Selasa, 04 Januari 2011

Immanuel: Memantapkan Kita Untuk Hidup dan Bersaksi

Immanuel: Memantapkan Kita Untuk Hidup dan Bersaksi
Yesaya 7: 10-16
Roma 1: 1-7
Matius 1: 18-25

Apa yang menjadi pertimbangan anda saat anda memilih nama untuk sang buah hati tercinta atau cucu terkasih? Ada orang yang menjadikan: kedengarannya tidak kampungan sebagai pertimbangan pertama. Lalu ke dua nama tersebut harus memiliki arti yang bagus, dan mengandung tumpukan harapan dari kedua orang tua, kakek, nenek, tante, om, yang sering kali (pada kahirnya) membuat si anak memiliki nama dua sampai empat orang.

Kita tidak akan memberi nama Yudas Iskariot bukan kepada anak kita atau nama Saul kepada cucu kita. Kita akan memilih nama-nama tokoh-tokoh besar yang terkenal dengan ketaatannya kepada Allah, atau pekerjaan pelayanan mereka yang luar biasa dan tentunya dengan harapan bahwa anak kita juga tumbuh dan berkepribadian seperti tokoh-tokoh tersebut. Petrus misalnya atau Daud, dan Daniel.

Salah satu nama yang seringkali dipilih oleh orang tua Kristen adalah Immanuel (bukan berarti kalau nama anaknya tidak ada sangkut pautnya dengan ayat Alkitab, orang tuanya bukan Kristen yaa...) Mengapa nama itu menjadi FAVORIT? Karena nama itu mengandung kesetiaan Allah. Ya! Betapa menyenangkannya hidup bila kita tahu bahwa Allah senantiasa menyertai kita. Kita berharap Allah senantiasa menjagai, melindungi, memberkati, memberikan yang terbaik kepada anak kita, dan akhirnyaaa..... anak kita menjadi anak yang mujur di setiap langkah hidupnya, prestasinya, kariernya, hingga rumah tangganya... Ya itulah harapan kita...dan tanpa kita sadar arti sesungguhnya dibalik nama itu.

