Kekristenan tidak menghilangkan ketionghoaan...
Memang kita tidak pernah dapat memilih untuk lahir sebagai apa, keturunan siapa, suku bangsa apa, tinggal di negara mana, tapi kalaupun saya diperkenankan untuk memilih, saya akan tetap memilih untuk menjadi Suku Tiong Hoa. Tentunya bukan hanya karena Suku Tiong Hoa terkenal dengan ilmu pengetahuan dan filsafatnya (tanpa mendiskreditkan suku lain yaa...) tapi juga karena menjadi Tiong Hoa adalah pilihan terbaik bagi saya dari Tuhan. Ini bukan soal sok teologis, namun karena saya merasakan perjalanan panjang saya menjadi suku Tiong Hoa yang minoritas dan senantiasa didiskriminasikan membawa saya pada kecintaan yang tepat terhadap suku ini, dan penghargaan terhadap suku lain, termasuk perjalanan saya sebagai seorang anak dari keluarga yang memiliki perbedaan keyakinan.
Kong Hu Chu telah membekali saya begitu banyak hal positif, jauh hari sebelum saya menjadi seorang Kristen, pun ajarannya tidak bertentangan dengan kekristenan, malah...dapat dikatakan selaras. Oleh karena itu saya tidak mengalami perubahan paradigma yang signifikan. Hanya saja, bagi saya persoalan menjadi seorang Kristen bukan soal menjalankan ajaran saja, namun bagaimana beriman kepada Kristus yang mati dan bangkit. Ini hal yang sulit sekaligus mudah diterima oleh pemeluk agama Budha dan Kong Hu Chu. Mengapa? Karena kami, pemeluk Budha dan Kong Hu Chu meyakini bahwa kelahiran kembali setelah kematiaan adalah hal yang memang harus dijalani oleh setiap manusia, namun bagaimana Tuhan yang sudah sempurna (yang sudah dicerahkan = mengalami enlightment) lahir dalam dunia, bahkan mati. Bagi kami, kematian hanyalah urusan manusia, dan kelahiran kembali juga merupakan akibat dari karma di kehidupan yang lalu, dan kami akan selalu berputar alam lingkaran kehidupan, hingga kami mengalami pencerahan seperti yang dialami oleh Budha Gautama.
Bagaimana saya kini? Bila Firman Tuhan mengatakan bahwa orang yang dipanggilNya akan dilengkapiNya, maka itu yang saya rasakan. Perjumpaan saya secara pribadi dengan Tuhanlah yang membuat saya perlahan tapi pasti semakin dapat memahami siapa saya, mengapa saya ada, dan siapa Dia yang menciptakan dan telah memanggil saya. Mengapa harus perjumpaat secara pribadi? Karena Kekristenan bukan persoalan iman dan membaca Alkitab saja, namun soal membangun relasi dengan yang empunya hidup. Tanpa relasi yang kuat denganNya, yang transenden sekaligus imanen, kita tidak akan pernah mengerti dengan benar apa yang telah diperbuatNya bagi kita dan bagi dunia. Kita hanya menjalankan sesuatu yang diturunkan dari keluarga...hasilnya iman kita menjadi iman turunan, jiplakkan, dan bukan iman yang belajar melalui pengalaman bersama, bertemu dan hidup bersama Dia.
Adakah perbedaan saya kini? Tentu!! Dalam hal menjalani hidup, ketika saya masih beragama Budha, saya berpikir...yah nanti juga kan lahir lagi, paling banter lebih baik dikit deh dari kehidupan yang lalu, supaya di kehidupan yang akan datang bisa lahir sebagai kasta yang lebih tinggi. Kalo sekarang..sebagai seorang Kristen...mana bisa berpikir begitu... bisa2 nyesel kekal deh. Ya! Kini, saya memiliki tujuan dan arah hidup yang lebih pasti dan memang perjuangan harus lebih besar, karena hidup Cuma sekali..dan saya sedang belajar untuk tidak menyia-nyiakan banyak kesempatan untuk belajar dari hidup dan menjadi warna baru bagi hidup orang lain.
Rabu, 21 Juli 2010
Staying Close By Staying In
Tidak ada manusia yang tidak membutuhkan sesamanya manusia. Setiap manusia memang sudah dirancang untuk hidup bersama dengan manusia lain, dan untuk itulah mereka membentuk sebuah komunitas. Komunitas bukan hanya sekedar tempat, dimana terdapat orang-orang yang kita kenal atau bahkan tempat yang hanya terdiri dari teman-teman akrab kita. Komunitas adalah tempat dimana setiap orang atau makhluk yang ada berinteraksi, dan hidup bersama. Jadi, dapat dikatakan bahwa komunitas adalah tempat untuk saling memberi dan diberi, saling melengkapi dan memperkaya. Kok bisa? Tentu saja, karena, hal kedua yang perlu kita sadari tentang komunitas adalah, bahwa setiap orang yang ada memiliki kekayaan ( Ini bukan soal kekayaan materi loh!! ) , keunikan, kelebihan dan kekurangan yang berbeda satu dengan yang lain. Setiap manusia memiliki kekayaan spiritual, cara pandang, budaya, sejarah, intelektual, pengalaman hidup, hingga macam kepahitan dan kekecewaan yang tidak dapat dihindari.
Tapi proses memberi, diberi, melengkapi dan memperkaya bukanlah proses yang mudah. Layaknya sebuah proses menerima diri sendiri yang tidak mudah, apalagi proses menerima orang lain untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Oleh karena itu proses tersebut memiliki berapa tahapan yang harus dilalui. Tahapan pertama yang harus dilalui adalah MENGENAL. Tak kenal maka tak sayang. Mengenal disini bukan hanya mengenal orang lain loh, tapi juga bagaimana mengenal diri sendiri. Jangan merasa telah mengenal diri seratus persen loh, karena berdasarkan penelitian ilmu psikologi yang dikenal sebagai Teori Gunung Es, manusia hanya mampu mengenal diri sebatas apa yang ada dalam kesadaran manusia itu sendiri. Sedangkan banyak hal yang berada di luar kesadaran manusia yang ternyata mempengaruhi kehidupan manusia secara signifikan. Nah, bila kita sudah belajar untuk mengenali diri sendiri, (walau pasti tidak akan pernah seratus persen, karena hanya Tuhan yang dapat mengenal kita sedemikian rupa) mari kita belajar untuk mengenal manusia lain. Nah dalam proses mengenal sesama ini juga bukan hanya mengenal nama, alamat, kapan ia berulang tahun, makanan kesukaannya, atau merek parfumnya. Lalu apa dong? Mari kita coba untuk mengenal cara berpikirnya, prinsipnya, apa yang ia junjung tinggi, apa yang menurutnya berharga dalam hidup dan apa yang tidak. Mengapa hal diatas penting? Banyak manusia, tanpa ia sadar memutuskan, menilai segala sesuatu berdasarkan hal-hal tersebut, termasuk ketika ia memutuskan untuk menjadi bagian dari hidup kita atau tidak. Dalam proses ini, hendaknya kita lebih banyak mendengar, mencari tahu, ketimbang menimpali atau menentang.
Bukan hanya kita yang harus mengenal dan mengerti orang lain bukan? Kita juga berhak menyatakan identitas dan jati diri kita, termasuk pendapat, prinsip dan apapun yang kita anggap penting untuk mereka ketahui. Bila penerimaan hanya terjadi sepihak maka kemungkinan besar kita akan menjadi ‘keset kaki’ dan bukan rekan, saudara atau sesama yang sepadan. Namun, cara kita menyampaikan siapa diri kita, identitas dan keinginan kita tidak bisa dilakukan dengan cara yang salah misalnya dengan kekerasan. Untuk itulah manusia membutuhkan KOMUNIKASI. Tentunya dengan pemahaman bahwa komunikasi bukan hanya sekedar bertanya jam berapa sekarang, atau apakah anda sudah berkeluarga atau belum, karena itu dapat kita lakukan dengan orang yang baru saja kita ketemui di jalan, bis kota, atau antrian bioskop. Komunikasi yang dimaksud di sini adalah komunikasi yang menandakan adanya pengiriman dan penerimaan pesan antara individu dengan individu yang lain sehingga pesan yang dimaksud dapat dimengerti dengan benar dan tepat sasaran. Nah, karena mengenal adalah proses yang panjang, yang bahkan akan memakan seluruh waktu dalam hidup manusia, begitu juga dengan komunikasi. Kita tidak akan pernah dapat berhenti berkomunikasi satu dengan yang lain.
Sudah kenal, sudah saling berkomunikasi, apakah sudah cukup untuk membangun sebuah komunitas yang sehat dan mengatasi segala perbedaan kekayaan yang ada? Tidak tentunya. Kita masih harus menempuh 2 tahap terakhir. Yaitu MEMBENTUK HARMONI, dan MENCAPAI HASIL. Apa yang terjadi dalam pembentukan harmoni? Rangkaian nada akan jauh lebih berarti dari sebuah nada bukan? Dan tentunya rangkaian nada tersebut juga tidak disusun secara asal, namun disusun sedemikian rupa untuk menghasilkan rangkaian nada yang membentuk sebuah harmoni yang indah. Begitu juga dengan kita sebagai manusia, (bukan berarti banyak manusia lebih berharga dari satu manusia loh!!) ketika masing masing kita bersikap bersahabat, supportif, saling menerima perbedaan dan mendukung satu dengan yang lain, maka kita akan menciptakan sebuah iklim untuk menciptakan sebuah persatuan. Tidak mudah memang, karena pada tahap ini ada kalanya kita harus mengalah, mendahulukan kepentingan orang lain, dan mengakui kelebihan orang lain. Namun yang harus kita ingat adalah ini bukan soal menang dan kalah, tapi soal kebesaran hati untuk menerima sesama ciptaan Tuhan yang diciptakanNya baik adanya, sama seperti kita.
Dengan tercapainya sebuah pengenalan yang baik dan tepat, terbinanya komunikasi yang benar dan positif, serta terbentuknya rasa saling pengertian, tanpa kita sadari hal-hal tersebut akan membentuk suatu komunitas yang hidup untuk mencapai hasil bersama. Di dalam tahap inilah konflik sekalipun dapat diubah menjadi sebuah alat untuk mencapai kreativitas lebih. Komunitas bukan hanya menjadi tempat untuk berkumpul, kongkow-kongkow, atau sekedar refreshing, namun menjadi alat untuk memecahkan masalah. Waahhhh luar biasa bukan? Bila kita semua ingin mencapai tahap ini, mari kita usahakan setiap tahap berjalan dengan baik dan maksimal, dengan begitu bukan hanya kita menjadi berkat bagi komunitas dimana kita ada, namun komunitas kita juga dapat menjadi berkat bagi komunitas yang lebih besar!! Selamat menjadi berkat yang tak terkira!
