Kasih seperti apa yang dimiliki dunia?
Kasih seperti apa yang ada di dalam hatimu? Hatiku?
Kasih seperti apa yang kita berikan pada orang lain?
Kasih seperti apa yang kita beritakan melalui kehidupan, perkataan dan perbuatan kita?
Kasih seperti apa yang kita ingin miliki dalam keluarga, gereja, masyarakat kita?
Apakah semua jawabannya sama?
Atau berbeda satu dengan yang lain?
Apakah kita memilih kasih yang tulus, yang sabar, yang murah hati bagi diri kita sendiri?
Dan apakah kita memilih kasih yang munafik, yang mencari keuntungan bagi diri sendiri, yang akan kita berikan kepada dunia dan sesama kita?
Kalau kasih kita berikan, dengan penantian ucapan terima kasih, Itu bukan kasih.
Kalau kasih kita ucapkan hanya untuk membuat kita juga dikasihi, itu bukan kasih.
Kalau kasih kita lakukan, dengan harapan orang lain melakukan yang sama, itu bukan kasih
Itu hanya keegoisan kita...
Dan kegagalan kita mengerti Kasih yang sesungguhnya.
Kita dipilih..
Dipilih untuk menjadi pewarta kasih...
Kasih seperti apa?
Kasih yang sama dengan yang Tuhan berikan bagi kita.
Kasih yang tanpa pamrih, tanpa berkata ‘karena’, tapi kasih yang berkata ‘walaupun’
Kasih yang sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Kasih yang tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Kasih yang tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Kasih yang menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
Kasih yang tidak berkesudahan
Kasih yang tanpa kesemuanya itu, bukanlah kasih.
Sudahkah kita terpilih untuk memberitakan kasih?
Bila sudah, maka lakukanlah kesemuanya itu.
Minggu, 09 Januari 2011
Tahun Baru, Harapan Baru Dengan Sinergi
Tahun Baru, Harapan Baru Dengan Sinergi
Fil 3: 13b, Roma 5:3-5
2011 telah tiba, apa yang menjadi harapan anda di tahun yang baru ini? Biasanya, kebanyakan dari kita akan membuat komitmen, rencana2 dan cita-cita baru yang belum sempat dicapai pada tahun sebelumnya. Banyak dari kita yang membuat komitmen yang sama dengan komitmen tahun yang lalu, tapi bukan karena terlalu banyak target yang harus dicapai, hingga kita kehabisan tenaga untuk mencapainya, namun karena kita pandai untuk memulai tapi tidak pandai dalam menyelesaikannya.
coba kita lihat, berapa banyak dari kita yang bertekad untuk mulai membaca Alkitab dari kejadian sampai Wahyu selama satu tahun, dan akhirnya berhenti di akhir Kitab Kejadian, atau malah melompat langsung ke Wahyu? Berapa banyak kita berjanji pada diri kita sendiri untuk memasuki semester baru dengan semangat belajar yang baru nyatanya malah memiliki semangat belajar yang ngak jauh beda bahkan lebih buruk? Berapa banyak dari kita yang berjanji untuk lebih memperhatikan orangg tua, sahabat hingga kekasih, tapi malah semakin tidak punya waktu untuk mereka. Pun punya waktu, malah digunakan untuk bertengkar.
Kita dapat melontarkan berbagai macam alasan dari yang rasional hingga irrasional. Tapi sebenarnya alasan kita hanya kita lontarkan untuk menutupi kemalasan kita. Kita memang manusia yang pandai untuk mencapai sesuatu, tapi tidak cakap mempertahankannya. Kenapa itu kerap kali terjadi dalam hidup kita? Tentunya bukan tanpa alasan, bukan? Mari kita periksa diri:
1. Apa yang biasanya membuat kita merancangkan sebuah komitmen, cita2, atau harapan? Kebanyakan manusia, mulai merancangkan sebuah komitmen ketika berada dalam situasi dan kondisi tertentu. Misalnya: ketika teman buat komitmen, ketika habis pulang Re-treat, habis ibadah KKR akhir tahun yang ada altar callnya, abis baca buku Mario Teguh...dll. Kesimpulan pertama, kita ini manusia baru mau maju kalo ada yang dorongan positif yang menggugah, menyentuh, intinya banyak manusia tidak punya INISIATIF mengubah diri menjadi lebih baik, bila tidak ada keadaan yang merangsang, berpihak dan mendukungnya untuk menjadi lebih baik.
Mari kita lihat apa yang dilakukan Paulus:
- Ay 10. Merupakan kehendak, cita-cita dan komitmen Paulus. Coba perhatikan adakah kondisi dan situasi positif yang mendorong atau merangsang Paulus untuk membuat sebuah komitmen? Bisa dikatakan malah nyaris tidak ada. Yang tadinya berada di pihaknya sekarang menjadi sekutunya. Yang tadinya membelanya sekarang malah mau menghabisinya, dan dapat dikatakan semua orang meninggalkan Paulus karena komitmen yang dibuatnya itu. Tapi adakah Paulus mundur? TIDAK!! Dia sendirian, tidak ada yang mendukung dan membantunya untuk mewujudkan komitmennya tersebut (selain jemaat yang dilayaninya). Tapi ia tidak menyerah, Paulus tetap menjalankan dan mewujudkan komitmen yang ia yakini sebagai yang baik baginya dan benar di hadapan Allah. KINI, bagaimana dengan kita? Bila kita jadi Paulus, akankah kita melakukan hal yang sama seperti Paulus? Atau kita memilih jalan yang aman, yaitu memilih menjadi sama dengan rekan kita, sahabat kita, mereka yang berpengaruh dalam hidup kita, atau berani menyatakan komitmen kita yang benar bagi dan di hadapan Allah dan berbalik menjadi ‘lawan’ sahabat, rekan bahkan orang yang berpengaruh dalam hidup kita?
2. Kehidupan manusia di masa kini memang dipengaruni oleh masa lalu dan kehidupan di masa depan dipengaruhi oleh pilihan-pilihan yang kita ambil pada masa kini. Anda sepakat dengan pernyataan ini? Saya sepakat! Masa lalu saya yang saya nilai tidak bersahabat dengan saya telah membentuk pribadi saya yang keras kepala, tapi ketika saya telah mengetahui kebenaran bahwa Kasih adalah kelemah lembutan dan bukan keras kepala (tentunya dengan menyadari bahwa keras kepala sama sekali berbeda dengan berprinsip), tentunya seharusnya saya berkomitmen untuk menjadi lemah lembut di masa mendatang, bukan? Tapi saya tidak akan dapat menjadi orang yang lemah lebut di kemudian hari bila saya tidak memulainya dari sekarang. Nah, bagaimana kalau saya memutuskan untuk tidak berubah dan terus mengingat masa lalu saya yang buruk yang menjadikan saya keras kepala bahkan menjadi pemurung? Saya tidak akan pernah menajdi manusia yang lembut hingga kapanpun. Tahukah kita mengapa banyak dari kita tidak berhasil menjalankan komitmen yang telah kita buat? Karena kita biarkan diri kita terikat pada masa lalu yang mengingatkan kita pada hal hal-negatif seperti kegagalan, sakit hati, kepahitan, kesedihan, ataupun yang ‘positif’ kenyamanan, kenikmatan, kebahagiaan, kemakmuran dan banyak hal lain... Maukah anda menjadi manusia yang lebih baik kalau mau bersikaplah seperti Paulus bersikap:
- Ay.13b. menjadi cara Paulus untuk dapat mewujudkan komitmennya. Ia meninggalkan apa yang dibelakang dan mengarahkan diri kepada apa yang ada dihadapannya. Ia tidak mengingat betapa bahagianya ia ketika menjadi seorang Yahudi yang menghabisi orang Kristen dimanapun. Ia tidak mengingat betapa ia dibenci oleh orang Kristen dimanapun karena sikapnya yang membenci mereka. Tapi ia mengarahkan hidupnya pada panggilan Tuhan, yaitu menjadi pelayan Tuhan yang setia. Dan ia membuktikannya dengan kehidupan dan pelayanannya sepanjang sisa hidupnya.
3. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, adalah pribahasa yang selalu dikatakan oleh ibu saya ketika saya mulai malas belajar. Masakan kita mau senangnya saja dan tidak mau merasakan susahnya hidup. Kita ingin kaya tapi tak mau bekerja. Kita ingin pandai tapi ngak mau belajar. Kita ingin naik kelas dengan nilai baik tapi masuk sekolah saja malas. Intinya untuk meraih harapan baru, dan sungguh-sungguh mewujudkannya harus pakai usaha. Kita ingin jadi orang sabar, tapi kita tidak pernah menghadapi sesuatu, kondisi atau situasi yang buat kita ngak sabar, gimana caranya kita bisa belajar sabar? Harapan, cita-cita dan komitmen adalah sesuatu yang harus kita capai bukan kita tunggu hingga ia menghampiri kita. Jangan lihat kesulitannya, sengsaranya, susahnya, lihat tujuannya, lihat Goalnya!! Kita menjadi pribadi yang makin baik, makin dikasihi Tuhan, makin jadi berkat...dengan begitu kita akan mendapat semangat dorongan untuk menajdi tekun, seperti kata Paulus pada jemaat di Roma:
- “karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan” pernyataan ini memang agak bertentangan dengan pernyataan Phk bahwa hidup adalah kesia-siaan. Tapi mengapa itu bertentangan? Karena Paulus memandang hidup, kesulitan, tantangan dari kacamata Allah dan bukan kacamata manusia. Hidup memang kesia-siaan, ya! Bila tanpa Allah di dalamnya!
Paulus dapat berkomitmen, meninggalkan masa lalu dan menatap ke depan dengan penuh harapan bukan karena ia memang orang yang hebat, kuat dan mampu. Tapi karena Ia sadar bahwa Ia punya Allah yang menjadikan hidupnya tidak sia-sia
Fil 3: 13b, Roma 5:3-5
2011 telah tiba, apa yang menjadi harapan anda di tahun yang baru ini? Biasanya, kebanyakan dari kita akan membuat komitmen, rencana2 dan cita-cita baru yang belum sempat dicapai pada tahun sebelumnya. Banyak dari kita yang membuat komitmen yang sama dengan komitmen tahun yang lalu, tapi bukan karena terlalu banyak target yang harus dicapai, hingga kita kehabisan tenaga untuk mencapainya, namun karena kita pandai untuk memulai tapi tidak pandai dalam menyelesaikannya.
coba kita lihat, berapa banyak dari kita yang bertekad untuk mulai membaca Alkitab dari kejadian sampai Wahyu selama satu tahun, dan akhirnya berhenti di akhir Kitab Kejadian, atau malah melompat langsung ke Wahyu? Berapa banyak kita berjanji pada diri kita sendiri untuk memasuki semester baru dengan semangat belajar yang baru nyatanya malah memiliki semangat belajar yang ngak jauh beda bahkan lebih buruk? Berapa banyak dari kita yang berjanji untuk lebih memperhatikan orangg tua, sahabat hingga kekasih, tapi malah semakin tidak punya waktu untuk mereka. Pun punya waktu, malah digunakan untuk bertengkar.
Kita dapat melontarkan berbagai macam alasan dari yang rasional hingga irrasional. Tapi sebenarnya alasan kita hanya kita lontarkan untuk menutupi kemalasan kita. Kita memang manusia yang pandai untuk mencapai sesuatu, tapi tidak cakap mempertahankannya. Kenapa itu kerap kali terjadi dalam hidup kita? Tentunya bukan tanpa alasan, bukan? Mari kita periksa diri:
1. Apa yang biasanya membuat kita merancangkan sebuah komitmen, cita2, atau harapan? Kebanyakan manusia, mulai merancangkan sebuah komitmen ketika berada dalam situasi dan kondisi tertentu. Misalnya: ketika teman buat komitmen, ketika habis pulang Re-treat, habis ibadah KKR akhir tahun yang ada altar callnya, abis baca buku Mario Teguh...dll. Kesimpulan pertama, kita ini manusia baru mau maju kalo ada yang dorongan positif yang menggugah, menyentuh, intinya banyak manusia tidak punya INISIATIF mengubah diri menjadi lebih baik, bila tidak ada keadaan yang merangsang, berpihak dan mendukungnya untuk menjadi lebih baik.