Lalu apa sesungguhnya arti dari Immanuel. Tentunya sebelum kita tahu arti harafiahnya, kita harus tahu dulu mengapa Allah mengirimkan puteraNya ke dunia.
1. Yesaya 1: 4 “...dan katakanlah kepadanya: Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini...” Allah ingin agar umatNya: Teguh, tenang, tidak takut, dan kecut hati oleh karena musuh-musuhnya. Tentunya bukan hanya umatNya pada masa Yesaya, namun kita yang kini hidup oleh karena namaNya. Keteguhan, ketenangan, adalah hal yang tetap kita butuhkan sebagai umat Allah. Mengapa? Karena kita masih memiliki musuh-musuh besar dalam hidup. Memang bukan bangsa-bangsa asing, namun musuh yang bahkan lebih kuat. Apa dan siapa saja?...pasti dengan mudah anda dapat menjawabnya.
- Banyak hal di dalam dunia ini membuat kita tidak teguh dalam iman kita, yaitu ketika kita dipertemukan dengan banyaknya pilihan hidup yang menggoda kita dengan kenikmatan semunya. Kita juga sulit untuk dapat teguh dalam kasih yang tulus, bukan kasih pura-pura yang mencari keuntungan dan penuh dengan syarat seperti yang dunia tawarkan. Soal pengharapan? Tidak berbeda. Banyak dari kita tidak teguh berpegang pada pengharapan kita kepada Tuhan, alih-alih mencari manusia yang dianggap sakti, pintar, yang menawarkan pengharapan palsu.
- Tenang? Bagaimana mau tenang bila semua hal yang ada di dunia membuat kita resah. Keamanan tidak terjamin, kemakmuran masih jauh dari pelupuk mata, masa depan cerah bisa-bisa hanya khayalan...hingga kenapa jam segini suami belum pulang jangan-jangan selingkuh; mengapa hingga malam hari anak belum juga datang jangan-jangan dicelakai orang?jangan-jangan....jangan-jangan....semuanya dikuasai oleh rasa takut, kuatir.
- Kecut hati?Ya semakin banyak orang kecut hati untuk melakukan apa yang baik. Sedang untuk mengikuti apa kata dunia, semakin banyak orang yang berani...terlalu berani hingga tidak takut mati kekal. Manusia semakin kecut untuk mengungkapkan apa yang baik, yang berguna, yang membangun, karena takut dianggap aneh, sok suci, sok jadi teladan, padahal itu yang Tuhan mau.
- Tuhan ingin kita tahu bahwa Ia memberikan kita sebuah jaminan yang tidak tergantikan yaitu dirinya sendiri. Bahwa manusia tidak perlu takut, gentar, kuatir dan kecut hati, karena Ia hadir dalam kehidupan manusia. Memang kehadiranNya di dunia bukan untuk menghalau rasa takut, bukan juga untuk menghilangkan keraguan dalam hidup, namun mengubah ketakutan menjadi pengharapan sejati dan keraguan menjadi tantangan yang dapat diatasi. Bagaiamana? Dengan menjalani hidup bersama, oleh dan bagi Dia.
2. Roma 1:5 ”...supaya mereka percaya dan taat...” Percaya sama manusia tidak mudah. Apalagi sama Tuhan? Lebih tidak mudah lagi. Mengapa? Tuhannya tidak keliatan, JalanNya tidak dapat diprediksi, RencanaNya jauh dari rencana manusia, JawabanNya tidak tahu kapan diberinya. Ya...BILA UNTUK PERCAYA SAJA SULIT BAGAIMANA UNTUK TAAT? Mempercayakan diri saja tidak mau, apalagi melakukan perintahNYa. Oleh karena itu diberinyalah kita Firman Allah yang dapat dibaca, direnungkan dan tentunyaaaa... dilakukan dengan penuh ketaatan. Tuhan memberi kita petunjuk bagaimana kita harus hidup melalui kesaksian dan teladan hidupNya sendiri. Bukan hanya hidup para tokoh Alkitab, orang-orang suci, nabi dan hakim tapi hidupNya sendiri! Ia ingin kita taat pada perintahNya, namun Ia bukan Allah yang hanya suka memerintah, tapi membuktikan lewat kehidupanNya bahwa perintahNya dapat dilakukan dan berguna bila dilakukan. Alkitab bukan buku teori dan kumpulan tips, tapi kesaksian hidup!
3. Roma 1: 6 “...menjadi milik Kristus.” Kita memang disebut sebagai hamba Kristus. Kita menyebutNya Tuhan dan Allah Kita. Tapi apa yang membuktikan bahwa kita ini benar-benar menjadi milikNya? Bukan ketika kita memanggilNya dengan sebutan Bapa, Tuhan, Allah, Raja atau apapun yang menunjukkan pada gelar kebesaranNya. Namun ketika kita mampu menunjukkan kualitas diri kita. Seekor domba milik seorang peternak yang malas memberi makan, memberi minum, vitamin dan faksin selalu terlupakan,akan menjadi kurus, penyakitan dan tak laku dijual. Namun seekor domba milik gembala yang perhatian, selalu tepat waktu memberi makan, menggiring mereka ke air yang tenang, akan menjadi domba yang sehat, gemuk, yang memberi hasil yang baik pada musimnya. Begitu pula seorang yang menyatakan diri milik Kristus, sudah pasti menjadi orang yang berkualitas layaknya Kristus sendiri. Dia menjadi berkat bagi orang-orang di sekelilingnya, lebih dari itu dia akan menajdi seseorang yang dicari oleh sesamanya, dengan begitu hidup kita menadi kesaksian bagi Allah. Dan orang boleh bertanya: “ Siapakah Allahnya, yang menjadikannya manusia yang luar biasa?”
4. Roma 1: 7 “...dipanggil dan dijadikan orang kudus...” sebuah panggilan tentunya membutuhkan jawaban. Bila tidak ada yang menjawabnya maka panggilan tersebut akan menjadi panggilan yang sia-sia. Tentunya kita tidak ingin panggilan Tuhan menajdi panggilan yang sia-sia. Seorang yang dipanggil di tengah keramaian, dan menyadari bahwa dirinya dipanggil, akan segera menghampiri dia yang memanggilnya, bukan? Kecuali yang memanggilnya adalah petugas pajak mungkin ia akan lari...tapi kalau yang memanggilnya adalah orang yang mengasihinya, masakan ia tidak datang menghampirinya? Tapi kebanyakan manusia melakukan itu. Ketika kita dipanggil, kita hanya menjawab ya..dan tidak bergerak...tetap asik dengan pekerjaan dan kegiatan kita. Panggilan butuh lebih dari sekedar jawaban ya atau tidak! Tapi lebih pada perbuatan yang menyatakan ya terhadap panggilan. Bagaimana dengan dijadikan. Bagaimana cara anda membuat semangkuk sup yang lezat? Adakah anda memasukkan semua bahan-bahannya ke dalam panci yang besar tanpa membersihkannya atau memotongnya menjadi potongan kecil terlebih dahulu? Apakah anda akan memasukan seekor ayam bulat-bulat tanpa mencabuti bulunya dan memotong kukunya? Atau memasukkan wortel tanpa mengupasnya terlebih dahulu? Tentu tidak bukan? Anda akan membuatnya bersih, memotongnya hingga orang lain dapat menikmatinya tanpa tersedak. Begitu juga Allah ketika Ia menjadikan kita orang-orang kudus bagiNya! Ia akan mengolah dan memproses kita hingga kita layak menjadi orang-orang kudus pilihan Allah...Ia akan membersihkan kita, memotong kita, dan menjadikan kita berkat bagi orang yang ‘menikmati’ kita. Sakitkah? Yaaa..Bayangkan tuhan memotong dan membersihkan anda... sakit sekali namun membawa perubahan yang tidak akan pernah anda bayangkan seumur hidup anda!

Dia, Allah yang IMMANUEL, hadir, menyertai, agar kita mampu menjawab tantangan hidup dan menang atasnya. Ia hadir bukan untuk diriNya sendiri, kepentingan, kepuasan, harga diriNya, namun untuk menjadikan kita layak untuk disebut sebagai pewaris Kerajaan Allah.

Menantikan Keselamatan Dengan Damai Sejahtera Allah

Menantikan Keselamatan Dengan Damai Sejahtera Allah
Keselamatan macam apa yang sedang anda nantikan?
- Keselamatan yang biasa-biasa saja,
- keselamatan yang mudah ditemukan;
- keselamatan yang tanpa makna;
- keselamatan yang murah
- atau keselamatan yang tidak ada tandingannya sehingga kita ingin memperjuangkannya semampu, sekuat, seoptimal mungkin yang dapat kita lakukan?

Mengapa hal ini saya tanyakan kepada anda? karena tanpa anda melihat keselamatan yang sedang kita nantikan bersama itu sebagai sesuatu yang amat berharga dan tak tergantikan, anda tidak akan pernah melakukan segala sesuatu demi mendapatkannya. Karena sesungguhnya, cara pandang dan penilaian kita terhadap keselamatan yang telah dianugerahkan kepada kita itulah yang yang menentukan bagaimana cara kita menantikannya.

