Taat! Kata yang sangat pendek, hanya terdiri dari 4 buah huruf, bahkan menuliskannya pun dapat dilakukan dalam hitungan detik. Namun ternyata kata yang begitu singkat dan mudah untuk ditulis bahkan dieja ini, tidak mudah untuk dilakukan. Untuk menjadi taat manusia membutuhkan waktu berhari-hari, berbulan-bulan bahkan berpuluh-puluh tahun.
Tahukah mengapa sangatlah sulit untuk menjadi manusia yang taat? Karena ketaatan bukan soal berkata ya terhadap segala permintaan, perintah atau tergantung pada siapa si pemberi perintah. Namun ketaatan berpusat kepada kerelaan untuk tunduk dan menerima segala sesuatu yang diperintahkan dan diminta.
Jadi sesungguhnya yang sulit bukan taatnya tapi rela dan tunduknya. Kedua hal tersebutlah yang menjadikan ketaatan memiliki kesulitan yang luar biasa. Mengapa ketaatan membutuhkan kerelaan? Karena ketaatan yang dilakukan tanpa kerelaan hati hanya kana menjadi sebuah paksaan. Hasilnya? Mungkin kita akan tetap melakukannya, tapi itu semua dilakukan dengan terpaksa, atau semata-mata karena takut terkena ganjaran karena tidak melakukannya, akhirnya kita melakukannya dengan bibir yang cemberut dengan hati yang kalang kabut dan tidak sukacita.
Di sisi lain mengapa ketaatan butuh tunduk? Kita tidak akan pernah dapat menjadi taat bila kita tidak mau menyerahkan hak kita untuk membuat serta menentukan pilihan kepada mereka yang memberi perintah bukan. Kita akan selalu merasa bahwa kita memiliki hak untuk menentukan ini dan itu. Misalnya seorang anak yang disuruh pergi ke gereja oleh orang tuanya. Ia tidak akan pernah dapat taat bila ia berpikir bahwa ia memiliki hak dan pilihan sendiri hari itu, yaitu untuk bermain bersama teman-temannya atau untuk bangun lebih siang. Tunduk bukan hanya sikap kepala tapi sikap hati dimana kita mengizinkan Tuhan untuk mengambil alih pilihan-pilihan kita untuk menjadikan kita manusia berjalan dalam jalanNya.
Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadi taat?
Kamis, 17 Februari 2011
PACARAN: Membangun VS Merusak!!!
Apakah pacaranmu merusak atau membangun? Emang seperti apa sih pacaran yang membangun ataupun yang merusak? Bagaimana sih memiliki hubungan pacaran yang membangun itu Nah, sebelum kita tahu bagaimana menciptakan hubungan yang saling membangun, lebih baik kita coba dulu untuk menjawab dulu pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:
Apa sih yang membuat kamu tertarik pada pacar kamu?
a. Dia guanteeennggg/cantik banget
b. Dia baik hati
c. Dia co/ce yang populer abis!
Apa yang kamu lakukan kalau pacarmu tidak membalas SMS atau tidak mengangkat teleponmu?
a. Diemin aja, sibuk kali
b. Cari tahu kenapa dengan tenang
c. Ngambek, ngancem putus
Kalo kamu salah, dia orang yang bisa melakukan apa sama kamu?
a. Ngak ngapa-ngapain, ga berani kali yaa
b. Mengingatkan dan selalu mengingatkan kita
c. Nyebarin kesalahan kamu ke teman2nya
Apa kamu takut diputusin?
a. Biasa aja tuh
b. Ngak, pasti Tuhan kasih yang terbaik kok
c. Amit2 deh jangan sampe kejadian sama gue
Kamu itu tipe pacar yang gimana sih?
a. Hmmm...penyayang?
b. Mencoba untuk memberi yang terbaik
c. Protektif!
Apa yang kamu biasa lakukan saat pacaran?
a. Ngobrolin yang ga penting
b. Cari tahu pandangannya tentang suatu hal
c. keluarin jurus gombal...terus...
Kalau jawaban kamu banyaknya A, kamu dapat dikatakan sebagai orang yang tidak akan mengalami kemajuan yang signifikan dalam pacaran, bahkan kamu cenderung suka berganti-ganti pasangan. Kamu melihat pacaran hanya sebagai sesuatu yang biasa dilakukan anak muda. Bahkan mungkin kamu sendiri tidak tahu dengan pasti kenapa kamu pacaran. Mungkin kamu adalah orang yang suka ikut-ikutan. Oleh karena itu ketika semua teman-temanmu pacaran kamu juga memutuskan untuk pacaran. Kalo yang ada boleh, kalo ngak ada juga ngak maksa. Kamu belum mampu mengenali siapa dan pribadi seperti apa kamu bagi orang lain dan kamu tidak mampu menjalin hubungan yang berkomitmen. Kamu masih menguatamakan apa yang kelihatan di depan mata dan bukan melihat apa yang di dalam hati. Memang menjalani hubungan pacaran dengan kamu tidak merusak namun juga tidak membangun, karena kamu lebih suka mengenal orang dari permukaannya saja. Sesungguhnya hati kamu belum siap untuk pacaran, kalau mencari teman sebanyak-banyaknya, mungkin akan menjadi pilihan yang paling tepat buat kamu pada masa kini.
Kalau jawaban kamu didominasi oleh jawaban C, kamu dapat dikatakan sebagai orang yang hanya sanggup mencintai tapi tidak dapat mengasihi. Kamu memiliki tingkat keegoisan yang tinggi sehingga pacaran kamu gunakan untuk memuaskan apa yang kamu inginkan. Kamu ingin menjalani cara pacaran yang sesuai dengan kehendak dan impian kamu dan kamu tidak peduli atas apa yang diinginkan oleh pasangan kamu. kamu adalah tipe orang yang menggunakan pacaran sebagai pelarian dari kesepian kamu, atau mungkin kekecewaan kamu terhadap kurangnya kasih yang kamu peroleh dari orang tuamu. Dengan begitu kamu tidak akan pernah menajdi seorang pendamping yang baik, karena kamu hanya berorientasi pada dirimu dan bukan pada pasanganmu. Tanpa kamu sadari kamu akan merusak hubungan yang telah kamu bina, karena sifat dan sikap negatif kamu terhadap pasanganmu. Kamu mungkin menilai bahwa kamu adalah pribadi yang berkomitmen tinggi dan setia, namun ternyata bukan kesetiaan yang sejati, tapi kesetiaan karena kamu membutuhkan dia untuk menjadi arena pelarian dari berbagai macam hal yang kamu alami. Jelas deh, sebenernya kamu belum siap untuk memasuki hubungan pacaran ini, karena kalau ini terjadi kamu akan terjebak pada hubungan dimana kamu merasa sebagai orang yang paling malang, yang paling disakiti dan hasilnya....kamu akan menyakiti pasanganmu!
Kalau jawaban kamu banyaknya adalah jawaban B, dapat dikatakan kamu adalah pribadi yang cukup siap untuk memasuki hubungan pacaran. Kamu matang dan tenang. Kamu mampu melihat persoalan dari sisi yang berbeda, bukan hanya kulit tapi inti persoalan dapat kamu petakan dengan cukup baik. Kamu tidak berorientasi pada dirimu sendiri tapi juga pada pasanganmu. Kamu tidak hanya ingin dimengerti, tapi kamu belajar untuk mengerti pasanganmu. Kamu mengikat diri dalam hubungan pacaranmu tapi kamu tidak terikat padanya. Sehingga kamu tetap dapat memberikan yang terbaik walau suatu saat nanti keadaan tidak berpihak kepadamu. Tahukah kamu, kamu akan menjadi pasangan yang sempurna bagi dia.
Apa sih yang membuat kamu tertarik pada pacar kamu?
a. Dia guanteeennggg/cantik banget
b. Dia baik hati
c. Dia co/ce yang populer abis!
Apa yang kamu lakukan kalau pacarmu tidak membalas SMS atau tidak mengangkat teleponmu?
a. Diemin aja, sibuk kali
b. Cari tahu kenapa dengan tenang
c. Ngambek, ngancem putus
Kalo kamu salah, dia orang yang bisa melakukan apa sama kamu?
a. Ngak ngapa-ngapain, ga berani kali yaa
b. Mengingatkan dan selalu mengingatkan kita
c. Nyebarin kesalahan kamu ke teman2nya
Apa kamu takut diputusin?
a. Biasa aja tuh
b. Ngak, pasti Tuhan kasih yang terbaik kok
c. Amit2 deh jangan sampe kejadian sama gue
Kamu itu tipe pacar yang gimana sih?
a. Hmmm...penyayang?
b. Mencoba untuk memberi yang terbaik
c. Protektif!
Apa yang kamu biasa lakukan saat pacaran?
a. Ngobrolin yang ga penting
b. Cari tahu pandangannya tentang suatu hal
c. keluarin jurus gombal...terus...
Kalau jawaban kamu banyaknya A, kamu dapat dikatakan sebagai orang yang tidak akan mengalami kemajuan yang signifikan dalam pacaran, bahkan kamu cenderung suka berganti-ganti pasangan. Kamu melihat pacaran hanya sebagai sesuatu yang biasa dilakukan anak muda. Bahkan mungkin kamu sendiri tidak tahu dengan pasti kenapa kamu pacaran. Mungkin kamu adalah orang yang suka ikut-ikutan. Oleh karena itu ketika semua teman-temanmu pacaran kamu juga memutuskan untuk pacaran. Kalo yang ada boleh, kalo ngak ada juga ngak maksa. Kamu belum mampu mengenali siapa dan pribadi seperti apa kamu bagi orang lain dan kamu tidak mampu menjalin hubungan yang berkomitmen. Kamu masih menguatamakan apa yang kelihatan di depan mata dan bukan melihat apa yang di dalam hati. Memang menjalani hubungan pacaran dengan kamu tidak merusak namun juga tidak membangun, karena kamu lebih suka mengenal orang dari permukaannya saja. Sesungguhnya hati kamu belum siap untuk pacaran, kalau mencari teman sebanyak-banyaknya, mungkin akan menjadi pilihan yang paling tepat buat kamu pada masa kini.