Mari kita lihat apa yang dilakukan Paulus:
- Ay 10. Merupakan kehendak, cita-cita dan komitmen Paulus. Coba perhatikan adakah kondisi dan situasi positif yang mendorong atau merangsang Paulus untuk membuat sebuah komitmen? Bisa dikatakan malah nyaris tidak ada. Yang tadinya berada di pihaknya sekarang menjadi sekutunya. Yang tadinya membelanya sekarang malah mau menghabisinya, dan dapat dikatakan semua orang meninggalkan Paulus karena komitmen yang dibuatnya itu. Tapi adakah Paulus mundur? TIDAK!! Dia sendirian, tidak ada yang mendukung dan membantunya untuk mewujudkan komitmennya tersebut (selain jemaat yang dilayaninya). Tapi ia tidak menyerah, Paulus tetap menjalankan dan mewujudkan komitmen yang ia yakini sebagai yang baik baginya dan benar di hadapan Allah. KINI, bagaimana dengan kita? Bila kita jadi Paulus, akankah kita melakukan hal yang sama seperti Paulus? Atau kita memilih jalan yang aman, yaitu memilih menjadi sama dengan rekan kita, sahabat kita, mereka yang berpengaruh dalam hidup kita, atau berani menyatakan komitmen kita yang benar bagi dan di hadapan Allah dan berbalik menjadi ‘lawan’ sahabat, rekan bahkan orang yang berpengaruh dalam hidup kita?
2. Kehidupan manusia di masa kini memang dipengaruni oleh masa lalu dan kehidupan di masa depan dipengaruhi oleh pilihan-pilihan yang kita ambil pada masa kini. Anda sepakat dengan pernyataan ini? Saya sepakat! Masa lalu saya yang saya nilai tidak bersahabat dengan saya telah membentuk pribadi saya yang keras kepala, tapi ketika saya telah mengetahui kebenaran bahwa Kasih adalah kelemah lembutan dan bukan keras kepala (tentunya dengan menyadari bahwa keras kepala sama sekali berbeda dengan berprinsip), tentunya seharusnya saya berkomitmen untuk menjadi lemah lembut di masa mendatang, bukan? Tapi saya tidak akan dapat menjadi orang yang lemah lebut di kemudian hari bila saya tidak memulainya dari sekarang. Nah, bagaimana kalau saya memutuskan untuk tidak berubah dan terus mengingat masa lalu saya yang buruk yang menjadikan saya keras kepala bahkan menjadi pemurung? Saya tidak akan pernah menajdi manusia yang lembut hingga kapanpun. Tahukah kita mengapa banyak dari kita tidak berhasil menjalankan komitmen yang telah kita buat? Karena kita biarkan diri kita terikat pada masa lalu yang mengingatkan kita pada hal hal-negatif seperti kegagalan, sakit hati, kepahitan, kesedihan, ataupun yang ‘positif’ kenyamanan, kenikmatan, kebahagiaan, kemakmuran dan banyak hal lain... Maukah anda menjadi manusia yang lebih baik kalau mau bersikaplah seperti Paulus bersikap:
- Ay.13b. menjadi cara Paulus untuk dapat mewujudkan komitmennya. Ia meninggalkan apa yang dibelakang dan mengarahkan diri kepada apa yang ada dihadapannya. Ia tidak mengingat betapa bahagianya ia ketika menjadi seorang Yahudi yang menghabisi orang Kristen dimanapun. Ia tidak mengingat betapa ia dibenci oleh orang Kristen dimanapun karena sikapnya yang membenci mereka. Tapi ia mengarahkan hidupnya pada panggilan Tuhan, yaitu menjadi pelayan Tuhan yang setia. Dan ia membuktikannya dengan kehidupan dan pelayanannya sepanjang sisa hidupnya.
3. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, adalah pribahasa yang selalu dikatakan oleh ibu saya ketika saya mulai malas belajar. Masakan kita mau senangnya saja dan tidak mau merasakan susahnya hidup. Kita ingin kaya tapi tak mau bekerja. Kita ingin pandai tapi ngak mau belajar. Kita ingin naik kelas dengan nilai baik tapi masuk sekolah saja malas. Intinya untuk meraih harapan baru, dan sungguh-sungguh mewujudkannya harus pakai usaha. Kita ingin jadi orang sabar, tapi kita tidak pernah menghadapi sesuatu, kondisi atau situasi yang buat kita ngak sabar, gimana caranya kita bisa belajar sabar? Harapan, cita-cita dan komitmen adalah sesuatu yang harus kita capai bukan kita tunggu hingga ia menghampiri kita. Jangan lihat kesulitannya, sengsaranya, susahnya, lihat tujuannya, lihat Goalnya!! Kita menjadi pribadi yang makin baik, makin dikasihi Tuhan, makin jadi berkat...dengan begitu kita akan mendapat semangat dorongan untuk menajdi tekun, seperti kata Paulus pada jemaat di Roma:
- “karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan” pernyataan ini memang agak bertentangan dengan pernyataan Phk bahwa hidup adalah kesia-siaan. Tapi mengapa itu bertentangan? Karena Paulus memandang hidup, kesulitan, tantangan dari kacamata Allah dan bukan kacamata manusia. Hidup memang kesia-siaan, ya! Bila tanpa Allah di dalamnya!
Paulus dapat berkomitmen, meninggalkan masa lalu dan menatap ke depan dengan penuh harapan bukan karena ia memang orang yang hebat, kuat dan mampu. Tapi karena Ia sadar bahwa Ia punya Allah yang menjadikan hidupnya tidak sia-sia
Label:
Hidup,
Pelayanan,
Pengharapan
Bertahan di Tengah Dunia Yang Membenci Kebenaran
Bertahan di Tengah Dunia Yang Membenci Kebenaran
Matius 5: 10-12
10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.
Apa pendapat Saudara tentang ucapan bahagia menurut Yesus ini? Adakah dari kita yang mengatakan bahwa kotbah Yesus adalah kotbah yang tidak masuk akal, tidak humanis, dan tidak normal bagi manusia. Ya! Termasuk saya pernah mengatakan yang demikian. Siapa yang mau dianiaya. Mendengar seorang pendeta dianiaya karena berkotbah di gereja yang sedang disengketakan saja sudah bikin merinding apalagi menyerahkan diri secara sukarela untuk dianiaya. Anda dan saya mungkin akan lebih memilih mencari cara untuk tidak mengungkapkan kebenaran bila dengan mengungkapkannya hidup kita bahkan orang-orang yang kita kasihi terancam.
Tapi...ternyata sesuatu yang pernah saya anggap tidak masuk akal ini, menginspirasi banyak orang Kristen, termasuk para rasul dan bapa-bapa gereja hingga jemaat2 Tuhan di berbagai tempat dan benua di seluruh penjuru dunia ini. Begitu menginspirasinya hingga mereka begitu rela dan sukacita melakukannya. Meskipun mereka harus menderita, dikejar, dimasukkan ke dalam penjara, diancam untuk dibunuh hingga benar-benar dibunuh, mereka menjalaninya dengan penuh harapan. Bagi kita yang tinggal di jaman modern sekarang ini mungkin akan menyebut mereka sebagai orang –orang sakaw, atau orang orang yang putus asa. Lebih baik mati!
Pertanyaannya adalah mengapa? Mengapa mereka mau? Apakah yang mereka berikan sepadan dengan yang akan mereka terima? Memangnya apa yang akan mereka terima? Apakah yang akan mereka terima adalah sesuatu yang benar-benar nyata? Atau hanya ilusi bahkan mimpi? Menerima uang atau rumah, atau harta benda lainnya akan menjadikannya hal yang sepedan bagi banyak orang, tapi Kerajaan Allah? Apa yang membuatnya menjadi sepadan?
Tentunya kerajaan Allah disini bukanlah kerajaan Allah yang anda bayangkan layaknya sebuah kastil yang dikelilingi oleh taman yang berbunga beserta aliran air jernih dengan bebatuan mulia yang membuatnya nampak sangat mewah dan berkilau. Kerajaan Allah juga bukan soal tempat yang aman, yang membuat kita merasa hommie karena dijaga oleh pasukan malaikat Allah, yang akan menjamin kehidupan yang bebas dari kejahatan, kriminalitas, perampokan, dan semua yang membuat hidup menjadi penuh dengan ketakutan, alias nyaman selama-lamanya. Bukan juga karena yang namanya kerajaan Allah yang pasti berkelimpahan, maka hidup kita juga akan berkelimpahan, kaya, makmur, hingga turunan keberapapun...
Lalu seperti apa kerajaan Allah yang diidamkan para rasul, Bapa Gereja dan sedikit pengikut Kristus ini? Hal pertama yang harus kita sadari adalah kerajaan Allah bukanlah tempat. Bukan juga lokasi dan bangunan yang mewah dan megah. Kerajaan Allah adalah soal eksistensi Allah yang membentuk sikap hati yang benar, yang kuat, yang positif, yang membawa kedamaian dan sukacita. Dan hal tersebut tidak akan pernah terwujud tanpa menjadikan Allah sendiri sebagai pemerintah di dalamnya, karena kerajaan Allah juga adalah keadaan dimana Allah berperan sebagai pemimpin, raja, Tuhan dan penguasa baik pikiran hati dan tubuh.
Nah, bila hal itu memang terjadi, bila Allah sungguh memerintah hati dan pikiran manusia, apa yang paling mungkin terjadi? Damai, sukacita, ketenangan yang sejati. Bukan yang ditawarkan dunia, putaw, estacy, alkohol, seks, bahkan kekayaan bukan? Dan mungkin yang bagi dunia hanya sebuah impian bahkan khayalan. Tapi nyatanya tidak bagi mereka yang mengalaminya. Damai, sukacita, ketenangan dan keselamatan sejati, yang tidak terbatas oleh situasi dan kondisi itulah yang menyebabkan mereka mau mengalami penganiayaan.
Apakah semua ini sungguh nyata bagi mereka yang mengalaminya? Bukan sekedar euforia belaka, atau khayalan karena banyaknya tekanan dan penderitaan yang harus dihadapi? Ternyata bukan. Mengapa?Karena Yesus bukan khayalan. Ia ada dalam sejarah manusia dan bahkan mengubah sejarah manusia. Masalahnya kini adalah bagaimana caranya kita bisa menikmati dan mengalami kerajaan Allah itu. Kerajaan Allah yang tidak ada tandingannya di dunia ini?
Yesus mengatakan: Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran. Berarti yang membawa manusia pada pengalaman Kerajaan Allah (pengalaman kebahagiaan yang sejati ) sesungguhnya bukan aniayanya, melainkan...kebenarannya, righteousness. Apakah kebenaran itu? Apakah lawannya kebohongan? Apakah lawannya penipuan? Atau apa saja yang dianggap benar oleh dunia? Tidak! Lalu apakah kebenaran itu? Allah sendiri, Yesus sendiri, Kristus sendiri!! Jadi ayatnya sesungguhnya dapat berubah menjadi “berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab Kristus” mengapa?
Karena orang yang memilih Kristus adalah orang yang memilih hidup dan bukan kematian. Orang yang memilih Kristus adalah orang yang menang dan bukan yang kalah, orang yang memilih Kristus adalah orang yang menjadi berkat dan bukan kutuk, orang yang memilih Kristus adalah orang yang memilih menjadi benar lebih dari sekedar menjadi baik. Orang yang memilih Kristus adalah orang yang hidupnya berarti, artinya tidak sia-sia. Ia akan selalu menjadi inspirasi, apa yang dilakukannya akan menjadi sumber kekuatan bagi orang lain yang melimpahkan berkat.