Gathered from all places, Many homes and land
Many tounges and races, can we understand?
Learning common language, seeking one accord
Time to hear each other time to end discord.
Sharing our resources, we can reach world wide
We will work for justice for those long denied
“What can we accomplish? We are just a few”
Then we hear God’s answer: “ iT must start with you”
(Text: Barbara Price and Linda based on Eph 4.©2009)
Tapi proses memberi, diberi, melengkapi dan memperkaya bukanlah proses yang mudah. Layaknya sebuah proses menerima diri sendiri yang tidak mudah, apalagi proses menerima orang lain untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Oleh karena itu proses tersebut memiliki berapa tahapan yang harus dilalui. Tahapan pertama yang harus dilalui adalah MENGENAL. Tak kenal maka tak sayang. Mengenal disini bukan hanya mengenal orang lain loh, tapi juga bagaimana mengenal diri sendiri. Jangan merasa telah mengenal diri seratus persen loh, karena berdasarkan penelitian ilmu psikologi yang dikenal sebagai Teori Gunung Es, manusia hanya mampu mengenal diri sebatas apa yang ada dalam kesadaran manusia itu sendiri. Sedangkan banyak hal yang berada di luar kesadaran manusia yang ternyata mempengaruhi kehidupan manusia secara signifikan. Nah, bila kita sudah belajar untuk mengenali diri sendiri, (walau pasti tidak akan pernah seratus persen, karena hanya Tuhan yang dapat mengenal kita sedemikian rupa) mari kita belajar untuk mengenal manusia lain. Nah dalam proses mengenal sesama ini juga bukan hanya mengenal nama, alamat, kapan ia berulang tahun, makanan kesukaannya, atau merek parfumnya. Lalu apa dong? Mari kita coba untuk mengenal cara berpikirnya, prinsipnya, apa yang ia junjung tinggi, apa yang menurutnya berharga dalam hidup dan apa yang tidak. Mengapa hal diatas penting? Banyak manusia, tanpa ia sadar memutuskan, menilai segala sesuatu berdasarkan hal-hal tersebut, termasuk ketika ia memutuskan untuk menjadi bagian dari hidup kita atau tidak. Dalam proses ini, hendaknya kita lebih banyak mendengar, mencari tahu, ketimbang menimpali atau menentang.
Bukan hanya kita yang harus mengenal dan mengerti orang lain bukan? Kita juga berhak menyatakan identitas dan jati diri kita, termasuk pendapat, prinsip dan apapun yang kita anggap penting untuk mereka ketahui. Bila penerimaan hanya terjadi sepihak maka kemungkinan besar kita akan menjadi ‘keset kaki’ dan bukan rekan, saudara atau sesama yang sepadan. Namun, cara kita menyampaikan siapa diri kita, identitas dan keinginan kita tidak bisa dilakukan dengan cara yang salah misalnya dengan kekerasan. Untuk itulah manusia membutuhkan KOMUNIKASI. Tentunya dengan pemahaman bahwa komunikasi bukan hanya sekedar bertanya jam berapa sekarang, atau apakah anda sudah berkeluarga atau belum, karena itu dapat kita lakukan dengan orang yang baru saja kita ketemui di jalan, bis kota, atau antrian bioskop. Komunikasi yang dimaksud di sini adalah komunikasi yang menandakan adanya pengiriman dan penerimaan pesan antara individu dengan individu yang lain sehingga pesan yang dimaksud dapat dimengerti dengan benar dan tepat sasaran. Nah, karena mengenal adalah proses yang panjang, yang bahkan akan memakan seluruh waktu dalam hidup manusia, begitu juga dengan komunikasi. Kita tidak akan pernah dapat berhenti berkomunikasi satu dengan yang lain.
Sudah kenal, sudah saling berkomunikasi, apakah sudah cukup untuk membangun sebuah komunitas yang sehat dan mengatasi segala perbedaan kekayaan yang ada? Tidak tentunya. Kita masih harus menempuh 2 tahap terakhir. Yaitu MEMBENTUK HARMONI, dan MENCAPAI HASIL. Apa yang terjadi dalam pembentukan harmoni? Rangkaian nada akan jauh lebih berarti dari sebuah nada bukan? Dan tentunya rangkaian nada tersebut juga tidak disusun secara asal, namun disusun sedemikian rupa untuk menghasilkan rangkaian nada yang membentuk sebuah harmoni yang indah. Begitu juga dengan kita sebagai manusia, (bukan berarti banyak manusia lebih berharga dari satu manusia loh!!) ketika masing masing kita bersikap bersahabat, supportif, saling menerima perbedaan dan mendukung satu dengan yang lain, maka kita akan menciptakan sebuah iklim untuk menciptakan sebuah persatuan. Tidak mudah memang, karena pada tahap ini ada kalanya kita harus mengalah, mendahulukan kepentingan orang lain, dan mengakui kelebihan orang lain. Namun yang harus kita ingat adalah ini bukan soal menang dan kalah, tapi soal kebesaran hati untuk menerima sesama ciptaan Tuhan yang diciptakanNya baik adanya, sama seperti kita.
Dengan tercapainya sebuah pengenalan yang baik dan tepat, terbinanya komunikasi yang benar dan positif, serta terbentuknya rasa saling pengertian, tanpa kita sadari hal-hal tersebut akan membentuk suatu komunitas yang hidup untuk mencapai hasil bersama. Di dalam tahap inilah konflik sekalipun dapat diubah menjadi sebuah alat untuk mencapai kreativitas lebih. Komunitas bukan hanya menjadi tempat untuk berkumpul, kongkow-kongkow, atau sekedar refreshing, namun menjadi alat untuk memecahkan masalah. Waahhhh luar biasa bukan? Bila kita semua ingin mencapai tahap ini, mari kita usahakan setiap tahap berjalan dengan baik dan maksimal, dengan begitu bukan hanya kita menjadi berkat bagi komunitas dimana kita ada, namun komunitas kita juga dapat menjadi berkat bagi komunitas yang lebih besar!! Selamat menjadi berkat yang tak terkira!
Gathered from all places, Many homes and land
Many tounges and races, can we understand?
Learning common language, seeking one accord
Time to hear each other time to end discord.
Sharing our resources, we can reach world wide
We will work for justice for those long denied
“What can we accomplish? We are just a few”
Then we hear God’s answer: “ iT must start with you”
(Text: Barbara Price and Linda based on Eph 4.©2009)
Backstreet VS Frontstreet
Backstreet VS Frontstreet
Siapa sih anak muda yang ngak tau istilah ‘backstreet’? pasti teman-teman tahu pasti istilah ini. Ini adalah istilah yang saya kenal sekitar tahun 90-an, yaitu ketika banyak teman sekolah saya yang sudah mulai berpacaran. Apa sih arti backstreet itu sebenarnya? Yuk kita telusuri bersama!
Backstreet, yang arti harafiahnya adalah jalan belakang, merupakan istilah anak muda masa kini, yang menjalin hubungan dengan lawan jenis(berpacaran) tanpa diketahui oleh keluarga ataupun lingkungannya. Apa alasannya? Wah banyak sekali! Sebut saja karena baik keluarga, maupun lingkungan tidak menyetujui hubungan tersebut, atau karena terlalu banyak aturan dari pihak keluarga dan lingkungan. Kebanyakan, aturan dan larangan memang berasal dari orang tua pihak perempuan. Orang tua pihak perempuan biasanya khawatir kalau mengizinkan putrinya pacaran nanti bisa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Atau, bisa juga karena orangtua tak menyukai profil pacar anaknya, bisa karena beda status sosial, etnis, agama dan semacamnya. Nah, dengan gaya berpacaran ini, kedua sejoli dapat tetap membina hubungan tanpa diketahui oleh orang lain.
Gaya berpacaran seperti ini bukan tanpa konsekuensi loh! Walaupun banyak dari remaja menganggap backstreet akan mengurangi munculnya masalah-masalah yang berhubungan dengan orang tua. Malah sebaliknya, dengan gaya pacaran tersebut, kita akan menemukan banyak persoalan dengan orang tua, bahkan konflik antara dua sejoli tersebut. Hah kok bisa? Karena pada dasarnya backstreet adalah menyembunyikan suatu kebenaran, maka kita akan terbiasa membohongi orang tua kita bukan? Dari sanalah banyak konflik akan bermunculan. Misalnya: karena anak selalu menolak diajak pergi keluar. Sebenarnya bukan karena malas, tapi agar bisa bertemu dengan sang kekasih. Lama-kelamaan tentu orangtua akan curiga dan jadi sering marah-marah pada anaknya. Sedangkan konflik dengan pasangan sendairi bis terjadi karena kesulitan mengatur janji untuk bertemu. Kalau tidak pintar-pintar memahami, pasti jadi gampang berantem.
Pacaran backstreet juga dinilai lebih berat ketimbang pacaran normal (tidak backstreet). Konflik yang muncul lebih kompleks dan membebani pikiran. Hal itu akan memicu timbulnya stres. Sebab, ada harapan yang sama-sama tidak terpenuhi. Anak merasa orangtua tidak memenuhi harapannya, begitu juga seballiknya, anak tak memenuhi harapan orangtua. Kalau kedua belah pihak saling bersikeras, tentu energi negatif yang keluar semakin banyak. Beban pikiran yang awalnya hanya sebatas stres, lama-kelamaan berubah depresi.
Dimana ada niat, disitu pasti ada jalan, betul? Karena itu, sebelum memutuskan untuk pacaran,pasangan harus sudah yakin untuk melangkah bersama. Tunjukan kalau cinta yang dimiliki pasangan memang layak diperjuangkan. Sedangkan jika dari awal sudah ragu, sebaiknya memang tak usah diteruskan daripada pacaran backstreet tapi akhirnya hanya menyakitkan.
Ingat loh, pacaran itu bukan hanya untuk mengisi kesepian kita, atau hanya karena ingin eksis diantara teman sepergaulan. Karena hakekatnya pacaran adalah suatu tahapan yang harus dilewati manusia dalam rangka pengenalan sebelum memasuki masa pernikahan. Jadi bukan masa untuk saling memuaskan kebutuhan, keinginan, masing-masing individu. Nah, untuk itu cobalah simak beberapa tips untuk menghindari backstreet alias mencari frontstreet di bawah ini:
1. Cobalah untuk berterus terang alias jujur! Kejujuran dan keterbukaan adalah awal dari jalan keluar loh.
2. Cobalah untuk mengkomunikasikan perasaan dan niat kalian untuk berpacaran. Komunikasi adalah jalan terbaik bagi kedua belah pihak, orang tua, dan kalian sendiri.
