Kejadian 18:1-10a
Maz 15
Kolose 1: 15-28
Lukas 10:38-42
“Melayani? cape ah!!” kata seorang anak remaja kepada saya beberapa waktu yang lalu. “loh kenapa, kok gitu?” “Iya,pelayanan itu buat kita ga bisa main sama teman, buat kita harus banyak berkorban, buat kita ga bisa punya waktu banyak untuk diri sendiri...banyak deh kak.” Tuturnya kepada saya.
Banyak orang Kristen memandang pelayanan sebagai sesuatu yang melelahkan, menyita waktu, membuang tenaga pikiran, merugikan baik secara materil, dan lain sebagainya. Apakah benar pelayanan menjadi sesuatu yang sangat merugikan manusia? Tergantung...tergantung kita menilai dan memahami sebuah pelayanan yang kita lakukan. Kita akan selalu merasa pelayanan sebagai sesuatu yang memberatkan bila kita melihat pelayanan adalah sebuah kewajiban yang harus kita lakukan demi mendapatkan keselamatan kekal.
Pelayanan yang kita lakukan bukanlah suatu kewajiban. Tuhan tidak pernah mewajibkan kita untuk melayani Dia. Dia memanggil kita, dan bukan mewajibkan kita. Kita diperkenankan untuk menjawab ya atau tidak terhadap pelayanan yang Tuhan tawarkan. Oleh karena itu pelayanan, merupakan jawaban dari kerelaan kita. Bila rela saja tidak, bagaimana dapat melayani dengan sukacita? Kerelaan adalah dasar dari sukacita yang tidak terkondisi. Ketika kita mulai memberi diri, rela untuk dipakai, rela untuk memberi, rela untuk melakukan hal yang dianggap berat oleh kebanyakan manusia, kita akan menemukan diri kita yang mampu mengatasi segala kesulitan terberar sekalipun dalam hidup dengan tetap mengucap syukur kepada Tuhan.
Jadi, Melayani itu apa sih? Ada yang mengatakan bahwa melayani berarti membantu menyiapkan, mengurus apa yang dibutuhkan seseorang. Dapat dikatakan melayani, secara hakekat adalah suatu kegiatan yang memang diperuntukkan untuk orang lain, untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan orang lain. Lalu kini apa bedanya dengan pelayanan?pelayanan ternyata memiliki makna yang sedikit berbeda. Dimananakah perbedaannya? Perbedaannya adalah bahwa pelayanan adalah suatu kegiatan atau usaha melayani orang lain dengan memperoleh imbalan, atau yang biasa kita sebut dengan jasa.
Bukanlah sesuatu kekeliruan bila kita, sebagai pelayan yang memberikan pelayanan di gereja, rumah hingga masyarakat memilih untuk memberikan pelayanan dengan mengharapkan imbalan, karena memang itulah arti pelayanan menurut KBBI. Tapi tentunya, itu bukanlah arti pelayanan menurut Kekristenan. Lalu apa arti pelayanan yang dilakukan dalam kerelaan dan sukacita menurut bacaan kita hari ini?
Dalam kisah pertama kita pelayanan yang dilakukan Abraham kepada 3 orang utusan Allah adalah pelayanan yang dilakukan dengan penuh inisiatif. Banyak orang kristen, yang menyatakan diri sebagai pelayan Tuhan, mengumbar hal manis di depan orang lain yang dilayaninya, namun menusuk mereka dari belakang. Mari kita renungkan berapa banyak orang Kristen, termasuk kita yang mengumbar janji di depan dan melanggarnya dengan mencari pembenaran atas diri sendiri. “oh iya tenang saja, nanti saya akan bantu ko, pasti beres, nanti saya pasti akan mengerjakannya. Tenang saja, jangan kuatir, ada saya kok, nanti saya yang akan menyampaikan kok!” namun apa yang dikatakannya itu tidak pernah diwujudkan, alih alih meminta maaf atas pelanggaran janji yang dilakukan, malah mengatakan “Yah saya tidak tahu sih apa yang harus saya lakukan, saya kan orang baru di sini. Aduh maaf saya kan sibuk, jadi belum sempat mengerjakan.” Abraham bukanlah orang yang suka mengumbar janji dan bersungut2 dalam menjalankan janjinya. Apa yang ia katakan sebagai bentuk inisiatif yang tulus (dan bukan hanya untuk menjilat), dilakukannya hal tersebut itu dengan sebaik2nya, bahkan terbaik, walaupun sesungguhnya ia bisa melakukannya dengan berat hati dan akhirnya memberi yang sekedarnya. (Kej 18: 6-8) Jadi bagi Abraham, pelayanan tidak dilihat dari berapa banyak yang ia berikan kepada orang yang dilayaninya, namun seberapa ia mampu memberikan bukan hanya yang baik tapi yang terbaik bagi orang2 yang dilayaninya, dengan penuh kerelaan dan sukacita.
Bagaimana dengan kisah Maria? Apa arti pelayanan bagi seorang Maria? Maria melayani Tuhan bukan dengan kesibukan, bukan dengan kreativitas yang tinggi, dengan kerja keras yang nampak, seperti kebanyakan manusia memahami pelayanan. Tapi yang dilakukan Maria lebih dari itu semua, yaitu ketika ia meletakkan, mengarahkan dan memberikan hatinya kepada Tuhan. “ Bagaimana dan dengan apa seharusnya seorang pelayan Tuhan melayani Tuhan dan sesama?” Ketika pertanyaan itu saya lontarkan kepada seorang rekan mahasiswa Teologi apa kira2 jawaban yang ia berikan? “pake tangan lah kak...pakai apa lagi?” Saya tersentak mendengar jawaban itu, walau jawaban itu adalah jawaban yang sangat manusiawi,... sangat normal! Namun Apa yang normal dan manusiawi menurut manusia, belum tentu normal menurut pandangan Allah. Saya memiliki teman yang tidak memiliki tangan yang sempurna, ia adalah seorang sarjana komputer lulusan Universitas Indonesia. Ia juga seorang Master Ministry dari STT Jakarta, dan juga seorang Sarjana Sains Teologi dari seminari yang sama. Ia ditolak untuk menjadi pengerja dengan alasan ia tidak punya tangan yang sempurna, lalu bagaiaman nanti ia mengenakan jubah kebesaran seorang pendeta? Bagaimana ia dapat menggunakan jas paling tidak dan melakukan penyerahan alkitab di bawah mimbar? Apakah seseorang yang tidak memiliki tangan tidak dapat melayani Tuhan? Atau adakah seseorang yang tidak memiliki kompetensi, yang dianggap oleh banyak manusia sebagai syarat untuk melayani, tidak dapat melayani ? Maria tidak memberikan apapun yang menurut manusia berharga untuk diberikan kepada Allah, tapi ia memiliki hati yang bersih, yang murni dan tulus, yang ia berikan khusus kepada Allahnya. Sadarkah kita, bahwa kita tidak akan penah dapat melayani Tuhan dan sesama dengan sukacita, tanpa kerelaan memberi hati untuk diisi, dipenuhi oleh Tuhan sendiri. Maria dengan penuh kerelaan dan sukacita memberi dirinya yang utuh kepada Tuhan bukan hanya sekedar mencari pengakuan dan pujian dari orang lain, yang mengatakan betapa hebatnya dia dapat melakukan ini dan itu.
Yesus, bagaimana Yesus dapat menjalankan pelayanan dengan sukacita, tanpa keterpaksaan, tanpa gerutu dan kemarahan kepada BapaNya yang membiarkanNya mati di tangan orang-orang berdosa? “Oh karena Dia Tuhan.. makanya Ia bisa melakukan itu semua!!” biasanya menjadi alasan kita untuk tidak melakukan hal yang sama bagi Tuhan dan sesama. Apakah itu alasan yang tepat untuk menilai pelayanan Yesus yang dilakukannya dengan penuh sukacita dan kerelaan? Saya rasa itu adalah alasan yang kurang tepat, karena walaupun Yesus adalah Allah 100 % Dia juga adalah Manusia 100% dan tidak ada dari kita yang menyangkal kemanusiaanNya bukan? Tapi mengapa Ia bisa? Karena ia adalah seorang pengikut Allah yang dewasa dan matang.
Manusia yang dikatakan dewasa adalah manusia yang hidupnya tidak berorientasi pada dirinya sendiri tapi pada orang lain dan tanpa membeda2kan satu dengan yang lain.
Manusia yang tidak hanya tahu apa yang terbaik bagi dirinya, namun juga tahu yang terbaik bagi orang lain serta rela memberi yang terbaik bagi orang lain tersebut.
Manusia yang rela mengakui kelebihan orang lain dan menjadikannya sesuatu yang memperkaya dirinya dan bukan mengancam eksistensinya dan mampu bersukacita atas keberhasilan orang lain.
Manusia yang rela memberi dan memperkaya dunia karena itulah bentuk sukacita yang dimilikinya, bukan hanya meminta dunia memenuhi dan memperkaya hidupnya.
Rabu, 21 Juli 2010
Rabu, 30 Juni 2010
Firman Tuhan dan Keberuntungan
Ulangan 30: 9-14
Maz 25: 1-11
Kolose 1:1-14
Lukas 10: 25-37
Siapa dari kita yang tiak ingin hidup beruntung? Setiap kita ingin hidup beruntung, kalau bisa beruntung selama-lamanya. Namun apa saja sih yang dapat kita kategorikan sebagai keberuntungan? Apakah ketika kita tidak pernah mendapat kemalangan, apakah ketika apa yang kita doakan diberi, atau apakah ketika hidup kita senang terus? Itukah yang kita sebut sebagai keberuntungan? Wahhh kalau begitu berarti orang Kristen adalah orang yang kerap kali tidak beruntung ya! Loh kok bisa? Lah iya toh jadi orang Kristen itu kan tidak selalu mujur, bahkan Yesus mengajak setiap pengikutNya untuk mengikut salib. Mengikut salib itu berat, menderita, ngak enak..... Lalu doa orang Kristen juga tidak selalu dijawab Ya oleh Tuhan, terkadang Ia menjawabnya dengan Tunggu, atau bahkan Tidak sama sekali. Orang Kristen juga tidak dapat hidup senang terus, apalagi di Indonesia, untuk beribadah saja dipersulit, untuk bangun gereja...? apalagi!
Lha kalo begitu, tema kita hari ini jauh dari relevan dong?? Tergantung ! Lha kok tergantung? Ya tergantung bagaimana kita melihat keberuntungan. Kita tidak mungkin dapat merasakan ‘keberuntungan’ yang diberi oleh Allah dengan cara pandang dunia dalam melihat keberuntungan. Apakah Petrus dapat dikatakan beruntung? Bagi kita mungkin tidak, bagaimana tidak Ia harus mati dengan cara yang sangat tidak manusiawi. Apakah Paulus beruntung? Tidak juga ia haru menerima penolakkan dari rekan2nya dahulu sesama pemegang Taurat. Apakah Yesus beruntung? Lha bagaimana mati di kayu salib dengan tubuh penuh sayatan akibat cambukkan dapat dikatakan beruntung? Mungkin, bila kita yang mengalaminya, kita akan mengatakan itu adalah suatu kemalangan yang teramat amat sangat. Kini, bagaimana Firman Tuhan dapat membawa suatu keberuntungan bagi mereka, dan juga bagi kita?
1. Keberuntungan dari Allah berjalan seiring ketaatan. Dalam keadaan bagaimana saudara menginginkan keberuntungan datang kepada anda? Dalam keadaan bahagia, atau dalam keadaan susah? Kalau saya, saya akan mengharapkan keberuntungan datang ketika saya berada dalam batas kekuatan kita. Dengan begitu keberuntungan akan menjadi sesuatu yang amat disyukuri. Seseorang yang mendapatkan sekotak nasi lengkap dengan lauk pauk dan sayur secara gratis, akan merasa lebih bersyukur ketika selama seharian itu ia belum makan apa-apa karena tidak punya uang, ketimbang ketika ia mendapatkannya setelah ia kenyang makan dari apa yang dapat dibelinya sendiri. Nah, kini, mudahkah kita untuk menjadi manusia yang taat? Mana yang akan anda sebut sebagai seseorang yang beruntung, seseorang yang mendapat promosi jabatan karena integritasnya mempertahankan kejujuran di tengah penderitaannya karena ketaatannya kepada Tuhan, ataukah seseorang yang mengalami kesenangan duniawi karena ia menyuap atasannya? Keluaran 30: 10, menjadi jaminan bagi kita yang mau mendengar suara Tuhan, pertama-tama. Berpegang pada perintah dan ketetapan yang kedua, dan dengan segenap hati dan jiwa, yang ketiga. Mana yang lebih mudah?
- Mendengar. Banyak orang mengira bahwa mendengarkan adalah hal yang mudah, ternyata tidak demikian adanya. Mendengar adalah sebuah proses yang memadukan beberapa aktivitas secara bersamaan. Apa saja aktivitas itu? Yang pertama adalah menerima. Seseorang tidak akan pernah mendengar bila ia tidak mau menerima lawan bicaranya untuk memasuki alam pikiran dan persepsinya. Kedua, memahami dan menilai. Mendengar tanpa memahami akan berubah menajdi terdengar, atau sekilas kedengaran. Dalam mendengar kita perlu memahami lawan bicara kita hingga kita dapat terlibat suatu empati atau simpati bersamanya, dan mampu memberikan baik itu sekedar komentar, masukkan, pujian atau apapun, yang menyatakan bahwa kita memang mendengar dan menilai apa yang telah kita dengar. Ketiga, mengingat dan membalas. Apa bukti bahwa kita mendengar perintah orang tua kita? Biasanya mereka akan mengatakan bila kamu mengingat dan melakukanya. Jadi bila kita tidak melakukannya, maka orang tua kita akan terus berbicara hal yang sama kepada kita agar kita mengingat dan melakukanya.
