Tampilkan postingan dengan label Seksualitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seksualitas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Januari 2012

WANTED: 10 Check List PENOLONG YANG SEPADAN

Lanjutan...


Hi!! Jumpa lagi kita di rubrik LSD. Kali ini kita masih melanjutkan kriteria PENOLONG YANG SEPADAN dari 2 edisi sebelumnya (semoga kalian masih ingat yaa) ({}) Kalo masih nggak ingat juga ini ringkasan 8 check list yang sudah ada: cinta Tuhan, dewasa, mampu menjadi ayah atau ibu, mampu menjadi sahabat, mampu menjadi kekasih, mau buka-bukaan, mau ditegur, dievaluasi, ditingkatkan kualitasnya, dan berani mengampuni.
Apakah kalian sudah punya semuanya, kalo belum...usahakan hingga semuanya ada pada kalian, supaya kalian jadi pasangan yang sempurna bagi si doi. Kalo sudah punya semua?Nah, artinya kalian siap menjalin hubungan yang lebih lanjut nich...apa aja ya check listnya?

9. Mapan & Bertanggung jawab
Sebelumnya jangan salah faham dulu terhadap point yang ke 9 ini. Yuk, kita lihat apa sih maksudnya: Yang pertama, mapan dan bertanggungjawab ini nggak bersifat gender ya! So, sama sekali nggak dikaitkan dengan pandangan bahwa seorang laki-laki harus memiliki penghasilan yang lebih besar dari isteri ( baca: lebih mapan), atau penghasilan isteri harus dibawah suami. Atau, dalam hal tanggung jawab, sang suamilah yang harus bekerja mencari uang, sedangkan tanggungjawab mendidik anak dibebankan hanya kepada isteri. Yang kedua, mapan disini bukan melulu soal materi, tapi soal kesiapan mental, jiwa, spiritual, yang artinya dewasa secara hati dan batin bukan hanya dewasa secara fisik. Apakah kalian mau menikah atau berpacaran dengan orang yang usianya cukup dewasa, kekayaannya cukup banyak, tapi sifatnya kaya anak-anak, galau misalnya? Wah bakal cape banget hidup kita kalo harus mendampingi pasangan yang seperti itu.
So, kalo kita dan pasangan kita telah menjadi manusia yang telah mapan dan bertanggung jawab, maka kita akan akan menjadi pasangan yang betul-betul menjadi penolong bagi satu dengan yang lain. Oh iya, satu hal yang penting, karena kemapanan dan tanggungjawab pada realitanya adalah sesuatu yang sifatnya relatif, maka kalian harus betul-betul melakukan percakapan dengan pasangan, (misalnya dengan menyamakan cara pandang, berbagi pendapat dan memutuskan bersama segala hal yang berkaitan dengan dengan kemapanan dan tanggung jawab ini) supaya di masa mendatang tidak menjadi sumber masalah dan konflik.

10. Siap berkomitmen
Sebelum kita bahas point yang ke 10 ini, kita harus kembali mengingat 9 point sebelumnya karena dapat dikatakan bahwa point ini harus ada menjadi pelengkap yang menyempurnakan point-point sebelumnya. Karena segala sesuatu yang pernah kita bahas dalam 2 edisi yang lalu hanyalah sebuah kesempurnaan yang tidak akan pernah jadi kenyataan tanpa sebuah KOMITMEN!! Mencintai Tuhan membutuhkan komitmen, menjadi dewasa, memberi yang terbaik, menjadi sahabat, kekasih, memberi diri untuk mau ditegur, mau terbuka, dan memiliki keberanian untuk mengampuni, menjadi pribadi yang bertanggung jawab...semuanya butuh KOMITMEN. Karena komitmen sebenarnya lebih dari sekedar janji. Komitmen adalah sebuah tindakan nyata yang mampu membuktikan semua janji yang pernah terucap.
Komitmen adalah kata yang mudah untuk ditulis, tapi sangat tidak mudah untuk dilakukan (kecuali dengan kekuatan dari Tuhan, (Everything is easy with and through God, isn’t it?) karena komitmen adalah kesetiaan tanpa akhir. Setia artinya tidak berpaling, apapun yang terjadi tidak berpindah hati. makna sesungguhnya dari “sampai maut memisahkan kita”, bukan berarti ketika pasangan kita meninggal kita dapat dengan bebas menikah dengan orang lain, namun ketika kita memilih seseorang untuk menjadi pasangan atau teman hidup, kita menetapkan hati bahwa dialah yang pertama dan terakhir, tak tergantikan. Itu idealnya, tapi ternyata banyak manusia tidak mampu bertahan ketika ia sudah ditinggal oleh pasangannya. Dan bila ia tidak mampu menguasai dirinya, maka lebih baiklah ia menikah lagi daripada berzinah. Oleh karena itu baik hukum maupun gereja tidak menghalangi seseorang untuk menikah lagi, tentunya dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dan dirancang dalam undang-undang.