3. Realistislah! Banyak pasangan yang tidak mampu berpikir realistis karena dimabuk asmara. Pikirkanlah apa yang akan kalian hadapi 5, 10,20 tahun mendatang sebagai keluarga, jangan cuma memikirkan apa yang sedang kalian hadapi hari ini, malam ini.
Siapa sih anak muda yang ngak tau istilah ‘backstreet’? pasti teman-teman tahu pasti istilah ini. Ini adalah istilah yang saya kenal sekitar tahun 90-an, yaitu ketika banyak teman sekolah saya yang sudah mulai berpacaran. Apa sih arti backstreet itu sebenarnya? Yuk kita telusuri bersama!
Backstreet, yang arti harafiahnya adalah jalan belakang, merupakan istilah anak muda masa kini, yang menjalin hubungan dengan lawan jenis(berpacaran) tanpa diketahui oleh keluarga ataupun lingkungannya. Apa alasannya? Wah banyak sekali! Sebut saja karena baik keluarga, maupun lingkungan tidak menyetujui hubungan tersebut, atau karena terlalu banyak aturan dari pihak keluarga dan lingkungan. Kebanyakan, aturan dan larangan memang berasal dari orang tua pihak perempuan. Orang tua pihak perempuan biasanya khawatir kalau mengizinkan putrinya pacaran nanti bisa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Atau, bisa juga karena orangtua tak menyukai profil pacar anaknya, bisa karena beda status sosial, etnis, agama dan semacamnya. Nah, dengan gaya berpacaran ini, kedua sejoli dapat tetap membina hubungan tanpa diketahui oleh orang lain.
Gaya berpacaran seperti ini bukan tanpa konsekuensi loh! Walaupun banyak dari remaja menganggap backstreet akan mengurangi munculnya masalah-masalah yang berhubungan dengan orang tua. Malah sebaliknya, dengan gaya pacaran tersebut, kita akan menemukan banyak persoalan dengan orang tua, bahkan konflik antara dua sejoli tersebut. Hah kok bisa? Karena pada dasarnya backstreet adalah menyembunyikan suatu kebenaran, maka kita akan terbiasa membohongi orang tua kita bukan? Dari sanalah banyak konflik akan bermunculan. Misalnya: karena anak selalu menolak diajak pergi keluar. Sebenarnya bukan karena malas, tapi agar bisa bertemu dengan sang kekasih. Lama-kelamaan tentu orangtua akan curiga dan jadi sering marah-marah pada anaknya. Sedangkan konflik dengan pasangan sendairi bis terjadi karena kesulitan mengatur janji untuk bertemu. Kalau tidak pintar-pintar memahami, pasti jadi gampang berantem.
Pacaran backstreet juga dinilai lebih berat ketimbang pacaran normal (tidak backstreet). Konflik yang muncul lebih kompleks dan membebani pikiran. Hal itu akan memicu timbulnya stres. Sebab, ada harapan yang sama-sama tidak terpenuhi. Anak merasa orangtua tidak memenuhi harapannya, begitu juga seballiknya, anak tak memenuhi harapan orangtua. Kalau kedua belah pihak saling bersikeras, tentu energi negatif yang keluar semakin banyak. Beban pikiran yang awalnya hanya sebatas stres, lama-kelamaan berubah depresi.
Dimana ada niat, disitu pasti ada jalan, betul? Karena itu, sebelum memutuskan untuk pacaran,pasangan harus sudah yakin untuk melangkah bersama. Tunjukan kalau cinta yang dimiliki pasangan memang layak diperjuangkan. Sedangkan jika dari awal sudah ragu, sebaiknya memang tak usah diteruskan daripada pacaran backstreet tapi akhirnya hanya menyakitkan.
Ingat loh, pacaran itu bukan hanya untuk mengisi kesepian kita, atau hanya karena ingin eksis diantara teman sepergaulan. Karena hakekatnya pacaran adalah suatu tahapan yang harus dilewati manusia dalam rangka pengenalan sebelum memasuki masa pernikahan. Jadi bukan masa untuk saling memuaskan kebutuhan, keinginan, masing-masing individu. Nah, untuk itu cobalah simak beberapa tips untuk menghindari backstreet alias mencari frontstreet di bawah ini:
1. Cobalah untuk berterus terang alias jujur! Kejujuran dan keterbukaan adalah awal dari jalan keluar loh.
2. Cobalah untuk mengkomunikasikan perasaan dan niat kalian untuk berpacaran. Komunikasi adalah jalan terbaik bagi kedua belah pihak, orang tua, dan kalian sendiri.
3. Realistislah! Banyak pasangan yang tidak mampu berpikir realistis karena dimabuk asmara. Pikirkanlah apa yang akan kalian hadapi 5, 10,20 tahun mendatang sebagai keluarga, jangan cuma memikirkan apa yang sedang kalian hadapi hari ini, malam ini.
My Family, My Cross...
“Gue sebel sama ade gue, tadi dia ngaduin gue ke nyokap, kalo gue yang mecahin vas bunga mahal punya nyokap. Tuh mulutnya kaya ember banget! Nyesel gue dulu pernah minta ade sama nyokap gue!!”
Adakah dari kita yang pernah mengucapkan kalimat penyesalan seperti di atas? Atau dalam bentuk yang lain misalnya kepada orang tua, kakak atau saudara yang lain? Jangan takut untuk mengakuinya loh! Karena kalimat tersebut adalah kalimat yang paling sering terlontar secara spontan karena emosi sesaat yang dialami oleh anggota keluarga karena adanya hal yang berjalan diluar kehendak dan kendalinya. Kalo dipikir-pikir kata-kata tersebut memang sangat normal dan manusiawi (bukan berarti kita boleh mengatakannya loh), karena kebanyakan manusia ingin memiliki keluarga ataupun anggota keluarga yang sesuai dengan harapannya. Sedangkan pada kenyataannya kita memang tidak dapat memilih siapa yang akan menjadi orang tua ataupun saudara kita; seperti apa rupa orang tua dan saudara-saudara kita; keadaan ekonomi; sifat-sifat buruk yang tidak diharapkan, dan lain sebagainya.
Pdt. Em Andar Ismail, pernah mengatakan bahwa setiap keluarga memiliki salibnya masing-masing, yang berbeda satu keluarga dengan yang lain, baik dalam hal rupa dan beratnya. Hal-hal yang tidak kita harapkan terjadi dalam keluarga kita, masalah-masalah ringan hingga yang seakan tidak dapat kita tanggung, konflik antara anggota keluarga, perbedaan pendapat dan prinsip, dan lain sebagainya, itulah yang diumpakan beliau sebagai salib.
Masalahnya, banyak dari kita yang merasa salib kita terlalu berat atau salib keluarga lain jauh lebih ringan. Sehingga ungkapan ‘rumput tetangga jauh lebih hijau dari rumput di halaman sendiri’ menjadi hal yang biasa. Padahal, bagi yang mengalaminya sendiri mungkin rumput di halaman kitalah yang jauh lebih hijau, lebih subur dibanding rumput di halaman kita. Atau dengan kata lain, ketika kita mulai mengatakan enaknya punya keluarga seperti seperti keluarga si A, atau keluarga si B, mereka juga mungkin berpikir betapa enaknya memiliki keluarga seperti yang kita miliki.
Nah kalau sudah begitu, kita akan menjadi anak-anak pemimpi yang tidak mau menghadapi realitas yang telah Tuhan karuniakan kepada kita, dalam rupa keluarga dan segenap permasalahannya. Lalu apa yang dapat kita lakukan? Hal pertama yang harus kita sadari adalah bahwa Tuhan tidak pernah asal-asalan menempatkan kita di sebuah keluarga loh! Segala sesuatu sudah dirancangkan jauh-jauh hari sebelum kita berada di dalam kandungan ibu kita, serperti yang Tuhan katakan kepada Nabi Yeremia dalam Yeremia 1: 5a yang berbunyi: “sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau.” Ia tahu keluarga yang ‘terbaik’ bagi setiap kita untuk bertumbuh dan berkembang.
Memang kita dapat berkata: “ Bagaimana keluarga saya dapat dikatakan tempat yang baik bagi saya untuk bertumbuh dan berkembang, ketika saya merasa orang tua saya menyakiti saya lewat perkataan, dan perbuatan mereka.” Tapi kita juga harus menyadari bahwa cara Tuhan membentuk kita tidak kadang tidak sejalan dengan cara kita, bahkan kadang Tuhan membentuk kita dengan proses yang tidak menyenangkan hingga menyakitkan. Tentunya bukan untuk sekedar menguji, atau untuk kepentingan DiriNya semata, tapi untuk menjadikan kita anak-anakNya yang berkualitas, bermartabat dihadapanNya dan di hadapan sesama manusia.
Nah, karena cara Tuhan kadang tidak sejalan dengan cara kita, bagaimana kita merespon cara Tuhan ini?
1. Bersyukurlah. Bersyukur bukan hanya ketika kita mengatakan terima kasih Tuhan telah memberikanku orang tua yang baik, yang sudah menyekolahkanku hingga sebesar ini. Tapi ketika kita menggunakan kesempatan yang Tuhan beri sebagai sebuah keluarga untuk saling memberi yang terbaik selama kita bisa. Bersyukur untuk semua pahit manis yang kita jalani sebagai sebuah keluarga dengan tetap meyakini janji Tuhan, bahwa segala sesuatu akan dibuatNya menjadi kebaikkan bagi setiap kita yang percaya kepadaNya. (Roma 8:28.)
2. Tempatkan diri sebagai Sahabat bagi setiap anggota keluarga. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menajdi saudara di dalam kesukaran” Amsal 17:17. Kadang kita tidak dapat memahami mengapa orang tua, saudara kita melakukan ini dan itu yang membuat kita kesal, marah hingga sedih. Bahkan kita sering kali tidak dapat memahami siapa sebenarnya orang tua dan saudara kita. Oleh karena itu, cobalah menjadi seorang sahabat bagi mereka, yang siap mengerti, mendengar, menolong setiap anggota keluarga kita, dan bukan hanya meminta untuk dimengerti, didengar, ditolong!