- Berpegang pada ketetapan dan perintah. “peraturan dibuat untuk dilanggar” bagi banyak orang ungkapan ini adalah ungkapan yang biasa dan tanpa makna. Tapi sadarkah kita bahwa sesungguhnya ketetapan dan perintah dibuat untuk mengatur hidup kita menjadi lebih baik, lebih maju, lebih berkualitas. Memang banyak perintah dan ketetapan di dunia ini yang tidak membuat orang menjadi lebih baik, maju dan berkualitas, namun hari ini kita tidak berbicara tentang ketetapan dan perintah ala dunia, tapi ketetapan dan perintah ala sorgawi. Inilah yang seharusnya membuat respon yang berbeda. Ketetapan sorgawi dibuat Allah untuk menjadikan manusia semakin serupa dan segambar denganNya. Perintah sorgawi dibuat untuk memampukan manusia untuk membuktikan gambar Allah dalam dirinya, yaitu agar hidup kita layak di hadapan Tuhan dalam segala hal, (bukan hanya ketika kita berada dan melayani di gereja), bertumbuh dalam segala pengetahuan yang benar akan Allah dan menghasilkan buah yang baik yang dapat dinikmati oleh orang lain yang ada di sekitar kita. (Kol 1:10)
- Dengan segenap hati dan jiwa. Hati dan jiwa disini bukan hanya sekedar bahasa sentimentil semata, tapi suatu ungkapan yang dalam bagi tradisi Yahudi. Hati (lev) merupakan pusat kehidupan bagi orang Yahudi. Seseorang yang berpegang dan menjalankan perintah Tuhan dengan segenap hati akan menjadikan Tuhan sebagai sumber dan pusat hidupnya. Jiwa juga memiliki makna bukan sekedar nyawa tapi hidup yang holistik (utuh) Seseorang yang menjalankan perintah Tuhan dengan segenap jiwa berarti menjalankannya dalam seluruh hidupnya, sementara ia masih dapat bernafas. Bukan sekedar berbicara, atau memberikan pengakuan tapi membuktikannya lewat setiap hari, aktivitas, perkataan dan perbuatannya.
- Dengan segenap kekuatan dan akal budi. Berapa banyak usaha yang kita beri untuk melakukan kehendak Allah, dan berapa banyak akal budi yang kita gunakan, paling tidak untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kita sebagai manusia lebih suka memakai kekuatan kita untuk hal yang lain, misalnya untuk bersenang2, berjalan, jalan, hingga untuk bertengkar dengan anggota keluarga kita. Begitu juga dengan akal budi, berapa banyak dari kita mengunakan akal budi untuk mengerjakan hal2 yang tidak berkenan, misalnya, bagi anak remaja, bagaimana caranya dapat menyontek tanpa ketahuan guru, bagaimana bisa menyogok atasan tanpa ketahuan rekan kerja...dan lain sebagainya. Seorang yang menaati allah dengan kekuatan dan akal budinya akan mengerahkan diri, dan segala yang ada padanya untuk sungguh terarah kepadanya. Mengakali keinginan dagingnya, dan mencari jalan sebanyak mungkin agar dapat menaatI Allah lebih lagi.
Maz 25: 1-11
Kolose 1:1-14
Lukas 10: 25-37
Siapa dari kita yang tiak ingin hidup beruntung? Setiap kita ingin hidup beruntung, kalau bisa beruntung selama-lamanya. Namun apa saja sih yang dapat kita kategorikan sebagai keberuntungan? Apakah ketika kita tidak pernah mendapat kemalangan, apakah ketika apa yang kita doakan diberi, atau apakah ketika hidup kita senang terus? Itukah yang kita sebut sebagai keberuntungan? Wahhh kalau begitu berarti orang Kristen adalah orang yang kerap kali tidak beruntung ya! Loh kok bisa? Lah iya toh jadi orang Kristen itu kan tidak selalu mujur, bahkan Yesus mengajak setiap pengikutNya untuk mengikut salib. Mengikut salib itu berat, menderita, ngak enak..... Lalu doa orang Kristen juga tidak selalu dijawab Ya oleh Tuhan, terkadang Ia menjawabnya dengan Tunggu, atau bahkan Tidak sama sekali. Orang Kristen juga tidak dapat hidup senang terus, apalagi di Indonesia, untuk beribadah saja dipersulit, untuk bangun gereja...? apalagi!
Lha kalo begitu, tema kita hari ini jauh dari relevan dong?? Tergantung ! Lha kok tergantung? Ya tergantung bagaimana kita melihat keberuntungan. Kita tidak mungkin dapat merasakan ‘keberuntungan’ yang diberi oleh Allah dengan cara pandang dunia dalam melihat keberuntungan. Apakah Petrus dapat dikatakan beruntung? Bagi kita mungkin tidak, bagaimana tidak Ia harus mati dengan cara yang sangat tidak manusiawi. Apakah Paulus beruntung? Tidak juga ia haru menerima penolakkan dari rekan2nya dahulu sesama pemegang Taurat. Apakah Yesus beruntung? Lha bagaimana mati di kayu salib dengan tubuh penuh sayatan akibat cambukkan dapat dikatakan beruntung? Mungkin, bila kita yang mengalaminya, kita akan mengatakan itu adalah suatu kemalangan yang teramat amat sangat. Kini, bagaimana Firman Tuhan dapat membawa suatu keberuntungan bagi mereka, dan juga bagi kita?
1. Keberuntungan dari Allah berjalan seiring ketaatan. Dalam keadaan bagaimana saudara menginginkan keberuntungan datang kepada anda? Dalam keadaan bahagia, atau dalam keadaan susah? Kalau saya, saya akan mengharapkan keberuntungan datang ketika saya berada dalam batas kekuatan kita. Dengan begitu keberuntungan akan menjadi sesuatu yang amat disyukuri. Seseorang yang mendapatkan sekotak nasi lengkap dengan lauk pauk dan sayur secara gratis, akan merasa lebih bersyukur ketika selama seharian itu ia belum makan apa-apa karena tidak punya uang, ketimbang ketika ia mendapatkannya setelah ia kenyang makan dari apa yang dapat dibelinya sendiri. Nah, kini, mudahkah kita untuk menjadi manusia yang taat? Mana yang akan anda sebut sebagai seseorang yang beruntung, seseorang yang mendapat promosi jabatan karena integritasnya mempertahankan kejujuran di tengah penderitaannya karena ketaatannya kepada Tuhan, ataukah seseorang yang mengalami kesenangan duniawi karena ia menyuap atasannya? Keluaran 30: 10, menjadi jaminan bagi kita yang mau mendengar suara Tuhan, pertama-tama. Berpegang pada perintah dan ketetapan yang kedua, dan dengan segenap hati dan jiwa, yang ketiga. Mana yang lebih mudah?
- Mendengar. Banyak orang mengira bahwa mendengarkan adalah hal yang mudah, ternyata tidak demikian adanya. Mendengar adalah sebuah proses yang memadukan beberapa aktivitas secara bersamaan. Apa saja aktivitas itu? Yang pertama adalah menerima. Seseorang tidak akan pernah mendengar bila ia tidak mau menerima lawan bicaranya untuk memasuki alam pikiran dan persepsinya. Kedua, memahami dan menilai. Mendengar tanpa memahami akan berubah menajdi terdengar, atau sekilas kedengaran. Dalam mendengar kita perlu memahami lawan bicara kita hingga kita dapat terlibat suatu empati atau simpati bersamanya, dan mampu memberikan baik itu sekedar komentar, masukkan, pujian atau apapun, yang menyatakan bahwa kita memang mendengar dan menilai apa yang telah kita dengar. Ketiga, mengingat dan membalas. Apa bukti bahwa kita mendengar perintah orang tua kita? Biasanya mereka akan mengatakan bila kamu mengingat dan melakukanya. Jadi bila kita tidak melakukannya, maka orang tua kita akan terus berbicara hal yang sama kepada kita agar kita mengingat dan melakukanya.
- Berpegang pada ketetapan dan perintah. “peraturan dibuat untuk dilanggar” bagi banyak orang ungkapan ini adalah ungkapan yang biasa dan tanpa makna. Tapi sadarkah kita bahwa sesungguhnya ketetapan dan perintah dibuat untuk mengatur hidup kita menjadi lebih baik, lebih maju, lebih berkualitas. Memang banyak perintah dan ketetapan di dunia ini yang tidak membuat orang menjadi lebih baik, maju dan berkualitas, namun hari ini kita tidak berbicara tentang ketetapan dan perintah ala dunia, tapi ketetapan dan perintah ala sorgawi. Inilah yang seharusnya membuat respon yang berbeda. Ketetapan sorgawi dibuat Allah untuk menjadikan manusia semakin serupa dan segambar denganNya. Perintah sorgawi dibuat untuk memampukan manusia untuk membuktikan gambar Allah dalam dirinya, yaitu agar hidup kita layak di hadapan Tuhan dalam segala hal, (bukan hanya ketika kita berada dan melayani di gereja), bertumbuh dalam segala pengetahuan yang benar akan Allah dan menghasilkan buah yang baik yang dapat dinikmati oleh orang lain yang ada di sekitar kita. (Kol 1:10)
- Dengan segenap hati dan jiwa. Hati dan jiwa disini bukan hanya sekedar bahasa sentimentil semata, tapi suatu ungkapan yang dalam bagi tradisi Yahudi. Hati (lev) merupakan pusat kehidupan bagi orang Yahudi. Seseorang yang berpegang dan menjalankan perintah Tuhan dengan segenap hati akan menjadikan Tuhan sebagai sumber dan pusat hidupnya. Jiwa juga memiliki makna bukan sekedar nyawa tapi hidup yang holistik (utuh) Seseorang yang menjalankan perintah Tuhan dengan segenap jiwa berarti menjalankannya dalam seluruh hidupnya, sementara ia masih dapat bernafas. Bukan sekedar berbicara, atau memberikan pengakuan tapi membuktikannya lewat setiap hari, aktivitas, perkataan dan perbuatannya.
- Dengan segenap kekuatan dan akal budi. Berapa banyak usaha yang kita beri untuk melakukan kehendak Allah, dan berapa banyak akal budi yang kita gunakan, paling tidak untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kita sebagai manusia lebih suka memakai kekuatan kita untuk hal yang lain, misalnya untuk bersenang2, berjalan, jalan, hingga untuk bertengkar dengan anggota keluarga kita. Begitu juga dengan akal budi, berapa banyak dari kita mengunakan akal budi untuk mengerjakan hal2 yang tidak berkenan, misalnya, bagi anak remaja, bagaimana caranya dapat menyontek tanpa ketahuan guru, bagaimana bisa menyogok atasan tanpa ketahuan rekan kerja...dan lain sebagainya. Seorang yang menaati allah dengan kekuatan dan akal budinya akan mengerahkan diri, dan segala yang ada padanya untuk sungguh terarah kepadanya. Mengakali keinginan dagingnya, dan mencari jalan sebanyak mungkin agar dapat menaatI Allah lebih lagi.
Rabu, 21 April 2010
Susah siapa takut??
Jemaat pemuda meyakini bahwa dengan mengandalkan Tuhan, segala kesulitan dan kesusahan dapat diatasi tanpa mengesampingkan bahwa ada usaha yang tetap harus dilakukan
Kis 5:26-32
Maz 118: 14-29
Wah 1:4-8
Yoh 20: 19-31
Siapa sih yang mau hidup susah???? Pasti nggak ada kan manusia yang mau hidup susah!!! Apalagi remaja dewasa ini yang lebih suka kehidupan yang instan, sehingga tak heran banyak dari kita yang kerap kali mengatakan: “Pake dong teknologi yang namanya email, facebook, twitter, ngapain juga susah2? Hari gini masih pake mesin ketik? Apa kata dunia, pake komputer dong? Hari gini masih pake 1250? Pake BB dong ato E 90..” Sebelas , duabelas engan pemudanya yang juga suka berkata...”Hari gini ngak pake pembantu...cape!! ngapain susah2 buat bubur saring untuk anakku kalo udah ada bubur MILNA yang gizinya juga udah mencukupi kok”
Tanda2 apakah itu? Apakah tanda manusia semakin modern, semakin berbudi dan berbudaya? Semakin maju?? Atauuuu... suatu kemunduran luar biasa?? Teknologi memang banyak menolong manusia dalam melakukan banyak hal, bahkan hal2 tersulit yang pada awalnya tidak tergapai, kini dapat dikerjakan dengn begitu mudah... Namun sadarkah kita bahwa teknologi secara tidak langsung menjadikan manusia semakin lemah dari hari ke hari.
Coba saja bandingkan kualitas hidup manusia masa kini dengan manusia yang hidup pada masa lalu (paling tidak 25 tahun yang lalu). Bila dahulu seorang perempuan paruh baya masih dapat memikul beban di bahunya dan berjalan belasan hingga puluhan kilometer bagaimana dengan generasi sekarang? Mungkin baru saja ½ kilo sudah mulai berkata :” Ah cape...malas...panas...” dan segala macam keluhan. Bagaimana tidak?? Bila setiap pergi dan pulang sekolah dijemput dengan mobil pribadi lengkap dengan AC, atau paling tidak dijemput oleh bis sekolah dan minimal angkutan umum yang dapat dengan mudah ditemukan di perempatan2 jalan.
Kini...bagaimana dengan hasilnya? Bukankah kualitas hidup, kerja dan karya manusia dulu (yang tidak mengenal teknologi) juga patut diacungi jempol? Lebih dari itu bahkan banyak karya2 mereka yang hingga kini tetap dihargai, dihormati hingga diberi sebutan “Masterpiece”? Mengapa itu semua dapat terjadi??? Karena mereka menjadi orang 2 yang tangguh, yang dibentuk dari kesusahan dan ketekunan!! Seorang penulis besar seperti Shakespere tentunya akan menulis karyanya dengan sangat teliti, tiap kata menjadi perhitungannya, tiap bait menjadi perenungannya, mengapa?pa;ing tidak pertama-tama,karena ia tidak memiliki sebuah konputer yang dapat diprogram untuk mencari kesalahan kata, hingga untuk merombak seluruh karya itu bukan?