Anda tidak akan pernah merasa penting untuk mandi dan berias dengan sebaik dan serapih mungkin bila anda merasa orang yang akan mengunjungi anda bukanlah orang yang spesial. Tapi anda akan tampil semaksimal mungkin dengan gaun yang terbaik, termahal, dengan jas kreasi perancang busana ternama, dengan tata rias dari salon yang terkenal, ketika anda sadar bahwa dia yang akan datang adalah calon mempelai, pujaan hati kita yang sudah lama dinantikan untuk dipinang.

Keselamatan kita memang murah, tapi bukan murahan! Keselamatan kita memang diberikan secara Cuma-Cuma, tapi bukan berarti kita dapat memperlakukannya secara semena-mena. Karena sesungguhnya keselamatan diberikan kepada kita bukan karena kita pantas menerimanya, namun karena terlalu besar kasih Allah bagi kita. Keselamatan itu milik Allah dan bukan milik kita, sehingga bila Ia mau mengambilnya kembali dari kita, tentu juga menjadi hak nya. Namun kini pertanyaannya, maukah kita Allah mengambil kembali keselamatan kita?

“Wahh... kalo itu sih saya ngak mau!” kalau tidak mau
berarti kita harus dapat memaknai dengan benar keselamatan Allah itu, sehingga kita dapat menantikannya dengan cara yang benar juga. Jangan kita hanya mau keselamatanya saja namun tidak mau menjalani penantiannya. Sama seperti mau nonton di bioskop tapi ngak mau ngantri tiketnya. (walau sekarang tiket dapat dipesan via internet ato pake calo) penantian kita akan keselamatan tidak dapat diwakilkan oleh siapapun. Setiap kita dipanggil untuk menantikan keselamatan Allah secara pribadi. Kalau saja penantiannya dapat diwakilkan, mungkin Tuhan juga dapat berkata: “ keselamatannya juga diwakilkan saja yaa..”

Nah, keselamatan seperti apa sih yang Tuhan sediakan bagi kita?
Yesaya menyaksikan bahwa
1. keselamatanNya adalah keselamatan yang kekal, yang dipenuhi kemuliaan yang tidak dan belum pernah disaksikan oleh manusia.
2. Dimana penyataan Allah hadir secara sempurna. Bila Paulus mengatakan “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” Itulah sesungguhnya yang akan kita alami bersama. Allah akan hadir tepat di hadapan kita muka dengan muka. Ia bukan lagi hadir dalam rupa mungil seorang bayi yang tidak berdaya, tapi Ia akan hadir sebagai hakim dan wasit, dan padanyalah seluruh hak menghakimi dan padanyalah semua bangsa bertekuk lutut.
Apa dampaknya bagi dunia?
1. Bahwa manusia tidak lagi dapat menjadi hakim bagi sesamanya.
2. Manusia tidak lagi hidup dalam permusuhan namun kedamaian yang abadi yang tidak pernah dapat diciptakan dan dirasakan oleh ragam manusia dari segala abad dan tempat. Apa yang diidamkan manusia, yaitu kedamaian yang sejati baru dapat terwujud pada saat itu,
3. ketika Allah berdaulat penuh atas hidup manusia. Bukankah itu yang manusia harapkan? Hidup dalam kedamaian abadi, tanpa rasa takut, kuatir, tanpa adanya amarah, dendam, kepahitan, tangis dan kecewa. Namun ternyata, keselamatan bukan sesuatu yang sama sekali asing dalam kehidupan kita.
MAUUU???!! Pasti mau dimana kita hidup tanpa mengelus dada... tanpa berpikiran negatif...dsb
Keselamatan sudah dapat kita saksikan, rasakan kini, sekarang dalam dunia. Hanya saja terkadang bagi kita, kedamaian yang ditawarkan dunia jauh lebih menarik ketimbang kedamaian dari Allah.
Loh ko? Bukankah kedamaian yang ditawarkan dunia adalah kedamaian semu. Senang sekarang, maut berikutnya; Tenang sekarang, takut berikutnya. Yah... karena selera manusia tentang kedamaian berbeda dengan selera Tuhan. Manusia menyukai:
1. kedamaian yang dihadirkan oleh pesta pora,
2. kebahagiaan yang dihadirkan kemabukan,
3. kenikmatan yang dihasilkan percabulan,
4. kepuasan yang ditawarkan hawa nafsu,
5. kepuasan ketika kita memenangkan perselisihan dan
6. kesenangan ketika ada orang lain yang iri terhadap kehidupan kita.