3. Jadilah pribadi yang bersikap positif satu terhadap yang lain, dengan cara mengevaluasi diri tentang seberapa banyak kita, sebagai anggota keluarga telah mengubah anggota keluarga kita yang lain menjadi lebih baik. Sudahkah, dengan keberadaan kita sebagai anak, kakak, adik, menjadikan hidup orang tua, kakak dan adik kita menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
Adakah dari kita yang pernah mengucapkan kalimat penyesalan seperti di atas? Atau dalam bentuk yang lain misalnya kepada orang tua, kakak atau saudara yang lain? Jangan takut untuk mengakuinya loh! Karena kalimat tersebut adalah kalimat yang paling sering terlontar secara spontan karena emosi sesaat yang dialami oleh anggota keluarga karena adanya hal yang berjalan diluar kehendak dan kendalinya. Kalo dipikir-pikir kata-kata tersebut memang sangat normal dan manusiawi (bukan berarti kita boleh mengatakannya loh), karena kebanyakan manusia ingin memiliki keluarga ataupun anggota keluarga yang sesuai dengan harapannya. Sedangkan pada kenyataannya kita memang tidak dapat memilih siapa yang akan menjadi orang tua ataupun saudara kita; seperti apa rupa orang tua dan saudara-saudara kita; keadaan ekonomi; sifat-sifat buruk yang tidak diharapkan, dan lain sebagainya.
Pdt. Em Andar Ismail, pernah mengatakan bahwa setiap keluarga memiliki salibnya masing-masing, yang berbeda satu keluarga dengan yang lain, baik dalam hal rupa dan beratnya. Hal-hal yang tidak kita harapkan terjadi dalam keluarga kita, masalah-masalah ringan hingga yang seakan tidak dapat kita tanggung, konflik antara anggota keluarga, perbedaan pendapat dan prinsip, dan lain sebagainya, itulah yang diumpakan beliau sebagai salib.
Masalahnya, banyak dari kita yang merasa salib kita terlalu berat atau salib keluarga lain jauh lebih ringan. Sehingga ungkapan ‘rumput tetangga jauh lebih hijau dari rumput di halaman sendiri’ menjadi hal yang biasa. Padahal, bagi yang mengalaminya sendiri mungkin rumput di halaman kitalah yang jauh lebih hijau, lebih subur dibanding rumput di halaman kita. Atau dengan kata lain, ketika kita mulai mengatakan enaknya punya keluarga seperti seperti keluarga si A, atau keluarga si B, mereka juga mungkin berpikir betapa enaknya memiliki keluarga seperti yang kita miliki.
Nah kalau sudah begitu, kita akan menjadi anak-anak pemimpi yang tidak mau menghadapi realitas yang telah Tuhan karuniakan kepada kita, dalam rupa keluarga dan segenap permasalahannya. Lalu apa yang dapat kita lakukan? Hal pertama yang harus kita sadari adalah bahwa Tuhan tidak pernah asal-asalan menempatkan kita di sebuah keluarga loh! Segala sesuatu sudah dirancangkan jauh-jauh hari sebelum kita berada di dalam kandungan ibu kita, serperti yang Tuhan katakan kepada Nabi Yeremia dalam Yeremia 1: 5a yang berbunyi: “sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau.” Ia tahu keluarga yang ‘terbaik’ bagi setiap kita untuk bertumbuh dan berkembang.
Memang kita dapat berkata: “ Bagaimana keluarga saya dapat dikatakan tempat yang baik bagi saya untuk bertumbuh dan berkembang, ketika saya merasa orang tua saya menyakiti saya lewat perkataan, dan perbuatan mereka.” Tapi kita juga harus menyadari bahwa cara Tuhan membentuk kita tidak kadang tidak sejalan dengan cara kita, bahkan kadang Tuhan membentuk kita dengan proses yang tidak menyenangkan hingga menyakitkan. Tentunya bukan untuk sekedar menguji, atau untuk kepentingan DiriNya semata, tapi untuk menjadikan kita anak-anakNya yang berkualitas, bermartabat dihadapanNya dan di hadapan sesama manusia.
Nah, karena cara Tuhan kadang tidak sejalan dengan cara kita, bagaimana kita merespon cara Tuhan ini?
1. Bersyukurlah. Bersyukur bukan hanya ketika kita mengatakan terima kasih Tuhan telah memberikanku orang tua yang baik, yang sudah menyekolahkanku hingga sebesar ini. Tapi ketika kita menggunakan kesempatan yang Tuhan beri sebagai sebuah keluarga untuk saling memberi yang terbaik selama kita bisa. Bersyukur untuk semua pahit manis yang kita jalani sebagai sebuah keluarga dengan tetap meyakini janji Tuhan, bahwa segala sesuatu akan dibuatNya menjadi kebaikkan bagi setiap kita yang percaya kepadaNya. (Roma 8:28.)
2. Tempatkan diri sebagai Sahabat bagi setiap anggota keluarga. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menajdi saudara di dalam kesukaran” Amsal 17:17. Kadang kita tidak dapat memahami mengapa orang tua, saudara kita melakukan ini dan itu yang membuat kita kesal, marah hingga sedih. Bahkan kita sering kali tidak dapat memahami siapa sebenarnya orang tua dan saudara kita. Oleh karena itu, cobalah menjadi seorang sahabat bagi mereka, yang siap mengerti, mendengar, menolong setiap anggota keluarga kita, dan bukan hanya meminta untuk dimengerti, didengar, ditolong!
3. Jadilah pribadi yang bersikap positif satu terhadap yang lain, dengan cara mengevaluasi diri tentang seberapa banyak kita, sebagai anggota keluarga telah mengubah anggota keluarga kita yang lain menjadi lebih baik. Sudahkah, dengan keberadaan kita sebagai anak, kakak, adik, menjadikan hidup orang tua, kakak dan adik kita menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
“ Teladan: Menjadi Duta Iman, Pengharapan dan Kasih”
1 Tesalonika 1:1-10
Setiap kita pasti punya panggilan masing2. Di rumah seorang laki-laki saja mungkin mendapat beberapa panggilan dari anggota keluarganya. Sebagai seorang suami dia mendapat panggilan sanyang, sebagai seorang ayah dia dipanggil ayah atau papa, sebagai seorang anak laki-laki tertua ia bisa saja mendapat panggilan kakak, atau koko, dan lain sebagainya.
Setiap manusia punya status, dan identitas; setiap orang dapat memiliki 1 bahkan banyak sekali status bagi dirinya sendiri, baik sebagai Ayah, karyawan, pemimpin perusahaan, suami, kakak, adik, mahasiswa/i, pelayan, hingga menjadi hamba Allah dan duta Allah. Namun kini yang menjadi pertanyaan pentingnya adalah sejauh mana kita memenuhi dan memaknai panggilan akan statusnya itu?
Adakah kita hanya menjalankan satu dua status yang kita anggap mudah? Ataukah kita menjalani semuanya dengan asal saja, setengah2? Atau kita menjalankan status dan panggilan kita tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab dan kesungguhan hati dan mengerahkan segala daya dan upaya untuk memberikan yang terbaik pada setiap panggilan tersebut?
Nah, kini apa arti menjadi duta?
Dalam KBBI, duta (Sangsekerta) adalah orang yang diutus untuk melakukan tugas khusus, menjadi utusan untuk melakukan misi tertentu, orang yang mewakili suatu negara untuk mengurus kepentingan negara yang diwakilinya, membantu, melindungi warga negara yang tinggal di negara itu. Ketika kita dipanggil menjadi duta Allah, maka tugas kita adalah menjadi utusan untuk melakukan misi tertentu. Tentunya ketika berbicara tentang misi Allah, kita akan membicarakan banyak hal yang tidak akan dapat dibahjas dalam percakapan satu malam, (di STT Jakarta saja misiologi dibahas 2 semester, masing2 3 sks) Tapi melalui bacaan kita hari ini, kita diajak untuk menjalani tugas untuk mewartakan apa itu IMAN, PENGHARAPAN dan KASIH melalui teladan hidup kita.
Apa yang dihadapi jemaat Tesalonika?
Di tesalonika untuk pertama kalinya pemberitaan Paulus mendapat banyak pengikut dari golongan masyarakat kelas atas. Lawannya tidak berhasil mempengaruhi pemerintah seperti di tempat lain, sehingga mereka memilih jalan menimbulkan kerusuhan dengan maksud memaksa pemerintah kota untuk mengambil tindakkan. Para penguasa yang tertangap oleh tuduhan tidak patuh terhadap kaisar, mengambil tindakan dengan menyingkirkan Paulus tanpa melakukan kekerasan.
Oleh karena itu sekitar tahun 50 M paulus dan rekan2 meninggalkan Tesalonika, yaitu sesudah beberapa orang bertobat dan satu jemaat didirikan. Dengan situasi demikian, dapat dipastikan bahwa orang –orang yang bertobat itu akan mendapatkan penganiayaan, padahal untuk meghadapi itu mereka belum siap. Sebab Paulus tidak punya cukup waktu untuk mengajar dan menemani mereka bertumbuh. Namun, ketika Timotius kembali kepada Paulus di kota Korintus, ia membawa kabar baik tentang keteguhan hati jemaat di Tesalonika dan kegiatan mereka dalam penyebaran Injil.
Apa saja yang telah dibuat jemaat Tesalonika hingga mereka menjadi teladan di dalam pekerjaan iman, usaha kasihmu, dan ketekunan pengharapan mereka?
1. Ayat 6. Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus; menjadi penurut bukanlah hal yang mudah. Di saat menyenangkan saja tidak mudah untuk menjadi penurut2 Allah, apalagi pada masa sukar, penuh tekanan dan kesulitan. Tapi dengan teguh jemaat Tesalonika memberi diri untuk taat kepada Allah, mengapa? Apakah karena mereka memang kuat? Atau mereka pura2 kuat, seperti kebanyakan kita? Dari manakah kekuatan yang mereka miliki? Bukan karena kuasa mereka sendiri, mereka mampu untuk menjadi taat, tapi karena iman yang telah dianugerahkan kepada mereka oleh Allah sendiri yang memabntu mereka untuk taat. Ketaatan adalah bukti kepercayaan, dan pemberian diri kepada Tuhan. Karena beriman bukan hanya percaya, namun mempercakan diri, dan ketaatan menjadi bukti nyata dari jemaat tesalonika yang mempercayakan diri kepada Allah walau kondisi, situasi, kebahagiaan tidak berpihak kepada kita sekalipun. Di saat-saat sulit inilah Jemaat Tesalonika menjadi teladan dalam pengharapan yang tidak putus2nya kepada Allah. Dengan hidup berdasakan pengharapan itulah jemaat Tesalonika melakukan hal yang dianggap manusia lain adalah hal yang terberat sekalipun, dan dengan melakukannyalah sukacita tak terkira dialami oleh jemaat ini.