Kalau jawaban kamu didominasi oleh jawaban C, kamu dapat dikatakan sebagai orang yang hanya sanggup mencintai tapi tidak dapat mengasihi. Kamu memiliki tingkat keegoisan yang tinggi sehingga pacaran kamu gunakan untuk memuaskan apa yang kamu inginkan. Kamu ingin menjalani cara pacaran yang sesuai dengan kehendak dan impian kamu dan kamu tidak peduli atas apa yang diinginkan oleh pasangan kamu. kamu adalah tipe orang yang menggunakan pacaran sebagai pelarian dari kesepian kamu, atau mungkin kekecewaan kamu terhadap kurangnya kasih yang kamu peroleh dari orang tuamu. Dengan begitu kamu tidak akan pernah menajdi seorang pendamping yang baik, karena kamu hanya berorientasi pada dirimu dan bukan pada pasanganmu. Tanpa kamu sadari kamu akan merusak hubungan yang telah kamu bina, karena sifat dan sikap negatif kamu terhadap pasanganmu. Kamu mungkin menilai bahwa kamu adalah pribadi yang berkomitmen tinggi dan setia, namun ternyata bukan kesetiaan yang sejati, tapi kesetiaan karena kamu membutuhkan dia untuk menjadi arena pelarian dari berbagai macam hal yang kamu alami. Jelas deh, sebenernya kamu belum siap untuk memasuki hubungan pacaran ini, karena kalau ini terjadi kamu akan terjebak pada hubungan dimana kamu merasa sebagai orang yang paling malang, yang paling disakiti dan hasilnya....kamu akan menyakiti pasanganmu!
Kalau jawaban kamu banyaknya adalah jawaban B, dapat dikatakan kamu adalah pribadi yang cukup siap untuk memasuki hubungan pacaran. Kamu matang dan tenang. Kamu mampu melihat persoalan dari sisi yang berbeda, bukan hanya kulit tapi inti persoalan dapat kamu petakan dengan cukup baik. Kamu tidak berorientasi pada dirimu sendiri tapi juga pada pasanganmu. Kamu tidak hanya ingin dimengerti, tapi kamu belajar untuk mengerti pasanganmu. Kamu mengikat diri dalam hubungan pacaranmu tapi kamu tidak terikat padanya. Sehingga kamu tetap dapat memberikan yang terbaik walau suatu saat nanti keadaan tidak berpihak kepadamu. Tahukah kamu, kamu akan menjadi pasangan yang sempurna bagi dia.
Label:
Cinta,
Pemuda,
Remaja,
Seksualitas
Kataatan Sejati
Ulangan 30: 15-20
Maz 119:1-8
1 Korintus 3: 1-9
Matius 5: 21-37
Ketaatan macam apa yang saudara miliki? Ketaatan yang semu, yang pura-pura, yang dipenuhi dengan keterpaksaan atau apa? Dapatkah anda memberikan jawabannya? Wah sepertinya pertanyaan ini adalah pertanyaan lanjutan, jadi saya akan memberikan pertanyaan awalnya: apakah yang disebut ketaatan itu? Pasti banyak dari saudara yang mengatakan bahwa ketaatan adalah kepatuhan, lalu apa yang disebut dengan kepatuhan? Apakah cukup dengan mengatakan ya terhadap segala perintah atau permohonan?
Taat memang merupakan kata yang sangat sederhana. Ia hanya terdiri dari 4 buah huruf yang untuk mengeja ataupun menulisnya merupakan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Hanya saja kesederhanaan kata taat ini bertolak belakang dari makna yang sesungguhnya. Untuk menjadi orang yang taat manusia membutuhkan waktu berhari-hari hingga berpuluh-puluh tahun lamanya. Mengapa? Karena taat bukan soal mengatakan ya dan melakukan apa yang diperintahkan. Taat lebih rumit dan kompleks dari hanya sekedar mengatakan ya. Lalu apa yang penting soal ketaatan yang sejati?
1. KETAATAN ADALAH SOAL SIKAP HATI. Ulangan 30: 17. Ketaatan bukan soal melakukan diperintahkan Tuhan pada ayat 16. Kemalangan akan datang bukan ketika bangsa Israel tidak mengerjakan apa yang Allah perintahkan pada ayat 16 “karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya.” Lalu karena apa? Coba perhatikan ayat ke 17. Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya. Jadi sesungguhnya ketaatan pertama-tama adalah soal sikap hati kita. Apakah mengasihi Allah dapat dilakukan tanpa sikap hati yang benar? Mengasihi perlu menggunakan hati, bukan hanya dengan tangan atau kaki, karena kasih seperti itu akan menjadi kasih yang palsu. Apakah ketaatan adalah hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya, namun dengan sungut-sungut, dengan kemarahan, dengan ketidakpuasan? Dan bukan dengan sukacita? Matius 5 :22-25 Hidup dalam jalan Tuhan tidak dapat dijalankan tanpa hati yang terarah kepada Tuhan, karena tanpa mengarahkan hati kepada Tuhan, kita akan menajdi orang yang mudah berhenti, dan berpaling pada yang lain. Lebih lagi, untuk hidup dalam jalan Tuhan, kita harus senantiasa mendengar suara Tuhan yang mengarahkan, menuntun, mengayomi kita, karena jalan Tuhan adalah jalan yang tak nampak bagi kita. Ia ada dalam kacamata iman, ia membawa kebaikkan dan kebahagiaan dalam persepsi Allah sendiri. Jadi hidup dalam jalan Tuhan adalah hal yang mustahil dilakukan tanpa memberi hati untuk mendengar apa yang Ia katakan bagi kita. Berpegang pada perintah juga tidak akan pernah dapat kita lakukan bila kita tidak memberikan hati kita untuk menyembah (worship: shachah) Allah. Karena berpegang pada perintah Allah harus didahului dengan kerelaan untuk mengakui kekuasaanNya, tunduk dan menerima perintahNya; untuk menyerahkan hak kita kepadaNya dan membiarkan Dia berkuasa atas segala hak kita.
2. KETAATAN ADALAH PENGAKUAN BAHWA MANUSIA TERBATAS. 1 Kor 3:1-9 Paulus adalah bapak Kekristenan yang luar biasa berpengaruh baik dari jemaat mula-mula hingga kekristenan modern seperti sekarang ini. Surat-surat Paulus bahkan lebih sering dikutip dari pada perkataan Yesus sendiri. Paulus adalah orang yang sangat menguasai Taurat, lebih dari itu ia adalah sosok yang sangat pandai, kritis, dan berpengetahuan sangat luas. Ia adalah orang yang sangat ahli di bidangnya, sehingga sulit mencari orang yang mampu menandingi kemahiran Paulus. Namun nyatanya, dibalik kemahiran dan kejeniusannya, ia adalah tetap seorang manusia yang terbatas.Ia sadar sepenuhnya ia hanya dapat menanam, Apolos hanya dapat menyiram. Tapi tanpa pertumbuhan, semua yang dilakukannya adalah suatu kesia-siaan. Yang terpenting bagi sebatang pohon, bukanlah siapa yang menyiram, siapa yang memberi pupuk, siapa yang menyiangi, namun apakah ia dapat hidup dan bertumbuh menjadi pohon yang sehat dan yang berbuah lebat . Paulus tidak dapat memberi hidup, karena hidupnya sendiri adalah belas kasih Allah, anugerah! Imannya sekalipun adalah pemberian, dan bukan hasil usahanya sendiri. Itulah yang membuat Paulus sang ahli taurat memiliki ketaatan penuh kepada Allahnya, karena hanya Allahnya-lah yang mampu membuatnya sungguh hidup
3. KETAATAN ADALAH WUJUD PENGENALAN DIRI AKAN ALLAH. Matius 5. Yesus menggunakan kata: Kamu telah mendengar Firman. Ternyata mendengar Firman Allah atau mendengar siapa Allah saja tidaklah cukup untuk dapat membuat seseorang menjadi taat kepada Allah. Seseorang haruslah mengenal dan mengalami Allah secara pribadi untuk dapat menjadi taat. Seseorang yang hanya mendengar bahwa berkendaraan roda 2 haruslah menggunakan helm, akan tetap menggunakan helmnya di tangan. Bila ia berkendara di dalam kompleks, ingat harus memakai helm saja tidak. Tapi bagi mereka yang pernah mengalami pentingnya helm sebagai pelindung kepala mereka, akan dengan rela dan taat menggunakan helm walau hal tersebut seringkali membuatnya pengap dan kepanasan. Pengalaman adalah unsur yang paling penting dalam kehidupan manusia. Karena melalui pengalaman manusia belajar tentang apa yang baik, yang tidak, yang berguna, yang tidak; dan dari pengalaman pula manusia belajar memperbaiki hidupnya menjadi lebih baik. Paulus mengalami Allah secara pribadi itulah yang menjadikan Ia menjadi pribadi yang taat sampai mati, dan bukan karena pengetahuannya yang sempurna tentang taurat serta tradisi Yahudi. Semakin seseorang kenal siapa Allahnya semakin ia menjadi manusia yang taat. Loh ko bisa? Karena Ia semakin sadar bahwa tidak ada yang mampu menyaingi Allah dalam hal kasih, kesabaran, pengatahuan, karena hanya Dialah yang Maha, dan tidak ada yang lain.
Maz 119:1-8
1 Korintus 3: 1-9
Matius 5: 21-37
Ketaatan macam apa yang saudara miliki? Ketaatan yang semu, yang pura-pura, yang dipenuhi dengan keterpaksaan atau apa? Dapatkah anda memberikan jawabannya? Wah sepertinya pertanyaan ini adalah pertanyaan lanjutan, jadi saya akan memberikan pertanyaan awalnya: apakah yang disebut ketaatan itu? Pasti banyak dari saudara yang mengatakan bahwa ketaatan adalah kepatuhan, lalu apa yang disebut dengan kepatuhan? Apakah cukup dengan mengatakan ya terhadap segala perintah atau permohonan?