Selain itu, tidaklah mudah mendapatkan kedamaian Allah, selama manusia masih dikelilingi kenikmatan dunia yang walau sementara namun dapat memberikan kepuasan bagi harga diri, hawa nafsu dan kemanusiaan kita. Karena kedamaian dari Allah tidak dapat datang begitu saja, bahkan kedamaian Allah biasanya dianugerahkan dan dialami manusia ketika mereka sedang berada dalam kesulitan, keterpurukan, tantangan, kegelisahan, dukacita hidup. Siapa yang mau?
Tentu kita harus berani untuk memilih! memang kenikmatan dunia layaknya jalan lurus yang lebar, tapi berujung sempit, terjal, yang menghantar kita pada kematian kekal. Sedangkan kedamaian Allah di dunia dapat dinikmati di jalan sempit, kotor, terjal, berbatu, dengan bau yang tak sedap, namun menghantar kita pada kemenangan sejati.
Kita semua sudah hampir tiba di tempat tujuan, namun persimpangan selalu ada di hadapan kita memberikan tantangan dan godaan. Sanggupkah kita melawannya? Atau kita terima godaannya dan ikuti kehendaknya. Sayangnya kapan berakhirnya perjalanan hidup kita bukan kitalah penentunya. Tapi Allah. Perjalanan dan penantian kita dapat berhenti kapanpun sesuai dengan kehendak Allah. Nah, bagaimana jadinya bila perjalanan kita dinyatakan berhenti, ketika kita sedang salah memilih persimpangan? Apa yang akan terjadi. KITA KALAH! Hidup ini layaknya permainan dengan segala tantangannya, kita bisa kalah bisa juga menang, namun tidak seperti permainan pada komputer, ketika kita salah memilih jalan, kalah, kita dapat kembali mengulang. Hidup ini tidak ada siaran ulangnya, tidak ada remedial atau ulangan ulang. Sekali salah ya salah. Untuk itu Tuhan mengajak kita untuk berjaga2. Apa artinya? Artinya bertanggung jawab atas hidup yang diberikan dan dipercayakan kepada kita.
Walau kita tahu hari ini tidak akan ada pencuri masuk ke dalam rumah kita, tapi kita tetap mengunci rumah kita bukan? Mengapa? Karena itu tindakan yang bertanggung jawab!
KEDAMAIAN SUDAH ADA DI DALAM HATI KITA RASAKAN..NIKMATI DAN ALAMI DENGANBEGITU KITA DIMAMPUKAN UNTUK MEMILIH KEDAMAIAN YANG TEPAT

BERUBAH!!

Masih Ingatkah teman2 siapa tokoh pahlawan dari Jepang yang muncul di sekitar tahun 90-an dengan slogannya: BERUBAH? Yups! Ksatria Baja Hitam atau yang juuga dikenal sebagai Kamen Rider Black. Tokoh utamanya Kotaro Minami (Tetsuko Kurata) selalu berseru BERUBAH ketika ia ingin mengejar dan melawan penjahat dan seketika itu juga dia berubah menjadi pahlawan bertopeng dan berkostum hitam yang memiliki jurus tendangan dan pukulan maut. Tapi ternyata perubahannya tidak bersifat permanen. Setelah ia selesai menghabisi para lawannya, ia kembali menjadi seorang pelajar biasa bernama Kotaro Minami, tanpa kekuatan supernya.
Nah, kalo diperhatikan, cara kita menjalani kehidupan ini mirip banget loh sama cerita fiksi Ksatria Baja Hitam. Coba kita liat apa aja sih kesamaannya. Di tahun yang baru ini, banyak dari kita yang berkomitmen untuk berubah. Ada yang ingin menjadi lebih rajin, lebih taat sama orang tua, lebih mengasihi teman-teman, lebih rajin SaTe ( Saat Teduh), lebih sabar dannnnn lain sebagainya. Tapi, apakah sungguh kita dapat benar-benar berubah? Biasanya di awal tahun, hari-hari pertama khususnya  kita memang menunjukkan perubahan, tapi mulai minggu ke 2, 3...bulan ke 2, 3...kita mengalami perubahan kembali, berubah seperti sedia kala. Bahkan lebih buruk dari yang sedia kala ( kalo ini mungkin ga kaya Ksatria Baja Hitam ya).
Kesamaan yang lainnya: Coba deh kita perhatikan saat-saat apa saja Kotaro Minami berubah menjadi Ksatria Baja Hitam? Saat-saat sulit saja kan? Saat ada musuh, ada monster, ada dan lain sebagainya... Intinya Kotaro Minami berubah hanya pada situasi kondisi tertentu. Begitu juga dengan kita! Kita baru mau berubah bila situasi dan kondisi memungkinkan dan mendorong kita untuk berubah. Misalnya setelah kita mengahadiri retreat jemaat yang mengharu biru, atau karena kotbah tahun baru yang biasanya mengajak kita untuk berkomitmen dan membuat sebuah perubahan yang berarti dalam hidup. Tak mengherankan setelah kita kembali dalam rutinitas dan perlahan mulai melupakan momen-momen tersebut, komitmen dan perubahan hidup kitapun terabaikan. Hasilnya...perubahan yang kita janjikan pada diri sendiri tersebut tidak membuat hidup kita sungguh-sungguh berubah.
Teman-teman, seorang filsuf pernah mengatakan bahwa tidak ada di dalam dunia ini yang tidak berubah kecuali perubahan. Kita juga dituntut untuk berubah. Perubahan ke arah yang lebih baik tentunya. Perubahan adalah suatu hukum kehidupan, setiap kita yang terpaku pada masa lalu tidak akan pernah memiliki masa depan, termasuk ketika kita memilih terpaku pada kegagalan kita pada masa lalu dan tidak mau bangkit mengatasinya. Mari kita usahakan perubahan secara terus menerus, perubahan yang menjadikan hidup kita menjadi lebih maju, berkembang...dari hari ke hari. Jangan tunggu kondisi dan dituasi yang mengontrol perubahan yang dapat kita lakukan sekarang! Karena bila waktu sungguh berhenti, dan kita tidak memiliki kesempatan untuk mengubah hidup kita, yang tersisa hanyalah kenangan yang membawa penyesalan.
Mari kita berkata seperti Paulus berkata: “...aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” So...berubahlah menjadi lebih baik selama waktu dan kesempatan untuk berubah masih ada, Jangan tunggu esok dan jangan berubah menjadi lebih buruk!