Sudahkah kita menjadi teladan dalam ketaatan kita kepada Allah dalam segenap bidang kehidupan kita? Di dalam keluarga, sudahkah kita sebagai isteri, suami, anak, orang tua menunjukkan ketaatan kepada Kristus sebagai kepala?
Sudahkah di dalam hidup kita kita menyatakan bahwa kita adalh orang yang berpengharapan dengan melakukan apa yang Ia inginkan untuk kita lakukan dengan sukacita bukan dengan gerutu, kemarahan dan kekesalan terus menerus? Karena pengharapan sesungguhnya menjadi kekuatan dan sumber sukacita bagi manusia di dalam masa tersulit sekalipun
2. Ayat 9 bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar. Sulitkah membuktikan rasa sayang anda kepada mereka yang anda kasihi? Banyak yang mengatakan mudah, namun tidak sedikit pula yang mengatakan sulit. Hal itu dikarenakan memberi bukti memang bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan dibandingkan berkata2 dan memberikan janji manis. Bila keapda manusia yang ada di hadapan kita saja kita sulit untuk membuktikan janji kita, bagaimana kepada Allah yang tidak nampak? Namun ternyata hal tersebut bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan oleh Jemaat Tesalonika. Mereka membuktikan kasih mereka pertama-tama kepada Tuhan dengan berbalik dari berhala2, ilah2 mereka yang lama, sungguh melayani Allah dengan hidup benar.
Dalam hidup kita, sudahkah kita meninggalkan berhala2 hati (materi, orang-orang terdekat, intelektual, kuasa) kita yang lama, yang membawa kita menjauh dari Tuhan, yang membuat kita menduakan Tuhan? Seberapa besar usahala yang kita berikan untuk membuktikan kasih kita kepada Tuhan, dengan memberikan bukti untuk dilihat, dirasakan dan menjadi inspirasi bagi orang –orang disekitar kita?
Setiap kita pasti punya panggilan masing2. Di rumah seorang laki-laki saja mungkin mendapat beberapa panggilan dari anggota keluarganya. Sebagai seorang suami dia mendapat panggilan sanyang, sebagai seorang ayah dia dipanggil ayah atau papa, sebagai seorang anak laki-laki tertua ia bisa saja mendapat panggilan kakak, atau koko, dan lain sebagainya.
Setiap manusia punya status, dan identitas; setiap orang dapat memiliki 1 bahkan banyak sekali status bagi dirinya sendiri, baik sebagai Ayah, karyawan, pemimpin perusahaan, suami, kakak, adik, mahasiswa/i, pelayan, hingga menjadi hamba Allah dan duta Allah. Namun kini yang menjadi pertanyaan pentingnya adalah sejauh mana kita memenuhi dan memaknai panggilan akan statusnya itu?
Adakah kita hanya menjalankan satu dua status yang kita anggap mudah? Ataukah kita menjalani semuanya dengan asal saja, setengah2? Atau kita menjalankan status dan panggilan kita tersebut dengan penuh rasa tanggung jawab dan kesungguhan hati dan mengerahkan segala daya dan upaya untuk memberikan yang terbaik pada setiap panggilan tersebut?
Nah, kini apa arti menjadi duta?
Dalam KBBI, duta (Sangsekerta) adalah orang yang diutus untuk melakukan tugas khusus, menjadi utusan untuk melakukan misi tertentu, orang yang mewakili suatu negara untuk mengurus kepentingan negara yang diwakilinya, membantu, melindungi warga negara yang tinggal di negara itu. Ketika kita dipanggil menjadi duta Allah, maka tugas kita adalah menjadi utusan untuk melakukan misi tertentu. Tentunya ketika berbicara tentang misi Allah, kita akan membicarakan banyak hal yang tidak akan dapat dibahjas dalam percakapan satu malam, (di STT Jakarta saja misiologi dibahas 2 semester, masing2 3 sks) Tapi melalui bacaan kita hari ini, kita diajak untuk menjalani tugas untuk mewartakan apa itu IMAN, PENGHARAPAN dan KASIH melalui teladan hidup kita.
Apa yang dihadapi jemaat Tesalonika?
Di tesalonika untuk pertama kalinya pemberitaan Paulus mendapat banyak pengikut dari golongan masyarakat kelas atas. Lawannya tidak berhasil mempengaruhi pemerintah seperti di tempat lain, sehingga mereka memilih jalan menimbulkan kerusuhan dengan maksud memaksa pemerintah kota untuk mengambil tindakkan. Para penguasa yang tertangap oleh tuduhan tidak patuh terhadap kaisar, mengambil tindakan dengan menyingkirkan Paulus tanpa melakukan kekerasan.
Oleh karena itu sekitar tahun 50 M paulus dan rekan2 meninggalkan Tesalonika, yaitu sesudah beberapa orang bertobat dan satu jemaat didirikan. Dengan situasi demikian, dapat dipastikan bahwa orang –orang yang bertobat itu akan mendapatkan penganiayaan, padahal untuk meghadapi itu mereka belum siap. Sebab Paulus tidak punya cukup waktu untuk mengajar dan menemani mereka bertumbuh. Namun, ketika Timotius kembali kepada Paulus di kota Korintus, ia membawa kabar baik tentang keteguhan hati jemaat di Tesalonika dan kegiatan mereka dalam penyebaran Injil.
Apa saja yang telah dibuat jemaat Tesalonika hingga mereka menjadi teladan di dalam pekerjaan iman, usaha kasihmu, dan ketekunan pengharapan mereka?
1. Ayat 6. Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus; menjadi penurut bukanlah hal yang mudah. Di saat menyenangkan saja tidak mudah untuk menjadi penurut2 Allah, apalagi pada masa sukar, penuh tekanan dan kesulitan. Tapi dengan teguh jemaat Tesalonika memberi diri untuk taat kepada Allah, mengapa? Apakah karena mereka memang kuat? Atau mereka pura2 kuat, seperti kebanyakan kita? Dari manakah kekuatan yang mereka miliki? Bukan karena kuasa mereka sendiri, mereka mampu untuk menjadi taat, tapi karena iman yang telah dianugerahkan kepada mereka oleh Allah sendiri yang memabntu mereka untuk taat. Ketaatan adalah bukti kepercayaan, dan pemberian diri kepada Tuhan. Karena beriman bukan hanya percaya, namun mempercakan diri, dan ketaatan menjadi bukti nyata dari jemaat tesalonika yang mempercayakan diri kepada Allah walau kondisi, situasi, kebahagiaan tidak berpihak kepada kita sekalipun. Di saat-saat sulit inilah Jemaat Tesalonika menjadi teladan dalam pengharapan yang tidak putus2nya kepada Allah. Dengan hidup berdasakan pengharapan itulah jemaat Tesalonika melakukan hal yang dianggap manusia lain adalah hal yang terberat sekalipun, dan dengan melakukannyalah sukacita tak terkira dialami oleh jemaat ini.
Sudahkah kita menjadi teladan dalam ketaatan kita kepada Allah dalam segenap bidang kehidupan kita? Di dalam keluarga, sudahkah kita sebagai isteri, suami, anak, orang tua menunjukkan ketaatan kepada Kristus sebagai kepala?
Sudahkah di dalam hidup kita kita menyatakan bahwa kita adalh orang yang berpengharapan dengan melakukan apa yang Ia inginkan untuk kita lakukan dengan sukacita bukan dengan gerutu, kemarahan dan kekesalan terus menerus? Karena pengharapan sesungguhnya menjadi kekuatan dan sumber sukacita bagi manusia di dalam masa tersulit sekalipun
2. Ayat 9 bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar. Sulitkah membuktikan rasa sayang anda kepada mereka yang anda kasihi? Banyak yang mengatakan mudah, namun tidak sedikit pula yang mengatakan sulit. Hal itu dikarenakan memberi bukti memang bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan dibandingkan berkata2 dan memberikan janji manis. Bila keapda manusia yang ada di hadapan kita saja kita sulit untuk membuktikan janji kita, bagaimana kepada Allah yang tidak nampak? Namun ternyata hal tersebut bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan oleh Jemaat Tesalonika. Mereka membuktikan kasih mereka pertama-tama kepada Tuhan dengan berbalik dari berhala2, ilah2 mereka yang lama, sungguh melayani Allah dengan hidup benar.
Dalam hidup kita, sudahkah kita meninggalkan berhala2 hati (materi, orang-orang terdekat, intelektual, kuasa) kita yang lama, yang membawa kita menjauh dari Tuhan, yang membuat kita menduakan Tuhan? Seberapa besar usahala yang kita berikan untuk membuktikan kasih kita kepada Tuhan, dengan memberikan bukti untuk dilihat, dirasakan dan menjadi inspirasi bagi orang –orang disekitar kita?
Melayani Dengan Sukacita dan Sukarela
Kejadian 18:1-10a
Maz 15
Kolose 1: 15-28
Lukas 10:38-42
“Melayani? cape ah!!” kata seorang anak remaja kepada saya beberapa waktu yang lalu. “loh kenapa, kok gitu?” “Iya,pelayanan itu buat kita ga bisa main sama teman, buat kita harus banyak berkorban, buat kita ga bisa punya waktu banyak untuk diri sendiri...banyak deh kak.” Tuturnya kepada saya.
Banyak orang Kristen memandang pelayanan sebagai sesuatu yang melelahkan, menyita waktu, membuang tenaga pikiran, merugikan baik secara materil, dan lain sebagainya. Apakah benar pelayanan menjadi sesuatu yang sangat merugikan manusia? Tergantung...tergantung kita menilai dan memahami sebuah pelayanan yang kita lakukan. Kita akan selalu merasa pelayanan sebagai sesuatu yang memberatkan bila kita melihat pelayanan adalah sebuah kewajiban yang harus kita lakukan demi mendapatkan keselamatan kekal.
Pelayanan yang kita lakukan bukanlah suatu kewajiban. Tuhan tidak pernah mewajibkan kita untuk melayani Dia. Dia memanggil kita, dan bukan mewajibkan kita. Kita diperkenankan untuk menjawab ya atau tidak terhadap pelayanan yang Tuhan tawarkan. Oleh karena itu pelayanan, merupakan jawaban dari kerelaan kita. Bila rela saja tidak, bagaimana dapat melayani dengan sukacita? Kerelaan adalah dasar dari sukacita yang tidak terkondisi. Ketika kita mulai memberi diri, rela untuk dipakai, rela untuk memberi, rela untuk melakukan hal yang dianggap berat oleh kebanyakan manusia, kita akan menemukan diri kita yang mampu mengatasi segala kesulitan terberar sekalipun dalam hidup dengan tetap mengucap syukur kepada Tuhan.