Taat memang merupakan kata yang sangat sederhana. Ia hanya terdiri dari 4 buah huruf yang untuk mengeja ataupun menulisnya merupakan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Hanya saja kesederhanaan kata taat ini bertolak belakang dari makna yang sesungguhnya. Untuk menjadi orang yang taat manusia membutuhkan waktu berhari-hari hingga berpuluh-puluh tahun lamanya. Mengapa? Karena taat bukan soal mengatakan ya dan melakukan apa yang diperintahkan. Taat lebih rumit dan kompleks dari hanya sekedar mengatakan ya. Lalu apa yang penting soal ketaatan yang sejati?
1. KETAATAN ADALAH SOAL SIKAP HATI. Ulangan 30: 17. Ketaatan bukan soal melakukan diperintahkan Tuhan pada ayat 16. Kemalangan akan datang bukan ketika bangsa Israel tidak mengerjakan apa yang Allah perintahkan pada ayat 16 “karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya.” Lalu karena apa? Coba perhatikan ayat ke 17. Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya. Jadi sesungguhnya ketaatan pertama-tama adalah soal sikap hati kita. Apakah mengasihi Allah dapat dilakukan tanpa sikap hati yang benar? Mengasihi perlu menggunakan hati, bukan hanya dengan tangan atau kaki, karena kasih seperti itu akan menjadi kasih yang palsu. Apakah ketaatan adalah hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya, namun dengan sungut-sungut, dengan kemarahan, dengan ketidakpuasan? Dan bukan dengan sukacita? Matius 5 :22-25 Hidup dalam jalan Tuhan tidak dapat dijalankan tanpa hati yang terarah kepada Tuhan, karena tanpa mengarahkan hati kepada Tuhan, kita akan menajdi orang yang mudah berhenti, dan berpaling pada yang lain. Lebih lagi, untuk hidup dalam jalan Tuhan, kita harus senantiasa mendengar suara Tuhan yang mengarahkan, menuntun, mengayomi kita, karena jalan Tuhan adalah jalan yang tak nampak bagi kita. Ia ada dalam kacamata iman, ia membawa kebaikkan dan kebahagiaan dalam persepsi Allah sendiri. Jadi hidup dalam jalan Tuhan adalah hal yang mustahil dilakukan tanpa memberi hati untuk mendengar apa yang Ia katakan bagi kita. Berpegang pada perintah juga tidak akan pernah dapat kita lakukan bila kita tidak memberikan hati kita untuk menyembah (worship: shachah) Allah. Karena berpegang pada perintah Allah harus didahului dengan kerelaan untuk mengakui kekuasaanNya, tunduk dan menerima perintahNya; untuk menyerahkan hak kita kepadaNya dan membiarkan Dia berkuasa atas segala hak kita.
2. KETAATAN ADALAH PENGAKUAN BAHWA MANUSIA TERBATAS. 1 Kor 3:1-9 Paulus adalah bapak Kekristenan yang luar biasa berpengaruh baik dari jemaat mula-mula hingga kekristenan modern seperti sekarang ini. Surat-surat Paulus bahkan lebih sering dikutip dari pada perkataan Yesus sendiri. Paulus adalah orang yang sangat menguasai Taurat, lebih dari itu ia adalah sosok yang sangat pandai, kritis, dan berpengetahuan sangat luas. Ia adalah orang yang sangat ahli di bidangnya, sehingga sulit mencari orang yang mampu menandingi kemahiran Paulus. Namun nyatanya, dibalik kemahiran dan kejeniusannya, ia adalah tetap seorang manusia yang terbatas.Ia sadar sepenuhnya ia hanya dapat menanam, Apolos hanya dapat menyiram. Tapi tanpa pertumbuhan, semua yang dilakukannya adalah suatu kesia-siaan. Yang terpenting bagi sebatang pohon, bukanlah siapa yang menyiram, siapa yang memberi pupuk, siapa yang menyiangi, namun apakah ia dapat hidup dan bertumbuh menjadi pohon yang sehat dan yang berbuah lebat . Paulus tidak dapat memberi hidup, karena hidupnya sendiri adalah belas kasih Allah, anugerah! Imannya sekalipun adalah pemberian, dan bukan hasil usahanya sendiri. Itulah yang membuat Paulus sang ahli taurat memiliki ketaatan penuh kepada Allahnya, karena hanya Allahnya-lah yang mampu membuatnya sungguh hidup
3. KETAATAN ADALAH WUJUD PENGENALAN DIRI AKAN ALLAH. Matius 5. Yesus menggunakan kata: Kamu telah mendengar Firman. Ternyata mendengar Firman Allah atau mendengar siapa Allah saja tidaklah cukup untuk dapat membuat seseorang menjadi taat kepada Allah. Seseorang haruslah mengenal dan mengalami Allah secara pribadi untuk dapat menjadi taat. Seseorang yang hanya mendengar bahwa berkendaraan roda 2 haruslah menggunakan helm, akan tetap menggunakan helmnya di tangan. Bila ia berkendara di dalam kompleks, ingat harus memakai helm saja tidak. Tapi bagi mereka yang pernah mengalami pentingnya helm sebagai pelindung kepala mereka, akan dengan rela dan taat menggunakan helm walau hal tersebut seringkali membuatnya pengap dan kepanasan. Pengalaman adalah unsur yang paling penting dalam kehidupan manusia. Karena melalui pengalaman manusia belajar tentang apa yang baik, yang tidak, yang berguna, yang tidak; dan dari pengalaman pula manusia belajar memperbaiki hidupnya menjadi lebih baik. Paulus mengalami Allah secara pribadi itulah yang menjadikan Ia menjadi pribadi yang taat sampai mati, dan bukan karena pengetahuannya yang sempurna tentang taurat serta tradisi Yahudi. Semakin seseorang kenal siapa Allahnya semakin ia menjadi manusia yang taat. Loh ko bisa? Karena Ia semakin sadar bahwa tidak ada yang mampu menyaingi Allah dalam hal kasih, kesabaran, pengatahuan, karena hanya Dialah yang Maha, dan tidak ada yang lain.
Label:
Hidup,
Iman,
Pelayanan,
Pengharapan
Jumat, 28 Januari 2011
Allah peduli?
Allah peduli?
“Bagaimana mungkin Allah peduli terhadap mereka yang lemah dan tertindas? Buktinya yang lemah semakin lemah yang tertindas semakin tertindas. Lebih lagi di masa modern seperti ini kita masih semakin banyak menjumpai mereka yang lemah dan tertindas bukan? Lalu dimana Allah? Apakah Allah memang ada? Bila Ia memang ada mengapa Ia berpangku tangan? Mengapa Dia membiarkan banyak hal buruk terjadi pada manusia?”
Benarkah pernyataan di atas? Apakah anda setuju, bahwa Allah adalah Allah yang tidak peduli akan penderitaan manusia? Atau anda lebih setuju bahwa Allah membiarkan penderitaan ada dalam hidup manusia agar manusia lebih peka terhadap apa yang sedang dialami oleh dunia, alam, dan sesama manusia? Anda dapat setuju dapat juga tidak setuju dengan pernyataan di atas. Namun bagaimana Firman Tuhan melihat penderitaan, penindasan manusia?
Pertama-tama tentunya kita harus menggunakan cara pandang Allah terhadap segala sesuatu (selalu cara pandang Allah, dan bukan cara pandang kita). Mengapa? Karena kita tidak akan pernah dapat mendapatkan pengertian yang benar yang membawa kita pada pengaminan atas apa yang Tuhan perbuat dalam kehidupan manusia. Tuhan tidak pernah melihat penderitaan dan kelemahan sebagai suatu aib, suatu yang perlu dijauhi, bahkan sesuatu yang membuat manusia tidak bahagia. Sebaliknya Ia memberi nilai positif terhadap segala hal yang manusia anggap kesialan dan segala sesuatu yang tidak menyenangkan.
Apakah nilai positif yang dimaksud di sini? Ini tentang kelimpahan! Bagi Allah kelimpahan bukanlah kekayaan, kelimpahan bukan juga kekuasan dan hormat, kelimpahan juga bukan bagaimana kita dapat memenuhi kebutuhan anak cucu kita hingga 7 turunan sekalipun. Tapi kelimpahan adalah soal sikap hati manusia. Kelimpahan tidak akan pernah dapat dinikmati oleh manusia bila manusia memiliki sikap hati yang salah.. Ia tidak akan pernah merasa cukup dalam hidup. Ia akan selalu merasa kurang dan kurang, kurang ini, kurang itu, suami saya kurang begini, isteri saya kurang begitu, anak anak saya kurang sekali dalam hal ini, orang tua saya apalagi....Hasilnya? Mengeluh! Walau hidup yang sedang dijalani sesungguhnya jauh dari yang namanya menderita, lemah dan tertindas. Karena kita tertindas oleh keinginan, cara pandang dan keangkuhan kita sendiri. Hasil terakhir kita akan merasa Allah tidak peduli terhadap hidup kita. Kita akan menyalahkan Allah yang dirasa berpangku tangan terhadap semua persoalan hidup yang kita alami.
Jadi bagaimana seharusnya? Imani Allah tidak akan pernah meninggalkan umatNya sedetikpun, segala sesuatu yang Allah izinkan terjadi dalam hidup manusia adalah untuk kebaikkan manusia itu sendiri dan bukan untuk kesenangan apalagi kepuasanNya. Dia bukan Allah macam itu. Dan tentunya milikilah sikap hati yang benar, dengan menggunakan kacamata Allah dalam melihat segala sesuatu. Maka dengan demikian anda kan melihat bahwa Allah begitu peduli akan hidup anda!
“Bagaimana mungkin Allah peduli terhadap mereka yang lemah dan tertindas? Buktinya yang lemah semakin lemah yang tertindas semakin tertindas. Lebih lagi di masa modern seperti ini kita masih semakin banyak menjumpai mereka yang lemah dan tertindas bukan? Lalu dimana Allah? Apakah Allah memang ada? Bila Ia memang ada mengapa Ia berpangku tangan? Mengapa Dia membiarkan banyak hal buruk terjadi pada manusia?”