Berarti orang yang akan memiliki kerajaan Allah adalah orang orang yang memilih untuk hidup seperti, bagi dan oleh Kristus. Mereka yang melakukan Kebenaran yang seturut dengan kebenaran Kristus, bukan apa yang dianggap benar oleh dunia. 2 Kor 6: 9-10 Tapi bagaimana kita dapat bertahan di dalam dunia yang tidak mengenal kebenaran ini?
1. Fokus pada tujuan. Proses seberat apapun bila kita tahu tujuannya yang luar biasa (BAHAGIA). Maka kita akan mendorong diri kita untuk sampai pada tujuan akhir, hidup yang berkemenangan bersama Tuhan. Ingat, hidup berkemenangan bukan soal keselamatan di akherat saja, namun keselamatan di dunia, sukacita, damai, tentram yang hadir setiap hari, waktu dalam hidup anda. Bukan juga berarti tidak ada yang akan membuat kita sedih, tertekan, marah, tapi bagaimana dari semuanya itu kita menjadi pribadi yang lebih baik.
2. Karena kita manusia tidak akan pernah mampu melakukan apa yang benar menurut Tuhan tanpa Tuhan sendiri menolong kita, maka jadikan Ia pusat dalam hidup kita. Kita tidak akan pernah bisa hidup benar tanpa sumber yang benar. Karena sama seperti bagaimana kita akan mengeluarkan seekor gajah dari dalam kamar kita tanpa memasukkannya terlebih dahulu? Bagaiamana sebuah talang air akan dapat mengalirkan air tanpa ada air yang mengalirinya? Hidup kita tidak akan pernah jadi benar tanpa Tuhan. Kita akan senantiasa memilih apa yang tidak benar, tanpa Tuhan mengaliri kita dengan kebenaran sejati.
Matius 5: 10-12
10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.
Apa pendapat Saudara tentang ucapan bahagia menurut Yesus ini? Adakah dari kita yang mengatakan bahwa kotbah Yesus adalah kotbah yang tidak masuk akal, tidak humanis, dan tidak normal bagi manusia. Ya! Termasuk saya pernah mengatakan yang demikian. Siapa yang mau dianiaya. Mendengar seorang pendeta dianiaya karena berkotbah di gereja yang sedang disengketakan saja sudah bikin merinding apalagi menyerahkan diri secara sukarela untuk dianiaya. Anda dan saya mungkin akan lebih memilih mencari cara untuk tidak mengungkapkan kebenaran bila dengan mengungkapkannya hidup kita bahkan orang-orang yang kita kasihi terancam.
Tapi...ternyata sesuatu yang pernah saya anggap tidak masuk akal ini, menginspirasi banyak orang Kristen, termasuk para rasul dan bapa-bapa gereja hingga jemaat2 Tuhan di berbagai tempat dan benua di seluruh penjuru dunia ini. Begitu menginspirasinya hingga mereka begitu rela dan sukacita melakukannya. Meskipun mereka harus menderita, dikejar, dimasukkan ke dalam penjara, diancam untuk dibunuh hingga benar-benar dibunuh, mereka menjalaninya dengan penuh harapan. Bagi kita yang tinggal di jaman modern sekarang ini mungkin akan menyebut mereka sebagai orang –orang sakaw, atau orang orang yang putus asa. Lebih baik mati!
Pertanyaannya adalah mengapa? Mengapa mereka mau? Apakah yang mereka berikan sepadan dengan yang akan mereka terima? Memangnya apa yang akan mereka terima? Apakah yang akan mereka terima adalah sesuatu yang benar-benar nyata? Atau hanya ilusi bahkan mimpi? Menerima uang atau rumah, atau harta benda lainnya akan menjadikannya hal yang sepedan bagi banyak orang, tapi Kerajaan Allah? Apa yang membuatnya menjadi sepadan?
Tentunya kerajaan Allah disini bukanlah kerajaan Allah yang anda bayangkan layaknya sebuah kastil yang dikelilingi oleh taman yang berbunga beserta aliran air jernih dengan bebatuan mulia yang membuatnya nampak sangat mewah dan berkilau. Kerajaan Allah juga bukan soal tempat yang aman, yang membuat kita merasa hommie karena dijaga oleh pasukan malaikat Allah, yang akan menjamin kehidupan yang bebas dari kejahatan, kriminalitas, perampokan, dan semua yang membuat hidup menjadi penuh dengan ketakutan, alias nyaman selama-lamanya. Bukan juga karena yang namanya kerajaan Allah yang pasti berkelimpahan, maka hidup kita juga akan berkelimpahan, kaya, makmur, hingga turunan keberapapun...
Lalu seperti apa kerajaan Allah yang diidamkan para rasul, Bapa Gereja dan sedikit pengikut Kristus ini? Hal pertama yang harus kita sadari adalah kerajaan Allah bukanlah tempat. Bukan juga lokasi dan bangunan yang mewah dan megah. Kerajaan Allah adalah soal eksistensi Allah yang membentuk sikap hati yang benar, yang kuat, yang positif, yang membawa kedamaian dan sukacita. Dan hal tersebut tidak akan pernah terwujud tanpa menjadikan Allah sendiri sebagai pemerintah di dalamnya, karena kerajaan Allah juga adalah keadaan dimana Allah berperan sebagai pemimpin, raja, Tuhan dan penguasa baik pikiran hati dan tubuh.
Nah, bila hal itu memang terjadi, bila Allah sungguh memerintah hati dan pikiran manusia, apa yang paling mungkin terjadi? Damai, sukacita, ketenangan yang sejati. Bukan yang ditawarkan dunia, putaw, estacy, alkohol, seks, bahkan kekayaan bukan? Dan mungkin yang bagi dunia hanya sebuah impian bahkan khayalan. Tapi nyatanya tidak bagi mereka yang mengalaminya. Damai, sukacita, ketenangan dan keselamatan sejati, yang tidak terbatas oleh situasi dan kondisi itulah yang menyebabkan mereka mau mengalami penganiayaan.
Apakah semua ini sungguh nyata bagi mereka yang mengalaminya? Bukan sekedar euforia belaka, atau khayalan karena banyaknya tekanan dan penderitaan yang harus dihadapi? Ternyata bukan. Mengapa?Karena Yesus bukan khayalan. Ia ada dalam sejarah manusia dan bahkan mengubah sejarah manusia. Masalahnya kini adalah bagaimana caranya kita bisa menikmati dan mengalami kerajaan Allah itu. Kerajaan Allah yang tidak ada tandingannya di dunia ini?
Yesus mengatakan: Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran. Berarti yang membawa manusia pada pengalaman Kerajaan Allah (pengalaman kebahagiaan yang sejati ) sesungguhnya bukan aniayanya, melainkan...kebenarannya, righteousness. Apakah kebenaran itu? Apakah lawannya kebohongan? Apakah lawannya penipuan? Atau apa saja yang dianggap benar oleh dunia? Tidak! Lalu apakah kebenaran itu? Allah sendiri, Yesus sendiri, Kristus sendiri!! Jadi ayatnya sesungguhnya dapat berubah menjadi “berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab Kristus” mengapa?
Karena orang yang memilih Kristus adalah orang yang memilih hidup dan bukan kematian. Orang yang memilih Kristus adalah orang yang menang dan bukan yang kalah, orang yang memilih Kristus adalah orang yang menjadi berkat dan bukan kutuk, orang yang memilih Kristus adalah orang yang memilih menjadi benar lebih dari sekedar menjadi baik. Orang yang memilih Kristus adalah orang yang hidupnya berarti, artinya tidak sia-sia. Ia akan selalu menjadi inspirasi, apa yang dilakukannya akan menjadi sumber kekuatan bagi orang lain yang melimpahkan berkat.
Berarti orang yang akan memiliki kerajaan Allah adalah orang orang yang memilih untuk hidup seperti, bagi dan oleh Kristus. Mereka yang melakukan Kebenaran yang seturut dengan kebenaran Kristus, bukan apa yang dianggap benar oleh dunia. 2 Kor 6: 9-10 Tapi bagaimana kita dapat bertahan di dalam dunia yang tidak mengenal kebenaran ini?
1. Fokus pada tujuan. Proses seberat apapun bila kita tahu tujuannya yang luar biasa (BAHAGIA). Maka kita akan mendorong diri kita untuk sampai pada tujuan akhir, hidup yang berkemenangan bersama Tuhan. Ingat, hidup berkemenangan bukan soal keselamatan di akherat saja, namun keselamatan di dunia, sukacita, damai, tentram yang hadir setiap hari, waktu dalam hidup anda. Bukan juga berarti tidak ada yang akan membuat kita sedih, tertekan, marah, tapi bagaimana dari semuanya itu kita menjadi pribadi yang lebih baik.
2. Karena kita manusia tidak akan pernah mampu melakukan apa yang benar menurut Tuhan tanpa Tuhan sendiri menolong kita, maka jadikan Ia pusat dalam hidup kita. Kita tidak akan pernah bisa hidup benar tanpa sumber yang benar. Karena sama seperti bagaimana kita akan mengeluarkan seekor gajah dari dalam kamar kita tanpa memasukkannya terlebih dahulu? Bagaiamana sebuah talang air akan dapat mengalirkan air tanpa ada air yang mengalirinya? Hidup kita tidak akan pernah jadi benar tanpa Tuhan. Kita akan senantiasa memilih apa yang tidak benar, tanpa Tuhan mengaliri kita dengan kebenaran sejati.
Selasa, 04 Januari 2011
Sang Damai Telah Datang!
Sang Damai Telah Datang!
1 Yohanes 2: 1-17
Sudah berapa lama Saudara merayakan natal ? 10, 20, 60, 85 tahun? Bahkan sepanjang kehidupan kita, kita telah merayakan natal. Begitu juga dunia. Dunia telah merayakan natal lebih dari 2000 tahun bukan? Tepatnya sejak abad ke 4. Namun, apa yang dihasilkan dari natal? Apakah Natal membuat dunia menjadi lebih baik? Bukankah yang miskin bertambah banyak? Jumlah mereka yang susah dan lelah semakin meningkat? Kejahatan semakin merajalela?perang dimana2...bahkan di rumah perang antar anggota keluarga, di kantor dengan sesama rekan kerja, di sekolah bersama sahabat, di masyarakat sama....semua yang buruk bertambah..Lalu apa makna natal bagi kita dan dunia, bila itu sama sekali tidak mengubah kehidupan menjadi lebih baik.
Mengapa natal dirayakan tanpa mengubah segala sesuatupun menjadi lebih baik? Jangan-jangan natal juga tidak mengubah kita. Belasan hingga puluhan tahun merayakan natal sama sekali tidak mengubah kita menajdi pribadi yang lebih baik, alih alih natal ters menerus menjadi perayaan tahunan yang melelahkan, lelah jadi panitia, lelah jadi sie perlengkapan, lelah kerja sendiri, lelah karena tak bisa berlibur, bahkan tahun ini ada re-treat jemaat yang membuat tubuh, pikiran jadi ambruk..bruk...brukkk.
MENGAPA ITU DAPAT TERJADI DALAM KEHIDUPAN KITA YANG MENYATAKAN ORANG KRISTEN?
1. Karena natal menjadi perayaan ulang tahun dan bukan perayaan kesetiaan dan kehadiran Tuhan di tengah-tengah kehidupan manusia. Tuhan Yesus kembali menjadi bayi setiap tahunnya dan kita memperlakukannya layaknya bayi kecil yang lucu, imut, yang tak berdaya, yang hanya mempu menangis ketika lapar, haus atau ingin buang air. Bukan Raja dan Tuan yang memerintah hati dan pikiran kita...Tak mengherankan bukan bila kita kehilangan keajaiban natal. Karena tanpa kita sadari kita menghilangkan Dia sang keajaiban itu sendiri. Kristus! Natal tanpa Kristus sendiri di dalamnya, bukanlah natal, tapi sebuah perayaan tanpa makna.