Rabu, 21 Juli 2010

Terus Berkarya Menjadi Berkat

Kejadian 12: 1-9
Mazmur 126
Galatia 6: 1-10
Lukas 8: 4-15

Berkat: bless
PL : Barak, berakah= berkat, pemberian, kemakmuran dalam Tuhan, kedamaian
PB : eulogeo= berkat, anugerah, keuntungan, yang disampaikan dengan penuh syukur, dan dalam doa yang sungguh-sungguh kepada Allah

Siapa menurut anda yang dapat dipakai Tuhan untuk menjadi berkat? Semua orang? Dari semua tingkatan usia? Atau Mereka yang hanya memiliki kelimpahan kekayaan baik material, spiritual, intelektual? Mereka yang dinyatakan sempurna dan tidak bercacat? TENTU TIDAK! Seseorang menjadi berkat atau tidak, tdiak ditentukan oleh batas-batas menurut manusia. Karena berkat itu sendiri bukan berasal dari manusia! Berkat adalah pemberian Ilahi, bukan semata mata berasal dari manusia itu sendiri. Apa yang dapat diberikan manusia kepada manusia lain bila Allah tidak terlebih dahulu memberikan kepadanya?

Setiap manusia dipanggil untuk menjadi berkat, bukan dipaksa untuk menjadi berkat. Oleh karena itu menjadi berkat bukan semata-mata karya Tuhan, namun juga respon manusia terhadap panggilan Allah tersebut. Tidak ada halangan bagi setiap manusia untuk menjadi berkat bagi sesamanya, termasuk ketika manusia mulai digerogoti usia. Ketika ia tidak lagi sepandai, segesit, sesehat, sekuat dahulu ketika usia masih kepala 2 atau 3. Setiap manusia, hingga usia tertua sekalipun masih tetap dapat menjadi berkat bagi sesamanya.


Kini, bagi kita, bagaimanakah kiranya cara manusia untuk menjadi berkat yang sungguh2?

1. Apa yang unik dari seorang Abraham? Ketika Tuhan menjanjikan Abraham menjadi berkat bagi semua suku bangsa di bumi, bukan berarti janji Tuhan terjadi begitu saja sejalan dengan FirmanNya. Abraham merespon panggilan Tuhan dengan ketaatan penuh di masa tuanya. Bagi kita manusia dewasa ini usia tua adalah usia dimana manusia sulit menerima baik masukan; teguran; kritikan; pandangan yang baru, yang tidak sejalan dengan pandangannya yang terdahulu. Usia tua juga dikenal sebagai usia matang dan mapan, dimana seseorang akan memegang prinsip hidupnya lebih kuat dari masa-masa sebelumnya karena asam garam yang telah dilaluinya sepanjang kemudaannya. Tapi ternyata hal tersbut tidak terjadi pada Abraham. Dalam masa tuanya Abraham memulai perjalannya menajdi Bapa Orang Percaya, menjadi berkat bagi bangsa bangsa, dengan ketaatan penuh kepada Tuhan. Ketaatan yang membawanya kepada ketidaknyamanan, ketidakmapanan, ketakutan-ketakutan baru. Apa yang dapat kita pelajari dari respon Abraham? Menajdi berkat bagi seseorang komunitas, atau bagi siapapun, sering kali membutuhkan pengorbanan diri, kesediaan dipakai dengan cara yang tidak biasa, termasuk meninggalkan zona keamanan, dan kenyamanan. Menjadi berkat bukan semata-mata hal yang menyenangkan, kadang kita dibawaNya kepada kebimbangan dan ketidakpastian hidup, tapi disitulah kunci utamanya TAAT! Taat kepada perintahNya, bukan kita; kehendakNya, bukan kita; mengikuti jalanNya, bukan kita; aturanNya, bukan kita; untuk kepentinganNya, bukan kita.
2. Surat Galatia memberi kita tips dan resep lengkapnya bagaimana menjadi berkat. Yang pertama, bertolong-tolongan. Bukan berarti kita sebagai pribadi, tidak dapat menjadi berkat, namun alangkah baiknya bila kita menyatukan hati bersama untuk saling menolong dalam menjadi berkat. Kita tidak selalu kuat, tidak selalu memiliki semangat, tidak selalu berhikmat, tidak selalu bijak, oleh karena itu kita butuh sesama untuk meguatkan, menyemangati, memberi nasihat bijak, dan membantu kita berhikmat. Bahkan, sebelum kita menjadi berkatbagi kelompok yang lebih besar, kita dapat saling menjadi berkat satu sama lain. Kedua, saling berbagilah (6). Bukan hanya kepada yang kurang, tapi saling memperkayalah dalam kasih Kristus. Jangan hanya mau diberi, tapi berilah kepada mereka yang juga memberi kepada kita, terlepas mereka menerima atau tidak pemberian kita, yang pasti setiap orang pasti memiliki kekayaan yang dapat dibagikan kepada orang lain. Tidak ada manusia yang diciptakan hanya untuk menerima, dan tidak ada manusia yang diciptakan hanya untuk memberi. Setiap orang diberikan kesempatan untuk memberi dan menerima. Ketiga, taburlah apa yang BAIK MENURUT ROH. Dalam dunia ini kita dapat menemukan banyak orang baik, tapi sedikit orang benar. Tuhan tidak meminta kita hanya menjadi baik, tapi juga menjadi benar. Perbuatan baik kita belum tentu benar adanya dihadapan Tuhan, tapi apa yang benar menurut Tuhan pastilah baik dalam pandangan manusia yang terbatas sekalipun, walau kebaikannya tidak dapat dinikmati seketika itu juga. Jadi carilah yang baik menurut Allah terlebih dahulu, ketimbang yang baik menurut pengertian kita, manusia yang terbatas ini. Kini, apa yang dapat ditabur oleh BPK Penabur? Kesombongankah? Kepercayaan diri yang terlalu tinggi karena pendidikan yang dianggap sudah baik? Kebohongankah? Atau apa? Tentu bukan itu semua...tapi apa yang dikehendaki Allah untuk kita lakukan, ketulusan, kejujuran, kebaikkan hati, kerendahan hati, kesetiaan... dan lain sebagainya. Tantangannya kini adalah KOMITMEN untuk tetap menjadi berkat, bukan batu sandungan, menjadi garan dan terang dan bukan menjadi kutuk.