Karena...
Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang menerima pasangannya dengan segala kekurangan dan kelemahannya tanpa menghakimi. Bersyukur ketika pasangannya tampil menawan, dan sama bersyukurnya ketika pasangannya mengenakan baju sederhana.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat sepasang suami istri memutuskan untuk terus mengikatkan diri dalam pernikahan, dengan tulus dan sukacita, meskipun salah satu dari mereka tidak bisa memberikan anak

Komitmen adalah sesuatu yang melampaui segala bentuk perbedaan, perselisihan dan pertengkaran. Ia tidak dapat dihancurkan oleh kekurangan, kelemahan maupun keterbatasan lahiriah. karena ketika kita berani mengikatkan diri dalam sebuah komitmen, kita telah 'mati' terhadap kepentingan diri sendiri.
http://www.jakartalantern.com/content/self-development/80-komitmen.html

Nah itu semua 10 check list dalam mencari PENOLONG YANG SEPADAN. Jangan lupakan karena sudah terbukti kebenarannya! 

WANTED: PENOLONG YANG SEPADAN: 10 Check List

WANTED:
PENOLONG YANG SEPADAN: 10 Check List

Kata orang: “Usia remaja adalah usia dimana cinta mulai berkembang.” Benarkah itu? Yup, memang usia remaja adalah usia dimana mulai berkembangnya rasa tertarik kepada lawan jenis. Kenapa itu bisa terjadi? Pada rentang usia ini, kalian sedang mengalami banyak perkembangan dan perubahan, satu dari banyak itu adalah perubahan hormonal. Dampaknya? Luar biasa! Perubahan hormonal yang akan memicu perubahan bentuk tubuh, mood, organ reproduksi hingga rasa tertarik yang kuat terhadap lawan jenis. Nah, karena kalian ada dalam rentang usia ini, dalam edisi kali ini, kita mau sedikit banyak membahas tentang bagaimana kita dapat mempergunakan rasa tertarik kepada lawan jenis yang tepat dan dengan cara yang juga tepat. Bukankah kita ingin mendapat pasangan yang tepat? Bukan hanya untuk bersenang-senang atau mengisi kesepian kita, namun pasangan yang betul-betul dapat menjadi penolong yang sepadan, yang dapat menerima kita apa adanya, namun tidak membiarkan kita seadanya.
Kalau mau, yuk kita liat bagaimana kriteria seorang penolong yang sepadan.
1. Cinta Tuhan
Tentunya soal yang satu ini, teman-teman sudah bisa mengetahui alasannya (Lihat Genesis Vol 7. September 2011). Namun bukan berarti ketika si dia berkata bahwa dia adalah orang yang cinta Tuhan berarti sudah cukup. Masalahnya adalah, apakah cinta Tuhan sudah pasti seiman? Hmmm... jawabannya: belum tentu. Bagaimana bila Ia memiliki kecintaan kepada Tuhan yang berbeda dengan Tuhan kita? Persoalan keyakinan adalah bagaimana manusia memperlakukan, berelasi dengan Tuhannya dan bagaimana Ia juga mempraktikan ajaran agamanya dalam kehidupannya sehari-hari. Mengapa hal ini penting? Karena bagaimanapun keyakinan, merupakan dasar yang paling kokoh untuk menjalin sebuah hubungan cinta kasih. Misalkan saja bila kalian berpacaran dengan seseorang yang menganggap poligami adalah hal yang sah-sah saja bila dilakukan, sedangkan kalian memegang teguh pernikahan adalah janji seumur hidup antara dua orang manusia, tentu banyak hal yang akan kalian ributkan bukan?