Kini pertanyaan bagi kita untuk apa Dia datang? Tentunya bukan hanya untuk memberikan keselamatan. Saya selalu yakin kedatanganNya bukan soal dogma yang menyatakan bahwa : bila Kristus Tuhan tidak menajdi manusia maka penebusan manusia atas dosa tidak akan berarti, karena tidak sepadan. Tapi karena Allah punya misi yang lebih dari sekedar penebusan, lebih dari sekedar keselamatan. (walau mungkin kita akan berkata bahwa keselamatan bukan sekedar tapi segala-galanya)
Lalu untuk apa dia hadir di tengah kerusuhan dan keegoisan manusia?
1. 1 John 2:1 ...kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa... pengantara untuk apa? Untuk mengenal siapa Bapa. Siapa dari kita yang tahu dengan pasti Tuhan itu seperti apa, wajahnya? kehendakNya? Rencana dan rancanganNya? Tidak ada yang tahu!! Hanya melalui Yesus kita menjadi tahu. Tentunya jangan harap kita bisa tahu 100 % tidak ada manusia yang dapat mengenal Allah 100% , tapi bukan karena Yesus bukan perantara, penghantar yang baik tapi karena:
- kita membuat diri kita yang terbatas ini semakin terbatas. Seseorang yang mengatakan ingin merasakan seperti apa rasanya tersengat listrik tapi ia menggunakan sarung tangan tebal, bagaimana ia dapat merasakan yang namanya tersengat listrik? Berapa banyak dari kita mengulang kesalahan yang sama dengan nenek moyang kita, Adam dan Hawa. Apa yang mereka lakukan? Mereka yang telah jatuh ke dalam dosa bukan mencari Allah dan bertobat, malah menjauh lari dari Allah, lebih dari itu mereka saling menyalahkan satu dengan yang lain, mencoba untuk berkelit, ingin menang sendiri!! Kita ingin mengenal Allah, kita ingin disentuh Allah, kita ingin dikasihi Allah tapi kita menjauh dariNya, kita menciptakan dan membangun banyak sekali tembok-tembok di sekitar kita untuk menjauhkan diri dari Allah. Tembok egois, tembok ingin menang sendiri, tembok tidak mau disalahkan dan dikritik, tembok harga diri, tembok menyalahkan orang lain....dan masih banyak lagi tembok yang kita buat. Yesus datang untuk meruntuhkan tembok-tembok itu, agar manusia sadar seberapa jauh sesungguhnya mereka dari Allah dan betapa mereka tidak mengenal Allah. Namun tidak seperti peruntuh tembok yang biasa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yang sering kali menggunakan kekerasan, Yesus menggunakan cara yang paling lembut, yaitu pengosongan dan penyerahan diri secara total bagi manusia.
- Allah ingin kita terlibat dalam pengenalan diriNya. Allah ingin manusia lebih mengenal Allah, bukan sekedar tahu siapa dan apa. Ia ingin kita mengalami diriNya, karena sesungguhnya dari sanalah kita mendapatkan pengenalan secara pribadi. Ia ingin kita juga mencariNya dan bukan hanya menerima ajaran, teori tentang siapa Dia, semata-mata bukan karena Ia ingin kita susah, tapi Ia ingin kita bertumbuh dalam pengenalan yang benar secara ‘privat’ alias langsung dari sumbernya.Tapi bagaimana bisa? Dia ga keliatan! RancanganNya jelas jauh sekali dari rancangan kita!! OLEH KARENA ITU IA menyatakan diri kepada manusia sebagai manusia yang dapat dirangkul, disentuh, diteladani kehidupanNya.
2. ...Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.hidup tenang adalah impian semua orang... setuju? Namun apakah itu hanyalah impian yang tidak akan pernah dapat terwujud? Ya bagi manusia yang hidup tanpa Tuhan! Menjadi pendamai disini bukan semata-mata penebus, atau bahkan penghilang dosa. Dosa tidak akan pernah hilang selama kita masih ada di dunia, selama si jahat masih dengan bebas berkeliaran menguasai dunia. Lalu apa makna pendamai disini? Dengan kehadiranNya, kehidupanNya hingga kematianNya, Ia menjadikan hidup kita TIDAK dikejar pahala dan kewajiban menjalankan hukum taurat. Ia ingin kita memiliki hidup yang tenang damai dan sukacita, bukan penuh ketakutan, kekuatiran dan keraguan. Ia ingin kita menghidupi kebebasan yang bertanggung jawab bukan hidup dalam keterbatasan dan kungkungan hukum. Ia ingin kita dapat mengatakan: “aku mampu melakukan hukum karena aku mengasihi Tuhan yang memberiku kebebasan, pembaharuan dan kekuatan untuk melakukannya, ( ay 5) dan bukan aku terpaksa memenuhi hukum karena bila tidak aku akan terkena hukuman.(ay 4)” Mata ganti mata hanya akan membuat dunia mengalami kebutaan total. Apa artinya? Manusia dapat berelasi dengan Allah dengan sikap hati yang benar...bukan dilandasi oleh rasa takut tapi kagum dan syukur! Hasilnya: RELASI YANG BARU, RELASI YANG DIPERBAHARUI, DAN RELASI YANG MEMBAWA PEMBAHARUAN DALAM HIDUPNYA DAN HIDUP SESAMANYA.
PERTANYAANNYA ADALAH? Mengapa Allah memilih jalan yang sulit? Mengapa Allah memilih pembunuhan anakNya sendiri untuk membawa ketenangan bagi dunia? Mengapa Allah memakai kekerasan untuk memutus rantai kekerasan?
1. Bukan karena Ia ingin menyatakan kekuasaanNya terhadap anakNya
2. Bukan karena Ia tidak punya jalan keluar lain.
3. Bukan karena Ia tidak sayang pada anakNya.
Tapi karena Ia ingin menunjukkan:
1. Hasil dari pilihan manusia. Manusia diciptakan bukan untuk menjadi robot. Bukan untuk menjalankan program saja. Manusia diciptakan untuk bekerja dan mengusahakan diri menjadi lebih baik, karena Allah sendiri yang telah menyediakan segala sesuatunya dalam diri manusia. Allah ingin manusia belajar dari kegagalan, pilihan yang salah, dan berubah!
2. Bahwa manusia TIDAK lemah. Walau manusia masih dapat berbuat dosa tapi Ia ingin kita tahu bahwa kita dapat membuat diri kita tidak dikuasai dosa, tapi dikuasai Allah. Ingin kita tahu bahwa apa yang ditulis di dalam Alkitab bukanlah suatu kesia-siaan, bukan sekedar tips hidup tapi kesaksian hidup dari Allah sekaligus manusia yang hidup, yang mampu mengatasi keinginan untuk berdosa.
3. Bahwa damai adalah sesuatu yang bukan ilusi, tapi dapat menjadi realita BILA DIA DITEMPATKAN DI DALAM KITA
1 Yohanes 2: 1-17
Sudah berapa lama Saudara merayakan natal ? 10, 20, 60, 85 tahun? Bahkan sepanjang kehidupan kita, kita telah merayakan natal. Begitu juga dunia. Dunia telah merayakan natal lebih dari 2000 tahun bukan? Tepatnya sejak abad ke 4. Namun, apa yang dihasilkan dari natal? Apakah Natal membuat dunia menjadi lebih baik? Bukankah yang miskin bertambah banyak? Jumlah mereka yang susah dan lelah semakin meningkat? Kejahatan semakin merajalela?perang dimana2...bahkan di rumah perang antar anggota keluarga, di kantor dengan sesama rekan kerja, di sekolah bersama sahabat, di masyarakat sama....semua yang buruk bertambah..Lalu apa makna natal bagi kita dan dunia, bila itu sama sekali tidak mengubah kehidupan menjadi lebih baik.
Mengapa natal dirayakan tanpa mengubah segala sesuatupun menjadi lebih baik? Jangan-jangan natal juga tidak mengubah kita. Belasan hingga puluhan tahun merayakan natal sama sekali tidak mengubah kita menajdi pribadi yang lebih baik, alih alih natal ters menerus menjadi perayaan tahunan yang melelahkan, lelah jadi panitia, lelah jadi sie perlengkapan, lelah kerja sendiri, lelah karena tak bisa berlibur, bahkan tahun ini ada re-treat jemaat yang membuat tubuh, pikiran jadi ambruk..bruk...brukkk.
MENGAPA ITU DAPAT TERJADI DALAM KEHIDUPAN KITA YANG MENYATAKAN ORANG KRISTEN?
1. Karena natal menjadi perayaan ulang tahun dan bukan perayaan kesetiaan dan kehadiran Tuhan di tengah-tengah kehidupan manusia. Tuhan Yesus kembali menjadi bayi setiap tahunnya dan kita memperlakukannya layaknya bayi kecil yang lucu, imut, yang tak berdaya, yang hanya mempu menangis ketika lapar, haus atau ingin buang air. Bukan Raja dan Tuan yang memerintah hati dan pikiran kita...Tak mengherankan bukan bila kita kehilangan keajaiban natal. Karena tanpa kita sadari kita menghilangkan Dia sang keajaiban itu sendiri. Kristus! Natal tanpa Kristus sendiri di dalamnya, bukanlah natal, tapi sebuah perayaan tanpa makna.
Kini pertanyaan bagi kita untuk apa Dia datang? Tentunya bukan hanya untuk memberikan keselamatan. Saya selalu yakin kedatanganNya bukan soal dogma yang menyatakan bahwa : bila Kristus Tuhan tidak menajdi manusia maka penebusan manusia atas dosa tidak akan berarti, karena tidak sepadan. Tapi karena Allah punya misi yang lebih dari sekedar penebusan, lebih dari sekedar keselamatan. (walau mungkin kita akan berkata bahwa keselamatan bukan sekedar tapi segala-galanya)
Lalu untuk apa dia hadir di tengah kerusuhan dan keegoisan manusia?
1. 1 John 2:1 ...kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa... pengantara untuk apa? Untuk mengenal siapa Bapa. Siapa dari kita yang tahu dengan pasti Tuhan itu seperti apa, wajahnya? kehendakNya? Rencana dan rancanganNya? Tidak ada yang tahu!! Hanya melalui Yesus kita menjadi tahu. Tentunya jangan harap kita bisa tahu 100 % tidak ada manusia yang dapat mengenal Allah 100% , tapi bukan karena Yesus bukan perantara, penghantar yang baik tapi karena:
- kita membuat diri kita yang terbatas ini semakin terbatas. Seseorang yang mengatakan ingin merasakan seperti apa rasanya tersengat listrik tapi ia menggunakan sarung tangan tebal, bagaimana ia dapat merasakan yang namanya tersengat listrik? Berapa banyak dari kita mengulang kesalahan yang sama dengan nenek moyang kita, Adam dan Hawa. Apa yang mereka lakukan? Mereka yang telah jatuh ke dalam dosa bukan mencari Allah dan bertobat, malah menjauh lari dari Allah, lebih dari itu mereka saling menyalahkan satu dengan yang lain, mencoba untuk berkelit, ingin menang sendiri!! Kita ingin mengenal Allah, kita ingin disentuh Allah, kita ingin dikasihi Allah tapi kita menjauh dariNya, kita menciptakan dan membangun banyak sekali tembok-tembok di sekitar kita untuk menjauhkan diri dari Allah. Tembok egois, tembok ingin menang sendiri, tembok tidak mau disalahkan dan dikritik, tembok harga diri, tembok menyalahkan orang lain....dan masih banyak lagi tembok yang kita buat. Yesus datang untuk meruntuhkan tembok-tembok itu, agar manusia sadar seberapa jauh sesungguhnya mereka dari Allah dan betapa mereka tidak mengenal Allah. Namun tidak seperti peruntuh tembok yang biasa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yang sering kali menggunakan kekerasan, Yesus menggunakan cara yang paling lembut, yaitu pengosongan dan penyerahan diri secara total bagi manusia.