Jadi, Melayani itu apa sih? Ada yang mengatakan bahwa melayani berarti membantu menyiapkan, mengurus apa yang dibutuhkan seseorang. Dapat dikatakan melayani, secara hakekat adalah suatu kegiatan yang memang diperuntukkan untuk orang lain, untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan orang lain. Lalu kini apa bedanya dengan pelayanan?pelayanan ternyata memiliki makna yang sedikit berbeda. Dimananakah perbedaannya? Perbedaannya adalah bahwa pelayanan adalah suatu kegiatan atau usaha melayani orang lain dengan memperoleh imbalan, atau yang biasa kita sebut dengan jasa.
Bukanlah sesuatu kekeliruan bila kita, sebagai pelayan yang memberikan pelayanan di gereja, rumah hingga masyarakat memilih untuk memberikan pelayanan dengan mengharapkan imbalan, karena memang itulah arti pelayanan menurut KBBI. Tapi tentunya, itu bukanlah arti pelayanan menurut Kekristenan. Lalu apa arti pelayanan yang dilakukan dalam kerelaan dan sukacita menurut bacaan kita hari ini?
Dalam kisah pertama kita pelayanan yang dilakukan Abraham kepada 3 orang utusan Allah adalah pelayanan yang dilakukan dengan penuh inisiatif. Banyak orang kristen, yang menyatakan diri sebagai pelayan Tuhan, mengumbar hal manis di depan orang lain yang dilayaninya, namun menusuk mereka dari belakang. Mari kita renungkan berapa banyak orang Kristen, termasuk kita yang mengumbar janji di depan dan melanggarnya dengan mencari pembenaran atas diri sendiri. “oh iya tenang saja, nanti saya akan bantu ko, pasti beres, nanti saya pasti akan mengerjakannya. Tenang saja, jangan kuatir, ada saya kok, nanti saya yang akan menyampaikan kok!” namun apa yang dikatakannya itu tidak pernah diwujudkan, alih alih meminta maaf atas pelanggaran janji yang dilakukan, malah mengatakan “Yah saya tidak tahu sih apa yang harus saya lakukan, saya kan orang baru di sini. Aduh maaf saya kan sibuk, jadi belum sempat mengerjakan.” Abraham bukanlah orang yang suka mengumbar janji dan bersungut2 dalam menjalankan janjinya. Apa yang ia katakan sebagai bentuk inisiatif yang tulus (dan bukan hanya untuk menjilat), dilakukannya hal tersebut itu dengan sebaik2nya, bahkan terbaik, walaupun sesungguhnya ia bisa melakukannya dengan berat hati dan akhirnya memberi yang sekedarnya. (Kej 18: 6-8) Jadi bagi Abraham, pelayanan tidak dilihat dari berapa banyak yang ia berikan kepada orang yang dilayaninya, namun seberapa ia mampu memberikan bukan hanya yang baik tapi yang terbaik bagi orang2 yang dilayaninya, dengan penuh kerelaan dan sukacita.
Bagaimana dengan kisah Maria? Apa arti pelayanan bagi seorang Maria? Maria melayani Tuhan bukan dengan kesibukan, bukan dengan kreativitas yang tinggi, dengan kerja keras yang nampak, seperti kebanyakan manusia memahami pelayanan. Tapi yang dilakukan Maria lebih dari itu semua, yaitu ketika ia meletakkan, mengarahkan dan memberikan hatinya kepada Tuhan. “ Bagaimana dan dengan apa seharusnya seorang pelayan Tuhan melayani Tuhan dan sesama?” Ketika pertanyaan itu saya lontarkan kepada seorang rekan mahasiswa Teologi apa kira2 jawaban yang ia berikan? “pake tangan lah kak...pakai apa lagi?” Saya tersentak mendengar jawaban itu, walau jawaban itu adalah jawaban yang sangat manusiawi,... sangat normal! Namun Apa yang normal dan manusiawi menurut manusia, belum tentu normal menurut pandangan Allah. Saya memiliki teman yang tidak memiliki tangan yang sempurna, ia adalah seorang sarjana komputer lulusan Universitas Indonesia. Ia juga seorang Master Ministry dari STT Jakarta, dan juga seorang Sarjana Sains Teologi dari seminari yang sama. Ia ditolak untuk menjadi pengerja dengan alasan ia tidak punya tangan yang sempurna, lalu bagaiaman nanti ia mengenakan jubah kebesaran seorang pendeta? Bagaimana ia dapat menggunakan jas paling tidak dan melakukan penyerahan alkitab di bawah mimbar? Apakah seseorang yang tidak memiliki tangan tidak dapat melayani Tuhan? Atau adakah seseorang yang tidak memiliki kompetensi, yang dianggap oleh banyak manusia sebagai syarat untuk melayani, tidak dapat melayani ? Maria tidak memberikan apapun yang menurut manusia berharga untuk diberikan kepada Allah, tapi ia memiliki hati yang bersih, yang murni dan tulus, yang ia berikan khusus kepada Allahnya. Sadarkah kita, bahwa kita tidak akan penah dapat melayani Tuhan dan sesama dengan sukacita, tanpa kerelaan memberi hati untuk diisi, dipenuhi oleh Tuhan sendiri. Maria dengan penuh kerelaan dan sukacita memberi dirinya yang utuh kepada Tuhan bukan hanya sekedar mencari pengakuan dan pujian dari orang lain, yang mengatakan betapa hebatnya dia dapat melakukan ini dan itu.
Yesus, bagaimana Yesus dapat menjalankan pelayanan dengan sukacita, tanpa keterpaksaan, tanpa gerutu dan kemarahan kepada BapaNya yang membiarkanNya mati di tangan orang-orang berdosa? “Oh karena Dia Tuhan.. makanya Ia bisa melakukan itu semua!!” biasanya menjadi alasan kita untuk tidak melakukan hal yang sama bagi Tuhan dan sesama. Apakah itu alasan yang tepat untuk menilai pelayanan Yesus yang dilakukannya dengan penuh sukacita dan kerelaan? Saya rasa itu adalah alasan yang kurang tepat, karena walaupun Yesus adalah Allah 100 % Dia juga adalah Manusia 100% dan tidak ada dari kita yang menyangkal kemanusiaanNya bukan? Tapi mengapa Ia bisa? Karena ia adalah seorang pengikut Allah yang dewasa dan matang.
Manusia yang dikatakan dewasa adalah manusia yang hidupnya tidak berorientasi pada dirinya sendiri tapi pada orang lain dan tanpa membeda2kan satu dengan yang lain.
Manusia yang tidak hanya tahu apa yang terbaik bagi dirinya, namun juga tahu yang terbaik bagi orang lain serta rela memberi yang terbaik bagi orang lain tersebut.
Manusia yang rela mengakui kelebihan orang lain dan menjadikannya sesuatu yang memperkaya dirinya dan bukan mengancam eksistensinya dan mampu bersukacita atas keberhasilan orang lain.
Manusia yang rela memberi dan memperkaya dunia karena itulah bentuk sukacita yang dimilikinya, bukan hanya meminta dunia memenuhi dan memperkaya hidupnya.
Maz 15
Kolose 1: 15-28
Lukas 10:38-42
“Melayani? cape ah!!” kata seorang anak remaja kepada saya beberapa waktu yang lalu. “loh kenapa, kok gitu?” “Iya,pelayanan itu buat kita ga bisa main sama teman, buat kita harus banyak berkorban, buat kita ga bisa punya waktu banyak untuk diri sendiri...banyak deh kak.” Tuturnya kepada saya.
Banyak orang Kristen memandang pelayanan sebagai sesuatu yang melelahkan, menyita waktu, membuang tenaga pikiran, merugikan baik secara materil, dan lain sebagainya. Apakah benar pelayanan menjadi sesuatu yang sangat merugikan manusia? Tergantung...tergantung kita menilai dan memahami sebuah pelayanan yang kita lakukan. Kita akan selalu merasa pelayanan sebagai sesuatu yang memberatkan bila kita melihat pelayanan adalah sebuah kewajiban yang harus kita lakukan demi mendapatkan keselamatan kekal.
Pelayanan yang kita lakukan bukanlah suatu kewajiban. Tuhan tidak pernah mewajibkan kita untuk melayani Dia. Dia memanggil kita, dan bukan mewajibkan kita. Kita diperkenankan untuk menjawab ya atau tidak terhadap pelayanan yang Tuhan tawarkan. Oleh karena itu pelayanan, merupakan jawaban dari kerelaan kita. Bila rela saja tidak, bagaimana dapat melayani dengan sukacita? Kerelaan adalah dasar dari sukacita yang tidak terkondisi. Ketika kita mulai memberi diri, rela untuk dipakai, rela untuk memberi, rela untuk melakukan hal yang dianggap berat oleh kebanyakan manusia, kita akan menemukan diri kita yang mampu mengatasi segala kesulitan terberar sekalipun dalam hidup dengan tetap mengucap syukur kepada Tuhan.
Jadi, Melayani itu apa sih? Ada yang mengatakan bahwa melayani berarti membantu menyiapkan, mengurus apa yang dibutuhkan seseorang. Dapat dikatakan melayani, secara hakekat adalah suatu kegiatan yang memang diperuntukkan untuk orang lain, untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan orang lain. Lalu kini apa bedanya dengan pelayanan?pelayanan ternyata memiliki makna yang sedikit berbeda. Dimananakah perbedaannya? Perbedaannya adalah bahwa pelayanan adalah suatu kegiatan atau usaha melayani orang lain dengan memperoleh imbalan, atau yang biasa kita sebut dengan jasa.
Bukanlah sesuatu kekeliruan bila kita, sebagai pelayan yang memberikan pelayanan di gereja, rumah hingga masyarakat memilih untuk memberikan pelayanan dengan mengharapkan imbalan, karena memang itulah arti pelayanan menurut KBBI. Tapi tentunya, itu bukanlah arti pelayanan menurut Kekristenan. Lalu apa arti pelayanan yang dilakukan dalam kerelaan dan sukacita menurut bacaan kita hari ini?