Bagaimana dengan kita sebagai pengikut Kristus? Adakah kita takut susah?? Takut menghadapi masalah dan pergumulan? Takut menghadapi dan menyelesaikan segala tantangan? Orang 2 yang takut susah dalam menghadapi tantangan jaman akan menjadi orang2 yang tidak punya kualitas!! Cepat naik..seperti roket dan cepat pula turun seperti bintang jatuh! Mereka akan menajdi orang2 yang tidak berai keluar dari keamanan dan kenyamanan mereka, keluar dan mengembangkan kapasitas mereka!
Saya ingat perkataan seorang rekan remaja saya: “Orang yang ingin kapasitas hidupnya bertambah adalah orang yang berani ditarik dan dirobek” Hingga ila kita tidak berani membiarkan diri kita dirobek ataupun ditarik hingga secara tidak langsung kita menaikkan kualitas hidup, pekerjaan, karya ndan kerja kita, maka kita bukanlah orang yang cukup besar untuk menerima pekerjaan2 besar dengan kapasitas yang jauh lebih besar. Padahal ketika kita mau ditarik dan dirobek kita akan menjadi lebih indah dan berguna dari sebelumnya...coba saja lihat sebuah balon, adakah ia indah bila tidak terisi oleh angin? Ia hanyalah seonggok karet berwarna-warni..tidak mampu memberikan keceriaan kepada anak2, tidak mampu memberikan keindahan pada dekorasi sebuah pesta, dan ia tidak akan berguna, walau sesungguhnya ia memiliki potensi untuk menjadi lebih.
Tapiiii....bukan berarti kini ketika kita mau berkomitmen untuk menghadapi kesulitan dengan sukacita, maka kita alih2 langsung mejadi manusia yang tahan susah... ini ga bisa instan... butuh latihan dan proses... sama seperti balon yang sudah lama tersimpan di pasar swalayan, harus ditarik2 terlebih dahulu sebelum kita meniupnya. Mengapa? Karena bila kita lansung menghembuskan angin dengan cepat dan dengan jumlah yang besar maka kita akan mendapati balon itu pecah sebelum menjadi berguna. Kini apa aja sih latihan dan prosesnya bagi kita agar kita dapat mengembang seperti balon dan menjadi berguna?
1. Kis 5:29. “Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” Mengapa? Karena ketaatan kepada Allah membuat kita mendapatkan segala kekuatan untuk menghadapi segala kesusahan dan tantangan yang ada di depan mata kita. Ketaatan kepada Allah mendatangkan kehidupan, keselamatan, kemenangan...apa lagi yang kurang??? Ngak ada!!! Apapun Allah sediakan bagi kita yang mengasihi dan mentaatiNya. Segala sesuatu akan ditambahakan bagi siapa yang mencari kerajaan Allah, yaitu mencari dan melakukan kehendakNya!! Karena Dia lebih dari sekedar Tuhan yang suka memerintah ataupu Tuhan yang hanya memilih untuk dihormati, namun Ia telah menjadi Allah yang memberikan kita keselamatan kekal. Maz 118:14
2. Wahyu 1:5. “Belajarlah untuk setia”. Apakah bentuk kesetiaan kita? Cukupkah dengan datang ke gereja setiap hari, menjadi pelayan ibadah, atau menjadi pengurus hingga panitia sepanjang tahun?? Itu bukan bukti kesetiaan...tapi sebuah cara untuk menunjukkan eksistensi, bukti sebuah profesionalisme kerja! Kesetiaan adalah lebih dari itu....kesetiaan tidak nampak dari hal besar, namun dari hal kecil. Apa yang kita anggap hal kecil sering kali Tuhan lihat sebagai hal yang besar dan sebaliknya. Mulailah dari setiap perkataan yang keluar dari bibir, setiap pekerjaan yang dilakukan oleh setiap anggota tubuh kita...sudahkkah kita menunjukkan kesetiaan kita kepada Tuhan melalui itu semua?? Atau kita lebih memperhatikan apa yang dapat kita lakukan dengan otak kita yang luar biasa ini dan mengabaikan hal2 besar yang sesngguhnya dilakukan oleh lidah kita yang kecil dan tak bertulang ini??
3. Yoh 19:30. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.!" Sambutlah tantangan dan tanggung jawab yang Allah berikan dan lakukanlah itu hingga selesai!! Jangan lakukan setengah2, jangan lakukan bila kita terpaksa, jangan lakukan bila kita hanya ingin melakukan apa yang sebisanya dan bukan memberikan yang terbaik.... Susah???? PASTI!!! Karena untuk itu kita akan diremukkan, dilumatkan dan dibentuk kembali dengan cara yang tak akan pernah kita bayangkan sebelumnya. Yesus sudah menjadi telaan bagi kita..Ia menerima tanggung jawab yang besar itu bagi kita...
Kis 5:26-32
Maz 118: 14-29
Wah 1:4-8
Yoh 20: 19-31
Siapa sih yang mau hidup susah???? Pasti nggak ada kan manusia yang mau hidup susah!!! Apalagi remaja dewasa ini yang lebih suka kehidupan yang instan, sehingga tak heran banyak dari kita yang kerap kali mengatakan: “Pake dong teknologi yang namanya email, facebook, twitter, ngapain juga susah2? Hari gini masih pake mesin ketik? Apa kata dunia, pake komputer dong? Hari gini masih pake 1250? Pake BB dong ato E 90..” Sebelas , duabelas engan pemudanya yang juga suka berkata...”Hari gini ngak pake pembantu...cape!! ngapain susah2 buat bubur saring untuk anakku kalo udah ada bubur MILNA yang gizinya juga udah mencukupi kok”
Tanda2 apakah itu? Apakah tanda manusia semakin modern, semakin berbudi dan berbudaya? Semakin maju?? Atauuuu... suatu kemunduran luar biasa?? Teknologi memang banyak menolong manusia dalam melakukan banyak hal, bahkan hal2 tersulit yang pada awalnya tidak tergapai, kini dapat dikerjakan dengn begitu mudah... Namun sadarkah kita bahwa teknologi secara tidak langsung menjadikan manusia semakin lemah dari hari ke hari.
Coba saja bandingkan kualitas hidup manusia masa kini dengan manusia yang hidup pada masa lalu (paling tidak 25 tahun yang lalu). Bila dahulu seorang perempuan paruh baya masih dapat memikul beban di bahunya dan berjalan belasan hingga puluhan kilometer bagaimana dengan generasi sekarang? Mungkin baru saja ½ kilo sudah mulai berkata :” Ah cape...malas...panas...” dan segala macam keluhan. Bagaimana tidak?? Bila setiap pergi dan pulang sekolah dijemput dengan mobil pribadi lengkap dengan AC, atau paling tidak dijemput oleh bis sekolah dan minimal angkutan umum yang dapat dengan mudah ditemukan di perempatan2 jalan.
Kini...bagaimana dengan hasilnya? Bukankah kualitas hidup, kerja dan karya manusia dulu (yang tidak mengenal teknologi) juga patut diacungi jempol? Lebih dari itu bahkan banyak karya2 mereka yang hingga kini tetap dihargai, dihormati hingga diberi sebutan “Masterpiece”? Mengapa itu semua dapat terjadi??? Karena mereka menjadi orang 2 yang tangguh, yang dibentuk dari kesusahan dan ketekunan!! Seorang penulis besar seperti Shakespere tentunya akan menulis karyanya dengan sangat teliti, tiap kata menjadi perhitungannya, tiap bait menjadi perenungannya, mengapa?pa;ing tidak pertama-tama,karena ia tidak memiliki sebuah konputer yang dapat diprogram untuk mencari kesalahan kata, hingga untuk merombak seluruh karya itu bukan?
Bagaimana dengan kita sebagai pengikut Kristus? Adakah kita takut susah?? Takut menghadapi masalah dan pergumulan? Takut menghadapi dan menyelesaikan segala tantangan? Orang 2 yang takut susah dalam menghadapi tantangan jaman akan menjadi orang2 yang tidak punya kualitas!! Cepat naik..seperti roket dan cepat pula turun seperti bintang jatuh! Mereka akan menajdi orang2 yang tidak berai keluar dari keamanan dan kenyamanan mereka, keluar dan mengembangkan kapasitas mereka!
Saya ingat perkataan seorang rekan remaja saya: “Orang yang ingin kapasitas hidupnya bertambah adalah orang yang berani ditarik dan dirobek” Hingga ila kita tidak berani membiarkan diri kita dirobek ataupun ditarik hingga secara tidak langsung kita menaikkan kualitas hidup, pekerjaan, karya ndan kerja kita, maka kita bukanlah orang yang cukup besar untuk menerima pekerjaan2 besar dengan kapasitas yang jauh lebih besar. Padahal ketika kita mau ditarik dan dirobek kita akan menjadi lebih indah dan berguna dari sebelumnya...coba saja lihat sebuah balon, adakah ia indah bila tidak terisi oleh angin? Ia hanyalah seonggok karet berwarna-warni..tidak mampu memberikan keceriaan kepada anak2, tidak mampu memberikan keindahan pada dekorasi sebuah pesta, dan ia tidak akan berguna, walau sesungguhnya ia memiliki potensi untuk menjadi lebih.
Tapiiii....bukan berarti kini ketika kita mau berkomitmen untuk menghadapi kesulitan dengan sukacita, maka kita alih2 langsung mejadi manusia yang tahan susah... ini ga bisa instan... butuh latihan dan proses... sama seperti balon yang sudah lama tersimpan di pasar swalayan, harus ditarik2 terlebih dahulu sebelum kita meniupnya. Mengapa? Karena bila kita lansung menghembuskan angin dengan cepat dan dengan jumlah yang besar maka kita akan mendapati balon itu pecah sebelum menjadi berguna. Kini apa aja sih latihan dan prosesnya bagi kita agar kita dapat mengembang seperti balon dan menjadi berguna?
1. Kis 5:29. “Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” Mengapa? Karena ketaatan kepada Allah membuat kita mendapatkan segala kekuatan untuk menghadapi segala kesusahan dan tantangan yang ada di depan mata kita. Ketaatan kepada Allah mendatangkan kehidupan, keselamatan, kemenangan...apa lagi yang kurang??? Ngak ada!!! Apapun Allah sediakan bagi kita yang mengasihi dan mentaatiNya. Segala sesuatu akan ditambahakan bagi siapa yang mencari kerajaan Allah, yaitu mencari dan melakukan kehendakNya!! Karena Dia lebih dari sekedar Tuhan yang suka memerintah ataupu Tuhan yang hanya memilih untuk dihormati, namun Ia telah menjadi Allah yang memberikan kita keselamatan kekal. Maz 118:14
2. Wahyu 1:5. “Belajarlah untuk setia”. Apakah bentuk kesetiaan kita? Cukupkah dengan datang ke gereja setiap hari, menjadi pelayan ibadah, atau menjadi pengurus hingga panitia sepanjang tahun?? Itu bukan bukti kesetiaan...tapi sebuah cara untuk menunjukkan eksistensi, bukti sebuah profesionalisme kerja! Kesetiaan adalah lebih dari itu....kesetiaan tidak nampak dari hal besar, namun dari hal kecil. Apa yang kita anggap hal kecil sering kali Tuhan lihat sebagai hal yang besar dan sebaliknya. Mulailah dari setiap perkataan yang keluar dari bibir, setiap pekerjaan yang dilakukan oleh setiap anggota tubuh kita...sudahkkah kita menunjukkan kesetiaan kita kepada Tuhan melalui itu semua?? Atau kita lebih memperhatikan apa yang dapat kita lakukan dengan otak kita yang luar biasa ini dan mengabaikan hal2 besar yang sesngguhnya dilakukan oleh lidah kita yang kecil dan tak bertulang ini??
3. Yoh 19:30. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.!" Sambutlah tantangan dan tanggung jawab yang Allah berikan dan lakukanlah itu hingga selesai!! Jangan lakukan setengah2, jangan lakukan bila kita terpaksa, jangan lakukan bila kita hanya ingin melakukan apa yang sebisanya dan bukan memberikan yang terbaik.... Susah???? PASTI!!! Karena untuk itu kita akan diremukkan, dilumatkan dan dibentuk kembali dengan cara yang tak akan pernah kita bayangkan sebelumnya. Yesus sudah menjadi telaan bagi kita..Ia menerima tanggung jawab yang besar itu bagi kita...
Tujuan Hidup
Mat 22: 36-40
Fokus
Remaja mulai menyadari bahwa mereka membutuhkan tujuan hidup. Dengan kesadaran ini mereka akan lebih mempu menjalani hidup ini karena tujuan hidup itu menolong mereka mengetahui apa yang harus mereka kerjakan dalam hidup ini. Dalam penghayatan iman Kristen, tujuan hidup ini harus diselaraskan dengan kehendak Allah.
“Orang yang tidak memiliki tujuan hidup adalah seperti kapal yang terombang ambing di lautan, tanpa tahu kemana harus berlabuh, ia akan ikut kemana ombak membawanya, dan ia akan hancur karena terhempas ombak dan karang, karena sekalipun ia tahu akan ada ombak dan karang menghadang di hadapannya, ia tidak akan pernah menghindar dari karang dan ombak tersebut.”
Orang tua saya berkata kepada saya waktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar: “untuk apa kamu sekolah kalo kamu tidak mau belajar dengan rajin, main terus kerjanya! Kamu musti sekolah pinter biar bisa naik kelas!” Di saat itu saya bertanya pada orang tua saya: “ untuk apa naik kelas?” “Untuk bisa sekolah terus, biar mama papa ga malu, tar bisa kerja terus cari uang!” ujar orang tua saya saat itu. Dalam benak saya berpikir, kalo ujungnya Cuma untuk cari uang untuk apa sekolah tinggi2? Kan bisa aja cari uang dengan berdagang! Tinggal belajar hitung2an saja, tidak usah belajar IPS, sejarah, geografi, biologi juga!
Rekan-rekan remaja sekalian, tentu banyak dari kita yang bertanya untuk apa sih sebenarnya kita sekolah, hidup? Dan jawaban yang sering kali kita dapatkan sama semua, yaitu untuk bekerja, cari uang, menikah dan punya anak. Apakah itu sesungguhnya tujuan hidup manusia? Pun karena kita merasa bahwa itulah yang wajar dikerjakan oleh manusia, maka tidak perlu lagi menetapkan tujuan hidup kita sendiri, Toh ujungnya juga sama aja....mati!