2. Dewasa
DEwasa ternyata bukan soal tua, tapi soal pilihan dalam merespon segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan mereka. Nah, apa aja sih ciri kedewasaan? Mengenali ,menerima, dan jujur terhadap diri; Menerima keberadaan orang lain sebagai sesama dan bukan musuh atau saingan; Mengarahkan hidup bagi dan kepada orang lain alias mulai belajar mengutamakan orang lain; Mampu berpikir dan bertindak mandiri (bukan artinya punya segala-sesuatu sendiri yaa... tapi ketika ia sudah dapat bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Misalnya dimulai dari hal sederhana: bangun pagi, membersihkan kamar, mencuci peralatan makannya sendiri dan tidak mengandalkan orang lain); Punya visi yang jelas akan hidupnya (apa kalian mau berpacaran dengan si dia, yang tidak tahu mau membawa hidupnya sendiri kemana? Apalagi bawa hidup kita...bisa-bisa cape dehh!!)
3. Mampu menjadi seorang AYAH dan IBU.
Orang tua pasti akan selalu memberikan, mengusahakan, mencari, mewujudkan yang terbaik bagi anak-anakNya. Mungkin kalian akan berkata, orang tua saya bukanlah orang tua yang baik bagi saya. Memang benar! Tidak semua orang tua di dunia mampu bersikap baik terhadap anak-anaknya, namun jangan lupa, bahwa kita memiliki orangg tua sejati yaitu Bapa di Sorga. Apakah Bapa di sorga akan memberikan ular kepada anaknya yang minta roti? Tidak bukan? Karena Bapa selalu tahu yang terbaik bagi anak-anakNya. Implikasinya? Si dia harus dapat memberi yang terbaik kepada kita bukan dengan standar dunia, tapi dengan standarNya sebagai Allah, yaitu KASIH, karena tidak ada pemberian yang lebih besar dari kasih.
4. Mampu menjadi seorang SAHABAT.
“Sahabatmu adalah pacar terbaikmu!” mengapa? karena pacarmu bukan ada hanya untuk menjalin hubungan asmara, tapi untuk melalui sebuah proses dalam rangka memasuki hubungan seumur hidup dalam sebuah pernikahan. Tentunya, kita membutuhkan seorang yang dapat dijadikan sahabat untuk berbagi suka duka, bercerita hingga larut malam, berdiskusi dan menerima kita apa adanya. Siapa lagi kalau bukan pasangan kita? Masakkan kita menikah hanya untuk bermesraan? Dan bukan berbagi kehidupan? Jadi, so pasti, pasangan yang terbaik adalah seorang yang dapat menjadi seorang sahabat bagi kalian.
5. Mampu menjadi seorang KEKASIH
Apa ada yang bertanya dalam hati: Apa lagi nih maksudnya? Bukankah seorang pacar sudah pasti adalah seorang kekasih? Eitt... tunggu dulu, tidak semua pacar kita adalah kekasih yang baik bagi kita. Seorang kekasih adalah seorang yang tau bagaimana menempatkan diri bagi pasangannya. Dia tahu kapan saatnya ia harus manja, tapi ia juga tahu kapan saatnya ia harus memanjakan pasangannya. (Kalau mau tau lebih banyak tentang ini baca terus LSD Genesis di edisi-edisi selanjutnya yaa!)
To be continue...