Benarkah pernyataan di atas? Apakah anda setuju, bahwa Allah adalah Allah yang tidak peduli akan penderitaan manusia? Atau anda lebih setuju bahwa Allah membiarkan penderitaan ada dalam hidup manusia agar manusia lebih peka terhadap apa yang sedang dialami oleh dunia, alam, dan sesama manusia? Anda dapat setuju dapat juga tidak setuju dengan pernyataan di atas. Namun bagaimana Firman Tuhan melihat penderitaan, penindasan manusia?
Pertama-tama tentunya kita harus menggunakan cara pandang Allah terhadap segala sesuatu (selalu cara pandang Allah, dan bukan cara pandang kita). Mengapa? Karena kita tidak akan pernah dapat mendapatkan pengertian yang benar yang membawa kita pada pengaminan atas apa yang Tuhan perbuat dalam kehidupan manusia. Tuhan tidak pernah melihat penderitaan dan kelemahan sebagai suatu aib, suatu yang perlu dijauhi, bahkan sesuatu yang membuat manusia tidak bahagia. Sebaliknya Ia memberi nilai positif terhadap segala hal yang manusia anggap kesialan dan segala sesuatu yang tidak menyenangkan.
Apakah nilai positif yang dimaksud di sini? Ini tentang kelimpahan! Bagi Allah kelimpahan bukanlah kekayaan, kelimpahan bukan juga kekuasan dan hormat, kelimpahan juga bukan bagaimana kita dapat memenuhi kebutuhan anak cucu kita hingga 7 turunan sekalipun. Tapi kelimpahan adalah soal sikap hati manusia. Kelimpahan tidak akan pernah dapat dinikmati oleh manusia bila manusia memiliki sikap hati yang salah.. Ia tidak akan pernah merasa cukup dalam hidup. Ia akan selalu merasa kurang dan kurang, kurang ini, kurang itu, suami saya kurang begini, isteri saya kurang begitu, anak anak saya kurang sekali dalam hal ini, orang tua saya apalagi....Hasilnya? Mengeluh! Walau hidup yang sedang dijalani sesungguhnya jauh dari yang namanya menderita, lemah dan tertindas. Karena kita tertindas oleh keinginan, cara pandang dan keangkuhan kita sendiri. Hasil terakhir kita akan merasa Allah tidak peduli terhadap hidup kita. Kita akan menyalahkan Allah yang dirasa berpangku tangan terhadap semua persoalan hidup yang kita alami.
Jadi bagaimana seharusnya? Imani Allah tidak akan pernah meninggalkan umatNya sedetikpun, segala sesuatu yang Allah izinkan terjadi dalam hidup manusia adalah untuk kebaikkan manusia itu sendiri dan bukan untuk kesenangan apalagi kepuasanNya. Dia bukan Allah macam itu. Dan tentunya milikilah sikap hati yang benar, dengan menggunakan kacamata Allah dalam melihat segala sesuatu. Maka dengan demikian anda kan melihat bahwa Allah begitu peduli akan hidup anda!
Selasa, 25 Januari 2011
Dapatkah Keselamatan Dibatalkan?
Dapatkah Keselamatan Dibatalkan?
Yohanes 10 : 28, Fil 2: 12
Tujuan dan Sasaran :
Membukakan kepada jemaat pemuda apa artinya bahwa keselamatan itu adalah pekerjaan Allah, menjelaskan juga apakah mungkin orang yang sudah diselamatkan oleh Yesus dapat meninggalkan imannya (murtad) dan juga menjelaskan apa arti bahwa keselamatan itu bersifat tetap dan permanen dalam Yohanes 10: 28
Jemaat Pemuda mengerti konsekwensi logis dari keselamatan, yaitu iman yang menghasilkan perbuatan. Karena iman tanpa perbuatan adalah mati.
Jemaat Pemuda didorong untuk memaknai dan terus mengerjakan keselamatan yang telah diterimanya.
Bila saya bertanya kepada saudara apakah keselamatan kita dapat dibatalkan ? Apa jawaban saudara DAN kenapa? Bila anda tidak dapat menjadwab pertanyaan ini maka saya ajukan pertanyaan yang paling mendasar: Apakah saudara dan saya sudah diselamatkan? Bila sudah apa buktinya? Apakah itu secarik surat baptis, surat pernyataan sidi, kartu keanggotaan gereja, atau KTP yang menyatakan bahwa kita adalah orang Kristen? Keselamatan itu bukan soal akhirat loh. Bukan juga soal masuk sorga atau masuk neraka. Keselamatan yang sejati langsung diterima, dirasakan dan dialami oleh sang penerima keselamatan. Nggak nunggu sampe Tuhan memanggil kembali ke pangkuannya. Kalo kita belum dapat menjelaskan paling tidak menceritakan bagaimana rasanya keselamatan itu jangan-jangan kita belum selamat loh! Waaahhhh...serius? Ya. Karena keselamatan adalah hal yang serius dalam kekristenan maka cara memperlakukannya juga harus serius. Ingat bahwa keselamatan kita memang diberikan Tuhan dengan Cuma-Cuma, tapi itu tidak membuatnya jadi murahan! Nah, Kalo kita tidak dapat mendefinisikan apa itu keselamatan paling tidak kita harus tahu apa saja tanda-tandanya dan syaratnya
Apa sih syarat keselamatan kita?
Ef 2:8 mengatakan: Keselamatan merupakan ANUGERAH. Apa artinya? Artinya keselamatan kita diawali oleh sebuah pemberian Allah sendiri, bukan karena kita memohon keselamatan. (nggak mungkin, manusia terlalu sombong untuk memohon keselamatan kepada Allah)
Namun anugerah yang Cuma-Cuma itu tidak dapat berlaku tanpa adanya confirmasi dari setiap kita. Mengapa? Karena Allah tidak pernah memaksakan keselamatanNya. Ia ingin kita dengan rela dan yakin menyambut keselamatan tersebut. Oleh karena itu 2 Tim 3:15 mengatakan syarat keselamatan yaitu: IMAN KEPADA KRISTUS YESUS.Iman adalah respon manusia terhadap kasih anugerah Allah. Kini, aspek apa yang utama dalam beriman? Yups, benar sekali PERCAYA.
Tentunya orang beriman dan percaya memiliki tanda-tanda (bukti yang dapat diaminkan oleh orang lain bahwa memang kita telah diselamatkan) yang berbeda dengan mereka yang tidak beriman dan tidak percaya kepada Yesus. Kalau kita tidak dapat menunjukkaan tanda-tanda atau bukti bahwa kita memang sudah diselamatkan bagaimana kita dapat membawa orang lain pada keselamatan? Nah, Kini apa tandanya? Apa buktinya.
Efesus 4:23-24 dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan hidup sebagai manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Apa artinya? Kita punya cara hidup yang baru,(kalo dulu hidup dalam percabulan sekarang hidup dalam persekutuan, kalau dulu hidup mencari eksistensi sekarang mencari jiwa, kalo hidup untuk diri sendiri, untuk mengejar kehendak dan cita-cita diri sekarang untuk mengejar dan melakukan kehendak Tuhan) cara pikir (kalo dulu liat cewek pikirannya jorok mulu, sekarang liat cewek pikirannya gimana caranya saya bisa bawa ke Tuhan, kalo dulu liat orang baru pikirannya nekting mulu, kalo sekarang liat orang baru diajak pelayanan)dengan motivasi baru yang lahir dari Roh Allah (kalo dulu melayani karena popularitas,sekarang melayani karena membalas kebaikkan Tuhan, kalo dulu melayani karena ikut pacar, sekarang pelayanan melayani sang pacar) yaitu hidup dalam kehendak, kebenaran dan kekudusan standar Allah. Dan tanda-tanda ini tidak hanya kita yang merasakannya. Tapi orang orang lain yang ada di sekitar kita juga merasakannya. Kenapa? Karena memang keselamatan kita bukanlah keselamatan pribadi tapi keselamatan komunal. Semua orang boleh dan bahkan harus merasakan keselamatan yang kita miliki.
Nahhhh, kalo dah tau tanda tandanya, sekarang cek ada nggak itu tanda tanda pada diri kita. Kalo nggak ada tanda-tanda tersebut jangan heran kita suka ragu kalo ditanya kita ini sudah selamat belum. Kalo kita sendiri ragu gimana orang lain. Bisa bisa orang lain mengklaim keselamatan kita dibatalkan sama Tuhan!
Sekarang, sebenarnya keselamatan kita bisa dibatalkan tidak sih? Yoh 10:28 mengatakan: dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Wahhhh...jangan seneng dulu. Mari kita lihat ayat2 sebelumnya, karena ayat dalam Alkitab ini tidak dapat berdiri sendiri kalau tidak bisa kacau dunia. Lihat ayat 25-27.
25 Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku. Coba perhatikan perkataan Yesus dengan seksama. kata kunci pertama dari ucapan Yesus kali ini adalah percaya. Oh saya sudah percaya kok!! Makanya saya memeluk agama Kristen. Ingat loh percaya bukan sekedar hitam di atas putih. Percaya adalah sebagian kecil dari mempercayakan diri kepada Allah. Dan mempercayakan diri artinya memberi hidup untuk diatur masa depannya, diperintah hidupnya, diutus kemanapun, kapanpun bagi siapapun, singkatnya mempercayakan diri adalah bagian dari pemberian hak kita kepada Tuhan. Memang Tuhan telah memegang hak hidup kita sebagai ciptaanNya, namun hak yang lain biasanya dimonopoli oleh kita sendiri. Dari hak mencari sekolah, pekerjaan, pasangan hidup, cara memperlakukan pasangan, memperlakukan sahabat, teman, musuh , anak-anak, orang tua. Coba perhatikan berapa banyak hak yang kita monopoli sendiri dan tidak membiarkan Tuhan ikut serta di dalamnya ?