Itulah pandangan yang salah! Setiap manusia diciptakan bukan hanya untuk beranak cucu! Tuhan menciptakan manusia dengan tujuannya masing-masing! Tuhan memang sudah merancangkan hidup kita yang paling sempurna itu, namun kita juga wajib mencari kehendak dan rencana Tuhan, agar hidup kita ngak flat, yaitu dimana kita terjebak dengan rutintias kita tanpa ada waktu sedikitpun untuk mencari visi hidup kita sesungguhnya!
Masalahnya kini, pertama: mencari visi hidup bukanlah sesuatu yang mudah untuk kita lakukan, visi hidup bukan semata-mata cita-cita, hasrat atau sebatas keinginan saja. Tapi sesuatu yang lebih daripada itu, yaitu sesuatu kekuatan yang mendorong kita untuk melakukan ini dan itu, misi! Selain itu visi itulah yang akan menentukan pilihan dan langkah2 hidup yang akan kita ambil sebagai manusia! Kedua: karena walau hidup ini adalah anugerah, pemberian dari Tuhan, bukan berarti terserah kita mau buat hidup kita jadi seperti apa, layaknya sebuha hadiah yang boleh kita simpan ataupun kita berikan kepada orang lain. Hidup yang adalah pemberian ini tetaplah milik Tuhan dan bukan milik kita sendiri, hingga untuk menjalaninya kita harus menggunakan aturan2 Tuhan dan bukan hanya aturan kita sendiri! Visi hidup manusia haruslah berkaitan erat dengan visi Tuhan terhadap manusia itu sendiri. Jadi? Jadi manusia harus memiliki hubungan yang baik dan erat dengan Tuhan agar visi Tuhan menjadi visi kita. Agar Visi Tuhan terlular kepada kita menjadi visi kita.
Yang jaadi pertanyaan kini adalah: Apa visi Tuhan bagi kita? Apa yang utama bagi Tuhan untuk kita lakukan? Apakah mengejar cita-cita? Menjadi orang terkenal? Menjadi orang kaya? Atau apa???
Matius 22 menyatakan visi Allah itu kepada kita!
1. Mengasihi Allah. Banyak anak muda, ketika ditanya apa tujuan hidup mereka, akan memberikan jawaban klise seperti: “memuliakan Tuhan”. Apa sih yang sebenarnya maksud dengan memuliakan Tuhan? Mari kita perlebar cara pandang dan pikir kita. Biasanya memuliakan Allah dikaitkan dengan bernyanyi, mengatakan kata-kata pujian bagi Allah. Nah....itulah pendapat dan pandangan yang salah. Memuliakan Allah bukan sekedar pujian, ucapan syukur, atau nyanyian belaka. Memuliakan Allah haruslah lahir dari motivasi mengasihi Allah. Bila memuliakan Allah tidak didasarkan pada rasa cinta kepada Allah, maka memuliakan Allah hanya akan menjadi pepesan kosong, bualan, dan rayuan gombal. Tentunya mengasihi Allah, bukan berarti kita semua menjadi pendeta, masuk sekolah teologi. Kasih adalah bahasa yang paling kaya... oleh karena itu, banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengekspresikan kasih kita kepada Allah, bukan semata-mata dengan pemberian persembahan, waktu, menjadi panitia, pengurus, dan lain sebagainya. Lalu apa?? Mulailah dengan keseharian kita....hidup kita yang kita jalani 24 jam setiap harinya!! Tujuan hidup kita adalah mengasihi Allah, maka pikirkan apa yang dapat kita lakukan untuk mengasihi Allah. Pemberian diri secara utuh; perilaku yang menunjukkan kesetiaan kita kepadanya. (bila sama pacar saja kita menunjukkan kasih melalui komitmen, apalagi sama Tuhan!!)
2. Mengasihi Sesama. Mengasihi Allah tanpa dapat mengasihi sesama adalah suatu omong kosong besar!! Kita tidak akan pernah dapat mengasihi Allah yang tak nampak, bila yang nampak saja tidak kita kasihi. Kasih kepada Allah harus dapat diwujudnyatakan melalui kasih terhadap sesama...dan itulah yang Yesus tunjukkan melalui inkarnasinya menjadi manusia. Yesus menunjukkan solidaritasnya kepada manusia. Ia ingin meyelamatkan manusia, namun Ia tidak hanya menjentikkan jarinya atau menganggukkan kepalaNya. Ia datang untuk menyentuh manusia itu sendiri dengan tangannya, karyanya dan ucapannya. Dan kedatangannya ke dunia bukan hanya untuk kaumnya yahudi, namun untuk setiap orang yang disebut sesama manusia.
Nah rekan 2 kalo kini kita sudah tahu apa yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan dalam mengisi hidup kita, maka...apapun cita2 kita, harapan dan jalan hidup yang harus kita lalui, gunakan 2 tolok ukur tersebut untuk menguji cita2, harapan dan keinginan kita tersebut. Agar visi yang telah Tuhan siapkan untuk kita dapat kita wujudkan dalam misi agar, visi tersebut menjadi kenyataan dan bukan angan belaka!~!
Hidup bukan semata2 waktu yang kita jalani di dunia... hidup sekarang juga bukan semata mengejar keselamatan Akherat. Tapi hidup dalam kekinian harus dapat dimaknai dengan kualitas dan bukan hanya kuantitas!! Manusia dapat hidup 100 tahun, tapi bila ia meninggal tak seorangpun perduli karena hidupnya tidak memberi arti, untuk apa ia hidup? Hidup bukan persoalan kita saja,namun apa yang kita dapat lakukan untuk memberi nilai bagi hidup orang lain di sekeliling kita...yang artinya bagaimana hiduo kita dapat menginspirasi hidup orang lain. Dannnnnn kita tidak akan pernah dapat menginspirasi hidup orang lain bila hidup kita tidak kita arahkan kepada Dia yang empunya inspirasi....
Jadi buatlah hidup anda berarti, buatlah hidup anda menjadi hidup yang menginspirasi banyak orang, dan buatlah hidup anda menunjukkan kualitas sebagai ciptaan baru dalam Allah!!
Fokus
Remaja mulai menyadari bahwa mereka membutuhkan tujuan hidup. Dengan kesadaran ini mereka akan lebih mempu menjalani hidup ini karena tujuan hidup itu menolong mereka mengetahui apa yang harus mereka kerjakan dalam hidup ini. Dalam penghayatan iman Kristen, tujuan hidup ini harus diselaraskan dengan kehendak Allah.
“Orang yang tidak memiliki tujuan hidup adalah seperti kapal yang terombang ambing di lautan, tanpa tahu kemana harus berlabuh, ia akan ikut kemana ombak membawanya, dan ia akan hancur karena terhempas ombak dan karang, karena sekalipun ia tahu akan ada ombak dan karang menghadang di hadapannya, ia tidak akan pernah menghindar dari karang dan ombak tersebut.”
Orang tua saya berkata kepada saya waktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar: “untuk apa kamu sekolah kalo kamu tidak mau belajar dengan rajin, main terus kerjanya! Kamu musti sekolah pinter biar bisa naik kelas!” Di saat itu saya bertanya pada orang tua saya: “ untuk apa naik kelas?” “Untuk bisa sekolah terus, biar mama papa ga malu, tar bisa kerja terus cari uang!” ujar orang tua saya saat itu. Dalam benak saya berpikir, kalo ujungnya Cuma untuk cari uang untuk apa sekolah tinggi2? Kan bisa aja cari uang dengan berdagang! Tinggal belajar hitung2an saja, tidak usah belajar IPS, sejarah, geografi, biologi juga!
Rekan-rekan remaja sekalian, tentu banyak dari kita yang bertanya untuk apa sih sebenarnya kita sekolah, hidup? Dan jawaban yang sering kali kita dapatkan sama semua, yaitu untuk bekerja, cari uang, menikah dan punya anak. Apakah itu sesungguhnya tujuan hidup manusia? Pun karena kita merasa bahwa itulah yang wajar dikerjakan oleh manusia, maka tidak perlu lagi menetapkan tujuan hidup kita sendiri, Toh ujungnya juga sama aja....mati!
Itulah pandangan yang salah! Setiap manusia diciptakan bukan hanya untuk beranak cucu! Tuhan menciptakan manusia dengan tujuannya masing-masing! Tuhan memang sudah merancangkan hidup kita yang paling sempurna itu, namun kita juga wajib mencari kehendak dan rencana Tuhan, agar hidup kita ngak flat, yaitu dimana kita terjebak dengan rutintias kita tanpa ada waktu sedikitpun untuk mencari visi hidup kita sesungguhnya!
Masalahnya kini, pertama: mencari visi hidup bukanlah sesuatu yang mudah untuk kita lakukan, visi hidup bukan semata-mata cita-cita, hasrat atau sebatas keinginan saja. Tapi sesuatu yang lebih daripada itu, yaitu sesuatu kekuatan yang mendorong kita untuk melakukan ini dan itu, misi! Selain itu visi itulah yang akan menentukan pilihan dan langkah2 hidup yang akan kita ambil sebagai manusia! Kedua: karena walau hidup ini adalah anugerah, pemberian dari Tuhan, bukan berarti terserah kita mau buat hidup kita jadi seperti apa, layaknya sebuha hadiah yang boleh kita simpan ataupun kita berikan kepada orang lain. Hidup yang adalah pemberian ini tetaplah milik Tuhan dan bukan milik kita sendiri, hingga untuk menjalaninya kita harus menggunakan aturan2 Tuhan dan bukan hanya aturan kita sendiri! Visi hidup manusia haruslah berkaitan erat dengan visi Tuhan terhadap manusia itu sendiri. Jadi? Jadi manusia harus memiliki hubungan yang baik dan erat dengan Tuhan agar visi Tuhan menjadi visi kita. Agar Visi Tuhan terlular kepada kita menjadi visi kita.
Yang jaadi pertanyaan kini adalah: Apa visi Tuhan bagi kita? Apa yang utama bagi Tuhan untuk kita lakukan? Apakah mengejar cita-cita? Menjadi orang terkenal? Menjadi orang kaya? Atau apa???
Matius 22 menyatakan visi Allah itu kepada kita!
1. Mengasihi Allah. Banyak anak muda, ketika ditanya apa tujuan hidup mereka, akan memberikan jawaban klise seperti: “memuliakan Tuhan”. Apa sih yang sebenarnya maksud dengan memuliakan Tuhan? Mari kita perlebar cara pandang dan pikir kita. Biasanya memuliakan Allah dikaitkan dengan bernyanyi, mengatakan kata-kata pujian bagi Allah. Nah....itulah pendapat dan pandangan yang salah. Memuliakan Allah bukan sekedar pujian, ucapan syukur, atau nyanyian belaka. Memuliakan Allah haruslah lahir dari motivasi mengasihi Allah. Bila memuliakan Allah tidak didasarkan pada rasa cinta kepada Allah, maka memuliakan Allah hanya akan menjadi pepesan kosong, bualan, dan rayuan gombal. Tentunya mengasihi Allah, bukan berarti kita semua menjadi pendeta, masuk sekolah teologi. Kasih adalah bahasa yang paling kaya... oleh karena itu, banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengekspresikan kasih kita kepada Allah, bukan semata-mata dengan pemberian persembahan, waktu, menjadi panitia, pengurus, dan lain sebagainya. Lalu apa?? Mulailah dengan keseharian kita....hidup kita yang kita jalani 24 jam setiap harinya!! Tujuan hidup kita adalah mengasihi Allah, maka pikirkan apa yang dapat kita lakukan untuk mengasihi Allah. Pemberian diri secara utuh; perilaku yang menunjukkan kesetiaan kita kepadanya. (bila sama pacar saja kita menunjukkan kasih melalui komitmen, apalagi sama Tuhan!!)
2. Mengasihi Sesama. Mengasihi Allah tanpa dapat mengasihi sesama adalah suatu omong kosong besar!! Kita tidak akan pernah dapat mengasihi Allah yang tak nampak, bila yang nampak saja tidak kita kasihi. Kasih kepada Allah harus dapat diwujudnyatakan melalui kasih terhadap sesama...dan itulah yang Yesus tunjukkan melalui inkarnasinya menjadi manusia. Yesus menunjukkan solidaritasnya kepada manusia. Ia ingin meyelamatkan manusia, namun Ia tidak hanya menjentikkan jarinya atau menganggukkan kepalaNya. Ia datang untuk menyentuh manusia itu sendiri dengan tangannya, karyanya dan ucapannya. Dan kedatangannya ke dunia bukan hanya untuk kaumnya yahudi, namun untuk setiap orang yang disebut sesama manusia.
Nah rekan 2 kalo kini kita sudah tahu apa yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan dalam mengisi hidup kita, maka...apapun cita2 kita, harapan dan jalan hidup yang harus kita lalui, gunakan 2 tolok ukur tersebut untuk menguji cita2, harapan dan keinginan kita tersebut. Agar visi yang telah Tuhan siapkan untuk kita dapat kita wujudkan dalam misi agar, visi tersebut menjadi kenyataan dan bukan angan belaka!~!
Hidup bukan semata2 waktu yang kita jalani di dunia... hidup sekarang juga bukan semata mengejar keselamatan Akherat. Tapi hidup dalam kekinian harus dapat dimaknai dengan kualitas dan bukan hanya kuantitas!! Manusia dapat hidup 100 tahun, tapi bila ia meninggal tak seorangpun perduli karena hidupnya tidak memberi arti, untuk apa ia hidup? Hidup bukan persoalan kita saja,namun apa yang kita dapat lakukan untuk memberi nilai bagi hidup orang lain di sekeliling kita...yang artinya bagaimana hiduo kita dapat menginspirasi hidup orang lain. Dannnnnn kita tidak akan pernah dapat menginspirasi hidup orang lain bila hidup kita tidak kita arahkan kepada Dia yang empunya inspirasi....
Jadi buatlah hidup anda berarti, buatlah hidup anda menjadi hidup yang menginspirasi banyak orang, dan buatlah hidup anda menunjukkan kualitas sebagai ciptaan baru dalam Allah!!
Menjadi Tua? Pasti, Menjadi Dewasa? Pilihan!