Kamis, 17 Februari 2011

PACARAN: Membangun VS Merusak!!!

Apakah pacaranmu merusak atau membangun? Emang seperti apa sih pacaran yang membangun ataupun yang merusak? Bagaimana sih memiliki hubungan pacaran yang membangun itu Nah, sebelum kita tahu bagaimana menciptakan hubungan yang saling membangun, lebih baik kita coba dulu untuk menjawab dulu pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:

Apa sih yang membuat kamu tertarik pada pacar kamu?
a. Dia guanteeennggg/cantik banget
b. Dia baik hati
c. Dia co/ce yang populer abis!
Apa yang kamu lakukan kalau pacarmu tidak membalas SMS atau tidak mengangkat teleponmu?
a. Diemin aja, sibuk kali
b. Cari tahu kenapa dengan tenang
c. Ngambek, ngancem putus
Kalo kamu salah, dia orang yang bisa melakukan apa sama kamu?
a. Ngak ngapa-ngapain, ga berani kali yaa
b. Mengingatkan dan selalu mengingatkan kita
c. Nyebarin kesalahan kamu ke teman2nya
Apa kamu takut diputusin?
a. Biasa aja tuh
b. Ngak, pasti Tuhan kasih yang terbaik kok
c. Amit2 deh jangan sampe kejadian sama gue
Kamu itu tipe pacar yang gimana sih?
a. Hmmm...penyayang?
b. Mencoba untuk memberi yang terbaik
c. Protektif!
Apa yang kamu biasa lakukan saat pacaran?
a. Ngobrolin yang ga penting
b. Cari tahu pandangannya tentang suatu hal
c. keluarin jurus gombal...terus...

Kalau jawaban kamu banyaknya A, kamu dapat dikatakan sebagai orang yang tidak akan mengalami kemajuan yang signifikan dalam pacaran, bahkan kamu cenderung suka berganti-ganti pasangan. Kamu melihat pacaran hanya sebagai sesuatu yang biasa dilakukan anak muda. Bahkan mungkin kamu sendiri tidak tahu dengan pasti kenapa kamu pacaran. Mungkin kamu adalah orang yang suka ikut-ikutan. Oleh karena itu ketika semua teman-temanmu pacaran kamu juga memutuskan untuk pacaran. Kalo yang ada boleh, kalo ngak ada juga ngak maksa. Kamu belum mampu mengenali siapa dan pribadi seperti apa kamu bagi orang lain dan kamu tidak mampu menjalin hubungan yang berkomitmen. Kamu masih menguatamakan apa yang kelihatan di depan mata dan bukan melihat apa yang di dalam hati. Memang menjalani hubungan pacaran dengan kamu tidak merusak namun juga tidak membangun, karena kamu lebih suka mengenal orang dari permukaannya saja. Sesungguhnya hati kamu belum siap untuk pacaran, kalau mencari teman sebanyak-banyaknya, mungkin akan menjadi pilihan yang paling tepat buat kamu pada masa kini.

Kalau jawaban kamu didominasi oleh jawaban C, kamu dapat dikatakan sebagai orang yang hanya sanggup mencintai tapi tidak dapat mengasihi. Kamu memiliki tingkat keegoisan yang tinggi sehingga pacaran kamu gunakan untuk memuaskan apa yang kamu inginkan. Kamu ingin menjalani cara pacaran yang sesuai dengan kehendak dan impian kamu dan kamu tidak peduli atas apa yang diinginkan oleh pasangan kamu. kamu adalah tipe orang yang menggunakan pacaran sebagai pelarian dari kesepian kamu, atau mungkin kekecewaan kamu terhadap kurangnya kasih yang kamu peroleh dari orang tuamu. Dengan begitu kamu tidak akan pernah menajdi seorang pendamping yang baik, karena kamu hanya berorientasi pada dirimu dan bukan pada pasanganmu. Tanpa kamu sadari kamu akan merusak hubungan yang telah kamu bina, karena sifat dan sikap negatif kamu terhadap pasanganmu. Kamu mungkin menilai bahwa kamu adalah pribadi yang berkomitmen tinggi dan setia, namun ternyata bukan kesetiaan yang sejati, tapi kesetiaan karena kamu membutuhkan dia untuk menjadi arena pelarian dari berbagai macam hal yang kamu alami. Jelas deh, sebenernya kamu belum siap untuk memasuki hubungan pacaran ini, karena kalau ini terjadi kamu akan terjebak pada hubungan dimana kamu merasa sebagai orang yang paling malang, yang paling disakiti dan hasilnya....kamu akan menyakiti pasanganmu!