- Allah ingin kita terlibat dalam pengenalan diriNya. Allah ingin manusia lebih mengenal Allah, bukan sekedar tahu siapa dan apa. Ia ingin kita mengalami diriNya, karena sesungguhnya dari sanalah kita mendapatkan pengenalan secara pribadi. Ia ingin kita juga mencariNya dan bukan hanya menerima ajaran, teori tentang siapa Dia, semata-mata bukan karena Ia ingin kita susah, tapi Ia ingin kita bertumbuh dalam pengenalan yang benar secara ‘privat’ alias langsung dari sumbernya.Tapi bagaimana bisa? Dia ga keliatan! RancanganNya jelas jauh sekali dari rancangan kita!! OLEH KARENA ITU IA menyatakan diri kepada manusia sebagai manusia yang dapat dirangkul, disentuh, diteladani kehidupanNya.
2. ...Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.hidup tenang adalah impian semua orang... setuju? Namun apakah itu hanyalah impian yang tidak akan pernah dapat terwujud? Ya bagi manusia yang hidup tanpa Tuhan! Menjadi pendamai disini bukan semata-mata penebus, atau bahkan penghilang dosa. Dosa tidak akan pernah hilang selama kita masih ada di dunia, selama si jahat masih dengan bebas berkeliaran menguasai dunia. Lalu apa makna pendamai disini? Dengan kehadiranNya, kehidupanNya hingga kematianNya, Ia menjadikan hidup kita TIDAK dikejar pahala dan kewajiban menjalankan hukum taurat. Ia ingin kita memiliki hidup yang tenang damai dan sukacita, bukan penuh ketakutan, kekuatiran dan keraguan. Ia ingin kita menghidupi kebebasan yang bertanggung jawab bukan hidup dalam keterbatasan dan kungkungan hukum. Ia ingin kita dapat mengatakan: “aku mampu melakukan hukum karena aku mengasihi Tuhan yang memberiku kebebasan, pembaharuan dan kekuatan untuk melakukannya, ( ay 5) dan bukan aku terpaksa memenuhi hukum karena bila tidak aku akan terkena hukuman.(ay 4)” Mata ganti mata hanya akan membuat dunia mengalami kebutaan total. Apa artinya? Manusia dapat berelasi dengan Allah dengan sikap hati yang benar...bukan dilandasi oleh rasa takut tapi kagum dan syukur! Hasilnya: RELASI YANG BARU, RELASI YANG DIPERBAHARUI, DAN RELASI YANG MEMBAWA PEMBAHARUAN DALAM HIDUPNYA DAN HIDUP SESAMANYA.
PERTANYAANNYA ADALAH? Mengapa Allah memilih jalan yang sulit? Mengapa Allah memilih pembunuhan anakNya sendiri untuk membawa ketenangan bagi dunia? Mengapa Allah memakai kekerasan untuk memutus rantai kekerasan?
1. Bukan karena Ia ingin menyatakan kekuasaanNya terhadap anakNya
2. Bukan karena Ia tidak punya jalan keluar lain.
3. Bukan karena Ia tidak sayang pada anakNya.
Tapi karena Ia ingin menunjukkan:
1. Hasil dari pilihan manusia. Manusia diciptakan bukan untuk menjadi robot. Bukan untuk menjalankan program saja. Manusia diciptakan untuk bekerja dan mengusahakan diri menjadi lebih baik, karena Allah sendiri yang telah menyediakan segala sesuatunya dalam diri manusia. Allah ingin manusia belajar dari kegagalan, pilihan yang salah, dan berubah!
2. Bahwa manusia TIDAK lemah. Walau manusia masih dapat berbuat dosa tapi Ia ingin kita tahu bahwa kita dapat membuat diri kita tidak dikuasai dosa, tapi dikuasai Allah. Ingin kita tahu bahwa apa yang ditulis di dalam Alkitab bukanlah suatu kesia-siaan, bukan sekedar tips hidup tapi kesaksian hidup dari Allah sekaligus manusia yang hidup, yang mampu mengatasi keinginan untuk berdosa.
3. Bahwa damai adalah sesuatu yang bukan ilusi, tapi dapat menjadi realita BILA DIA DITEMPATKAN DI DALAM KITA
Immanuel: Memantapkan Kita Untuk Hidup dan Bersaksi
Immanuel: Memantapkan Kita Untuk Hidup dan Bersaksi
Yesaya 7: 10-16
Roma 1: 1-7
Matius 1: 18-25
Apa yang menjadi pertimbangan anda saat anda memilih nama untuk sang buah hati tercinta atau cucu terkasih? Ada orang yang menjadikan: kedengarannya tidak kampungan sebagai pertimbangan pertama. Lalu ke dua nama tersebut harus memiliki arti yang bagus, dan mengandung tumpukan harapan dari kedua orang tua, kakek, nenek, tante, om, yang sering kali (pada kahirnya) membuat si anak memiliki nama dua sampai empat orang.
Kita tidak akan memberi nama Yudas Iskariot bukan kepada anak kita atau nama Saul kepada cucu kita. Kita akan memilih nama-nama tokoh-tokoh besar yang terkenal dengan ketaatannya kepada Allah, atau pekerjaan pelayanan mereka yang luar biasa dan tentunya dengan harapan bahwa anak kita juga tumbuh dan berkepribadian seperti tokoh-tokoh tersebut. Petrus misalnya atau Daud, dan Daniel.
Salah satu nama yang seringkali dipilih oleh orang tua Kristen adalah Immanuel (bukan berarti kalau nama anaknya tidak ada sangkut pautnya dengan ayat Alkitab, orang tuanya bukan Kristen yaa...) Mengapa nama itu menjadi FAVORIT? Karena nama itu mengandung kesetiaan Allah. Ya! Betapa menyenangkannya hidup bila kita tahu bahwa Allah senantiasa menyertai kita. Kita berharap Allah senantiasa menjagai, melindungi, memberkati, memberikan yang terbaik kepada anak kita, dan akhirnyaaa..... anak kita menjadi anak yang mujur di setiap langkah hidupnya, prestasinya, kariernya, hingga rumah tangganya... Ya itulah harapan kita...dan tanpa kita sadar arti sesungguhnya dibalik nama itu.
Lalu apa sesungguhnya arti dari Immanuel. Tentunya sebelum kita tahu arti harafiahnya, kita harus tahu dulu mengapa Allah mengirimkan puteraNya ke dunia.
1. Yesaya 1: 4 “...dan katakanlah kepadanya: Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini...” Allah ingin agar umatNya: Teguh, tenang, tidak takut, dan kecut hati oleh karena musuh-musuhnya. Tentunya bukan hanya umatNya pada masa Yesaya, namun kita yang kini hidup oleh karena namaNya. Keteguhan, ketenangan, adalah hal yang tetap kita butuhkan sebagai umat Allah. Mengapa? Karena kita masih memiliki musuh-musuh besar dalam hidup. Memang bukan bangsa-bangsa asing, namun musuh yang bahkan lebih kuat. Apa dan siapa saja?...pasti dengan mudah anda dapat menjawabnya.
- Banyak hal di dalam dunia ini membuat kita tidak teguh dalam iman kita, yaitu ketika kita dipertemukan dengan banyaknya pilihan hidup yang menggoda kita dengan kenikmatan semunya. Kita juga sulit untuk dapat teguh dalam kasih yang tulus, bukan kasih pura-pura yang mencari keuntungan dan penuh dengan syarat seperti yang dunia tawarkan. Soal pengharapan? Tidak berbeda. Banyak dari kita tidak teguh berpegang pada pengharapan kita kepada Tuhan, alih-alih mencari manusia yang dianggap sakti, pintar, yang menawarkan pengharapan palsu.
- Tenang? Bagaimana mau tenang bila semua hal yang ada di dunia membuat kita resah. Keamanan tidak terjamin, kemakmuran masih jauh dari pelupuk mata, masa depan cerah bisa-bisa hanya khayalan...hingga kenapa jam segini suami belum pulang jangan-jangan selingkuh; mengapa hingga malam hari anak belum juga datang jangan-jangan dicelakai orang?jangan-jangan....jangan-jangan....semuanya dikuasai oleh rasa takut, kuatir.
- Kecut hati?Ya semakin banyak orang kecut hati untuk melakukan apa yang baik. Sedang untuk mengikuti apa kata dunia, semakin banyak orang yang berani...terlalu berani hingga tidak takut mati kekal. Manusia semakin kecut untuk mengungkapkan apa yang baik, yang berguna, yang membangun, karena takut dianggap aneh, sok suci, sok jadi teladan, padahal itu yang Tuhan mau.
- Tuhan ingin kita tahu bahwa Ia memberikan kita sebuah jaminan yang tidak tergantikan yaitu dirinya sendiri. Bahwa manusia tidak perlu takut, gentar, kuatir dan kecut hati, karena Ia hadir dalam kehidupan manusia. Memang kehadiranNya di dunia bukan untuk menghalau rasa takut, bukan juga untuk menghilangkan keraguan dalam hidup, namun mengubah ketakutan menjadi pengharapan sejati dan keraguan menjadi tantangan yang dapat diatasi. Bagaiamana? Dengan menjalani hidup bersama, oleh dan bagi Dia.
2. Roma 1:5 ”...supaya mereka percaya dan taat...” Percaya sama manusia tidak mudah. Apalagi sama Tuhan? Lebih tidak mudah lagi. Mengapa? Tuhannya tidak keliatan, JalanNya tidak dapat diprediksi, RencanaNya jauh dari rencana manusia, JawabanNya tidak tahu kapan diberinya. Ya...BILA UNTUK PERCAYA SAJA SULIT BAGAIMANA UNTUK TAAT? Mempercayakan diri saja tidak mau, apalagi melakukan perintahNYa. Oleh karena itu diberinyalah kita Firman Allah yang dapat dibaca, direnungkan dan tentunyaaaa... dilakukan dengan penuh ketaatan. Tuhan memberi kita petunjuk bagaimana kita harus hidup melalui kesaksian dan teladan hidupNya sendiri. Bukan hanya hidup para tokoh Alkitab, orang-orang suci, nabi dan hakim tapi hidupNya sendiri! Ia ingin kita taat pada perintahNya, namun Ia bukan Allah yang hanya suka memerintah, tapi membuktikan lewat kehidupanNya bahwa perintahNya dapat dilakukan dan berguna bila dilakukan. Alkitab bukan buku teori dan kumpulan tips, tapi kesaksian hidup!
3. Roma 1: 6 “...menjadi milik Kristus.” Kita memang disebut sebagai hamba Kristus. Kita menyebutNya Tuhan dan Allah Kita. Tapi apa yang membuktikan bahwa kita ini benar-benar menjadi milikNya? Bukan ketika kita memanggilNya dengan sebutan Bapa, Tuhan, Allah, Raja atau apapun yang menunjukkan pada gelar kebesaranNya. Namun ketika kita mampu menunjukkan kualitas diri kita. Seekor domba milik seorang peternak yang malas memberi makan, memberi minum, vitamin dan faksin selalu terlupakan,akan menjadi kurus, penyakitan dan tak laku dijual. Namun seekor domba milik gembala yang perhatian, selalu tepat waktu memberi makan, menggiring mereka ke air yang tenang, akan menjadi domba yang sehat, gemuk, yang memberi hasil yang baik pada musimnya. Begitu pula seorang yang menyatakan diri milik Kristus, sudah pasti menjadi orang yang berkualitas layaknya Kristus sendiri. Dia menjadi berkat bagi orang-orang di sekelilingnya, lebih dari itu dia akan menajdi seseorang yang dicari oleh sesamanya, dengan begitu hidup kita menadi kesaksian bagi Allah. Dan orang boleh bertanya: “ Siapakah Allahnya, yang menjadikannya manusia yang luar biasa?”