Mazmur 119:9-27
Fokus: Bertambah usia adalah bagian tahapan kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari. Umumnya orang berpendapat bahwa bertambah usia berarti bertambah pula kedewasaan seseorang. Tak heran orang yang lanjut usia biasanya dianggap dapat memberikan nasihat yag bijaksana kepada orang yang lebih muda. Namun realitanya, pertambahan usia tidak dapat dijadikan patokan bahwa seseorang bertamabah dewasa. Ada orang yang usianya sudah lanjut namun bersikap seperti kanak2, sebaliknya ada orang muda yang bertutur layaknya orang dewasa.
Mana ada sih manusia yang suka diremehkan? Rata2 dan kebanyakan, dan mungkin hampir semua manusia ingin diakui eksistensinya. Dari kanak2 hingga orang dewasa ingin dipandang oleh manusia lain. Hal tersebut merupakan hal yang normal ko! Ngak ada yang salah dengan kebutuhan akan pengakuan. Hanya saja, cara untuk menunjukkan eksistensi diri itulah yang keliru atau kurang tepat dan tentunya rekan-rekan sekalian dapat menemukan bentuk2 kekeliruan itu dalam teknologi yang namanya Facebook. Banyak anak, remaja, pemuda hingga orang dewasa menjadi tidak bijak menggunakan fasilitas tersebut. Up date status digunakan untuk menunjukkan kemarahan, kekesalan dan kebencian pada orang lain. Up Load foto dijadikan ajang untuk mempermalukan orang lain dan lain sebagainya. Tak mengherankan Facebook juga menjadi sarana untuk saling melempar tudingan, tuduhan palsu, dan menjadi ajang untuk unjuk kekuatan melalui rubrik ‘dukunglah’.
Mengapa itu semua dapat terjadi? Bukan teknologinya yang salah, namun orang yang menggunakannya yang kurang bijak dan berhikmat dalam menggunakannya, yaitu ketika mereka tidak menjadi manusia yang dewasa dalam bertutur, termasuk dalam menuangkan pikiran mereka dalam jejaring sosial tersebut. Apa aja sih ciri2 orang yang tidak dewasa?
Menurut ilmu psikologi, seorang yang belum dewasa adalah seorang yang:
- self centered, alias mengutamakan dirinya, kesenangannya, kebutuhannya, keuntungannya diatas yang lain. Apa yang ingin dilakukan, dikatakan, dituliskan adalah sesuai dengan kesenangannnya sendiri, tanpa memikirkan kebutuhan dan seringkali mengbaikan perasaan orang lain. Itulah yang kerap kali di lakukan oleh anak yang belum dewasa, yang dipikirkan itulah yang dilakukan, apa yang diinginkan harus diberikan, kalau tidak diberikan maka si anak akan marah dan ngambek. Apa kata Firman Tuhan? Manusia yang dewasa di dalam Tuhan tidak akan mengutamakan dirinya sendiri, karena Ia akan belajar untuk pertama-tama mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. Lebih lagi, ia akan belajar untuk berkorban bagi orang lain, sebagai wujud kasih yang paling nyata. Kebahagiaan orang lain menjadi tujuan hidupnya, tentunya bukan asal kebahagiaan, namun kebahagiaan yang sesuai dengan keinginan Tuhan bagi manusia.
- Belum dapat membedakan yang baik dan yang buruk. Namanya juga anak kecil, ia akan bertingkah berdasarkan naluri anaknya, bukan berdasarkan atas penilaian akan yang baik dan yang tidak baik untuk dilakukan. Jadi mereka yang tidak dewasa adalah mereka yang sudah tahu bahwa itu adalah perbuatan yang tidak baik, namun tetap dilakukan. Apa kata Firman Tuhan? Manusia yang dewasa di dalam Tuhan juga akan menjadi manusia yang sudah dapat membedakan yang baik, yang berkenan, dan yang memuliakan Tuhan, mengapa? Karena hidupnya sudah berada di dalam ‘Terang’ ia ada di dalam dunia namun tidak serupa dengan dunia. Ia ada bagi dunia, namun tidak menjadi seperti apa kata dunia. Manusia baru, dan bukan lagi menjadi manusia lama.
- Belum dapat menerima keberadaan orang lain sebagai sahabat yang melengkapi. Persaingan adalah hal yang manusiawi, namun bagaimana menyikapi persaingan itulah yang perlu dicermati dan diperhatikan. Orang yang belum dewasa akan melihat sesamanya sebagai ancaman, hingga ia dapat menggunakan apa-saja untuk melenyapkan sesamanya. Bukan menjadi berkat malah menajdi serigala bagi manusia lainnya. Apa kata Firman Tuhan? Kita diciptakan bukan untuk memberi masalah kepada orang lain loh! Tapi untuk menjadi garam dan terang untuk membawa sukacita, kedamaian bagi orang lain dan bukan kemarahan, dan iri hati. Tuhan menciptakan kita bukan untuk saling membenci, menganggap diri kita yang paling baik ataupun menganggap keberadaan orang lain membahayakan pamor kita, mengurangi pengakuan orang lain terhadap kita dan lain sebagainya. Manusia diciptakan untuk saling melengkapi sebagai kesatuan Tubuh Kristus. Jadi sebagaimana seharusnya tubuh Kristus, maka kita pula harus saling membantu dan menerima baik kekurangan dan kelebihan anggota tubuh yang lain bukan?
Nah, kini mari kita cari tahu apa sih yang sesungguhnya membuat kita tidak menjadi dewasa?
1. ay 9. salah memilih apa yang masuk ke pikiran, tubuh, dan hati kita. Seorang anak yang seharusnya sudah belajar mengkonsumsi makanan yang tingkat gizinya lebih tinggi sesuai dengan pertambahan usianya, namun terus2an diberi bubur dan susu, akan menjadi anak yang mengalami kurang gizi atau bahkan gizi buruk. Begitu juga dengan anak-anak Allah, yang lebih suka berada dalam zona aman dan nyaman, yang membuatnya tidak belajar apapun yang baru, akan senantiasa berada dalam tingkat kedewasaan yang segitu2 saja, tidak berkembang, bertumbuh! Jadi kalau ingin tumbuh dewasa, pilihlah apa yangbaik bagi pertumbuhan itu sendiri, bukan hanya yang kita inginkan, atau yang dirasa enak saja. Konsekuensinya: a. belajarlah melihat Firman Tuhan bukan hanya sebagai sesuatu yang menguatkan, namun juga menegur dan menghajar kita, agar kita berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. b. memilih segala sesuatu yang baik dan benar dan bukan enak dan sedap di pikiran, di hati, dan di mulut saja, baik itu makanan, bacaan, tontonan, hingga pergaulan. Apa standar kebaikkannya? FIRMAN TUHAN....tidak ada yang lain.
2. ay 10-11. bersedia menerima kritik dan hukuman, bila kita memang pantas menerimanya. Hukuman diberikan kepada seseorang bukan karena orang tersebut dibenci, namun untuk memperbaiki kelakuannya yang kurang tepat! Jadi bila kita dihukum oleh Tuhan terimalah dengan hati yang besar. Karena hukuman Tuhan diberikan bukan karena Tuhan membenci kita, namun karena Ia mengasihi kita lebih dari apapun, dan karena Ia ingin anak-anakNya menjadi anak2 yang kuat dan punya nilai. Belajarlah juga untuk menerima kritik, karena dengan mengabaikannya kita akan kehilangan untuk banyak kesempatan untuk menjadikan diri kita 100 hingga 1000x lebih baik, lebih pandai, lebih bijak, dan lebih berguna dari sebelumnya.
3. ay 28. bersedia untuk merasa ‘sakit dan susah’. Siapa coba yang mau sakit? Semua manusia tentu ingin merasa sehat dan tidak kekurangan apapun. Namun ternyata sakit memberikan kita banyak pelajaran tentang bagaimana mengatasi penyakit, dan bagaimana mensyukuri keadaan tubuh yang masih sehat. Sakit disini, tentunya bukan hanya sakit penyakit, tapi sakit hati karena dikecewakan, ditinggalkan oleh orang yang dikasihi, dibiarkan bekerja sendiri, dan rasa sakit yang lain....dengan rasa sakit itu kita belajar melatih diri untuk menjadi lebih sabar, lebih arif. Dengan mengalami rasa sakit itu, kita dapat membantu meringankan beban orang lain yang merasakan kesakitan yang sama, dan menjadi semangat bahkan inspirasi bagi mereka, bukan semata-mata belajar bagaimana cara membalas rasa sakit yang kita alami kepada orang lain. Kesakitan, kepahitan dan kesedihan dapat menjadi alat Allah untuk memoles, mengasah, menjadikan kita semakin indah setiap harinya...jadi jangan mengeluh ketika rasa ‘sakit dan susah’ itu datang. Di dalam Tuhan tidak ada kesusahan yang terlalu susah, dan tidak ada kesakitan yang terlalu sakit, semuanya akan diubahkanNya menjadi sesuatu yang bernilai dan berharga bagi kita di kemudian hari kelak.
Fokus: Bertambah usia adalah bagian tahapan kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari. Umumnya orang berpendapat bahwa bertambah usia berarti bertambah pula kedewasaan seseorang. Tak heran orang yang lanjut usia biasanya dianggap dapat memberikan nasihat yag bijaksana kepada orang yang lebih muda. Namun realitanya, pertambahan usia tidak dapat dijadikan patokan bahwa seseorang bertamabah dewasa. Ada orang yang usianya sudah lanjut namun bersikap seperti kanak2, sebaliknya ada orang muda yang bertutur layaknya orang dewasa.
Mana ada sih manusia yang suka diremehkan? Rata2 dan kebanyakan, dan mungkin hampir semua manusia ingin diakui eksistensinya. Dari kanak2 hingga orang dewasa ingin dipandang oleh manusia lain. Hal tersebut merupakan hal yang normal ko! Ngak ada yang salah dengan kebutuhan akan pengakuan. Hanya saja, cara untuk menunjukkan eksistensi diri itulah yang keliru atau kurang tepat dan tentunya rekan-rekan sekalian dapat menemukan bentuk2 kekeliruan itu dalam teknologi yang namanya Facebook. Banyak anak, remaja, pemuda hingga orang dewasa menjadi tidak bijak menggunakan fasilitas tersebut. Up date status digunakan untuk menunjukkan kemarahan, kekesalan dan kebencian pada orang lain. Up Load foto dijadikan ajang untuk mempermalukan orang lain dan lain sebagainya. Tak mengherankan Facebook juga menjadi sarana untuk saling melempar tudingan, tuduhan palsu, dan menjadi ajang untuk unjuk kekuatan melalui rubrik ‘dukunglah’.
Mengapa itu semua dapat terjadi? Bukan teknologinya yang salah, namun orang yang menggunakannya yang kurang bijak dan berhikmat dalam menggunakannya, yaitu ketika mereka tidak menjadi manusia yang dewasa dalam bertutur, termasuk dalam menuangkan pikiran mereka dalam jejaring sosial tersebut. Apa aja sih ciri2 orang yang tidak dewasa?
Menurut ilmu psikologi, seorang yang belum dewasa adalah seorang yang:
- self centered, alias mengutamakan dirinya, kesenangannya, kebutuhannya, keuntungannya diatas yang lain. Apa yang ingin dilakukan, dikatakan, dituliskan adalah sesuai dengan kesenangannnya sendiri, tanpa memikirkan kebutuhan dan seringkali mengbaikan perasaan orang lain. Itulah yang kerap kali di lakukan oleh anak yang belum dewasa, yang dipikirkan itulah yang dilakukan, apa yang diinginkan harus diberikan, kalau tidak diberikan maka si anak akan marah dan ngambek. Apa kata Firman Tuhan? Manusia yang dewasa di dalam Tuhan tidak akan mengutamakan dirinya sendiri, karena Ia akan belajar untuk pertama-tama mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. Lebih lagi, ia akan belajar untuk berkorban bagi orang lain, sebagai wujud kasih yang paling nyata. Kebahagiaan orang lain menjadi tujuan hidupnya, tentunya bukan asal kebahagiaan, namun kebahagiaan yang sesuai dengan keinginan Tuhan bagi manusia.
- Belum dapat membedakan yang baik dan yang buruk. Namanya juga anak kecil, ia akan bertingkah berdasarkan naluri anaknya, bukan berdasarkan atas penilaian akan yang baik dan yang tidak baik untuk dilakukan. Jadi mereka yang tidak dewasa adalah mereka yang sudah tahu bahwa itu adalah perbuatan yang tidak baik, namun tetap dilakukan. Apa kata Firman Tuhan? Manusia yang dewasa di dalam Tuhan juga akan menjadi manusia yang sudah dapat membedakan yang baik, yang berkenan, dan yang memuliakan Tuhan, mengapa? Karena hidupnya sudah berada di dalam ‘Terang’ ia ada di dalam dunia namun tidak serupa dengan dunia. Ia ada bagi dunia, namun tidak menjadi seperti apa kata dunia. Manusia baru, dan bukan lagi menjadi manusia lama.
- Belum dapat menerima keberadaan orang lain sebagai sahabat yang melengkapi. Persaingan adalah hal yang manusiawi, namun bagaimana menyikapi persaingan itulah yang perlu dicermati dan diperhatikan. Orang yang belum dewasa akan melihat sesamanya sebagai ancaman, hingga ia dapat menggunakan apa-saja untuk melenyapkan sesamanya. Bukan menjadi berkat malah menajdi serigala bagi manusia lainnya. Apa kata Firman Tuhan? Kita diciptakan bukan untuk memberi masalah kepada orang lain loh! Tapi untuk menjadi garam dan terang untuk membawa sukacita, kedamaian bagi orang lain dan bukan kemarahan, dan iri hati. Tuhan menciptakan kita bukan untuk saling membenci, menganggap diri kita yang paling baik ataupun menganggap keberadaan orang lain membahayakan pamor kita, mengurangi pengakuan orang lain terhadap kita dan lain sebagainya. Manusia diciptakan untuk saling melengkapi sebagai kesatuan Tubuh Kristus. Jadi sebagaimana seharusnya tubuh Kristus, maka kita pula harus saling membantu dan menerima baik kekurangan dan kelebihan anggota tubuh yang lain bukan?