Kalau jawaban kamu banyaknya adalah jawaban B, dapat dikatakan kamu adalah pribadi yang cukup siap untuk memasuki hubungan pacaran. Kamu matang dan tenang. Kamu mampu melihat persoalan dari sisi yang berbeda, bukan hanya kulit tapi inti persoalan dapat kamu petakan dengan cukup baik. Kamu tidak berorientasi pada dirimu sendiri tapi juga pada pasanganmu. Kamu tidak hanya ingin dimengerti, tapi kamu belajar untuk mengerti pasanganmu. Kamu mengikat diri dalam hubungan pacaranmu tapi kamu tidak terikat padanya. Sehingga kamu tetap dapat memberikan yang terbaik walau suatu saat nanti keadaan tidak berpihak kepadamu. Tahukah kamu, kamu akan menjadi pasangan yang sempurna bagi dia.

Sabtu, 07 Februari 2009

HOMOSEKSUAL: CIPTAAN ALLAH-KAH?

Baik Homoseksual atau heteroseksual tentu bukan hal yang asing bagi masyarakat dewasa ini. Namun sepertinya masih banyak dari kita yang tidak memiliki pemahaman yang benar tentang hal ini. Kedua istilah ini sebenarnya tidak lain dan tidak bukan adalah orientasi seksual, atau kecenderungan seseorang untuk tertarik secara seksual kepada jenis kelamin tertentu, baik itu kepada orang yang berjenis kelamin sama atau yang berbeda.[1] Dalam kasus ini homoseksual berbeda dengan waria. Seorang yang menyatakan dirinya homo[2] (gay) mengidentikkan dirinya tetap sebagai laki-laki, yang menyukai sesama jenis. Oleh karena itu ia tetap berdandan selayaknya laki-laki normal. Sedangkan seorang waria mengidentikan dirinya sebagai seorang wanita, oleh karena itu para waria berpakaian, berprilaku seperti selayaknya seorang perempuan. Pada perkembangannya kini, di negara-negara Barat khususnya, mereka menyebutnya sebagai transgender, atau mereka yang merasa ‘terjebak’ dalam tubuh yang salah.

Persoalan orientasi seks ini perlu mendapat perhatian lebih, karena menyangkut begitu banyak faktor baik internal maupun eksternal. Kita tidak bisa langsung mengklaim mereka sebagai pendosa. Pengalaman pahit seperti pelecehan seksual seringkali menjadi penyebab utama orientasi seksual ini. Selain itu lingkungan juga menjadi pengaruh yang begitu besar bagi seseorang yang sedang mencari jati diri dan orientasi seksualnya. Sebut saja Dodi (bukan nama sebenarnya), pemuda berusia 23 tahun, yang menetap di kota Bandung ini mengaku sebagai seorang gay dan bukan waria, sejak 4 tahun yang lalu. Ia mengaku bahwa orientasi seksualnya lebih banyak disebabkan oleh lingkungan dan bukan diakibatkan oleh pelecehan seksual. Sedangkan Heru (bukan nama sebenarnya), yang mengaku sebagai pasangan seksual Dodi, menyatakan bahwa orientasi seksualnya lebih disebabkan oleh pembawaan sejak lahir. Ada juga Mike (bukan nama sebenarnya) yang mengalami gangguan hormon, yang menyebabkan ‘kelainan’ pada orientasi seksualnya.