26-27 tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku. Apa kata kunci kita kali ini? Mendengarkan suara-Ku, mengenal dan mengikut. Mendengar disini menggunakan kata akouo yang arti harafiahnya adalah mendengar dengan seksama, hingga sungguh sadar apa yang telah dikatakan, memberi telinga untuk mendengar pengajaran, mengerti dan memahami dengan benar. Alias nggak asal dengar, atau pura-pura dengar, apalagi kayanya dengar. Mengenal menggunakan kata ginoskow, yang artinya mengetahui, mencari tahu, mengenal secara dalam (sexual intercourse). Bukan hanya tau, bukan asal kenal, bukan juga asal tahu. Tapi layaknya suami mengenal isterinya dan sebaliknya. Tentunya mengenal yang seperti ini akan melahirkan suatu hubungan yang intim, karena kita sungguh2 bergaul dengan Tuhan. Mengikut (akoloutheo) yang bukan hanya berjalan dibelakang tapi menyertai, disertai, menjadi murid.
Dan bagi Domba-dombaNya tersedia hidup kekal selama-lamanya yang tidak terampas oleh siapapun.
Kini, sudahkah kita jadi dombaNya?
Yohanes 10 : 28, Fil 2: 12
Tujuan dan Sasaran :
Membukakan kepada jemaat pemuda apa artinya bahwa keselamatan itu adalah pekerjaan Allah, menjelaskan juga apakah mungkin orang yang sudah diselamatkan oleh Yesus dapat meninggalkan imannya (murtad) dan juga menjelaskan apa arti bahwa keselamatan itu bersifat tetap dan permanen dalam Yohanes 10: 28
Jemaat Pemuda mengerti konsekwensi logis dari keselamatan, yaitu iman yang menghasilkan perbuatan. Karena iman tanpa perbuatan adalah mati.
Jemaat Pemuda didorong untuk memaknai dan terus mengerjakan keselamatan yang telah diterimanya.
Bila saya bertanya kepada saudara apakah keselamatan kita dapat dibatalkan ? Apa jawaban saudara DAN kenapa? Bila anda tidak dapat menjadwab pertanyaan ini maka saya ajukan pertanyaan yang paling mendasar: Apakah saudara dan saya sudah diselamatkan? Bila sudah apa buktinya? Apakah itu secarik surat baptis, surat pernyataan sidi, kartu keanggotaan gereja, atau KTP yang menyatakan bahwa kita adalah orang Kristen? Keselamatan itu bukan soal akhirat loh. Bukan juga soal masuk sorga atau masuk neraka. Keselamatan yang sejati langsung diterima, dirasakan dan dialami oleh sang penerima keselamatan. Nggak nunggu sampe Tuhan memanggil kembali ke pangkuannya. Kalo kita belum dapat menjelaskan paling tidak menceritakan bagaimana rasanya keselamatan itu jangan-jangan kita belum selamat loh! Waaahhhh...serius? Ya. Karena keselamatan adalah hal yang serius dalam kekristenan maka cara memperlakukannya juga harus serius. Ingat bahwa keselamatan kita memang diberikan Tuhan dengan Cuma-Cuma, tapi itu tidak membuatnya jadi murahan! Nah, Kalo kita tidak dapat mendefinisikan apa itu keselamatan paling tidak kita harus tahu apa saja tanda-tandanya dan syaratnya
Apa sih syarat keselamatan kita?
Ef 2:8 mengatakan: Keselamatan merupakan ANUGERAH. Apa artinya? Artinya keselamatan kita diawali oleh sebuah pemberian Allah sendiri, bukan karena kita memohon keselamatan. (nggak mungkin, manusia terlalu sombong untuk memohon keselamatan kepada Allah)
Namun anugerah yang Cuma-Cuma itu tidak dapat berlaku tanpa adanya confirmasi dari setiap kita. Mengapa? Karena Allah tidak pernah memaksakan keselamatanNya. Ia ingin kita dengan rela dan yakin menyambut keselamatan tersebut. Oleh karena itu 2 Tim 3:15 mengatakan syarat keselamatan yaitu: IMAN KEPADA KRISTUS YESUS.Iman adalah respon manusia terhadap kasih anugerah Allah. Kini, aspek apa yang utama dalam beriman? Yups, benar sekali PERCAYA.
Tentunya orang beriman dan percaya memiliki tanda-tanda (bukti yang dapat diaminkan oleh orang lain bahwa memang kita telah diselamatkan) yang berbeda dengan mereka yang tidak beriman dan tidak percaya kepada Yesus. Kalau kita tidak dapat menunjukkaan tanda-tanda atau bukti bahwa kita memang sudah diselamatkan bagaimana kita dapat membawa orang lain pada keselamatan? Nah, Kini apa tandanya? Apa buktinya.
Efesus 4:23-24 dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan hidup sebagai manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Apa artinya? Kita punya cara hidup yang baru,(kalo dulu hidup dalam percabulan sekarang hidup dalam persekutuan, kalau dulu hidup mencari eksistensi sekarang mencari jiwa, kalo hidup untuk diri sendiri, untuk mengejar kehendak dan cita-cita diri sekarang untuk mengejar dan melakukan kehendak Tuhan) cara pikir (kalo dulu liat cewek pikirannya jorok mulu, sekarang liat cewek pikirannya gimana caranya saya bisa bawa ke Tuhan, kalo dulu liat orang baru pikirannya nekting mulu, kalo sekarang liat orang baru diajak pelayanan)dengan motivasi baru yang lahir dari Roh Allah (kalo dulu melayani karena popularitas,sekarang melayani karena membalas kebaikkan Tuhan, kalo dulu melayani karena ikut pacar, sekarang pelayanan melayani sang pacar) yaitu hidup dalam kehendak, kebenaran dan kekudusan standar Allah. Dan tanda-tanda ini tidak hanya kita yang merasakannya. Tapi orang orang lain yang ada di sekitar kita juga merasakannya. Kenapa? Karena memang keselamatan kita bukanlah keselamatan pribadi tapi keselamatan komunal. Semua orang boleh dan bahkan harus merasakan keselamatan yang kita miliki.
Nahhhh, kalo dah tau tanda tandanya, sekarang cek ada nggak itu tanda tanda pada diri kita. Kalo nggak ada tanda-tanda tersebut jangan heran kita suka ragu kalo ditanya kita ini sudah selamat belum. Kalo kita sendiri ragu gimana orang lain. Bisa bisa orang lain mengklaim keselamatan kita dibatalkan sama Tuhan!
Sekarang, sebenarnya keselamatan kita bisa dibatalkan tidak sih? Yoh 10:28 mengatakan: dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Wahhhh...jangan seneng dulu. Mari kita lihat ayat2 sebelumnya, karena ayat dalam Alkitab ini tidak dapat berdiri sendiri kalau tidak bisa kacau dunia. Lihat ayat 25-27.
25 Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku. Coba perhatikan perkataan Yesus dengan seksama. kata kunci pertama dari ucapan Yesus kali ini adalah percaya. Oh saya sudah percaya kok!! Makanya saya memeluk agama Kristen. Ingat loh percaya bukan sekedar hitam di atas putih. Percaya adalah sebagian kecil dari mempercayakan diri kepada Allah. Dan mempercayakan diri artinya memberi hidup untuk diatur masa depannya, diperintah hidupnya, diutus kemanapun, kapanpun bagi siapapun, singkatnya mempercayakan diri adalah bagian dari pemberian hak kita kepada Tuhan. Memang Tuhan telah memegang hak hidup kita sebagai ciptaanNya, namun hak yang lain biasanya dimonopoli oleh kita sendiri. Dari hak mencari sekolah, pekerjaan, pasangan hidup, cara memperlakukan pasangan, memperlakukan sahabat, teman, musuh , anak-anak, orang tua. Coba perhatikan berapa banyak hak yang kita monopoli sendiri dan tidak membiarkan Tuhan ikut serta di dalamnya ?
26-27 tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku. Apa kata kunci kita kali ini? Mendengarkan suara-Ku, mengenal dan mengikut. Mendengar disini menggunakan kata akouo yang arti harafiahnya adalah mendengar dengan seksama, hingga sungguh sadar apa yang telah dikatakan, memberi telinga untuk mendengar pengajaran, mengerti dan memahami dengan benar. Alias nggak asal dengar, atau pura-pura dengar, apalagi kayanya dengar. Mengenal menggunakan kata ginoskow, yang artinya mengetahui, mencari tahu, mengenal secara dalam (sexual intercourse). Bukan hanya tau, bukan asal kenal, bukan juga asal tahu. Tapi layaknya suami mengenal isterinya dan sebaliknya. Tentunya mengenal yang seperti ini akan melahirkan suatu hubungan yang intim, karena kita sungguh2 bergaul dengan Tuhan. Mengikut (akoloutheo) yang bukan hanya berjalan dibelakang tapi menyertai, disertai, menjadi murid.
Dan bagi Domba-dombaNya tersedia hidup kekal selama-lamanya yang tidak terampas oleh siapapun.
Kini, sudahkah kita jadi dombaNya?
Merasa Benar di Jalan Yang Salah
Merasa Benar di Jalan Yang Salah
Yoh 14:6
1 Yoh 4:1
Roma 12:2
“Teologi abu-abu” pernah mendengarnya? Ya itu judul sebuah buku yang ditulis oleh seorang hamba Tuhan yang berpendapat bahwa Teologi Abu-abu adalah posisi theologi kaum pluralis. Karena teologi yang mereka bangun merupakan integrasi dari pelbagai warna kebenaran dari semua agama, filsafat dan budaya yang ada di dunia. Alkitab dipakai hanya sebagai salah satu sumber, itupun dianggap sebagai mitos. Dari perpaduan multi kebenaran ini, lahirlah theologi abu-abu, yaitu teologi bukan hitam, bukan juga putih, bukan teologi Kristen, bukan juga theologi salah satu agama yang ada di dunia ini. Inilah teologi abu-abu yang dengan bangga ditawarkan oleh kaum pluralis, sebagai teologi yang sempurna dan sangat tepat untuk menjawab persoalan fenomena pluralitas agama dan budaya di dunia. Menurutnya,teologi ini sedang meracuni, baik agama Kristen, maupun semua agama, dengan cara mencabut dan membuang semua unsur-unsur absolut yang diklaim oleh masing-masing agama. Dia berpendapat bahwa kaum pluralis sedang bermimpi untuk mengulangi keindahan taman Eden, dan membangun kembali menara Babel (Utopia).