Nah, kini mari kita cari tahu apa sih yang sesungguhnya membuat kita tidak menjadi dewasa?
1. ay 9. salah memilih apa yang masuk ke pikiran, tubuh, dan hati kita. Seorang anak yang seharusnya sudah belajar mengkonsumsi makanan yang tingkat gizinya lebih tinggi sesuai dengan pertambahan usianya, namun terus2an diberi bubur dan susu, akan menjadi anak yang mengalami kurang gizi atau bahkan gizi buruk. Begitu juga dengan anak-anak Allah, yang lebih suka berada dalam zona aman dan nyaman, yang membuatnya tidak belajar apapun yang baru, akan senantiasa berada dalam tingkat kedewasaan yang segitu2 saja, tidak berkembang, bertumbuh! Jadi kalau ingin tumbuh dewasa, pilihlah apa yangbaik bagi pertumbuhan itu sendiri, bukan hanya yang kita inginkan, atau yang dirasa enak saja. Konsekuensinya: a. belajarlah melihat Firman Tuhan bukan hanya sebagai sesuatu yang menguatkan, namun juga menegur dan menghajar kita, agar kita berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. b. memilih segala sesuatu yang baik dan benar dan bukan enak dan sedap di pikiran, di hati, dan di mulut saja, baik itu makanan, bacaan, tontonan, hingga pergaulan. Apa standar kebaikkannya? FIRMAN TUHAN....tidak ada yang lain.
2. ay 10-11. bersedia menerima kritik dan hukuman, bila kita memang pantas menerimanya. Hukuman diberikan kepada seseorang bukan karena orang tersebut dibenci, namun untuk memperbaiki kelakuannya yang kurang tepat! Jadi bila kita dihukum oleh Tuhan terimalah dengan hati yang besar. Karena hukuman Tuhan diberikan bukan karena Tuhan membenci kita, namun karena Ia mengasihi kita lebih dari apapun, dan karena Ia ingin anak-anakNya menjadi anak2 yang kuat dan punya nilai. Belajarlah juga untuk menerima kritik, karena dengan mengabaikannya kita akan kehilangan untuk banyak kesempatan untuk menjadikan diri kita 100 hingga 1000x lebih baik, lebih pandai, lebih bijak, dan lebih berguna dari sebelumnya.
3. ay 28. bersedia untuk merasa ‘sakit dan susah’. Siapa coba yang mau sakit? Semua manusia tentu ingin merasa sehat dan tidak kekurangan apapun. Namun ternyata sakit memberikan kita banyak pelajaran tentang bagaimana mengatasi penyakit, dan bagaimana mensyukuri keadaan tubuh yang masih sehat. Sakit disini, tentunya bukan hanya sakit penyakit, tapi sakit hati karena dikecewakan, ditinggalkan oleh orang yang dikasihi, dibiarkan bekerja sendiri, dan rasa sakit yang lain....dengan rasa sakit itu kita belajar melatih diri untuk menjadi lebih sabar, lebih arif. Dengan mengalami rasa sakit itu, kita dapat membantu meringankan beban orang lain yang merasakan kesakitan yang sama, dan menjadi semangat bahkan inspirasi bagi mereka, bukan semata-mata belajar bagaimana cara membalas rasa sakit yang kita alami kepada orang lain. Kesakitan, kepahitan dan kesedihan dapat menjadi alat Allah untuk memoles, mengasah, menjadikan kita semakin indah setiap harinya...jadi jangan mengeluh ketika rasa ‘sakit dan susah’ itu datang. Di dalam Tuhan tidak ada kesusahan yang terlalu susah, dan tidak ada kesakitan yang terlalu sakit, semuanya akan diubahkanNya menjadi sesuatu yang bernilai dan berharga bagi kita di kemudian hari kelak.
Mengenali Talenta untuk Bekerja
Matius 25:14-28
Roma 12:1-18
Tujuan Sasaran:
Jemaat pemuda menyadari bahwa talenta adalah anugerah dari Tuhan, sehingga perlu direspon dengan baik
Jemaat pemuda diajak untuk peka mengenali kemampuan diri sehingga timbul kepercayaan diri
“Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini” tentu anda akan setuju dengan pernyataan ini, tapi apakah anda setuju dengan “Semua manusia diciptakan dengan talenta yang sempurna”? mungkin banyak dari kita setuju, namun banyak juga yang tidak. Namun yang menjadi penting adalah alasan kita mengatakan setuju, dan sebaliknya mengatakan tidak setuju. Mungkin, ketika kita merasa bahwa talenta yang Tuhan beri adalah talenta2 yang sederhana, maka kita mengatakan bahwa talenta kita tidaklah sesempurna mereka yang memiliki talenta2 luar biasa.Begitu juga sebaliknya. Kini, bagaimana dengan pendapat kita? Apakah memang benar bahwa talenta yang Tuhanberikan ada yang tidak sempurna? Atau jangan2 hanya pikiran kitalah atau bahkan kemanusiaan kitalah yang menjadikan talenta yang sempuran itu menjadi tidak sempurna. Adakah yang tidak sempurna dari Allah?
Jangan buru-buru menjawab ya! karena kita harus memahami dengan benar apa itu apakah talenta itu sesungguhnya, dan untuk apa Tuhan memberikan kita talenta yang berbeda satu dengan yang lain, apakah hanya untuk membuat iri satu manusia dengan yang lain atau apa?
Pertama2, kita perlu menyepakati besama terlebih dahulu beberapa Fakta umum tentang talenta:
1. Bahwa Tuhan memang memberikan talenta dengan jumlah yang berbeda kepada tiap manusia. Ay 15.
2. Bahwa Tuhan ingin kita menggunakan talenta kita dan menggandakannya hingga ada labanya. Ay 27
3. Bahwa Tuhan akan mengambil talenta, milik siapa yang tidak menghasilkan laba. Ay 28
Bila melihat pernyataan2 tadi, sebagai manusia yang egois, asusmsi yang mungkin tercipta adalah asumsi negatif dan bukan positif, terhadap Tuhan Sang pemilik dan pemberi talenta bukan? Itulah yang nampak dari pernyataan Si Pelayan “Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.” Tapi sungguhkah Tuhan kita adalah Tuhan yang kejam dan mengambil untung yang tidak halal? Hohoho, jangan juga terburu2 untuk menjawabnya. Tapi untuk dapat menjawab dengan tepat, kita perlu mencari landasan yang tepat pula bukan?
Mari kita lihat apa yang sesungguhnya yang Yesus inginkan. Hal Pertama yang harus kita perhatikan adalah bahwa perumpamaan ini dimulai dengan perkataan: “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti...” Apa artinya kerajaan sorga bagi Yesus? Tentunya bukan kastil yang megah dikelilingi taman yang indah, dengan sungai yang berkilauan karena batu-batu permata yang tertempa sinar matahari di bawahnya. Tapi dimana ada Kristus yang bertahta dan berkuasa atas seluruh hidup kita. Berkuasa disini tentunya bukan berarti Kristus diperkenankan untuk berlaku semena2 layaknya kita manusia yang suka mempergunakan kuasa untuk menghancurkan. Kristus bukan manusia!! Ia adalah Tuhanyang walau punya kuasa yang luar biasa namun tidak pernah menyalah gunakan kuasanya dengan melakukan tindakan yang semena2 terhadap ciptaanNya.
Yang menjadi masalah adalah, manusia lebih suka untuk menyamakan dirinya dengan Tuhan,dan memakai pengertiannya sendiri untuk menilai tindakkan kasih Tuhan yang sesungguhnya tidak dapat dipahami oleh nalarnya. Hasilnya? Tanpa mengerti secara utuh maksud Tuhan,manusia menghakimi Tuhan.
Roma 12:2 mengatakan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
tahukah kamu setara dengan berapa 1 talenta itu? 6000 dinar, dan itu bukanlah jumlah yang sedikit pada masa perjanjian baru. 1 dinar adalah jumlah uang yang diperoleh oleh seorang pekerja selama 1 hari, jadi 6000 dinar adalah jumlah yang diterima seorang pekerja selama 6000 hari atau kurang lebih 24 tahun (360- (54 x 2)= 252 hari kerja/ tahun). Kita bukan berbicara soal berapa rupiah 1 talenta itu pada masa ini, tapi bahwa pemberian Tuhan adalah sesuatu yang begitu berharga. Mau bukti lebih?
Adakah dari sekian banyak anda, yang nanti ketika sudah menjadi pengusaha sukses dan memiliki perusahaan yang luar biasa bertaraf internasional bahkan interplanet, mau memberikan uang kepada seorang karyawan teladan anda, sebesar 24 tahun gajinya (yang tentunya sudah ditambahkan kenaikkan gaji tiap tahunnya, THR dan bonusnya)? Anda pasti menjawab TIDAK! Itulah pemberian Tuhan kepada kita...Talenta jangan kita samakan dengan upah yang dibayar dimuka, karena si pemilik perusahaan akan pergi ke luar negri dalam jangka waktu yang tak terkira. Talenta bagi manusia adalah modal dasar yang Tuhan berikan kepada kita untuk dapat hidup, berkembang dan menjadi manusia yang utuh.
Ketika manusia belum jatuh ke dalam dosa mungkin manusia tidak membutuhkan talenta, karena untuk hidupnya manusia tidak usah bekerja dengan peluh. (baca: kerja keras hanya untuk mendapatkan sesuatu untuk dimakan, dipakai, dan melindungimu ketika kamu tidur). Tapi tokh Tuhan tetap Tuhan yang mengasihi ciptaanNya, diberikanNyalah kepada kita modal besar untuk melanjutkan hidup dan berkarya bagi sesama, bahkan untuk berkembang menjadi manusia yang lebih berkualitas!!! Maksudnya???
Maksudnya talenta kita itu bila kita kembangkan dan gunakan bukan untuk Tuhan untungnya, tapi untuk kita. Bayangkan ...dari yang hanya dapat bernyanyi...dan karena ia harus belajar menyanyikan nada2 dengan tepat, memaksanya untuk mempelajari alat musik Keyboard.... melalui tuts keyboard ia menjadi seorang pemain keyboard handal,... dan karena ia mau belajar semakin tekun dan berani mengembangkan kunci2 tangga nada yang bervariasi,...perjuangannya itu menjadikkannya seorang pemain musik yang luar biasa ditambah dengan suaranya yang merdu...jadilah ia seorang penyanyi terkenal yang diburu dengan harga bayaran selangit.
Rekan2 yang Tuhan beri adalah kepercayaan yang luar biasa, oleh karena itu jangan kita menghitung banyaknya, aqtau dari signifikansinya bagi kehidupan orang lain. 1talenta saja sudah merupakan kepercayaan besar, apapun bentuk dan macamnya, dan tentunya bukan berarti 10 talenta lebih berarti dari 1 talenta, atau bernubuat lebih baik daripada mengajar. Firman Tuhan mengatakan ”Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.” Tuhan tidak akan memberi sesuatu yang akan kita sia2kan, karena itu akan seperti gelas kaca yang sudah tidak mampu menanpung air, namun terus dituang air... hasilnya air terbuang karena kapasitas kita memang tidak mampu menampungnya. Namun tidak seperti gelas kaca, yang kapasitasnya tidak akan bertambah, kapasitas kita akan Tuhan tambahkan bila kita setia pada perkara2 yang telah Ia percayakan. Jadi seiring melakukannya, menggunakan talenta yang Tuhan beri tanpa sadar kita telah memperbesar kapasitas kita sebagai ciptaanNya.
“Bagaimana bila aku ngak percaya diri, bukannya gak mau memakai talenta dari Tuhan?” tanya seorang anak remaja kepada saya. Kira 2 apa ya jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini? Mungkin pertama2 kita cari tahu dulu bagaimana kita memandang suatu kepercayaan diri? Apakah kepercayaan diri timbul karena seseorang merasa memiliki nilai lebih dari yang lain, atau sesungguhnya karena manusia tahu bahwa ia tidak pernah bekerja sendiri, karena selalu ada Yang Maha berada di belakangnya dan memperlengkapi dia dengan segala sesuatu yang ia butuhkan untuk mengembangkan diri? Dengan kata lain, percaya diri bukanlah percaya pada kompetensi diri untuk berbuat ini dan itu, namun percaya bahwa kita telah dan akan selalu dilengkapi untuk mengerjakan ini dan itu oleh Dia yang telah mencipta kita dengan sempurna. Mari kita kenali bekal dan modal apa saja yang telah diberikan Tuhan kepada anda dan saya.
Tidak ada talenta yang lebih berharga dari talenta yang lain...semuanya sama berharganya. Talenta paling sederhanapun tetap menjadi talenta yang luar biasa bila kita percaya bahwa Sang pemberinya mampu membuatnya menjadi luar biasa, asal kita juga mau menggunakan kepercayaan tersebut. Percayalah, tidak ada satupun manusia yang lahir dan hidup tanpa diberi modal oleh Tuhan. Masa sih? Ya!! Mau bukti adakah manusia yang lahir tanpa otak?
Jadi bila kita kembali ke pertanyaan di awal renungan ini apakah anda setuju bahwa setiap manusia telah dilahirkan dengan talenta yang sempurna? Apa jawab saudara sekalian? Manusia memang terbatas namun didalam keterbatasan, Tuhan mempercayakan talenta2 yang sempurna.
Mengembangkan talenta bukanlah tanggung jawab yang memberatkan kok, lebih besar dari itu, mempergunakan kepercayaan dari Sang pemilik hidup!!