4. Roma 1: 7 “...dipanggil dan dijadikan orang kudus...” sebuah panggilan tentunya membutuhkan jawaban. Bila tidak ada yang menjawabnya maka panggilan tersebut akan menjadi panggilan yang sia-sia. Tentunya kita tidak ingin panggilan Tuhan menajdi panggilan yang sia-sia. Seorang yang dipanggil di tengah keramaian, dan menyadari bahwa dirinya dipanggil, akan segera menghampiri dia yang memanggilnya, bukan? Kecuali yang memanggilnya adalah petugas pajak mungkin ia akan lari...tapi kalau yang memanggilnya adalah orang yang mengasihinya, masakan ia tidak datang menghampirinya? Tapi kebanyakan manusia melakukan itu. Ketika kita dipanggil, kita hanya menjawab ya..dan tidak bergerak...tetap asik dengan pekerjaan dan kegiatan kita. Panggilan butuh lebih dari sekedar jawaban ya atau tidak! Tapi lebih pada perbuatan yang menyatakan ya terhadap panggilan. Bagaimana dengan dijadikan. Bagaimana cara anda membuat semangkuk sup yang lezat? Adakah anda memasukkan semua bahan-bahannya ke dalam panci yang besar tanpa membersihkannya atau memotongnya menjadi potongan kecil terlebih dahulu? Apakah anda akan memasukan seekor ayam bulat-bulat tanpa mencabuti bulunya dan memotong kukunya? Atau memasukkan wortel tanpa mengupasnya terlebih dahulu? Tentu tidak bukan? Anda akan membuatnya bersih, memotongnya hingga orang lain dapat menikmatinya tanpa tersedak. Begitu juga Allah ketika Ia menjadikan kita orang-orang kudus bagiNya! Ia akan mengolah dan memproses kita hingga kita layak menjadi orang-orang kudus pilihan Allah...Ia akan membersihkan kita, memotong kita, dan menjadikan kita berkat bagi orang yang ‘menikmati’ kita. Sakitkah? Yaaa..Bayangkan tuhan memotong dan membersihkan anda... sakit sekali namun membawa perubahan yang tidak akan pernah anda bayangkan seumur hidup anda!
Dia, Allah yang IMMANUEL, hadir, menyertai, agar kita mampu menjawab tantangan hidup dan menang atasnya. Ia hadir bukan untuk diriNya sendiri, kepentingan, kepuasan, harga diriNya, namun untuk menjadikan kita layak untuk disebut sebagai pewaris Kerajaan Allah.
Yesaya 7: 10-16
Roma 1: 1-7
Matius 1: 18-25
Apa yang menjadi pertimbangan anda saat anda memilih nama untuk sang buah hati tercinta atau cucu terkasih? Ada orang yang menjadikan: kedengarannya tidak kampungan sebagai pertimbangan pertama. Lalu ke dua nama tersebut harus memiliki arti yang bagus, dan mengandung tumpukan harapan dari kedua orang tua, kakek, nenek, tante, om, yang sering kali (pada kahirnya) membuat si anak memiliki nama dua sampai empat orang.
Kita tidak akan memberi nama Yudas Iskariot bukan kepada anak kita atau nama Saul kepada cucu kita. Kita akan memilih nama-nama tokoh-tokoh besar yang terkenal dengan ketaatannya kepada Allah, atau pekerjaan pelayanan mereka yang luar biasa dan tentunya dengan harapan bahwa anak kita juga tumbuh dan berkepribadian seperti tokoh-tokoh tersebut. Petrus misalnya atau Daud, dan Daniel.
Salah satu nama yang seringkali dipilih oleh orang tua Kristen adalah Immanuel (bukan berarti kalau nama anaknya tidak ada sangkut pautnya dengan ayat Alkitab, orang tuanya bukan Kristen yaa...) Mengapa nama itu menjadi FAVORIT? Karena nama itu mengandung kesetiaan Allah. Ya! Betapa menyenangkannya hidup bila kita tahu bahwa Allah senantiasa menyertai kita. Kita berharap Allah senantiasa menjagai, melindungi, memberkati, memberikan yang terbaik kepada anak kita, dan akhirnyaaa..... anak kita menjadi anak yang mujur di setiap langkah hidupnya, prestasinya, kariernya, hingga rumah tangganya... Ya itulah harapan kita...dan tanpa kita sadar arti sesungguhnya dibalik nama itu.
Lalu apa sesungguhnya arti dari Immanuel. Tentunya sebelum kita tahu arti harafiahnya, kita harus tahu dulu mengapa Allah mengirimkan puteraNya ke dunia.
1. Yesaya 1: 4 “...dan katakanlah kepadanya: Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini...” Allah ingin agar umatNya: Teguh, tenang, tidak takut, dan kecut hati oleh karena musuh-musuhnya. Tentunya bukan hanya umatNya pada masa Yesaya, namun kita yang kini hidup oleh karena namaNya. Keteguhan, ketenangan, adalah hal yang tetap kita butuhkan sebagai umat Allah. Mengapa? Karena kita masih memiliki musuh-musuh besar dalam hidup. Memang bukan bangsa-bangsa asing, namun musuh yang bahkan lebih kuat. Apa dan siapa saja?...pasti dengan mudah anda dapat menjawabnya.
- Banyak hal di dalam dunia ini membuat kita tidak teguh dalam iman kita, yaitu ketika kita dipertemukan dengan banyaknya pilihan hidup yang menggoda kita dengan kenikmatan semunya. Kita juga sulit untuk dapat teguh dalam kasih yang tulus, bukan kasih pura-pura yang mencari keuntungan dan penuh dengan syarat seperti yang dunia tawarkan. Soal pengharapan? Tidak berbeda. Banyak dari kita tidak teguh berpegang pada pengharapan kita kepada Tuhan, alih-alih mencari manusia yang dianggap sakti, pintar, yang menawarkan pengharapan palsu.
- Tenang? Bagaimana mau tenang bila semua hal yang ada di dunia membuat kita resah. Keamanan tidak terjamin, kemakmuran masih jauh dari pelupuk mata, masa depan cerah bisa-bisa hanya khayalan...hingga kenapa jam segini suami belum pulang jangan-jangan selingkuh; mengapa hingga malam hari anak belum juga datang jangan-jangan dicelakai orang?jangan-jangan....jangan-jangan....semuanya dikuasai oleh rasa takut, kuatir.
- Kecut hati?Ya semakin banyak orang kecut hati untuk melakukan apa yang baik. Sedang untuk mengikuti apa kata dunia, semakin banyak orang yang berani...terlalu berani hingga tidak takut mati kekal. Manusia semakin kecut untuk mengungkapkan apa yang baik, yang berguna, yang membangun, karena takut dianggap aneh, sok suci, sok jadi teladan, padahal itu yang Tuhan mau.
- Tuhan ingin kita tahu bahwa Ia memberikan kita sebuah jaminan yang tidak tergantikan yaitu dirinya sendiri. Bahwa manusia tidak perlu takut, gentar, kuatir dan kecut hati, karena Ia hadir dalam kehidupan manusia. Memang kehadiranNya di dunia bukan untuk menghalau rasa takut, bukan juga untuk menghilangkan keraguan dalam hidup, namun mengubah ketakutan menjadi pengharapan sejati dan keraguan menjadi tantangan yang dapat diatasi. Bagaiamana? Dengan menjalani hidup bersama, oleh dan bagi Dia.
2. Roma 1:5 ”...supaya mereka percaya dan taat...” Percaya sama manusia tidak mudah. Apalagi sama Tuhan? Lebih tidak mudah lagi. Mengapa? Tuhannya tidak keliatan, JalanNya tidak dapat diprediksi, RencanaNya jauh dari rencana manusia, JawabanNya tidak tahu kapan diberinya. Ya...BILA UNTUK PERCAYA SAJA SULIT BAGAIMANA UNTUK TAAT? Mempercayakan diri saja tidak mau, apalagi melakukan perintahNYa. Oleh karena itu diberinyalah kita Firman Allah yang dapat dibaca, direnungkan dan tentunyaaaa... dilakukan dengan penuh ketaatan. Tuhan memberi kita petunjuk bagaimana kita harus hidup melalui kesaksian dan teladan hidupNya sendiri. Bukan hanya hidup para tokoh Alkitab, orang-orang suci, nabi dan hakim tapi hidupNya sendiri! Ia ingin kita taat pada perintahNya, namun Ia bukan Allah yang hanya suka memerintah, tapi membuktikan lewat kehidupanNya bahwa perintahNya dapat dilakukan dan berguna bila dilakukan. Alkitab bukan buku teori dan kumpulan tips, tapi kesaksian hidup!
3. Roma 1: 6 “...menjadi milik Kristus.” Kita memang disebut sebagai hamba Kristus. Kita menyebutNya Tuhan dan Allah Kita. Tapi apa yang membuktikan bahwa kita ini benar-benar menjadi milikNya? Bukan ketika kita memanggilNya dengan sebutan Bapa, Tuhan, Allah, Raja atau apapun yang menunjukkan pada gelar kebesaranNya. Namun ketika kita mampu menunjukkan kualitas diri kita. Seekor domba milik seorang peternak yang malas memberi makan, memberi minum, vitamin dan faksin selalu terlupakan,akan menjadi kurus, penyakitan dan tak laku dijual. Namun seekor domba milik gembala yang perhatian, selalu tepat waktu memberi makan, menggiring mereka ke air yang tenang, akan menjadi domba yang sehat, gemuk, yang memberi hasil yang baik pada musimnya. Begitu pula seorang yang menyatakan diri milik Kristus, sudah pasti menjadi orang yang berkualitas layaknya Kristus sendiri. Dia menjadi berkat bagi orang-orang di sekelilingnya, lebih dari itu dia akan menajdi seseorang yang dicari oleh sesamanya, dengan begitu hidup kita menadi kesaksian bagi Allah. Dan orang boleh bertanya: “ Siapakah Allahnya, yang menjadikannya manusia yang luar biasa?”
4. Roma 1: 7 “...dipanggil dan dijadikan orang kudus...” sebuah panggilan tentunya membutuhkan jawaban. Bila tidak ada yang menjawabnya maka panggilan tersebut akan menjadi panggilan yang sia-sia. Tentunya kita tidak ingin panggilan Tuhan menajdi panggilan yang sia-sia. Seorang yang dipanggil di tengah keramaian, dan menyadari bahwa dirinya dipanggil, akan segera menghampiri dia yang memanggilnya, bukan? Kecuali yang memanggilnya adalah petugas pajak mungkin ia akan lari...tapi kalau yang memanggilnya adalah orang yang mengasihinya, masakan ia tidak datang menghampirinya? Tapi kebanyakan manusia melakukan itu. Ketika kita dipanggil, kita hanya menjawab ya..dan tidak bergerak...tetap asik dengan pekerjaan dan kegiatan kita. Panggilan butuh lebih dari sekedar jawaban ya atau tidak! Tapi lebih pada perbuatan yang menyatakan ya terhadap panggilan. Bagaimana dengan dijadikan. Bagaimana cara anda membuat semangkuk sup yang lezat? Adakah anda memasukkan semua bahan-bahannya ke dalam panci yang besar tanpa membersihkannya atau memotongnya menjadi potongan kecil terlebih dahulu? Apakah anda akan memasukan seekor ayam bulat-bulat tanpa mencabuti bulunya dan memotong kukunya? Atau memasukkan wortel tanpa mengupasnya terlebih dahulu? Tentu tidak bukan? Anda akan membuatnya bersih, memotongnya hingga orang lain dapat menikmatinya tanpa tersedak. Begitu juga Allah ketika Ia menjadikan kita orang-orang kudus bagiNya! Ia akan mengolah dan memproses kita hingga kita layak menjadi orang-orang kudus pilihan Allah...Ia akan membersihkan kita, memotong kita, dan menjadikan kita berkat bagi orang yang ‘menikmati’ kita. Sakitkah? Yaaa..Bayangkan tuhan memotong dan membersihkan anda... sakit sekali namun membawa perubahan yang tidak akan pernah anda bayangkan seumur hidup anda!