Dan apakah yang dapat kita lakukan selaku jemaat? Dukunglah BPK Penabur dalam doa, agar sungguh keberadaan BPK Penabur menjadi berkat yang tidak terkira bukan hanya bagi jemaat GKI, masyarakat Kristen, tapi lebih luas lagi, yaitu bersatu padu mencerdaskan kehidupan bangsa!! Bukankah dengan begitu BPK penabur menjadi berkat yang tak terkira bagi bangsa indonesia?

Diperbaharui Untuk Mempertemukan Orang Lain Dengan Kuasa Tuhan.

Kis 16:9-15
Wahyu 21: 10,22-22:5
Yohanes 5: 1-9

Tujuan: Anggota jemaat dimampukan untuk mengalami perubahan hidup sehingga mampu mempertemukan orang lain dengan kuasa Tuhan.

Apa yang anda bayangkan tentang kuasa Tuhan? Adakah dari saudara yang pernah merasakan kuasa Tuhan? Seperti apakah kuasa Tuhan itu? Mungkin anda akan menjawab kuasa Tuhan itu besar, tidak dapat terduga, tidak dapat didefinisikan, bahkan irrasional (padahal seharusnya suprarasional=melampaui akal pikiran manusia). Atau anda akan berkata bahwa kuasa Tuhan akan mendatangkan damai sejahtera, sukacita, kekuatan, penghiburan dan lain sebagainya. Jawaban2 itu saya katakan sebagai jawaban klise. Anda dapat menjawab itu semua berdasarkan apa yang ditulis dan dinyatakan oleh para penulis Alkitab yang telah mengalaminya.

Namun kini, saya bertanya kepada anda sebagai pribadi, apakah anda sungguh2 mengalaminya? mengalami kuasa Tuhan itu sendiri, hingga anda dapat memahami dan mengalami benar apa yang dikatakan oleh para penulis Alkitab itu? Apakah anda sungguh dapat mengatakan bahwa apa yang disaksikan oleh Alkitab adalah ya dan amin, dan bukan sekedar mengekor karena tidak tahu harus berkata apa, karena kita sendiri belum merasakan kuasa Allah? Atau tidak sadar bahwa setiap hari dalam hidup anda, anda sesungguhnya merasakan kuasa Allah?

Ada seorang remaja berkata: “Kak tahukah kakak apa yang akan kita rasakan ketika mengalami kuasa Tuhan? Malu ka! Karena Dia saja yang memiliki kuasa begitu besar untuk mengubah diri saya tidak sombong, dan tidak pernah memegahkan diriNya, tapi saya yang tidak ada apa2nya, yang begitu dikasihiNya, sudah merasa menjadi segalanya.” Ada lagi yang mengatakan: “Sedih dan terharu, karena Dia sesungguhnya punya kuasa untuk melenyapkan saya ketika saya terus menerus memilih untuk berdosa dan bukan taat, tapi Ia tetap memberikan saya kesempatan, bahkan dengan kuasaNya Ia menolong saya menjadi pribadi yang lebih baik.”

Perjumpaan Saulus dengan Tuhan untuk pertama kalinya, mungkin tidak membawa sukacita, namun ketakutan. Bagaimana tidak, ia yang tadinya penuh kuasa untuk mengejar dan membunuh orang Kristen, menjadi tak berdaya karena kebutaannya. Tapi Bagaimana dengan orang lumpuh di tepi kolam Bethesda? Tidak ada reaksi signifikan yang dialami olehnya, ia cenderung hanya mengikuti perintah, bahkan ia tidak sadar siapa yang telah menyembuhkannya. (Yoh 5:8-13)

Apa yang dapat kita pelajari dari 2 pengalaman di atas? Perjumpaan dengan Tuhan tidak semata-mata mendatangkan damai, sukacita, kebahagiaan, penghiburan namun juga rasa malu, terharu, sedih, bahkan tidak sadar bahwa sesungguhnya kuasa Tuhan sudah dialami. Tuhan selalu punya 1001 cara berbeda untuk menunjukkan kuasaNya kepada manusia, dan perasaan yang ditimbulkan juga berbeda. Kini, apa yang menjadi persamaannya? perjumpaan dengan kuasa Tuhan membawa kita kepada perubahan hidup dan pertobatan yang sejati artinya PERUBAHAN! Saulus berubah, Orang lumpuh itu juga berubah (paling tidak ia dapat berjalan, walau tidak pernah diceritakan bagaimana perubahan hidupnya melawan dosa. Ay.14)

