati dengan mengangkat sembah, memuja

Menyembahkan: memberi dengan hormat

Persembahan: hadiah, pemberian kepada orang yang terhormat

Apa yang dapat kita pelajari bersama dari persembahan Kain dan Habil?

  1. Kain (Ibrani:qayin= possesion=memiliki, menguasai, harta benda) Habel (Ib: abel=breath= nafas, hidup, kehidupan. Melalui ayat 3 dan 4 kita tidak tahu dengan pasti apa yang membuat persembahan Kain ditolak oleh Tuhan dan Habil diterima. Namun dari ayat ini kita mengetahui bahwa hanya persembahan Habil yang berkenan kepada Tuhan, oleh karena itu Tuhan menerima persembahannya.
  2. apa yang menyebabkan persembahan Habil diterima sedangkan persembahan Kain tidak dapat kita temukan di Ib 11:4: ” Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada TUHAN korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena TUHAN berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.” jadi persembahan Habel diterima bukan karena Tuhan lebih suka lemak kambing jantan Habel, yang memang bila dibakar akan menimbulkan aroma yang harum sekali Bdg Im 6:12. Alasan mengapa persembahan Habel diterima adalah karena iman. Iman disini dapat diartikan sebagai kepercayaan tidak hanya kepada keberadaan TUHAN, dan kekuasaanNya, namun juga kepada komitmen kepada TUHAN untuk dapat memberikan yang terbaik dari apa yang ada padanya, baik dalam rupa ketaatan, kesetiaan, kerelaan, perkataan, perbuatan dan pemberian berupa korban bakaran, dan lain sebagainya. Dan tentunya Iman Habel dinyatakan dengan pemberiannya yang terbaik, yaitu juga dengan memberikan yang sulung (sulung memiliki arti yang besar bagi masyarakat Yahudi, baik itu anak manusia maupun anak binatang, karena yang sulung adalah yang utama, mis : hak kesulungan), yang gemuk (banyak lemaknya: bukan hanya sulung tapi Habil memberi yang terbaik yang ia bisa berikan kepada Tuhan) karena Habel tahu bahwa itulah yang TUHAN inginkan.
  3. iman kepada TUHAN yang dimiliki oleh Habel juga menumbuhkan motivasi yang dipandang baik dan tidak bersalah (bersih, murni, tulus)oleh TUHAN Mat 23:35 yang bahkan ketika ia sudah matipun darahnya masih berteriak Ib 12:24, yang tidak dimiliki oleh Kain. Ay 6-7, ” mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau dan engkau harus berkuasa atasnya.” secara tidak langsung menunjukkan bahwa Kain memiliki motivasi yang tidak baik ketika ia memberikan persembahan kepada TUHAN (bndg Mat 15:19). Tidak dikatakan dengan pasti apa motivasi Kain dalam memberikan persembahan, apakah hanya ikut-ikutan Habil atau lainnya, namun motivasi yang buruk itu jualah yang akhirnya mendorong Kain untuk membunuh Habel.

Apa relevansinya bagi kehidupan kita?

  1. Persembahan seringkali dipahami hanya sebagai pemberian ’sukarela’ atau bahkan yang bersifat kewajiban kita kepada Tuhan baik itu berupa persembahan perpuluhan bulanan, tahunan, syukur dan lain sebagainya. Ternyata persembahan lebih dari hanya sekedar pemberian ’sukarela’. Persembahan sendiri dalam KBBI memiliki arti hadiah. Apa yang orang lakukan untuk memberikan hadiah? Apalagi bila hadiah itu ditujukan bagi orang terkasih dan terdekat dengan kita? Biasanya orang akan memberikan apa yang disuka atau apa yang sedang dibutuhkan, oleh orang terkasihnya itu. Dan untuk mencari hadiah itu seringkali manusia membutuhakan waktu yang lama agar hadiah tersebut menjadi hadiah yang tidak terlupakan. itulah seharusnya yang menjadi dasar kita memberikan persembahan kepada Tuhan. Masalahnya banyak orang tidak memahami dengan benar apa yang dimasud dengan persembahan. Oleh karena itu banyak orang (pada akhir tahun atau hari raya) lebih sibuk mencari hadiah apa yang ingin diberikan kepada kolega dibandingkan mencari hadiah untuk Tuhan. ”Kalo Tuhan mah yah segitu-segitu aja, kalo kolega kan menentukan kelangsungan hidup dan kerjasama di masa mendatang?!
  2. Persembahan bukan hanya sekedar ’mencari uang kecil’ ketika penatua sudah membacakan ayat persembahan.” bu nuker uang buat naik angkot yaa?” ”bukan untuk persembahan” Atau pemberian yang berjumlah sama karena memang sengaja disisihkan dengan jumlah yang sama untuk setiap minggu atau setiap kantong. Persembahan haruslah hasil dari perjuangan untuk menyenangkan orang yang begitu berarti dan terhormat bagi kita. Dan tentunya bila persembahan itu kita berikan kepada orang terhormat maka pemberian itu haruslah yang terbaik.
  3. persembahan juga sering kali dijadikan sebagai sarana adu prestisewah si ibu itu ngasih 100.000, saya ga mau kalah dong, saya kan lebih kaya dan lebih mampu.”

belajar dari persembahan Kain dan Habel, ada beberapa hal yang perlu kita renungkan dalam hal memberikan persembahan bagi TUHAN:

  1. IMAN, persembahan kita haruslah dilandaskan kepada iman yang benar kepada TUHAN dan bukan hanya sebagai pemberian belaka. Dengan begitu pemberian kita juga tentunya harus disertai dengan ketaatan, kesetiaan kita kepada Tuhan yang tentunya diwujudnyatakan dalam perbuatan. Jangan kita menjadi orang yang tidak pernah lupa memberikan persembahan setiap minggunya, bahkan tidak lupa memberikan baik anak maupun cucu kita persembahan untuk diberikan pada saat sekolah minggu. namun dalam keseharian kita tidak pernah menunjukkan bahwa kita sungguh beriman dan berbakti kepada Tuhan.
  2. MOTIVASI YANG BENAR, persembahan juga harus dilandaskan pada motivasi yang benar. Bukan karena ingin dipuji, bukan karena ingin diterima. Tapi hanya untuk memberi Dengan iman yang benar kepada Tuhan maka kita juga akan memberikan yang terbaik (bukan dari segi jumlah, kualitas) tapi sungguh karena kita ingin mempersembahkan yang terbaik bagi TUHAN sebagi hadiah, dengan segenap usaha yang bisa kita lakukan.