Dia, Allah yang IMMANUEL, hadir, menyertai, agar kita mampu menjawab tantangan hidup dan menang atasnya. Ia hadir bukan untuk diriNya sendiri, kepentingan, kepuasan, harga diriNya, namun untuk menjadikan kita layak untuk disebut sebagai pewaris Kerajaan Allah.
Menantikan Keselamatan Dengan Damai Sejahtera Allah
Menantikan Keselamatan Dengan Damai Sejahtera Allah
Keselamatan macam apa yang sedang anda nantikan?
- Keselamatan yang biasa-biasa saja,
- keselamatan yang mudah ditemukan;
- keselamatan yang tanpa makna;
- keselamatan yang murah
- atau keselamatan yang tidak ada tandingannya sehingga kita ingin memperjuangkannya semampu, sekuat, seoptimal mungkin yang dapat kita lakukan?
Mengapa hal ini saya tanyakan kepada anda? karena tanpa anda melihat keselamatan yang sedang kita nantikan bersama itu sebagai sesuatu yang amat berharga dan tak tergantikan, anda tidak akan pernah melakukan segala sesuatu demi mendapatkannya. Karena sesungguhnya, cara pandang dan penilaian kita terhadap keselamatan yang telah dianugerahkan kepada kita itulah yang yang menentukan bagaimana cara kita menantikannya.
Anda tidak akan pernah merasa penting untuk mandi dan berias dengan sebaik dan serapih mungkin bila anda merasa orang yang akan mengunjungi anda bukanlah orang yang spesial. Tapi anda akan tampil semaksimal mungkin dengan gaun yang terbaik, termahal, dengan jas kreasi perancang busana ternama, dengan tata rias dari salon yang terkenal, ketika anda sadar bahwa dia yang akan datang adalah calon mempelai, pujaan hati kita yang sudah lama dinantikan untuk dipinang.
Keselamatan kita memang murah, tapi bukan murahan! Keselamatan kita memang diberikan secara Cuma-Cuma, tapi bukan berarti kita dapat memperlakukannya secara semena-mena. Karena sesungguhnya keselamatan diberikan kepada kita bukan karena kita pantas menerimanya, namun karena terlalu besar kasih Allah bagi kita. Keselamatan itu milik Allah dan bukan milik kita, sehingga bila Ia mau mengambilnya kembali dari kita, tentu juga menjadi hak nya. Namun kini pertanyaannya, maukah kita Allah mengambil kembali keselamatan kita?
“Wahh... kalo itu sih saya ngak mau!” kalau tidak mau
berarti kita harus dapat memaknai dengan benar keselamatan Allah itu, sehingga kita dapat menantikannya dengan cara yang benar juga. Jangan kita hanya mau keselamatanya saja namun tidak mau menjalani penantiannya. Sama seperti mau nonton di bioskop tapi ngak mau ngantri tiketnya. (walau sekarang tiket dapat dipesan via internet ato pake calo) penantian kita akan keselamatan tidak dapat diwakilkan oleh siapapun. Setiap kita dipanggil untuk menantikan keselamatan Allah secara pribadi. Kalau saja penantiannya dapat diwakilkan, mungkin Tuhan juga dapat berkata: “ keselamatannya juga diwakilkan saja yaa..”
Nah, keselamatan seperti apa sih yang Tuhan sediakan bagi kita?
Yesaya menyaksikan bahwa
1. keselamatanNya adalah keselamatan yang kekal, yang dipenuhi kemuliaan yang tidak dan belum pernah disaksikan oleh manusia.
2. Dimana penyataan Allah hadir secara sempurna. Bila Paulus mengatakan “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” Itulah sesungguhnya yang akan kita alami bersama. Allah akan hadir tepat di hadapan kita muka dengan muka. Ia bukan lagi hadir dalam rupa mungil seorang bayi yang tidak berdaya, tapi Ia akan hadir sebagai hakim dan wasit, dan padanyalah seluruh hak menghakimi dan padanyalah semua bangsa bertekuk lutut.
Apa dampaknya bagi dunia?
1. Bahwa manusia tidak lagi dapat menjadi hakim bagi sesamanya.
2. Manusia tidak lagi hidup dalam permusuhan namun kedamaian yang abadi yang tidak pernah dapat diciptakan dan dirasakan oleh ragam manusia dari segala abad dan tempat. Apa yang diidamkan manusia, yaitu kedamaian yang sejati baru dapat terwujud pada saat itu,
3. ketika Allah berdaulat penuh atas hidup manusia. Bukankah itu yang manusia harapkan? Hidup dalam kedamaian abadi, tanpa rasa takut, kuatir, tanpa adanya amarah, dendam, kepahitan, tangis dan kecewa. Namun ternyata, keselamatan bukan sesuatu yang sama sekali asing dalam kehidupan kita.
MAUUU???!! Pasti mau dimana kita hidup tanpa mengelus dada... tanpa berpikiran negatif...dsb
Keselamatan sudah dapat kita saksikan, rasakan kini, sekarang dalam dunia. Hanya saja terkadang bagi kita, kedamaian yang ditawarkan dunia jauh lebih menarik ketimbang kedamaian dari Allah.
Loh ko? Bukankah kedamaian yang ditawarkan dunia adalah kedamaian semu. Senang sekarang, maut berikutnya; Tenang sekarang, takut berikutnya. Yah... karena selera manusia tentang kedamaian berbeda dengan selera Tuhan. Manusia menyukai:
1. kedamaian yang dihadirkan oleh pesta pora,
2. kebahagiaan yang dihadirkan kemabukan,
3. kenikmatan yang dihasilkan percabulan,
4. kepuasan yang ditawarkan hawa nafsu,
5. kepuasan ketika kita memenangkan perselisihan dan
6. kesenangan ketika ada orang lain yang iri terhadap kehidupan kita.
Selain itu, tidaklah mudah mendapatkan kedamaian Allah, selama manusia masih dikelilingi kenikmatan dunia yang walau sementara namun dapat memberikan kepuasan bagi harga diri, hawa nafsu dan kemanusiaan kita. Karena kedamaian dari Allah tidak dapat datang begitu saja, bahkan kedamaian Allah biasanya dianugerahkan dan dialami manusia ketika mereka sedang berada dalam kesulitan, keterpurukan, tantangan, kegelisahan, dukacita hidup. Siapa yang mau?
Tentu kita harus berani untuk memilih! memang kenikmatan dunia layaknya jalan lurus yang lebar, tapi berujung sempit, terjal, yang menghantar kita pada kematian kekal. Sedangkan kedamaian Allah di dunia dapat dinikmati di jalan sempit, kotor, terjal, berbatu, dengan bau yang tak sedap, namun menghantar kita pada kemenangan sejati.
Kita semua sudah hampir tiba di tempat tujuan, namun persimpangan selalu ada di hadapan kita memberikan tantangan dan godaan. Sanggupkah kita melawannya? Atau kita terima godaannya dan ikuti kehendaknya. Sayangnya kapan berakhirnya perjalanan hidup kita bukan kitalah penentunya. Tapi Allah. Perjalanan dan penantian kita dapat berhenti kapanpun sesuai dengan kehendak Allah. Nah, bagaimana jadinya bila perjalanan kita dinyatakan berhenti, ketika kita sedang salah memilih persimpangan? Apa yang akan terjadi. KITA KALAH! Hidup ini layaknya permainan dengan segala tantangannya, kita bisa kalah bisa juga menang, namun tidak seperti permainan pada komputer, ketika kita salah memilih jalan, kalah, kita dapat kembali mengulang. Hidup ini tidak ada siaran ulangnya, tidak ada remedial atau ulangan ulang. Sekali salah ya salah. Untuk itu Tuhan mengajak kita untuk berjaga2. Apa artinya? Artinya bertanggung jawab atas hidup yang diberikan dan dipercayakan kepada kita.
Walau kita tahu hari ini tidak akan ada pencuri masuk ke dalam rumah kita, tapi kita tetap mengunci rumah kita bukan? Mengapa? Karena itu tindakan yang bertanggung jawab!
KEDAMAIAN SUDAH ADA DI DALAM HATI KITA RASAKAN..NIKMATI DAN ALAMI DENGANBEGITU KITA DIMAMPUKAN UNTUK MEMILIH KEDAMAIAN YANG TEPAT
Keselamatan macam apa yang sedang anda nantikan?
- Keselamatan yang biasa-biasa saja,
- keselamatan yang mudah ditemukan;
- keselamatan yang tanpa makna;
- keselamatan yang murah
- atau keselamatan yang tidak ada tandingannya sehingga kita ingin memperjuangkannya semampu, sekuat, seoptimal mungkin yang dapat kita lakukan?
Mengapa hal ini saya tanyakan kepada anda? karena tanpa anda melihat keselamatan yang sedang kita nantikan bersama itu sebagai sesuatu yang amat berharga dan tak tergantikan, anda tidak akan pernah melakukan segala sesuatu demi mendapatkannya. Karena sesungguhnya, cara pandang dan penilaian kita terhadap keselamatan yang telah dianugerahkan kepada kita itulah yang yang menentukan bagaimana cara kita menantikannya.
Anda tidak akan pernah merasa penting untuk mandi dan berias dengan sebaik dan serapih mungkin bila anda merasa orang yang akan mengunjungi anda bukanlah orang yang spesial. Tapi anda akan tampil semaksimal mungkin dengan gaun yang terbaik, termahal, dengan jas kreasi perancang busana ternama, dengan tata rias dari salon yang terkenal, ketika anda sadar bahwa dia yang akan datang adalah calon mempelai, pujaan hati kita yang sudah lama dinantikan untuk dipinang.
Keselamatan kita memang murah, tapi bukan murahan! Keselamatan kita memang diberikan secara Cuma-Cuma, tapi bukan berarti kita dapat memperlakukannya secara semena-mena. Karena sesungguhnya keselamatan diberikan kepada kita bukan karena kita pantas menerimanya, namun karena terlalu besar kasih Allah bagi kita. Keselamatan itu milik Allah dan bukan milik kita, sehingga bila Ia mau mengambilnya kembali dari kita, tentu juga menjadi hak nya. Namun kini pertanyaannya, maukah kita Allah mengambil kembali keselamatan kita?
“Wahh... kalo itu sih saya ngak mau!” kalau tidak mau
berarti kita harus dapat memaknai dengan benar keselamatan Allah itu, sehingga kita dapat menantikannya dengan cara yang benar juga. Jangan kita hanya mau keselamatanya saja namun tidak mau menjalani penantiannya. Sama seperti mau nonton di bioskop tapi ngak mau ngantri tiketnya. (walau sekarang tiket dapat dipesan via internet ato pake calo) penantian kita akan keselamatan tidak dapat diwakilkan oleh siapapun. Setiap kita dipanggil untuk menantikan keselamatan Allah secara pribadi. Kalau saja penantiannya dapat diwakilkan, mungkin Tuhan juga dapat berkata: “ keselamatannya juga diwakilkan saja yaa..”
Nah, keselamatan seperti apa sih yang Tuhan sediakan bagi kita?
Yesaya menyaksikan bahwa
1. keselamatanNya adalah keselamatan yang kekal, yang dipenuhi kemuliaan yang tidak dan belum pernah disaksikan oleh manusia.