Dalam kisah pertama kita pelayanan yang dilakukan Abraham kepada 3 orang utusan Allah adalah pelayanan yang dilakukan dengan penuh inisiatif. Banyak orang kristen, yang menyatakan diri sebagai pelayan Tuhan, mengumbar hal manis di depan orang lain yang dilayaninya, namun menusuk mereka dari belakang. Mari kita renungkan berapa banyak orang Kristen, termasuk kita yang mengumbar janji di depan dan melanggarnya dengan mencari pembenaran atas diri sendiri. “oh iya tenang saja, nanti saya akan bantu ko, pasti beres, nanti saya pasti akan mengerjakannya. Tenang saja, jangan kuatir, ada saya kok, nanti saya yang akan menyampaikan kok!” namun apa yang dikatakannya itu tidak pernah diwujudkan, alih alih meminta maaf atas pelanggaran janji yang dilakukan, malah mengatakan “Yah saya tidak tahu sih apa yang harus saya lakukan, saya kan orang baru di sini. Aduh maaf saya kan sibuk, jadi belum sempat mengerjakan.” Abraham bukanlah orang yang suka mengumbar janji dan bersungut2 dalam menjalankan janjinya. Apa yang ia katakan sebagai bentuk inisiatif yang tulus (dan bukan hanya untuk menjilat), dilakukannya hal tersebut itu dengan sebaik2nya, bahkan terbaik, walaupun sesungguhnya ia bisa melakukannya dengan berat hati dan akhirnya memberi yang sekedarnya. (Kej 18: 6-8) Jadi bagi Abraham, pelayanan tidak dilihat dari berapa banyak yang ia berikan kepada orang yang dilayaninya, namun seberapa ia mampu memberikan bukan hanya yang baik tapi yang terbaik bagi orang2 yang dilayaninya, dengan penuh kerelaan dan sukacita.
Bagaimana dengan kisah Maria? Apa arti pelayanan bagi seorang Maria? Maria melayani Tuhan bukan dengan kesibukan, bukan dengan kreativitas yang tinggi, dengan kerja keras yang nampak, seperti kebanyakan manusia memahami pelayanan. Tapi yang dilakukan Maria lebih dari itu semua, yaitu ketika ia meletakkan, mengarahkan dan memberikan hatinya kepada Tuhan. “ Bagaimana dan dengan apa seharusnya seorang pelayan Tuhan melayani Tuhan dan sesama?” Ketika pertanyaan itu saya lontarkan kepada seorang rekan mahasiswa Teologi apa kira2 jawaban yang ia berikan? “pake tangan lah kak...pakai apa lagi?” Saya tersentak mendengar jawaban itu, walau jawaban itu adalah jawaban yang sangat manusiawi,... sangat normal! Namun Apa yang normal dan manusiawi menurut manusia, belum tentu normal menurut pandangan Allah. Saya memiliki teman yang tidak memiliki tangan yang sempurna, ia adalah seorang sarjana komputer lulusan Universitas Indonesia. Ia juga seorang Master Ministry dari STT Jakarta, dan juga seorang Sarjana Sains Teologi dari seminari yang sama. Ia ditolak untuk menjadi pengerja dengan alasan ia tidak punya tangan yang sempurna, lalu bagaiaman nanti ia mengenakan jubah kebesaran seorang pendeta? Bagaimana ia dapat menggunakan jas paling tidak dan melakukan penyerahan alkitab di bawah mimbar? Apakah seseorang yang tidak memiliki tangan tidak dapat melayani Tuhan? Atau adakah seseorang yang tidak memiliki kompetensi, yang dianggap oleh banyak manusia sebagai syarat untuk melayani, tidak dapat melayani ? Maria tidak memberikan apapun yang menurut manusia berharga untuk diberikan kepada Allah, tapi ia memiliki hati yang bersih, yang murni dan tulus, yang ia berikan khusus kepada Allahnya. Sadarkah kita, bahwa kita tidak akan penah dapat melayani Tuhan dan sesama dengan sukacita, tanpa kerelaan memberi hati untuk diisi, dipenuhi oleh Tuhan sendiri. Maria dengan penuh kerelaan dan sukacita memberi dirinya yang utuh kepada Tuhan bukan hanya sekedar mencari pengakuan dan pujian dari orang lain, yang mengatakan betapa hebatnya dia dapat melakukan ini dan itu.
Yesus, bagaimana Yesus dapat menjalankan pelayanan dengan sukacita, tanpa keterpaksaan, tanpa gerutu dan kemarahan kepada BapaNya yang membiarkanNya mati di tangan orang-orang berdosa? “Oh karena Dia Tuhan.. makanya Ia bisa melakukan itu semua!!” biasanya menjadi alasan kita untuk tidak melakukan hal yang sama bagi Tuhan dan sesama. Apakah itu alasan yang tepat untuk menilai pelayanan Yesus yang dilakukannya dengan penuh sukacita dan kerelaan? Saya rasa itu adalah alasan yang kurang tepat, karena walaupun Yesus adalah Allah 100 % Dia juga adalah Manusia 100% dan tidak ada dari kita yang menyangkal kemanusiaanNya bukan? Tapi mengapa Ia bisa? Karena ia adalah seorang pengikut Allah yang dewasa dan matang.
Manusia yang dikatakan dewasa adalah manusia yang hidupnya tidak berorientasi pada dirinya sendiri tapi pada orang lain dan tanpa membeda2kan satu dengan yang lain.
Manusia yang tidak hanya tahu apa yang terbaik bagi dirinya, namun juga tahu yang terbaik bagi orang lain serta rela memberi yang terbaik bagi orang lain tersebut.
Manusia yang rela mengakui kelebihan orang lain dan menjadikannya sesuatu yang memperkaya dirinya dan bukan mengancam eksistensinya dan mampu bersukacita atas keberhasilan orang lain.
Manusia yang rela memberi dan memperkaya dunia karena itulah bentuk sukacita yang dimilikinya, bukan hanya meminta dunia memenuhi dan memperkaya hidupnya.
Rabu, 30 Juni 2010
Firman Tuhan dan Keberuntungan
Ulangan 30: 9-14
Maz 25: 1-11
Kolose 1:1-14
Lukas 10: 25-37
Siapa dari kita yang tiak ingin hidup beruntung? Setiap kita ingin hidup beruntung, kalau bisa beruntung selama-lamanya. Namun apa saja sih yang dapat kita kategorikan sebagai keberuntungan? Apakah ketika kita tidak pernah mendapat kemalangan, apakah ketika apa yang kita doakan diberi, atau apakah ketika hidup kita senang terus? Itukah yang kita sebut sebagai keberuntungan? Wahhh kalau begitu berarti orang Kristen adalah orang yang kerap kali tidak beruntung ya! Loh kok bisa? Lah iya toh jadi orang Kristen itu kan tidak selalu mujur, bahkan Yesus mengajak setiap pengikutNya untuk mengikut salib. Mengikut salib itu berat, menderita, ngak enak..... Lalu doa orang Kristen juga tidak selalu dijawab Ya oleh Tuhan, terkadang Ia menjawabnya dengan Tunggu, atau bahkan Tidak sama sekali. Orang Kristen juga tidak dapat hidup senang terus, apalagi di Indonesia, untuk beribadah saja dipersulit, untuk bangun gereja...? apalagi!
Lha kalo begitu, tema kita hari ini jauh dari relevan dong?? Tergantung ! Lha kok tergantung? Ya tergantung bagaimana kita melihat keberuntungan. Kita tidak mungkin dapat merasakan ‘keberuntungan’ yang diberi oleh Allah dengan cara pandang dunia dalam melihat keberuntungan. Apakah Petrus dapat dikatakan beruntung? Bagi kita mungkin tidak, bagaimana tidak Ia harus mati dengan cara yang sangat tidak manusiawi. Apakah Paulus beruntung? Tidak juga ia haru menerima penolakkan dari rekan2nya dahulu sesama pemegang Taurat. Apakah Yesus beruntung? Lha bagaimana mati di kayu salib dengan tubuh penuh sayatan akibat cambukkan dapat dikatakan beruntung? Mungkin, bila kita yang mengalaminya, kita akan mengatakan itu adalah suatu kemalangan yang teramat amat sangat. Kini, bagaimana Firman Tuhan dapat membawa suatu keberuntungan bagi mereka, dan juga bagi kita?
1. Keberuntungan dari Allah berjalan seiring ketaatan. Dalam keadaan bagaimana saudara menginginkan keberuntungan datang kepada anda? Dalam keadaan bahagia, atau dalam keadaan susah? Kalau saya, saya akan mengharapkan keberuntungan datang ketika saya berada dalam batas kekuatan kita. Dengan begitu keberuntungan akan menjadi sesuatu yang amat disyukuri. Seseorang yang mendapatkan sekotak nasi lengkap dengan lauk pauk dan sayur secara gratis, akan merasa lebih bersyukur ketika selama seharian itu ia belum makan apa-apa karena tidak punya uang, ketimbang ketika ia mendapatkannya setelah ia kenyang makan dari apa yang dapat dibelinya sendiri. Nah, kini, mudahkah kita untuk menjadi manusia yang taat? Mana yang akan anda sebut sebagai seseorang yang beruntung, seseorang yang mendapat promosi jabatan karena integritasnya mempertahankan kejujuran di tengah penderitaannya karena ketaatannya kepada Tuhan, ataukah seseorang yang mengalami kesenangan duniawi karena ia menyuap atasannya? Keluaran 30: 10, menjadi jaminan bagi kita yang mau mendengar suara Tuhan, pertama-tama. Berpegang pada perintah dan ketetapan yang kedua, dan dengan segenap hati dan jiwa, yang ketiga. Mana yang lebih mudah?
- Mendengar. Banyak orang mengira bahwa mendengarkan adalah hal yang mudah, ternyata tidak demikian adanya. Mendengar adalah sebuah proses yang memadukan beberapa aktivitas secara bersamaan. Apa saja aktivitas itu? Yang pertama adalah menerima. Seseorang tidak akan pernah mendengar bila ia tidak mau menerima lawan bicaranya untuk memasuki alam pikiran dan persepsinya. Kedua, memahami dan menilai. Mendengar tanpa memahami akan berubah menajdi terdengar, atau sekilas kedengaran. Dalam mendengar kita perlu memahami lawan bicara kita hingga kita dapat terlibat suatu empati atau simpati bersamanya, dan mampu memberikan baik itu sekedar komentar, masukkan, pujian atau apapun, yang menyatakan bahwa kita memang mendengar dan menilai apa yang telah kita dengar. Ketiga, mengingat dan membalas. Apa bukti bahwa kita mendengar perintah orang tua kita? Biasanya mereka akan mengatakan bila kamu mengingat dan melakukanya. Jadi bila kita tidak melakukannya, maka orang tua kita akan terus berbicara hal yang sama kepada kita agar kita mengingat dan melakukanya.