Menurut anda apakah Dia akan sembarangan mencari orang yang akan mempertemukan kuasaNya dengan orang lain ? Saya rasa tidak, Ia ingin setiap kita mengalami KuasaNya terlebih dahulu. Karena hanya kuasaNya yang memampukan seseorang mengalami perubahan. “hidupku, bukannya aku lagi, tapi Kristus!” itulah perkataan Paulus yang begitu terkenal. Tapi bagaimana ia dapat berkata demikian hanya karena ia telah ‘ditangkap’ oleh Kuasa Kristus (Filipi 3:12).
Jadi....sesungguhnya kita tidak akan pernah dapat mempertemukan orang lain dengan kuasa Tuhan, tanpa kita mengalami kuasaNya yang mengubahkan tersebut terlebih dahulu. Atau kita akan seperti seorang anak yang berkata betapa enaknya makan es krim coklat padahal ia tidak pernah merasakan bagaimana sesungguhnya enaknya makan es krim coklat. Ia hanya mengatakan hal tersebut supaya teman2nya tahu bahwa ia telah mencoba es krim coklat. Hasilnya....Ia hanya mengatakan sesuatu berdasarkan pengetahuannya tentang apa itu es krim coklat dan bukan berdasarkan perasaan yang ia peroleh ketika ia mengalami nikmatnya es krim coklat. Orang lain akan melihat bedanya!! Apa yang membuat berbeda? Karena berbeda berkata2 dengan kekuatan dan pengetahuan kita sendiri dengan berkata2 dengan kekuatan dan hikmat Allah, maksudnya? KUASA ALLAH ITU SENDIRILAH YANG AKAN MEMANCAR DARI HIDUP KITA ketika kita berjumpa setiap harinya dengan orang2 di sekitar kita.

Sekarang.....bagaimana caranya mengalami kuasa Allah yang memperbaharui hidup kita itu, hingga kita sungguh menjadi baru dan dimampukan untuk mempertemukan kuasa tersebut kepada orang lain?
1. Pembaharuan hidup yang sungguh, dapat dirasakan oleh mereka yang mau belajar untuk TAAT. Dapatkah orang lumpuh di tepi kolam Bethesda kembali berjalan tanpa mau bangun, mengangkat tilam dan mulai berjalan? TIDAK saudara2. kesembuhan itu tidak akan pernah terjadi! Taat bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, sekalipun kita sudah menerima Yesus dalma hidup kita. Karena ketaatan tidak hanya membutuhkan kemauan, ketekunan, tapi juga iman yang tidak sekedar percaya. Bila anda mengalami apa yang dialami oleh orang lumpuh itu, dan ada seorang yang asing di hadapan anda mengangatakan hal yang sama yang Yesus katakan kepada orang lumpuh tersebut, maukan anda mengikutinya? Alih2 anda akan mengatakan: “kamu gila ya!! Atau, kamu tuh bukan Tuhan tau! Tau gak saya ini udah puluhan tahun lumpuh sarafnya sudah putus, mana mungkin bisa berjalan lagi, kamu mau mengejek saya yaa!!” Taat kepada Tuhan itu berbeda dengan ketaatan kita kepada sesama manusia. Terhadap manusia kita dapat berkata: siapa kamu, atau kita akan mengolah semua perintah dengan rasio (baik atau tidak menurut saya, mudah atau sulit untuk saya lakukan) kita terlebih dahulu. Tapi tidak begitu dengan ketaatan kepada Tuhan. Kita tidak akan pernah bisa berkata: Siapa anda, mau perintah2 saya?! Atau menggunakan rasio kita terlebih dahulu. Karena Allah tidak selalu dapat dimengerti dengan rasio, walau tetap kita harus mengujinya menggunakan rasio dan hikmat Allah secara terus menerus.
2. Mau dan siap untuk BANGUN, MENGANGKAT TILAM DAN BERJALAN. Apa yang akan terjadi bila anda hanya duduk atau tidur selama berpuluh tahun karena sakit penyakit, masih adakah kemauan untuk bangun hingga mengangkat tilam? Pun masih ada kemauan, kita tahu bahwa itu tidak mungkin menurut rasio manusia. Puluhan tahun tidak menggunakan kaki, menurut logika, menyebabkan kaki tidak dapat digerakkan sama sekali karena otot2nya juga sudah tidak mampu berfungsi dengan baik, oleh karena itu dibutuhkan terapi yang lama dan kemauan untuk melatih kembali semua otot yang membuat kita dapat berjalan kembali. Begitu juga dengan kita yang sudah puluhan tahun hidup dalam keberdosaan. Dosa membuat kita tidak mampu berjalan dalam kebenaran, dan karena lamanya kita hidup dalam dosa, kita sudah ‘terbiasa’ untuk hidup seperti itu, maka butuh kemauan dan kesiapan untuk meninggalkan keberdosaan kita, dan memulai ‘terapi’ hidup dalam kebenaran. Bila orang sakit di pinggir kolam Bethesda itu tidak bertanya, menyanggah ataupun menolak sedikitpun, hanya bangun, mengangkat tilamnya dan berjalan, bagaimana dengan kita?Apakah kita mau dan siap mengubah kebiasaan kita hingga memiliki kebiasaan yang baru? Ingat di Rumah Bapa tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu. (Why 21:27)
3. (Why 22:5) Tanpa HIDUP DITERANGI TERANG KASIH ALLAH, maka ketaatan dan kemauan untuk bangun, mengangkat tilam dan berjalan menjadi suatu beban yang terlampau berat yang tidak mungkin dilakukan. Gerutu, marah, kesal, dan bukan syukur, sukacita, damai, menjadi bagian yang tak terelakan setiap hari. Karena perubahan dianggap sesuatu keharusan bukan kerinduan. Paksaan dan bukan keinginan. Oleh karena itu perubahan apapun yang kita alami dalam hidup haruslah kita dasarkan pada kasih kita kepada Tuhan