2. Dimana penyataan Allah hadir secara sempurna. Bila Paulus mengatakan “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” Itulah sesungguhnya yang akan kita alami bersama. Allah akan hadir tepat di hadapan kita muka dengan muka. Ia bukan lagi hadir dalam rupa mungil seorang bayi yang tidak berdaya, tapi Ia akan hadir sebagai hakim dan wasit, dan padanyalah seluruh hak menghakimi dan padanyalah semua bangsa bertekuk lutut.
Apa dampaknya bagi dunia?
1. Bahwa manusia tidak lagi dapat menjadi hakim bagi sesamanya.
2. Manusia tidak lagi hidup dalam permusuhan namun kedamaian yang abadi yang tidak pernah dapat diciptakan dan dirasakan oleh ragam manusia dari segala abad dan tempat. Apa yang diidamkan manusia, yaitu kedamaian yang sejati baru dapat terwujud pada saat itu,
3. ketika Allah berdaulat penuh atas hidup manusia. Bukankah itu yang manusia harapkan? Hidup dalam kedamaian abadi, tanpa rasa takut, kuatir, tanpa adanya amarah, dendam, kepahitan, tangis dan kecewa. Namun ternyata, keselamatan bukan sesuatu yang sama sekali asing dalam kehidupan kita.
MAUUU???!! Pasti mau dimana kita hidup tanpa mengelus dada... tanpa berpikiran negatif...dsb
Keselamatan sudah dapat kita saksikan, rasakan kini, sekarang dalam dunia. Hanya saja terkadang bagi kita, kedamaian yang ditawarkan dunia jauh lebih menarik ketimbang kedamaian dari Allah.
Loh ko? Bukankah kedamaian yang ditawarkan dunia adalah kedamaian semu. Senang sekarang, maut berikutnya; Tenang sekarang, takut berikutnya. Yah... karena selera manusia tentang kedamaian berbeda dengan selera Tuhan. Manusia menyukai:
1. kedamaian yang dihadirkan oleh pesta pora,
2. kebahagiaan yang dihadirkan kemabukan,
3. kenikmatan yang dihasilkan percabulan,
4. kepuasan yang ditawarkan hawa nafsu,
5. kepuasan ketika kita memenangkan perselisihan dan
6. kesenangan ketika ada orang lain yang iri terhadap kehidupan kita.
Selain itu, tidaklah mudah mendapatkan kedamaian Allah, selama manusia masih dikelilingi kenikmatan dunia yang walau sementara namun dapat memberikan kepuasan bagi harga diri, hawa nafsu dan kemanusiaan kita. Karena kedamaian dari Allah tidak dapat datang begitu saja, bahkan kedamaian Allah biasanya dianugerahkan dan dialami manusia ketika mereka sedang berada dalam kesulitan, keterpurukan, tantangan, kegelisahan, dukacita hidup. Siapa yang mau?
Tentu kita harus berani untuk memilih! memang kenikmatan dunia layaknya jalan lurus yang lebar, tapi berujung sempit, terjal, yang menghantar kita pada kematian kekal. Sedangkan kedamaian Allah di dunia dapat dinikmati di jalan sempit, kotor, terjal, berbatu, dengan bau yang tak sedap, namun menghantar kita pada kemenangan sejati.
Kita semua sudah hampir tiba di tempat tujuan, namun persimpangan selalu ada di hadapan kita memberikan tantangan dan godaan. Sanggupkah kita melawannya? Atau kita terima godaannya dan ikuti kehendaknya. Sayangnya kapan berakhirnya perjalanan hidup kita bukan kitalah penentunya. Tapi Allah. Perjalanan dan penantian kita dapat berhenti kapanpun sesuai dengan kehendak Allah. Nah, bagaimana jadinya bila perjalanan kita dinyatakan berhenti, ketika kita sedang salah memilih persimpangan? Apa yang akan terjadi. KITA KALAH! Hidup ini layaknya permainan dengan segala tantangannya, kita bisa kalah bisa juga menang, namun tidak seperti permainan pada komputer, ketika kita salah memilih jalan, kalah, kita dapat kembali mengulang. Hidup ini tidak ada siaran ulangnya, tidak ada remedial atau ulangan ulang. Sekali salah ya salah. Untuk itu Tuhan mengajak kita untuk berjaga2. Apa artinya? Artinya bertanggung jawab atas hidup yang diberikan dan dipercayakan kepada kita.
Walau kita tahu hari ini tidak akan ada pencuri masuk ke dalam rumah kita, tapi kita tetap mengunci rumah kita bukan? Mengapa? Karena itu tindakan yang bertanggung jawab!
KEDAMAIAN SUDAH ADA DI DALAM HATI KITA RASAKAN..NIKMATI DAN ALAMI DENGANBEGITU KITA DIMAMPUKAN UNTUK MEMILIH KEDAMAIAN YANG TEPAT
BERUBAH!!
Masih Ingatkah teman2 siapa tokoh pahlawan dari Jepang yang muncul di sekitar tahun 90-an dengan slogannya: BERUBAH? Yups! Ksatria Baja Hitam atau yang juuga dikenal sebagai Kamen Rider Black. Tokoh utamanya Kotaro Minami (Tetsuko Kurata) selalu berseru BERUBAH ketika ia ingin mengejar dan melawan penjahat dan seketika itu juga dia berubah menjadi pahlawan bertopeng dan berkostum hitam yang memiliki jurus tendangan dan pukulan maut. Tapi ternyata perubahannya tidak bersifat permanen. Setelah ia selesai menghabisi para lawannya, ia kembali menjadi seorang pelajar biasa bernama Kotaro Minami, tanpa kekuatan supernya.
Nah, kalo diperhatikan, cara kita menjalani kehidupan ini mirip banget loh sama cerita fiksi Ksatria Baja Hitam. Coba kita liat apa aja sih kesamaannya. Di tahun yang baru ini, banyak dari kita yang berkomitmen untuk berubah. Ada yang ingin menjadi lebih rajin, lebih taat sama orang tua, lebih mengasihi teman-teman, lebih rajin SaTe ( Saat Teduh), lebih sabar dannnnn lain sebagainya. Tapi, apakah sungguh kita dapat benar-benar berubah? Biasanya di awal tahun, hari-hari pertama khususnya kita memang menunjukkan perubahan, tapi mulai minggu ke 2, 3...bulan ke 2, 3...kita mengalami perubahan kembali, berubah seperti sedia kala. Bahkan lebih buruk dari yang sedia kala ( kalo ini mungkin ga kaya Ksatria Baja Hitam ya).
Kesamaan yang lainnya: Coba deh kita perhatikan saat-saat apa saja Kotaro Minami berubah menjadi Ksatria Baja Hitam? Saat-saat sulit saja kan? Saat ada musuh, ada monster, ada dan lain sebagainya... Intinya Kotaro Minami berubah hanya pada situasi kondisi tertentu. Begitu juga dengan kita! Kita baru mau berubah bila situasi dan kondisi memungkinkan dan mendorong kita untuk berubah. Misalnya setelah kita mengahadiri retreat jemaat yang mengharu biru, atau karena kotbah tahun baru yang biasanya mengajak kita untuk berkomitmen dan membuat sebuah perubahan yang berarti dalam hidup. Tak mengherankan setelah kita kembali dalam rutinitas dan perlahan mulai melupakan momen-momen tersebut, komitmen dan perubahan hidup kitapun terabaikan. Hasilnya...perubahan yang kita janjikan pada diri sendiri tersebut tidak membuat hidup kita sungguh-sungguh berubah.
Teman-teman, seorang filsuf pernah mengatakan bahwa tidak ada di dalam dunia ini yang tidak berubah kecuali perubahan. Kita juga dituntut untuk berubah. Perubahan ke arah yang lebih baik tentunya. Perubahan adalah suatu hukum kehidupan, setiap kita yang terpaku pada masa lalu tidak akan pernah memiliki masa depan, termasuk ketika kita memilih terpaku pada kegagalan kita pada masa lalu dan tidak mau bangkit mengatasinya. Mari kita usahakan perubahan secara terus menerus, perubahan yang menjadikan hidup kita menjadi lebih maju, berkembang...dari hari ke hari. Jangan tunggu kondisi dan dituasi yang mengontrol perubahan yang dapat kita lakukan sekarang! Karena bila waktu sungguh berhenti, dan kita tidak memiliki kesempatan untuk mengubah hidup kita, yang tersisa hanyalah kenangan yang membawa penyesalan.
Mari kita berkata seperti Paulus berkata: “...aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” So...berubahlah menjadi lebih baik selama waktu dan kesempatan untuk berubah masih ada, Jangan tunggu esok dan jangan berubah menjadi lebih buruk!
Nah, kalo diperhatikan, cara kita menjalani kehidupan ini mirip banget loh sama cerita fiksi Ksatria Baja Hitam. Coba kita liat apa aja sih kesamaannya. Di tahun yang baru ini, banyak dari kita yang berkomitmen untuk berubah. Ada yang ingin menjadi lebih rajin, lebih taat sama orang tua, lebih mengasihi teman-teman, lebih rajin SaTe ( Saat Teduh), lebih sabar dannnnn lain sebagainya. Tapi, apakah sungguh kita dapat benar-benar berubah? Biasanya di awal tahun, hari-hari pertama khususnya kita memang menunjukkan perubahan, tapi mulai minggu ke 2, 3...bulan ke 2, 3...kita mengalami perubahan kembali, berubah seperti sedia kala. Bahkan lebih buruk dari yang sedia kala ( kalo ini mungkin ga kaya Ksatria Baja Hitam ya).
Kesamaan yang lainnya: Coba deh kita perhatikan saat-saat apa saja Kotaro Minami berubah menjadi Ksatria Baja Hitam? Saat-saat sulit saja kan? Saat ada musuh, ada monster, ada dan lain sebagainya... Intinya Kotaro Minami berubah hanya pada situasi kondisi tertentu. Begitu juga dengan kita! Kita baru mau berubah bila situasi dan kondisi memungkinkan dan mendorong kita untuk berubah. Misalnya setelah kita mengahadiri retreat jemaat yang mengharu biru, atau karena kotbah tahun baru yang biasanya mengajak kita untuk berkomitmen dan membuat sebuah perubahan yang berarti dalam hidup. Tak mengherankan setelah kita kembali dalam rutinitas dan perlahan mulai melupakan momen-momen tersebut, komitmen dan perubahan hidup kitapun terabaikan. Hasilnya...perubahan yang kita janjikan pada diri sendiri tersebut tidak membuat hidup kita sungguh-sungguh berubah.
Teman-teman, seorang filsuf pernah mengatakan bahwa tidak ada di dalam dunia ini yang tidak berubah kecuali perubahan. Kita juga dituntut untuk berubah. Perubahan ke arah yang lebih baik tentunya. Perubahan adalah suatu hukum kehidupan, setiap kita yang terpaku pada masa lalu tidak akan pernah memiliki masa depan, termasuk ketika kita memilih terpaku pada kegagalan kita pada masa lalu dan tidak mau bangkit mengatasinya. Mari kita usahakan perubahan secara terus menerus, perubahan yang menjadikan hidup kita menjadi lebih maju, berkembang...dari hari ke hari. Jangan tunggu kondisi dan dituasi yang mengontrol perubahan yang dapat kita lakukan sekarang! Karena bila waktu sungguh berhenti, dan kita tidak memiliki kesempatan untuk mengubah hidup kita, yang tersisa hanyalah kenangan yang membawa penyesalan.
Mari kita berkata seperti Paulus berkata: “...aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” So...berubahlah menjadi lebih baik selama waktu dan kesempatan untuk berubah masih ada, Jangan tunggu esok dan jangan berubah menjadi lebih buruk!
Langganan:
Postingan (Atom)