Roma 12:1-18
Tujuan Sasaran:
Jemaat pemuda menyadari bahwa talenta adalah anugerah dari Tuhan, sehingga perlu direspon dengan baik
Jemaat pemuda diajak untuk peka mengenali kemampuan diri sehingga timbul kepercayaan diri
“Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini” tentu anda akan setuju dengan pernyataan ini, tapi apakah anda setuju dengan “Semua manusia diciptakan dengan talenta yang sempurna”? mungkin banyak dari kita setuju, namun banyak juga yang tidak. Namun yang menjadi penting adalah alasan kita mengatakan setuju, dan sebaliknya mengatakan tidak setuju. Mungkin, ketika kita merasa bahwa talenta yang Tuhan beri adalah talenta2 yang sederhana, maka kita mengatakan bahwa talenta kita tidaklah sesempurna mereka yang memiliki talenta2 luar biasa.Begitu juga sebaliknya. Kini, bagaimana dengan pendapat kita? Apakah memang benar bahwa talenta yang Tuhanberikan ada yang tidak sempurna? Atau jangan2 hanya pikiran kitalah atau bahkan kemanusiaan kitalah yang menjadikan talenta yang sempuran itu menjadi tidak sempurna. Adakah yang tidak sempurna dari Allah?
Jangan buru-buru menjawab ya! karena kita harus memahami dengan benar apa itu apakah talenta itu sesungguhnya, dan untuk apa Tuhan memberikan kita talenta yang berbeda satu dengan yang lain, apakah hanya untuk membuat iri satu manusia dengan yang lain atau apa?
Pertama2, kita perlu menyepakati besama terlebih dahulu beberapa Fakta umum tentang talenta:
1. Bahwa Tuhan memang memberikan talenta dengan jumlah yang berbeda kepada tiap manusia. Ay 15.
2. Bahwa Tuhan ingin kita menggunakan talenta kita dan menggandakannya hingga ada labanya. Ay 27
3. Bahwa Tuhan akan mengambil talenta, milik siapa yang tidak menghasilkan laba. Ay 28
Bila melihat pernyataan2 tadi, sebagai manusia yang egois, asusmsi yang mungkin tercipta adalah asumsi negatif dan bukan positif, terhadap Tuhan Sang pemilik dan pemberi talenta bukan? Itulah yang nampak dari pernyataan Si Pelayan “Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.” Tapi sungguhkah Tuhan kita adalah Tuhan yang kejam dan mengambil untung yang tidak halal? Hohoho, jangan juga terburu2 untuk menjawabnya. Tapi untuk dapat menjawab dengan tepat, kita perlu mencari landasan yang tepat pula bukan?
Mari kita lihat apa yang sesungguhnya yang Yesus inginkan. Hal Pertama yang harus kita perhatikan adalah bahwa perumpamaan ini dimulai dengan perkataan: “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti...” Apa artinya kerajaan sorga bagi Yesus? Tentunya bukan kastil yang megah dikelilingi taman yang indah, dengan sungai yang berkilauan karena batu-batu permata yang tertempa sinar matahari di bawahnya. Tapi dimana ada Kristus yang bertahta dan berkuasa atas seluruh hidup kita. Berkuasa disini tentunya bukan berarti Kristus diperkenankan untuk berlaku semena2 layaknya kita manusia yang suka mempergunakan kuasa untuk menghancurkan. Kristus bukan manusia!! Ia adalah Tuhanyang walau punya kuasa yang luar biasa namun tidak pernah menyalah gunakan kuasanya dengan melakukan tindakan yang semena2 terhadap ciptaanNya.
Yang menjadi masalah adalah, manusia lebih suka untuk menyamakan dirinya dengan Tuhan,dan memakai pengertiannya sendiri untuk menilai tindakkan kasih Tuhan yang sesungguhnya tidak dapat dipahami oleh nalarnya. Hasilnya? Tanpa mengerti secara utuh maksud Tuhan,manusia menghakimi Tuhan.
Roma 12:2 mengatakan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
tahukah kamu setara dengan berapa 1 talenta itu? 6000 dinar, dan itu bukanlah jumlah yang sedikit pada masa perjanjian baru. 1 dinar adalah jumlah uang yang diperoleh oleh seorang pekerja selama 1 hari, jadi 6000 dinar adalah jumlah yang diterima seorang pekerja selama 6000 hari atau kurang lebih 24 tahun (360- (54 x 2)= 252 hari kerja/ tahun). Kita bukan berbicara soal berapa rupiah 1 talenta itu pada masa ini, tapi bahwa pemberian Tuhan adalah sesuatu yang begitu berharga. Mau bukti lebih?
Adakah dari sekian banyak anda, yang nanti ketika sudah menjadi pengusaha sukses dan memiliki perusahaan yang luar biasa bertaraf internasional bahkan interplanet, mau memberikan uang kepada seorang karyawan teladan anda, sebesar 24 tahun gajinya (yang tentunya sudah ditambahkan kenaikkan gaji tiap tahunnya, THR dan bonusnya)? Anda pasti menjawab TIDAK! Itulah pemberian Tuhan kepada kita...Talenta jangan kita samakan dengan upah yang dibayar dimuka, karena si pemilik perusahaan akan pergi ke luar negri dalam jangka waktu yang tak terkira. Talenta bagi manusia adalah modal dasar yang Tuhan berikan kepada kita untuk dapat hidup, berkembang dan menjadi manusia yang utuh.
Ketika manusia belum jatuh ke dalam dosa mungkin manusia tidak membutuhkan talenta, karena untuk hidupnya manusia tidak usah bekerja dengan peluh. (baca: kerja keras hanya untuk mendapatkan sesuatu untuk dimakan, dipakai, dan melindungimu ketika kamu tidur). Tapi tokh Tuhan tetap Tuhan yang mengasihi ciptaanNya, diberikanNyalah kepada kita modal besar untuk melanjutkan hidup dan berkarya bagi sesama, bahkan untuk berkembang menjadi manusia yang lebih berkualitas!!! Maksudnya???
Maksudnya talenta kita itu bila kita kembangkan dan gunakan bukan untuk Tuhan untungnya, tapi untuk kita. Bayangkan ...dari yang hanya dapat bernyanyi...dan karena ia harus belajar menyanyikan nada2 dengan tepat, memaksanya untuk mempelajari alat musik Keyboard.... melalui tuts keyboard ia menjadi seorang pemain keyboard handal,... dan karena ia mau belajar semakin tekun dan berani mengembangkan kunci2 tangga nada yang bervariasi,...perjuangannya itu menjadikkannya seorang pemain musik yang luar biasa ditambah dengan suaranya yang merdu...jadilah ia seorang penyanyi terkenal yang diburu dengan harga bayaran selangit.
Rekan2 yang Tuhan beri adalah kepercayaan yang luar biasa, oleh karena itu jangan kita menghitung banyaknya, aqtau dari signifikansinya bagi kehidupan orang lain. 1talenta saja sudah merupakan kepercayaan besar, apapun bentuk dan macamnya, dan tentunya bukan berarti 10 talenta lebih berarti dari 1 talenta, atau bernubuat lebih baik daripada mengajar. Firman Tuhan mengatakan ”Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.” Tuhan tidak akan memberi sesuatu yang akan kita sia2kan, karena itu akan seperti gelas kaca yang sudah tidak mampu menanpung air, namun terus dituang air... hasilnya air terbuang karena kapasitas kita memang tidak mampu menampungnya. Namun tidak seperti gelas kaca, yang kapasitasnya tidak akan bertambah, kapasitas kita akan Tuhan tambahkan bila kita setia pada perkara2 yang telah Ia percayakan. Jadi seiring melakukannya, menggunakan talenta yang Tuhan beri tanpa sadar kita telah memperbesar kapasitas kita sebagai ciptaanNya.
“Bagaimana bila aku ngak percaya diri, bukannya gak mau memakai talenta dari Tuhan?” tanya seorang anak remaja kepada saya. Kira 2 apa ya jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini? Mungkin pertama2 kita cari tahu dulu bagaimana kita memandang suatu kepercayaan diri? Apakah kepercayaan diri timbul karena seseorang merasa memiliki nilai lebih dari yang lain, atau sesungguhnya karena manusia tahu bahwa ia tidak pernah bekerja sendiri, karena selalu ada Yang Maha berada di belakangnya dan memperlengkapi dia dengan segala sesuatu yang ia butuhkan untuk mengembangkan diri? Dengan kata lain, percaya diri bukanlah percaya pada kompetensi diri untuk berbuat ini dan itu, namun percaya bahwa kita telah dan akan selalu dilengkapi untuk mengerjakan ini dan itu oleh Dia yang telah mencipta kita dengan sempurna. Mari kita kenali bekal dan modal apa saja yang telah diberikan Tuhan kepada anda dan saya.
Tidak ada talenta yang lebih berharga dari talenta yang lain...semuanya sama berharganya. Talenta paling sederhanapun tetap menjadi talenta yang luar biasa bila kita percaya bahwa Sang pemberinya mampu membuatnya menjadi luar biasa, asal kita juga mau menggunakan kepercayaan tersebut. Percayalah, tidak ada satupun manusia yang lahir dan hidup tanpa diberi modal oleh Tuhan. Masa sih? Ya!! Mau bukti adakah manusia yang lahir tanpa otak?
Jadi bila kita kembali ke pertanyaan di awal renungan ini apakah anda setuju bahwa setiap manusia telah dilahirkan dengan talenta yang sempurna? Apa jawab saudara sekalian? Manusia memang terbatas namun didalam keterbatasan, Tuhan mempercayakan talenta2 yang sempurna.
Mengembangkan talenta bukanlah tanggung jawab yang memberatkan kok, lebih besar dari itu, mempergunakan kepercayaan dari Sang pemilik hidup!!
Jumat, 12 Maret 2010
Bersama VS Berpihak pada Yesus
Yoh 15:4
“Bolehkah saya melihat KTP anda?”
“Oh tentu, tapi ada apa yaa?”
“Ngak Cuma mau lihat2 saja. Sejak kapan anda menjadi seorang Kristen?”
“Oh itu...sejak saya masih kecil. Saya dibaptis ketika berusia 3 bulan. Saya bangga akan Kekristenan saya. Saya lahir di keluarga Kristen, semua kakek nenek saya tidak mengenal agama Kafir, semuanya sudah menjadi Kristen. Dan...keluarga besar kami termasuk Kristen yang setia loh.”
“Ohhh....jadi anda menjadi Kristen karena dipilihkan orang tua ya?”
“Loh..loh apa maksudnya nih?”
“Iya toh, namanya bayi mana bisa milih? Wong buat minta makan aja masih nangis.”
Apa yang terbersit di benak saudara membaca percakapan di atas? Mungkin terasa menggelikan ya... namun bila anda yang disuguhkan pertanyaan macam itu, kira2 jawaban seperti apa yang akan anda berikan kepada sang penanya?
Banyak dari kita menjadi Kristen karena orang tua, pacar, suami-isteri, sahabat ataupun karena desakan pekerjaan. Salahkah? Tidak! Lalu apa yang salah? Yang salah adalah ketika kita memilih menjadi seorang Kristen hanya karena sekedar takut kehilangan orang yang kita sayangi, takut tidak dianggap anak dan akhirnya tidak dapat warisan, apalagi bila sudah diancam mau dicerai...wahhhh...ngak deh..jangan sampai terjadi.
Orang tua, sudah kewajiban mereka mengajarkan apa yang dianggap baik oleh mereka kepada anak mereka. Kekasih, juga pasti ingin memiliki pasangan yang sepaham, sevisi, hingga dapat membawa hubungan ke arah yang lebih baik dan jelas. Tapi memilih menjadi Kristen bukan perkara mudah dan tidak dapat dijadikan perkara main-main atau sekedar ikut2an. Mengapa? Karena menjadi Kristen bukan sekedar untuk mengisi kolom agama di KTP kita, atau di formulir untuk mengajukan paspor dan visa. Tapi menjadi pilihan seumur hidup kita.
Setiap kita tahu dengan benar apa konsekuensi menjadi seorang Kristen, dan untuk menjalankan konsekuensi itu kita harus punya lebih dari sekedar tekat tapi tingkat kesetiaan atau komitmen yang tinggi. Apakah anda akan bertahan untuk melakukan sesuatu yang tidak anda sukai, atau sesuatu yang ‘bukan gue banget’? tentu tidak bukan? Sama seperti anda berusaha mengerti kebiasaan pasangan anda yang sering pergi berbelanja, dan anda dimintanya untuk menemani hanya untuk membawakan tas belanjaan yang banyak. Pada mulanya anda mungkin akan menerima, dan senang untuk melakukannya, namun lama-kelamaan apakah anda tidak akan jengah?
Itulah mengapa pada masyarakat kita, dengan mudah kita temukan orang Kristen yang gemar ‘nebeng’. Kekristenan hanya menjadi tameng dan topeng sementara, yang dapat diganti bila situasi dan kondisi tidak memungkinkan lagi. Yang lebih ironis lagi, adalah ketika kita menggunakan identitas kekristenan kita untuk membenarkan apa yang salah, dan sebaliknya menyalahkan yang benar. Dengan mudah kita menghakimi orang lain yang tidak sepaham dan tidak sejalan dengan kita, hingga menggunakan Firman Allah untuk membenarkan kepentingan pribadi.
Coba deh kita uji diri kita dengan mencoba mencari tahu kata apa yang sering kita pakai bagi orang lain:
Orang lain Diri sendiri
Kan seharusnya... ah ga apa-apa kan...
Kamu ngak boleh.... sekali-sekali kok....
kamu tuh salah.... bener ko.....
kamu ngak pantes.... hanya cocok buatku....
kamu sih.... bukan aku kok....
kamu ngak bisa.... Cuma saya yang bisa....
Kristen yang ngak nebeng adalah Kristen yang baik perkataan dan perbuatannya mencerminkan kehendak, kasih, pengharapan dan iman kepada Allah dan sesama manusia. Lalu bagaimana kata-kata seorang yang berpihak pada Yesus?
Orang Lain Diri sendiri
Mari kita coba lagi aku juga bisa salah
Coba ceritakan kesulitanmu aku tidak mau berkompromi dengan dosa
Mari aku bantu maaf aku salah
Kamu spesial aku juga spesial
Sudah, ngak apa2 kok ini kekeliruanku
Ayo kamu pasti bisa aku akan selalu berusaha
Nah... kini sudah dapat melihat perbedaannya? Apa yang menyebabkan perbedaannya? Tentu bukan kata berpihak atau besama saja, seperti tema kita saat ini. Karena kata berpihak juga dapat disalahartikan sebagai hanya sebatas membela dan mengikuti. Membela tidak sama dengan meneladani. Menjadi pengikut juga tidak sama dengan menjadi kawan sekerja. Pengikut acap kali hanya menjadi pengekor, bukan pelaksana, hanya berani adu mulut dan bukan memberikan bukti nyata melalui karya. Pengikut juga dapat sekedar mengikuti tanpa tahu dengan pasti mengapa ia menjadi pengikut.