Berbeda dengan Dodi, yang menjadikan homoseksual sebagai pilihannya sendiri, Heru dan Mike menyatakan bahwa orientasi seksual mereka kini bukanlah sesuatu yang mereka inginkan. Tubuh(hormon, anatomi) dan pikiran mereka mendorong orientasi seksual yang berbeda sama sekali.

Siapapun tentu tidak mau dilahirkan dengan keadaan ‘berbeda’ dengan yang lain, apalagi dengan perbedaan itu mereka menjadi kaum yang dibenci, dikucilkan bahkan dihakimi. Hidup dengan ‘perbedaan’ itu saja sudah menjadi momok bagi mereka. Bila harus ditambah dengan perlakuan buruk dari kita selaku masyarakat yang mengaku ‘normal’, tentu hidup bukanlah hal yang nyaman untuk dijalani. Tidak heran bila kaum homoseksual ataupun transgender lebih memilih hidup berkelompok dengan mereka yang memiliki orientasi seksual yang sama, daripada harus bergaul dengan masyarakat umum.

Menjauhi mereka bukan jawaban untuk menolong mereka. Menjauhi mereka malah membuat mereka semakin tersisih dan terperosok. Menolong mereka pertama-tama harus dilakukan dengan cara menerima keberadaan mereka dan mendengar keluhan mereka. Homoseks yang disebabkan oleh lingkungan atau luka batin akibat pelecehan seksual pada masa lalu bukan hal yang permanen. Seorang homoseksual bisa reorientasi ketika kita mau mendampingi dan membantu mereka menemukan jati dari mereka sebagai manusia yang utuh. Namun bila seseorang menjadi homoseksual atau transgender, oleh karena persoalan biologis, hormon, anatomi tubuh (termasuk orang yang lahir dengan 2 alat kelamin lengkap dengan hormonnya), tentu tidak dapat kita ‘paksa’ ia untuk menjadi normal. Apakah dengan lahir ‘cacat’ hormon atau tubuh, mereka menjadi berdosa? Siapakah manusia yang sempurna di dunia ini? Saya yakin 100% tidak ada! Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah sendiri. Dengan mengasingkan mereka ataupun tidak menghargai mereka, kita mengklaim diri sebagai manusia yang sempurna, sedangkan mereka ‘cacat’. Lalu apa bedanya kita dengan orang-orang Yahudi pada masa Yesus yang memandang kecacatan sebagai momok dan hukuman dosa?

Yesus hadir di dunia ini semata-mata bukan untuk orang ‘normal’, namun ia hadir untuk semua orang termasuk mereka yang dianggap ‘cacat’ oleh kita. Peristiwa Yesus menyembuhkan orang buta sejak lahir mengajarkan kita, bahwa apa yang dianggap dunia sesuatu yang buruk, yang perlu disingkirkan, yang tidak pantas mendapat keselamatan, dapat dipakai untuk menyatakan kuasa dan kemuliaanNya. Jadi kitapun tidak dapat berkata bahwa orang-orang seperti mereka tidak mungkin dipakai Allah. Malah, orang-orang seperti mereka dapat Allah pakai menjadi alat yang luar biasa untuk kemuliaanNya.

Menjadi homoseksual bukan keinginan mereka, kecuali bagi mereka yang memang mengambil homoseksual sebagai pilihan hidup. Konteks masa kini tentu jauh lebih kompleks dari konteks perjanjian lama ataupun perjanjian baru. Homoseksual masa kini bukan bagian dari penyembahan terhadap dewa-dewi seperti pada masa perjanjian Lama dan Baru. Untuk melihat kasus- kasus homoseksual dewasa ini, diperlukan pendalaman tidak hanya dari sisi psikologis, namun juga sosial dan lain sebagainya. Memang dapat dikatakan bahwa homoseksual pertama kali mendapat dukungan melalui revolusi seksual yang terjadi di Amerika lebih dari setengah abad yang lalu. Homoseksual dianggap sebagai sebuah penyimpangan. Namun seiring dengan perkembangan ilmu kedokteran, homoseksual terjadi karena kelainan secara genetis. Dan tentu saja kelainan genetis seperti itu tidak dapat dikatakan sebagai penyimpangan perilaku.