Kini, kita juga tidak dapat memungkiri kita hidup dalam dunia yang abu-abu, yang memutarbalikan yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Kita hidup dalam dunia yang nyaris dan bahkan telah membuat kita bertindak, berpikir seperti dunia bertindak dan berpikir. Yang baik jadi jahat, yang jahat jadi baik; yang normal jadi tidak normal dan begitu juga sebaliknya. Akhirnya membuat kita merasa benar di jalan yang salah. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?
HIDUP DALAM DUNIA MEMBUAT KITA BIASA HIDUP DENGAN CARA DUNIA. Hidup dalam dunia tanpa dipengaruhi dunia sangatlah sulit, karena untuk menjadi warga dunia kita juga harus memiliki kriteria yang tepat hingga kita dapat di terima oleh dunia. Misalnya: kita tidak akan menggunakan daster saat kita pergi ke kantor, atau menggunakan kaus singlet ketika kita memimpin rapat di perusahaan kita. Kita tidak makan batu atau biji-bijian, karena itu adalah makanan burung dan ayam bukan manusia. Apa yang terjadi bila kita melakukannya? Kita akan dianggap makhluk aneh, tidak biasa! Bahkan mungkin kita akan menjadi tikus percobaan oleh Ilmu pengetahuan.
Kuncinya adalah BIASA. Dunia berkata MENYONTEK, MENYUAP, MENYOGOK, itu biasa. Maka kita akan berlaku seperti apa yang biasa dunia lakukan. Sehingga kita dengan mudah mengatakan “Semua orang melakukannya kok! Kenapa saya tidak boleh.” Ingat bagaimana perasaan anda ketika anda pertama kali mencontek? TAKUT. Jawaban yang sama juga saya peroleh ketika saya bertanya kepada seorang gadis belia tentang perasaannya pertama kali melakukan hubungan seks di luar nikah. Takut! Tapi bagaimana perasaannya setelah dua, tiga, sepuluh bahkan lebih? Jawabannya adalah BIASA.
Orang-orang yang biasa akan jadi terbiasa. Orang orang yang terbiasa akan menjadikan dirinya tajam pada satu sisi dan tumpul pada bagian yang lain. Tapi bukankah pisau yang baik harus memiliki syarat seperti itu, tajam di satu sisi dan tumpul di sisi yang lain? Memamg benar, tapi bagaimana bila tajam dan tumpul di sisi yang salah? Dapatkah ia menjadi pisau yang baik? Atau dia hanya akan melukai dirinya sendiri. Begitulah orang-orang yang terbiasa dengan dosa. Perlahan tapi pasti ia akan menggiring dirinya kepada kematian.
Untungnya kita bukan hanya menjadi warga dunia, tapi kita dipilih dan dipanggil untuk menjadi warga kerajaan Allah. Apa dampaknya? Kita diperhadapkan dengan kriteria menjadi warga kerajaan Allah yang sama sekali berbeda dengan Kriteria yang diharapkan dunia, bahkan kriteria yang saling berlawanan satu dengan yang lain. Kini tugas kita adalah memilih! Kita akan ada di dalam dunia, tapi tidak serupa dengan dunia. Bagaimana? Apakah saya tidak disebut orang aneh nantinya?
1. Roma 12:2 “...berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Kata kunci yang pertama adalah berubahlah. Paulus menggunakan istilah Methaphor yang artinya adalah perubahan dari bentuk satu ke bentuk yang lain, namun Metafor adalah perubahan yang sama sekali berbeda dengan sekedar bentuk seperti air menjadi uap, es, atau sebaliknya. Adakah seekor kupu-kupu dapat berubah kembali ke bentuk ulat? TIDAK. Ya! Itulah perubahan yang dimaksud oleh Paulus. Perubahan yang benar2 berubah bukan karena tempat, situasi, dan kondisi. Perubahan yang 180 bukan 360 derajat. Kata kunci ke dua adalah oleh pembaharuan budimu. Paulus menggunakan kata nous yang berarti pikiran atau mind. Tahukah anda betapa bahayanya sebuah pikiran? Dari pikiran timbullah berbagai rancangan jahat. Oleh karena itu Paulus dalam 2 KOR 10:5, mengingatkan bahwa pikiran kita harus ditundukkan di dalam Kristus. Agar apa? Agar Kristus yang memegang kendali atas pikiran kita dan bukan diri kita sendiri atau iblis. Ketika Kristus sudah benar-benar menguasai pikiran kita, maka apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna menjadi pilihan kita. Lebih dari itu, ketika kita memilih apa yang salah, maka Dia sendiri yang akan menolong kita keluar dari pilihan tersebut dan kembali kepada pilihan yang tepat. Jadi berubalah oleh pembaharuan budimu artinya berubahlah dan engkau pasti berubah bila engkau telah dibaharui Kristus.
2. 1 Yoh 4:1 Ujilah tiap roh. Ujilah tiap perkataan. Ujilah tiap tindakan. Ujilah tiap pilihan...karena tidak semua perkataan, tindakan, pilihan, roh berasal dari Allah sendiri, tapi dari Nabi-nabi palsu yang pergi ke penjuru dunia. Apa tandanya anda menjawab soal ulangan dengan benar semua? Hasilnya bukan? 100, sempurna. Nah, kini Apa tandanya bahwa perkataan, tindakan, pilihan anda tepat atau benar di mata Tuhan? Hasilnya juga bukan? Hasil yang membuat diri kita dan orang lain lebih baik, lebih berkualitas, lebih meningkat dalam kasihnya, imannya, pengharapannya kepada Tuhan dan bukan kepada yang lain. Gimana caranya? Lihat buahnya!!! Kalo pohon kita adalah pohon yang baik, maka buahnya juga baik! Tapi bila pohon kita adalah pohon yang buruk maka buahnya buruk! Kini, lihat, rasakan, renungkan: apakah yang kita perbuat itu adalah sesuatu yang mendatangkan sukacita, damai, kasih, pengendalian diri...dkk (Gal 5:22)
3. Yoh 14:6. “Mengubah Tuan hidup kita dari diri kita sendiri kepada Tuhan susah...menguji tiap roh juga susah, ga bisa deh!” terlalu ambigu, terlalu rohani, susah untuk direalisasi. Yakin susah? Susah sih iyaa... tapi kalo mau ngak ada yang susah!! Yesus sudah membuktikannya dengan hidupnya. Maka dekat-dekatlah dengan Dia, bergaullah dengan Dia, teladanilah hidupNya, bacalah kesaksian hidupNya. maka tidak ada pilihan yang salah pilih lagi, tidak ada merasa benar di jalan yang salah. Kenapa karena Yesus sudah jadi cermin kita! Anytime, kita bis belajar dan bercermin pada kehidupan Yesus. Gelang WWJD, jangan Cuma dijadikan fashion!! Karena itu pengingat kita sebelum bertindak! Apa yang Yesus lakukan bila Ia berada dalam keadaan seperti saya? Belajar dariNya maka hidupmu akan menuju kepada keselamatan.
Yoh 14:6
1 Yoh 4:1
Roma 12:2
“Teologi abu-abu” pernah mendengarnya? Ya itu judul sebuah buku yang ditulis oleh seorang hamba Tuhan yang berpendapat bahwa Teologi Abu-abu adalah posisi theologi kaum pluralis. Karena teologi yang mereka bangun merupakan integrasi dari pelbagai warna kebenaran dari semua agama, filsafat dan budaya yang ada di dunia. Alkitab dipakai hanya sebagai salah satu sumber, itupun dianggap sebagai mitos. Dari perpaduan multi kebenaran ini, lahirlah theologi abu-abu, yaitu teologi bukan hitam, bukan juga putih, bukan teologi Kristen, bukan juga theologi salah satu agama yang ada di dunia ini. Inilah teologi abu-abu yang dengan bangga ditawarkan oleh kaum pluralis, sebagai teologi yang sempurna dan sangat tepat untuk menjawab persoalan fenomena pluralitas agama dan budaya di dunia. Menurutnya,teologi ini sedang meracuni, baik agama Kristen, maupun semua agama, dengan cara mencabut dan membuang semua unsur-unsur absolut yang diklaim oleh masing-masing agama. Dia berpendapat bahwa kaum pluralis sedang bermimpi untuk mengulangi keindahan taman Eden, dan membangun kembali menara Babel (Utopia).
Kini, kita juga tidak dapat memungkiri kita hidup dalam dunia yang abu-abu, yang memutarbalikan yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Kita hidup dalam dunia yang nyaris dan bahkan telah membuat kita bertindak, berpikir seperti dunia bertindak dan berpikir. Yang baik jadi jahat, yang jahat jadi baik; yang normal jadi tidak normal dan begitu juga sebaliknya. Akhirnya membuat kita merasa benar di jalan yang salah. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?
HIDUP DALAM DUNIA MEMBUAT KITA BIASA HIDUP DENGAN CARA DUNIA. Hidup dalam dunia tanpa dipengaruhi dunia sangatlah sulit, karena untuk menjadi warga dunia kita juga harus memiliki kriteria yang tepat hingga kita dapat di terima oleh dunia. Misalnya: kita tidak akan menggunakan daster saat kita pergi ke kantor, atau menggunakan kaus singlet ketika kita memimpin rapat di perusahaan kita. Kita tidak makan batu atau biji-bijian, karena itu adalah makanan burung dan ayam bukan manusia. Apa yang terjadi bila kita melakukannya? Kita akan dianggap makhluk aneh, tidak biasa! Bahkan mungkin kita akan menjadi tikus percobaan oleh Ilmu pengetahuan.
Kuncinya adalah BIASA. Dunia berkata MENYONTEK, MENYUAP, MENYOGOK, itu biasa. Maka kita akan berlaku seperti apa yang biasa dunia lakukan. Sehingga kita dengan mudah mengatakan “Semua orang melakukannya kok! Kenapa saya tidak boleh.” Ingat bagaimana perasaan anda ketika anda pertama kali mencontek? TAKUT. Jawaban yang sama juga saya peroleh ketika saya bertanya kepada seorang gadis belia tentang perasaannya pertama kali melakukan hubungan seks di luar nikah. Takut! Tapi bagaimana perasaannya setelah dua, tiga, sepuluh bahkan lebih? Jawabannya adalah BIASA.