Tuhan tidak ingin kita menjadi pengikut, atau Kristen yang hanya berpihak saja. Karena orang yang berpihak sekian lamapun pun dapat berganti haluan bila ia tidak menghidupi keikutsertaannya itu. Jadi apa artinya menjadi manusia yang berpihak kepada Kristus? Yoh 15:4 mengajarkannya kepada kita.
Kita memang dipanggil untuk menjadi kawan sekerja Allah, kita juga dipanggil untuk menjadi pengikut Tuhan, namun itu semua bukan karena kita hebat dan layak untuk menjadi rekan sekerja dalam pengerjaan misi Allah, partner, apalagi menjadi anak Allah. Misi Allah itu tidak dapat dikerjakan dengan asal-asalan. Pelayanan yang kita kerjakan kini, di bumi, di gereja kita, di rumah dan kantor kita juga bukan semata-mata pekerjaan dari kita untuk Tuhan. Misi kita adalah misi Tuhan, dan misi kita dimulai dari misi Tuhan. Nah kalo begitu...tanpa hidup di dalam Tuhan dan mengenal apa sesungguhnya misiNya bagi dunia, mustahil kita dapat menjadi orang yang berpihak kepadaNya dalam seluruh hidup kita. Orang yang berani berpihak adalah orang yang tahu dengan pasti apa yang akan ia hadapi, memiliki dasar yang kuat, argumen yang tepat dan benar, dan siap menanggung apapun konsekuensinya sebagai seorang yang berpihak. Jadi ....
1. Tinggallah di dalam Dia. ARTINYA: beradalah, diam di dalam Tuhan, kenallah siapa Tuhan kita, apa yang Ia inginkan, harapkan dan cita-citakan. Jangan keluar dari hadirat Tuhan. Bukan berarti kita tinggal di gereja sepanjang hari dan tidak melakukan apa-apa. Tapi ketika kita menundukkan hati dan pikiran kita di dalam kehendak dan hukum Tuhan. Jadikan Ia sumber utama, bukan hanya pelengkap atau pemanis. Jadikan Ia makanan pokok bukan hanya hidangan pembuka atau penutup. Utamakan kehendakNya dan bukan kehendak kita. Hiduplah untuk mengerjakan cita-citanya bukan hanya sekedar hasrat atau ambisi kita. Dan....gunakanlah kekuatanNya untuk dapat mengerjakan kehendak dan misiNya. Tanpa kekuatan dariNya kita tidak akan pernah berhasil menjalankan fungsi sebagai manusia yang berpihak kepada Allah, mengapa? Karena sejak pada mulanya manusia menempatkan diri sebagai lawan Allah dan bukan sekutu Allah.
2. Berbuahlah. ARTINYA: menghasilkanlah. Bila anda makan sepanjang hari dan tidak melakukan apapun selama satu hari itu apa yang akan terjadi? Anda akan menumpuk begitu banyak energi, hasilnya, anda akan mengalami kegemukan, obesitas, diabetes. Apa gunanya kita belajar tentang Tuhan, siang malam berdoa puasa, membaca Firman Tuhan setiap saat, bila itu hanya untuk dirimu sendiri. Kita ada bukan hanya untuk diri kita sendiri bukan, kita ada untuk sesama manusia, jadi berbuahlah. Caranya? Lakukan semua hal baik yang kita dapat dari Tuhan. Bila kita tahu itu baik, Firman Tuhan adalah pelita hidup, sumber kekuatan, sumber penghiburan, tapi kita tidak pernah menggunakan dan melakukannya, dan membacanya hanya untuk sekedar tahu, untuk apa? Sama dengan menumpuk zat gula dan lemak dalam tubuh.
Tinggal di dalam Tuhan dan berbuah adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Kita tidak akan dapat berbuah tanpa tinggal di dalam Tuhan, sebaliknya, bila kita tidak berbuah artinya kita tidak tinggal di dalam Tuhan.
Berpihak kepada Yesus bukan seperti anggota DPR yang ramai ramai berpihak pada pansus...atau masyarakat yang berpihak pada salah satu atau malah beberapa partai hanya untuk sehari karena ada pembagian uang, makan dan kaos gratis. Berpihak kepada Yesus adalah melakukan apa yang Ia ingin kita lakukan setiap detik hidup kita, hidup di dalamNya dan berbuah bagi sesama.
“Bolehkah saya melihat KTP anda?”
“Oh tentu, tapi ada apa yaa?”
“Ngak Cuma mau lihat2 saja. Sejak kapan anda menjadi seorang Kristen?”
“Oh itu...sejak saya masih kecil. Saya dibaptis ketika berusia 3 bulan. Saya bangga akan Kekristenan saya. Saya lahir di keluarga Kristen, semua kakek nenek saya tidak mengenal agama Kafir, semuanya sudah menjadi Kristen. Dan...keluarga besar kami termasuk Kristen yang setia loh.”
“Ohhh....jadi anda menjadi Kristen karena dipilihkan orang tua ya?”
“Loh..loh apa maksudnya nih?”
“Iya toh, namanya bayi mana bisa milih? Wong buat minta makan aja masih nangis.”
Apa yang terbersit di benak saudara membaca percakapan di atas? Mungkin terasa menggelikan ya... namun bila anda yang disuguhkan pertanyaan macam itu, kira2 jawaban seperti apa yang akan anda berikan kepada sang penanya?
Banyak dari kita menjadi Kristen karena orang tua, pacar, suami-isteri, sahabat ataupun karena desakan pekerjaan. Salahkah? Tidak! Lalu apa yang salah? Yang salah adalah ketika kita memilih menjadi seorang Kristen hanya karena sekedar takut kehilangan orang yang kita sayangi, takut tidak dianggap anak dan akhirnya tidak dapat warisan, apalagi bila sudah diancam mau dicerai...wahhhh...ngak deh..jangan sampai terjadi.
Orang tua, sudah kewajiban mereka mengajarkan apa yang dianggap baik oleh mereka kepada anak mereka. Kekasih, juga pasti ingin memiliki pasangan yang sepaham, sevisi, hingga dapat membawa hubungan ke arah yang lebih baik dan jelas. Tapi memilih menjadi Kristen bukan perkara mudah dan tidak dapat dijadikan perkara main-main atau sekedar ikut2an. Mengapa? Karena menjadi Kristen bukan sekedar untuk mengisi kolom agama di KTP kita, atau di formulir untuk mengajukan paspor dan visa. Tapi menjadi pilihan seumur hidup kita.
Setiap kita tahu dengan benar apa konsekuensi menjadi seorang Kristen, dan untuk menjalankan konsekuensi itu kita harus punya lebih dari sekedar tekat tapi tingkat kesetiaan atau komitmen yang tinggi. Apakah anda akan bertahan untuk melakukan sesuatu yang tidak anda sukai, atau sesuatu yang ‘bukan gue banget’? tentu tidak bukan? Sama seperti anda berusaha mengerti kebiasaan pasangan anda yang sering pergi berbelanja, dan anda dimintanya untuk menemani hanya untuk membawakan tas belanjaan yang banyak. Pada mulanya anda mungkin akan menerima, dan senang untuk melakukannya, namun lama-kelamaan apakah anda tidak akan jengah?
Itulah mengapa pada masyarakat kita, dengan mudah kita temukan orang Kristen yang gemar ‘nebeng’. Kekristenan hanya menjadi tameng dan topeng sementara, yang dapat diganti bila situasi dan kondisi tidak memungkinkan lagi. Yang lebih ironis lagi, adalah ketika kita menggunakan identitas kekristenan kita untuk membenarkan apa yang salah, dan sebaliknya menyalahkan yang benar. Dengan mudah kita menghakimi orang lain yang tidak sepaham dan tidak sejalan dengan kita, hingga menggunakan Firman Allah untuk membenarkan kepentingan pribadi.
Coba deh kita uji diri kita dengan mencoba mencari tahu kata apa yang sering kita pakai bagi orang lain:
Orang lain Diri sendiri
Kan seharusnya... ah ga apa-apa kan...
Kamu ngak boleh.... sekali-sekali kok....
kamu tuh salah.... bener ko.....
kamu ngak pantes.... hanya cocok buatku....
kamu sih.... bukan aku kok....
kamu ngak bisa.... Cuma saya yang bisa....
Kristen yang ngak nebeng adalah Kristen yang baik perkataan dan perbuatannya mencerminkan kehendak, kasih, pengharapan dan iman kepada Allah dan sesama manusia. Lalu bagaimana kata-kata seorang yang berpihak pada Yesus?
Orang Lain Diri sendiri
Mari kita coba lagi aku juga bisa salah
Coba ceritakan kesulitanmu aku tidak mau berkompromi dengan dosa
Mari aku bantu maaf aku salah
Kamu spesial aku juga spesial
Sudah, ngak apa2 kok ini kekeliruanku
Ayo kamu pasti bisa aku akan selalu berusaha
Nah... kini sudah dapat melihat perbedaannya? Apa yang menyebabkan perbedaannya? Tentu bukan kata berpihak atau besama saja, seperti tema kita saat ini. Karena kata berpihak juga dapat disalahartikan sebagai hanya sebatas membela dan mengikuti. Membela tidak sama dengan meneladani. Menjadi pengikut juga tidak sama dengan menjadi kawan sekerja. Pengikut acap kali hanya menjadi pengekor, bukan pelaksana, hanya berani adu mulut dan bukan memberikan bukti nyata melalui karya. Pengikut juga dapat sekedar mengikuti tanpa tahu dengan pasti mengapa ia menjadi pengikut.
Tuhan tidak ingin kita menjadi pengikut, atau Kristen yang hanya berpihak saja. Karena orang yang berpihak sekian lamapun pun dapat berganti haluan bila ia tidak menghidupi keikutsertaannya itu. Jadi apa artinya menjadi manusia yang berpihak kepada Kristus? Yoh 15:4 mengajarkannya kepada kita.
Kita memang dipanggil untuk menjadi kawan sekerja Allah, kita juga dipanggil untuk menjadi pengikut Tuhan, namun itu semua bukan karena kita hebat dan layak untuk menjadi rekan sekerja dalam pengerjaan misi Allah, partner, apalagi menjadi anak Allah. Misi Allah itu tidak dapat dikerjakan dengan asal-asalan. Pelayanan yang kita kerjakan kini, di bumi, di gereja kita, di rumah dan kantor kita juga bukan semata-mata pekerjaan dari kita untuk Tuhan. Misi kita adalah misi Tuhan, dan misi kita dimulai dari misi Tuhan. Nah kalo begitu...tanpa hidup di dalam Tuhan dan mengenal apa sesungguhnya misiNya bagi dunia, mustahil kita dapat menjadi orang yang berpihak kepadaNya dalam seluruh hidup kita. Orang yang berani berpihak adalah orang yang tahu dengan pasti apa yang akan ia hadapi, memiliki dasar yang kuat, argumen yang tepat dan benar, dan siap menanggung apapun konsekuensinya sebagai seorang yang berpihak. Jadi ....
1. Tinggallah di dalam Dia. ARTINYA: beradalah, diam di dalam Tuhan, kenallah siapa Tuhan kita, apa yang Ia inginkan, harapkan dan cita-citakan. Jangan keluar dari hadirat Tuhan. Bukan berarti kita tinggal di gereja sepanjang hari dan tidak melakukan apa-apa. Tapi ketika kita menundukkan hati dan pikiran kita di dalam kehendak dan hukum Tuhan. Jadikan Ia sumber utama, bukan hanya pelengkap atau pemanis. Jadikan Ia makanan pokok bukan hanya hidangan pembuka atau penutup. Utamakan kehendakNya dan bukan kehendak kita. Hiduplah untuk mengerjakan cita-citanya bukan hanya sekedar hasrat atau ambisi kita. Dan....gunakanlah kekuatanNya untuk dapat mengerjakan kehendak dan misiNya. Tanpa kekuatan dariNya kita tidak akan pernah berhasil menjalankan fungsi sebagai manusia yang berpihak kepada Allah, mengapa? Karena sejak pada mulanya manusia menempatkan diri sebagai lawan Allah dan bukan sekutu Allah.
2. Berbuahlah. ARTINYA: menghasilkanlah. Bila anda makan sepanjang hari dan tidak melakukan apapun selama satu hari itu apa yang akan terjadi? Anda akan menumpuk begitu banyak energi, hasilnya, anda akan mengalami kegemukan, obesitas, diabetes. Apa gunanya kita belajar tentang Tuhan, siang malam berdoa puasa, membaca Firman Tuhan setiap saat, bila itu hanya untuk dirimu sendiri. Kita ada bukan hanya untuk diri kita sendiri bukan, kita ada untuk sesama manusia, jadi berbuahlah. Caranya? Lakukan semua hal baik yang kita dapat dari Tuhan. Bila kita tahu itu baik, Firman Tuhan adalah pelita hidup, sumber kekuatan, sumber penghiburan, tapi kita tidak pernah menggunakan dan melakukannya, dan membacanya hanya untuk sekedar tahu, untuk apa? Sama dengan menumpuk zat gula dan lemak dalam tubuh.
Tinggal di dalam Tuhan dan berbuah adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Kita tidak akan dapat berbuah tanpa tinggal di dalam Tuhan, sebaliknya, bila kita tidak berbuah artinya kita tidak tinggal di dalam Tuhan.
Berpihak kepada Yesus bukan seperti anggota DPR yang ramai ramai berpihak pada pansus...atau masyarakat yang berpihak pada salah satu atau malah beberapa partai hanya untuk sehari karena ada pembagian uang, makan dan kaos gratis. Berpihak kepada Yesus adalah melakukan apa yang Ia ingin kita lakukan setiap detik hidup kita, hidup di dalamNya dan berbuah bagi sesama.
Langganan:
Postingan (Atom)