- Berpegang pada ketetapan dan perintah. “peraturan dibuat untuk dilanggar” bagi banyak orang ungkapan ini adalah ungkapan yang biasa dan tanpa makna. Tapi sadarkah kita bahwa sesungguhnya ketetapan dan perintah dibuat untuk mengatur hidup kita menjadi lebih baik, lebih maju, lebih berkualitas. Memang banyak perintah dan ketetapan di dunia ini yang tidak membuat orang menjadi lebih baik, maju dan berkualitas, namun hari ini kita tidak berbicara tentang ketetapan dan perintah ala dunia, tapi ketetapan dan perintah ala sorgawi. Inilah yang seharusnya membuat respon yang berbeda. Ketetapan sorgawi dibuat Allah untuk menjadikan manusia semakin serupa dan segambar denganNya. Perintah sorgawi dibuat untuk memampukan manusia untuk membuktikan gambar Allah dalam dirinya, yaitu agar hidup kita layak di hadapan Tuhan dalam segala hal, (bukan hanya ketika kita berada dan melayani di gereja), bertumbuh dalam segala pengetahuan yang benar akan Allah dan menghasilkan buah yang baik yang dapat dinikmati oleh orang lain yang ada di sekitar kita. (Kol 1:10)
- Dengan segenap hati dan jiwa. Hati dan jiwa disini bukan hanya sekedar bahasa sentimentil semata, tapi suatu ungkapan yang dalam bagi tradisi Yahudi. Hati (lev) merupakan pusat kehidupan bagi orang Yahudi. Seseorang yang berpegang dan menjalankan perintah Tuhan dengan segenap hati akan menjadikan Tuhan sebagai sumber dan pusat hidupnya. Jiwa juga memiliki makna bukan sekedar nyawa tapi hidup yang holistik (utuh) Seseorang yang menjalankan perintah Tuhan dengan segenap jiwa berarti menjalankannya dalam seluruh hidupnya, sementara ia masih dapat bernafas. Bukan sekedar berbicara, atau memberikan pengakuan tapi membuktikannya lewat setiap hari, aktivitas, perkataan dan perbuatannya.
- Dengan segenap kekuatan dan akal budi. Berapa banyak usaha yang kita beri untuk melakukan kehendak Allah, dan berapa banyak akal budi yang kita gunakan, paling tidak untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kita sebagai manusia lebih suka memakai kekuatan kita untuk hal yang lain, misalnya untuk bersenang2, berjalan, jalan, hingga untuk bertengkar dengan anggota keluarga kita. Begitu juga dengan akal budi, berapa banyak dari kita mengunakan akal budi untuk mengerjakan hal2 yang tidak berkenan, misalnya, bagi anak remaja, bagaimana caranya dapat menyontek tanpa ketahuan guru, bagaimana bisa menyogok atasan tanpa ketahuan rekan kerja...dan lain sebagainya. Seorang yang menaati allah dengan kekuatan dan akal budinya akan mengerahkan diri, dan segala yang ada padanya untuk sungguh terarah kepadanya. Mengakali keinginan dagingnya, dan mencari jalan sebanyak mungkin agar dapat menaatI Allah lebih lagi.
Maz 25: 1-11
Kolose 1:1-14
Lukas 10: 25-37
Siapa dari kita yang tiak ingin hidup beruntung? Setiap kita ingin hidup beruntung, kalau bisa beruntung selama-lamanya. Namun apa saja sih yang dapat kita kategorikan sebagai keberuntungan? Apakah ketika kita tidak pernah mendapat kemalangan, apakah ketika apa yang kita doakan diberi, atau apakah ketika hidup kita senang terus? Itukah yang kita sebut sebagai keberuntungan? Wahhh kalau begitu berarti orang Kristen adalah orang yang kerap kali tidak beruntung ya! Loh kok bisa? Lah iya toh jadi orang Kristen itu kan tidak selalu mujur, bahkan Yesus mengajak setiap pengikutNya untuk mengikut salib. Mengikut salib itu berat, menderita, ngak enak..... Lalu doa orang Kristen juga tidak selalu dijawab Ya oleh Tuhan, terkadang Ia menjawabnya dengan Tunggu, atau bahkan Tidak sama sekali. Orang Kristen juga tidak dapat hidup senang terus, apalagi di Indonesia, untuk beribadah saja dipersulit, untuk bangun gereja...? apalagi!
Lha kalo begitu, tema kita hari ini jauh dari relevan dong?? Tergantung ! Lha kok tergantung? Ya tergantung bagaimana kita melihat keberuntungan. Kita tidak mungkin dapat merasakan ‘keberuntungan’ yang diberi oleh Allah dengan cara pandang dunia dalam melihat keberuntungan. Apakah Petrus dapat dikatakan beruntung? Bagi kita mungkin tidak, bagaimana tidak Ia harus mati dengan cara yang sangat tidak manusiawi. Apakah Paulus beruntung? Tidak juga ia haru menerima penolakkan dari rekan2nya dahulu sesama pemegang Taurat. Apakah Yesus beruntung? Lha bagaimana mati di kayu salib dengan tubuh penuh sayatan akibat cambukkan dapat dikatakan beruntung? Mungkin, bila kita yang mengalaminya, kita akan mengatakan itu adalah suatu kemalangan yang teramat amat sangat. Kini, bagaimana Firman Tuhan dapat membawa suatu keberuntungan bagi mereka, dan juga bagi kita?
1. Keberuntungan dari Allah berjalan seiring ketaatan. Dalam keadaan bagaimana saudara menginginkan keberuntungan datang kepada anda? Dalam keadaan bahagia, atau dalam keadaan susah? Kalau saya, saya akan mengharapkan keberuntungan datang ketika saya berada dalam batas kekuatan kita. Dengan begitu keberuntungan akan menjadi sesuatu yang amat disyukuri. Seseorang yang mendapatkan sekotak nasi lengkap dengan lauk pauk dan sayur secara gratis, akan merasa lebih bersyukur ketika selama seharian itu ia belum makan apa-apa karena tidak punya uang, ketimbang ketika ia mendapatkannya setelah ia kenyang makan dari apa yang dapat dibelinya sendiri. Nah, kini, mudahkah kita untuk menjadi manusia yang taat? Mana yang akan anda sebut sebagai seseorang yang beruntung, seseorang yang mendapat promosi jabatan karena integritasnya mempertahankan kejujuran di tengah penderitaannya karena ketaatannya kepada Tuhan, ataukah seseorang yang mengalami kesenangan duniawi karena ia menyuap atasannya? Keluaran 30: 10, menjadi jaminan bagi kita yang mau mendengar suara Tuhan, pertama-tama. Berpegang pada perintah dan ketetapan yang kedua, dan dengan segenap hati dan jiwa, yang ketiga. Mana yang lebih mudah?
- Mendengar. Banyak orang mengira bahwa mendengarkan adalah hal yang mudah, ternyata tidak demikian adanya. Mendengar adalah sebuah proses yang memadukan beberapa aktivitas secara bersamaan. Apa saja aktivitas itu? Yang pertama adalah menerima. Seseorang tidak akan pernah mendengar bila ia tidak mau menerima lawan bicaranya untuk memasuki alam pikiran dan persepsinya. Kedua, memahami dan menilai. Mendengar tanpa memahami akan berubah menajdi terdengar, atau sekilas kedengaran. Dalam mendengar kita perlu memahami lawan bicara kita hingga kita dapat terlibat suatu empati atau simpati bersamanya, dan mampu memberikan baik itu sekedar komentar, masukkan, pujian atau apapun, yang menyatakan bahwa kita memang mendengar dan menilai apa yang telah kita dengar. Ketiga, mengingat dan membalas. Apa bukti bahwa kita mendengar perintah orang tua kita? Biasanya mereka akan mengatakan bila kamu mengingat dan melakukanya. Jadi bila kita tidak melakukannya, maka orang tua kita akan terus berbicara hal yang sama kepada kita agar kita mengingat dan melakukanya.
- Berpegang pada ketetapan dan perintah. “peraturan dibuat untuk dilanggar” bagi banyak orang ungkapan ini adalah ungkapan yang biasa dan tanpa makna. Tapi sadarkah kita bahwa sesungguhnya ketetapan dan perintah dibuat untuk mengatur hidup kita menjadi lebih baik, lebih maju, lebih berkualitas. Memang banyak perintah dan ketetapan di dunia ini yang tidak membuat orang menjadi lebih baik, maju dan berkualitas, namun hari ini kita tidak berbicara tentang ketetapan dan perintah ala dunia, tapi ketetapan dan perintah ala sorgawi. Inilah yang seharusnya membuat respon yang berbeda. Ketetapan sorgawi dibuat Allah untuk menjadikan manusia semakin serupa dan segambar denganNya. Perintah sorgawi dibuat untuk memampukan manusia untuk membuktikan gambar Allah dalam dirinya, yaitu agar hidup kita layak di hadapan Tuhan dalam segala hal, (bukan hanya ketika kita berada dan melayani di gereja), bertumbuh dalam segala pengetahuan yang benar akan Allah dan menghasilkan buah yang baik yang dapat dinikmati oleh orang lain yang ada di sekitar kita. (Kol 1:10)
- Dengan segenap hati dan jiwa. Hati dan jiwa disini bukan hanya sekedar bahasa sentimentil semata, tapi suatu ungkapan yang dalam bagi tradisi Yahudi. Hati (lev) merupakan pusat kehidupan bagi orang Yahudi. Seseorang yang berpegang dan menjalankan perintah Tuhan dengan segenap hati akan menjadikan Tuhan sebagai sumber dan pusat hidupnya. Jiwa juga memiliki makna bukan sekedar nyawa tapi hidup yang holistik (utuh) Seseorang yang menjalankan perintah Tuhan dengan segenap jiwa berarti menjalankannya dalam seluruh hidupnya, sementara ia masih dapat bernafas. Bukan sekedar berbicara, atau memberikan pengakuan tapi membuktikannya lewat setiap hari, aktivitas, perkataan dan perbuatannya.
- Dengan segenap kekuatan dan akal budi. Berapa banyak usaha yang kita beri untuk melakukan kehendak Allah, dan berapa banyak akal budi yang kita gunakan, paling tidak untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kita sebagai manusia lebih suka memakai kekuatan kita untuk hal yang lain, misalnya untuk bersenang2, berjalan, jalan, hingga untuk bertengkar dengan anggota keluarga kita. Begitu juga dengan akal budi, berapa banyak dari kita mengunakan akal budi untuk mengerjakan hal2 yang tidak berkenan, misalnya, bagi anak remaja, bagaimana caranya dapat menyontek tanpa ketahuan guru, bagaimana bisa menyogok atasan tanpa ketahuan rekan kerja...dan lain sebagainya. Seorang yang menaati allah dengan kekuatan dan akal budinya akan mengerahkan diri, dan segala yang ada padanya untuk sungguh terarah kepadanya. Mengakali keinginan dagingnya, dan mencari jalan sebanyak mungkin agar dapat menaatI Allah lebih lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)