Orang-orang yang biasa akan jadi terbiasa. Orang orang yang terbiasa akan menjadikan dirinya tajam pada satu sisi dan tumpul pada bagian yang lain. Tapi bukankah pisau yang baik harus memiliki syarat seperti itu, tajam di satu sisi dan tumpul di sisi yang lain? Memamg benar, tapi bagaimana bila tajam dan tumpul di sisi yang salah? Dapatkah ia menjadi pisau yang baik? Atau dia hanya akan melukai dirinya sendiri. Begitulah orang-orang yang terbiasa dengan dosa. Perlahan tapi pasti ia akan menggiring dirinya kepada kematian.
Untungnya kita bukan hanya menjadi warga dunia, tapi kita dipilih dan dipanggil untuk menjadi warga kerajaan Allah. Apa dampaknya? Kita diperhadapkan dengan kriteria menjadi warga kerajaan Allah yang sama sekali berbeda dengan Kriteria yang diharapkan dunia, bahkan kriteria yang saling berlawanan satu dengan yang lain. Kini tugas kita adalah memilih! Kita akan ada di dalam dunia, tapi tidak serupa dengan dunia. Bagaimana? Apakah saya tidak disebut orang aneh nantinya?
1. Roma 12:2 “...berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Kata kunci yang pertama adalah berubahlah. Paulus menggunakan istilah Methaphor yang artinya adalah perubahan dari bentuk satu ke bentuk yang lain, namun Metafor adalah perubahan yang sama sekali berbeda dengan sekedar bentuk seperti air menjadi uap, es, atau sebaliknya. Adakah seekor kupu-kupu dapat berubah kembali ke bentuk ulat? TIDAK. Ya! Itulah perubahan yang dimaksud oleh Paulus. Perubahan yang benar2 berubah bukan karena tempat, situasi, dan kondisi. Perubahan yang 180 bukan 360 derajat. Kata kunci ke dua adalah oleh pembaharuan budimu. Paulus menggunakan kata nous yang berarti pikiran atau mind. Tahukah anda betapa bahayanya sebuah pikiran? Dari pikiran timbullah berbagai rancangan jahat. Oleh karena itu Paulus dalam 2 KOR 10:5, mengingatkan bahwa pikiran kita harus ditundukkan di dalam Kristus. Agar apa? Agar Kristus yang memegang kendali atas pikiran kita dan bukan diri kita sendiri atau iblis. Ketika Kristus sudah benar-benar menguasai pikiran kita, maka apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna menjadi pilihan kita. Lebih dari itu, ketika kita memilih apa yang salah, maka Dia sendiri yang akan menolong kita keluar dari pilihan tersebut dan kembali kepada pilihan yang tepat. Jadi berubalah oleh pembaharuan budimu artinya berubahlah dan engkau pasti berubah bila engkau telah dibaharui Kristus.
2. 1 Yoh 4:1 Ujilah tiap roh. Ujilah tiap perkataan. Ujilah tiap tindakan. Ujilah tiap pilihan...karena tidak semua perkataan, tindakan, pilihan, roh berasal dari Allah sendiri, tapi dari Nabi-nabi palsu yang pergi ke penjuru dunia. Apa tandanya anda menjawab soal ulangan dengan benar semua? Hasilnya bukan? 100, sempurna. Nah, kini Apa tandanya bahwa perkataan, tindakan, pilihan anda tepat atau benar di mata Tuhan? Hasilnya juga bukan? Hasil yang membuat diri kita dan orang lain lebih baik, lebih berkualitas, lebih meningkat dalam kasihnya, imannya, pengharapannya kepada Tuhan dan bukan kepada yang lain. Gimana caranya? Lihat buahnya!!! Kalo pohon kita adalah pohon yang baik, maka buahnya juga baik! Tapi bila pohon kita adalah pohon yang buruk maka buahnya buruk! Kini, lihat, rasakan, renungkan: apakah yang kita perbuat itu adalah sesuatu yang mendatangkan sukacita, damai, kasih, pengendalian diri...dkk (Gal 5:22)
3. Yoh 14:6. “Mengubah Tuan hidup kita dari diri kita sendiri kepada Tuhan susah...menguji tiap roh juga susah, ga bisa deh!” terlalu ambigu, terlalu rohani, susah untuk direalisasi. Yakin susah? Susah sih iyaa... tapi kalo mau ngak ada yang susah!! Yesus sudah membuktikannya dengan hidupnya. Maka dekat-dekatlah dengan Dia, bergaullah dengan Dia, teladanilah hidupNya, bacalah kesaksian hidupNya. maka tidak ada pilihan yang salah pilih lagi, tidak ada merasa benar di jalan yang salah. Kenapa karena Yesus sudah jadi cermin kita! Anytime, kita bis belajar dan bercermin pada kehidupan Yesus. Gelang WWJD, jangan Cuma dijadikan fashion!! Karena itu pengingat kita sebelum bertindak! Apa yang Yesus lakukan bila Ia berada dalam keadaan seperti saya? Belajar dariNya maka hidupmu akan menuju kepada keselamatan.
Label:
Hidup,
Iman,
Keselamatan,
Pelayanan
Kuasailah Dirimu dan Jadilah Tenang
Kuasailah Dirimu dan Jadilah Tenang
1 Petrus 4: 7
Mudahkah untuk menguasai diri dan menjadi tenang itu? Pasti banyak dari kita yang mengatakan sulit! Di jaman yang ‘panas’ini, orang-orang lebih mudah untuk menjadi panas dan tidak terkontrol, ketimbang tetap tenang dan berpikiran dingin. Pertanyaannya mengapa hal tersebut dapat terjadi? Tentunya bukan karena bumi sedang mengalami pemanasan global atau yang sering kita sebut sebagai Global Warming, tapi karena dunia sedang berada dalam kondisi Global Warning!
Apa maksud global warning disini? Dunia kita, perlahan tapi pasti akan menghadapi apa yang disebut dengan The End Of The World, Kiamat, Akhir Jaman, Harmagedon, Hari Penghakiman, Jaman Baru, atau apalah sebuatannya. Tanda bahaya dimana-mana mulai tampak. Bila Firman Tuhan mengingatkan bahwa di jaman akhir ini akan semakin banyak pengajar sesat dan nabi palsu, makin banyak orang yang tidak takut pada Tuhan, banyak juga manusia yang murtad, yang mulai meninggalkan Tuhannya untuk mencari tuhan lain, baik itu rasio, ilmu pengetahuan hingga ilmu gaib. kejahatan merajalela, bencana alam dan peperangan terjadi di seluruh dunia. Hasilnya ? dunia dilanda ketakutan masal!! Coba? Siapa yang tidak takut kalau begitu?
Ya!! Memang kondisi yang dunia alami membuat kita jadi takut, kuatir. Itu benar dan alamiah. Apalagi bila kita menyaksikan apa yang ditawarkan oleh media massa: ancaman “ Ditemukan jejak UFO di Sleman.” “Banjir bandang melanda Brisbane, menghanyutkan ratusan orang, mobil dan rumah.” Semua orang merasa terancam! Oleh karena itu mereka hidup dalam ketidaktenangan, ketakutan dan kekuatiran yang berlebihan bahkan mengikat kehidupan mereka. Manusia dipaksa untuk melihat apa yang terjadi di dalam dunia, sekarang, hari ini. Mereka dipaksa untuk melihat apa yang ada di depan mata beserta seluruh dampaknya bagi kehidupan manusia. Itulah yang membuat manusia hidup dipenuhi ketakutan dari yang wajar hingga tidak wajar.
Kini kalau dunia yang penuh ancaman ini membuat kita hidup dalam ketakutan, bagaimana kita dapat menjadi tenang? Apakah benar hidup kita berada dalam ancaman yang mematikan, yang tidak dapat kita hadapi dan kita kendalikan?
Eitsss!!! Tunggu dulu!! Adakah perkara yang tidak dapat kita hadapi bersama Tuhan? TIDAK bukan! Begitu juga ancaman hidup, kematian , akhir jaman, UFO sekalipun. Tidak ada satupun kekuatan yang dapat mengungguli dan melampaui kekuatan dan kuasa Tuhan. Firman Tuhan telah menyatakan dan membuktikannya kepada kita. Namun mengapa kita masih kuatir? Jawabannya: bukan perkaranya, persoalannya, ancamannya yang terlalu besar, tapi hati kita terlalu kecil untuk menghadapinya. Kita tidak dapat mengendalikan diri kita, pikiran kita, hati kita alih alih hidup,hingga keputusan kita dikendalikan oleh situasi, kondisi, termasuk oleh apa kata orang!
Nah kini bagaimana cara kita mengendalikan dan menguasai diri hingga kita tidak takluk terhadap ancaman dunia?
1. Kenali kuasa yang kita miliki sebagai orang percaya. Banyak dari kita sering berkata saya tidak bisa. Tahukah ketika kita mengatakan TIDAK BISA, kita sedang menutup banyak pintu bahkan mungkin seluruh pintu bagi kuasa Tuhan yang sudah diberikan kepada kita untuk bekerja! Luk 10: 19 “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.” Kita tahu bahwa kita bisa, tentunya bukan karena diri kita sendiri, tapi karena Tuhan yang memberikannya kepada kita. Sadarkah kita bahwa pemberian Tuhan adalah pemberian terbaik sehingga tidak ada yang dapat menandingi atau lebih baik dari pemberianNya tersebut. Konsekuwensinya adalah: Kuasa yang diberikanNya pasti MANJUR!! Dan bila kita memang sungguh-sungguh menggunakanNya , maka seperti yang telah diFirmnakanNya: tidak ada yang akan membahayakan kita! Tentu bukan berarti kita menjadi kebal terhadap segala penderitaan, bencana, kejahatan yang mungkin datang dalam hidup kita. Tapi kita akan tetap dapat selamat dari bahaya godaan, pikiran negatif, bisikkan, umpan, dakwaan dari IBLIS yang membuat kita kalah,lemah, jatuh, tidak berdaya dalam ketakutan dan kekuatiran kita!!