Permasalahannya adalah apakah gereja mau terbuka terhadap penemuan-penemuan baru seperti itu, atau memilih menggunakan Alkitab untuk menghakimi? Gereja sering kali mengabaikan konteks, sering kali juga mengabaikan faktor-faktor lain yang seharusnya mendapat perhatian lebih. Gereja perlu melihat segala sesuatu dari beragam sisi, bukan hanya sisi depan, atau sisi belakang, namun setiap sisi yang mungkin ada dan dapat ditelaah.

Banyak gereja, khususnya gereja-gereja di kawasan Timur, seperti gereja-gereja di Indonesia yang masih menabukan persoalan seksual. Persoalan seksual dianggap sebagai sesuatu yang tidak pantas untuk diperbincangkan di dalam gereja. Hal tersebut sebenarnya timbul dari pemahaman yang keliru tentang seks dan seksualitasnya. Seks dan seksualitanya bukanlah sesuatu yang kotor dan najis pada dirinya sendiri. Yang membuat seks menjadi sesuatu yang kotor dan najis adah manusia yang menggunakan seks sebagai wadah untuk mengeksploitasi tubuh untuk kepentingan mereka sendiri. Alkitab mencatat bahwa seks merupakan anugrah Tuhan yang terutama harus dilandasi oleh cinta kasih dan bukan nafsu. Cara pandang yang sempit tentang seks dan sekualitasnya mendorong gereja untuk lebih cepat menghakimi dibanding cepat menelaah.

Alkitab memang akan selalu menjadi pedoman bagi manusia untuk bertindak, tapi Alkitab juga buku yang selalu up to date untuk dapat melihat segala persoalan yang timbul dewasa ini sekalipun dengan kacamata yang benar. Hanya saja terkadang manusia lebih suka menggunakan Alkitab bukan untuk menyelesaikan dan mencari jawaban dari permasalahan, namun mencari pembenaran akan pendapat pribadi.

Persoalan homoseksual, lesbi, transgender dan transeksual akan selalu ada di muka bumi selama manusia juga masih hidup. Oleh karena itu kita sebagai gereja, calon pemimpin gereja, dan para pemimpin gereja, tidak boleh menutup mata terhadap persoalan-persoalan seksual. Yang perlu kita lakukan bersama adalah mencari pengertian yang benar tentang seks, menghimpun informasi yang tentunya, tidak melulu berasal dari bidang Teologi. Semua ilmu di dunia dapat dipakai untuk dapat menghasilkan sudut pandang yang lebih baik untuk persoalan ini.

Dan tentunya kita juga perlu sadar diri, bahw tidak ada satupun manusia yang sempurna di hadapan Tuhan. Karena kesempurnaan adalah milik Tuhan seorang dan tiada yang lain. Kita, sebagai manusia yang telah dipanggil untuk dapat menjadi berkat bagi dunia, marilah kita bersama membantu mereka yang sungguh membutuhkan dukungan, penghiburan dan bukan caci maki atau penghinaan. Karena mereka sesunggunya juga adalah manusia seperti kita. Kini siapkah kita menerima dan menjadi sahabat bagi mereka?

Yael Eka Hadiputeri S. Si. Teol



[1]Sex:What do u wanna know?”, (Jakarta: Kompas, 2006), 203.

[2] Istilah homo yang artinya adalah sama, digunakan baik oleh perempuan maupun laki-laki yang memiliki orientasi seksual kepada sesama jenis. Pada perkembangannya memang homo diidentikan kepada kaum laki-laki yang memiliki orientasi seksual kepada sesama jenis. Sedangkan untuk perempuan dikenal dengan sebutan lesbi.