2. Pikirkan apa yang pantas, bukan apa yang tidak pantas. Roma 12:3 “ Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” Berapa banyak kita yang pikirannya suka melampaui apa yang pantas kita pikirkan sebagai manusia. Ini tidak ada hubungannya dengan cita-cita setinggi langit loh! Lalu apa yang tidak pantas? Bila kita mulai ‘bernubuat’ atas apa yang anda tidak inginkan: nanti kalau... nanti anak saya kecelakaan naik motor gimana? Nanti kalau suami saya selingkuh, saya gimana? Nanti kalau saya mati muda gimana? Kalau rumah saya kena tsunami gimana? Nanti kalau hidup saya tidak bahagia setelah saya menikah bagaimana? Nanti kalau saya tidak dapat punya anak bagaimana? Kalau..kalau..kalau.... Kita sering kali berfokus terhadap apa yang tidak bisa kita hadapi. Mengapa kita tidak mengubah cara pandang kita dengan berfokus pada janji Allah, Firman Allah, dan iman kepada Allah. Oleh karena itu Rasul Paulus menekankan “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Fil 4:8
3. Biarkan Tuhan yang pegang kendali. Yakobus 3: 3-4 “3 Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi.” “Bagaimana bisa kita dapat mengendalikan diri dengan kekuatan kita sendiri?” memang tidak bisa! Kita tidak akan pernah dapat mengendalikan diri dengan baik hanya dengan kekuatan kita sendiri. Oleh karena itu biarlah Dia yang empunya kuasa dan kendali dalam hidup kita mengendalikan kita sepenuhnya. Hingga walau kerasnya hidup menerpa kita akan tetap ada pada jalur yang tepat!
4. Kuasailah dirimu! 1 Petrus 4: 7 Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. Bila Tuhan sudah pegang kendali, apa yang harus kita lakukan. Tokh kita bukan robot yang sekali dikendalikan, diprogram semuanya akan beres! Petrus tetap mengatakan bahwa kita harus menguasai diri kita. Bagaimana? Kata kuasailah (Sophroneo)dalam 1 petrus 4: 7 memiliki arti tidak hanya kuasai, namun juga melatihnya. Melatihnya tunduk dalam kuasa Allah, melatihnya berada dalam Firman Allah, melatihnya untuk menjadi sesuai dengan kehendak Allah, melatihnya agar dapat berfungsi sebagaimana yang Allah inginkan, yaitu agar kita senantiasa dapat berkomuniakasi dan bergaul dengan Allah melalui doa.
Tenang bukanlah barang langka bagi anak-anak Allah. karena di dalam Allah ketenangan adalah hal yang sangat lumrah, yang dapat diperoleh oleh setiap orang yang sungguh tinggal di dalam Allah
1 Petrus 4: 7
Mudahkah untuk menguasai diri dan menjadi tenang itu? Pasti banyak dari kita yang mengatakan sulit! Di jaman yang ‘panas’ini, orang-orang lebih mudah untuk menjadi panas dan tidak terkontrol, ketimbang tetap tenang dan berpikiran dingin. Pertanyaannya mengapa hal tersebut dapat terjadi? Tentunya bukan karena bumi sedang mengalami pemanasan global atau yang sering kita sebut sebagai Global Warming, tapi karena dunia sedang berada dalam kondisi Global Warning!
Apa maksud global warning disini? Dunia kita, perlahan tapi pasti akan menghadapi apa yang disebut dengan The End Of The World, Kiamat, Akhir Jaman, Harmagedon, Hari Penghakiman, Jaman Baru, atau apalah sebuatannya. Tanda bahaya dimana-mana mulai tampak. Bila Firman Tuhan mengingatkan bahwa di jaman akhir ini akan semakin banyak pengajar sesat dan nabi palsu, makin banyak orang yang tidak takut pada Tuhan, banyak juga manusia yang murtad, yang mulai meninggalkan Tuhannya untuk mencari tuhan lain, baik itu rasio, ilmu pengetahuan hingga ilmu gaib. kejahatan merajalela, bencana alam dan peperangan terjadi di seluruh dunia. Hasilnya ? dunia dilanda ketakutan masal!! Coba? Siapa yang tidak takut kalau begitu?
Ya!! Memang kondisi yang dunia alami membuat kita jadi takut, kuatir. Itu benar dan alamiah. Apalagi bila kita menyaksikan apa yang ditawarkan oleh media massa: ancaman “ Ditemukan jejak UFO di Sleman.” “Banjir bandang melanda Brisbane, menghanyutkan ratusan orang, mobil dan rumah.” Semua orang merasa terancam! Oleh karena itu mereka hidup dalam ketidaktenangan, ketakutan dan kekuatiran yang berlebihan bahkan mengikat kehidupan mereka. Manusia dipaksa untuk melihat apa yang terjadi di dalam dunia, sekarang, hari ini. Mereka dipaksa untuk melihat apa yang ada di depan mata beserta seluruh dampaknya bagi kehidupan manusia. Itulah yang membuat manusia hidup dipenuhi ketakutan dari yang wajar hingga tidak wajar.
Kini kalau dunia yang penuh ancaman ini membuat kita hidup dalam ketakutan, bagaimana kita dapat menjadi tenang? Apakah benar hidup kita berada dalam ancaman yang mematikan, yang tidak dapat kita hadapi dan kita kendalikan?
Eitsss!!! Tunggu dulu!! Adakah perkara yang tidak dapat kita hadapi bersama Tuhan? TIDAK bukan! Begitu juga ancaman hidup, kematian , akhir jaman, UFO sekalipun. Tidak ada satupun kekuatan yang dapat mengungguli dan melampaui kekuatan dan kuasa Tuhan. Firman Tuhan telah menyatakan dan membuktikannya kepada kita. Namun mengapa kita masih kuatir? Jawabannya: bukan perkaranya, persoalannya, ancamannya yang terlalu besar, tapi hati kita terlalu kecil untuk menghadapinya. Kita tidak dapat mengendalikan diri kita, pikiran kita, hati kita alih alih hidup,hingga keputusan kita dikendalikan oleh situasi, kondisi, termasuk oleh apa kata orang!
Nah kini bagaimana cara kita mengendalikan dan menguasai diri hingga kita tidak takluk terhadap ancaman dunia?
1. Kenali kuasa yang kita miliki sebagai orang percaya. Banyak dari kita sering berkata saya tidak bisa. Tahukah ketika kita mengatakan TIDAK BISA, kita sedang menutup banyak pintu bahkan mungkin seluruh pintu bagi kuasa Tuhan yang sudah diberikan kepada kita untuk bekerja! Luk 10: 19 “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.” Kita tahu bahwa kita bisa, tentunya bukan karena diri kita sendiri, tapi karena Tuhan yang memberikannya kepada kita. Sadarkah kita bahwa pemberian Tuhan adalah pemberian terbaik sehingga tidak ada yang dapat menandingi atau lebih baik dari pemberianNya tersebut. Konsekuwensinya adalah: Kuasa yang diberikanNya pasti MANJUR!! Dan bila kita memang sungguh-sungguh menggunakanNya , maka seperti yang telah diFirmnakanNya: tidak ada yang akan membahayakan kita! Tentu bukan berarti kita menjadi kebal terhadap segala penderitaan, bencana, kejahatan yang mungkin datang dalam hidup kita. Tapi kita akan tetap dapat selamat dari bahaya godaan, pikiran negatif, bisikkan, umpan, dakwaan dari IBLIS yang membuat kita kalah,lemah, jatuh, tidak berdaya dalam ketakutan dan kekuatiran kita!!
2. Pikirkan apa yang pantas, bukan apa yang tidak pantas. Roma 12:3 “ Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” Berapa banyak kita yang pikirannya suka melampaui apa yang pantas kita pikirkan sebagai manusia. Ini tidak ada hubungannya dengan cita-cita setinggi langit loh! Lalu apa yang tidak pantas? Bila kita mulai ‘bernubuat’ atas apa yang anda tidak inginkan: nanti kalau... nanti anak saya kecelakaan naik motor gimana? Nanti kalau suami saya selingkuh, saya gimana? Nanti kalau saya mati muda gimana? Kalau rumah saya kena tsunami gimana? Nanti kalau hidup saya tidak bahagia setelah saya menikah bagaimana? Nanti kalau saya tidak dapat punya anak bagaimana? Kalau..kalau..kalau.... Kita sering kali berfokus terhadap apa yang tidak bisa kita hadapi. Mengapa kita tidak mengubah cara pandang kita dengan berfokus pada janji Allah, Firman Allah, dan iman kepada Allah. Oleh karena itu Rasul Paulus menekankan “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Fil 4:8
3. Biarkan Tuhan yang pegang kendali. Yakobus 3: 3-4 “3 Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi.” “Bagaimana bisa kita dapat mengendalikan diri dengan kekuatan kita sendiri?” memang tidak bisa! Kita tidak akan pernah dapat mengendalikan diri dengan baik hanya dengan kekuatan kita sendiri. Oleh karena itu biarlah Dia yang empunya kuasa dan kendali dalam hidup kita mengendalikan kita sepenuhnya. Hingga walau kerasnya hidup menerpa kita akan tetap ada pada jalur yang tepat!
4. Kuasailah dirimu! 1 Petrus 4: 7 Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. Bila Tuhan sudah pegang kendali, apa yang harus kita lakukan. Tokh kita bukan robot yang sekali dikendalikan, diprogram semuanya akan beres! Petrus tetap mengatakan bahwa kita harus menguasai diri kita. Bagaimana? Kata kuasailah (Sophroneo)dalam 1 petrus 4: 7 memiliki arti tidak hanya kuasai, namun juga melatihnya. Melatihnya tunduk dalam kuasa Allah, melatihnya berada dalam Firman Allah, melatihnya untuk menjadi sesuai dengan kehendak Allah, melatihnya agar dapat berfungsi sebagaimana yang Allah inginkan, yaitu agar kita senantiasa dapat berkomuniakasi dan bergaul dengan Allah melalui doa.
Tenang bukanlah barang langka bagi anak-anak Allah. karena di dalam Allah ketenangan adalah hal yang sangat lumrah, yang dapat diperoleh oleh setiap orang yang sungguh tinggal di dalam Allah
Langganan:
Postingan (Atom)