Bersama2 Memberitakan Keselamatan dan Membangun Kehidupan

Bersama2 Memberitakan Keselamatan dan Membangun Kehidupan
Kis 16:16-34
Maz 97
Why 22:12-14,16-17,20-21
Yoh 17:20-26

Tahukah saudara bahwa Tuhan memanggil saudara dan saya untuk memberitakan keselamatan bagi seluruh dunia? Pasti tahu yaaa.... dari Matius 28 saja kita sudah dapat mengetahui bahwa Tuhan ingin kita menyebarkan berita keselamatan itu hingga ke seluruh penjuru dunia. Apakah menurut saudara, kita dapat memberitakan keselamatan bila kita tidak tahu bagaimana sesungguhnya rasanya diselamatkan? Bila tidak, lalu bagaimana rasanya keselamatan itu? Bagaimana rasanya telah diselamatkan? Perubahan apa yang terjadi dalam hidup saudara, yang dapat membuktikan bahwa anda telah diselamatkan di hadapan orang lain? Apa jaminannya bahwa anda sudah benar2 diselamatkan? Bila kita tidak dapat menjawabnya, jangan-jangan saudara dan saya belum diselamatkan.

Namun kini pertanyaanya, keselamatan macam apa yang hendak saudara beritakan kepada dunia?Apakah keselamatan di akherat, dimana kita akan hidup selamanya di Sorga yang tidak mengenal ratap tangis, gertak gigi, kegelapan? Keselamatan dari hukuman dosa? Keselamatan di dunia berupa hidup berkecukupan, sejahtera, damai atau apa?


Keselamatan tidak hanya dapat diberitakan, namun terutama dan terlebih dahulu harus dialami. Karena keselamatan bukan hanya sekedar pengakuan atau syahadat yang diucapkan, namun suatu pengalaman iman yang harus dirasakan, dihayati, dan dibuktikan. Bila tidak, keselamatan hanyalah sebuah formalitas dari keberadaan agama. Dan bila keselamatan tidak menjadi sebuah pengalaman yang menghidupkan, kita tidak akan pernah mengerti apa itu hidup, untuk apa hidup dan mau dibawa kemana hidup ini. Maka membangun kehidupan adalah sesuatu yang mustahil kita lakukan. Apa yang hendak kita bangun, kehidupan macam apa bila kita tidak mengerti apa sesungguhnya hidup.

Memberitakan keselamatan tidak dapat dilepaskan dari membangun kehidupan yang lebih baik bagi diri kita dan orang lain di sekitar kita. Karena kehidupan adalah buah keselamatan. Nah, tentu hal yang perlu kita cari tahu adalah apa keselamatan menurut Yesus sendiri, Sang Pembawa Keselamatan.

Mengalami Keselamatan adalah:
1. Hidup dalam dan bersama Allah (Yoh 17:26) Hidup dalam Allah tidak semata-mata rajin beribadah ke gereja, rajin melayani, menjadi pengurus komisi, melayani lewat kepanitiaan, musik dan macam pelayanan yang ada. Hidup dalam Allah berarti hidup dalam kasih. Namun hidup dalam kasih juga lebih dari sekedar hidup dalam kerukunan, kedamaian, sukacita antara satu dengan yang lain, atau hidup dengan senantiasa memberi kepada orang lain. Lalu apa yang disebut dengan hidup dalam kasih?
• Hidup dalam kasih adalah hidup dalam kesabaran;
• dalam pemberian yang bijak;
• ketulusan dan bukan kecemburuan;
• kerendahan hati dan bukan kesombongan bahwa kita sudah melakukan, memberi ini dan itu;
• dalam kesopanan;
• dengan tidak mencari keuntungan bagi diri sendiri;
• dalam pengampunan bukan dendam; dalam keadilan ilahi bukan keadilan duniawi.

Sudahkah kita hidup demikian? Paulus sudah mengalami keselamatan itu. Dan keselamatan yang ia beritakan kepada jemaat mula2 menjadi kesalamatan yang dinyatakan tidak hanya lewat pengajarannya yang luar biasa, namun terutama pada perubahan hidupnya. Allah-lah ia menjadi manusia yang sabar menanggung penderitaan, ketika ia disesah karena mengusir roh tenung yang mengikat seorang perempuan dan membuat tuan si perempuan rugi besar. Allahlah yang membuatnya tetap dapat berdoa,menaikan puji2an bagi Allah walau dengan tangan dan kaki yang terpasung dalam penjara. Allahlah yang membuat Paulus tidak mencari keuntungan bagi diri sendiri dengan cara melarikan diri, ketika gemba bumi besar menggoyahkan sendi2 penjara, membuka pintu2 dan melepas belenggu2 mereka. Allahlah yang membuatnya mampu mengampui bahkan mengabarkan keselamatan bagi kepala penjara, dan bukan membiarkannya bunuh diri. Allahlah yang memampukan Paulus untuk tetap rendah hati dan mengaggungkan Allah kepada Sang Kepala Penjara dengan mengatakan “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu” dan bukan mencari celah bagi keselamatan dirinya sendiri.

2. Hidup menggunakan kesempatan yang Allah beri untuk menunjukkan kasih Allah, bukan menjadi ‘allah’ lain bagi orang lain (Yoh 17:23)Manusia yang sudah mengalami keselamatan akan menggunakan kesempatan apapun itu, baik sebagai pendeta, penatua, pelayan, orang tua, pengusaha, pegawai, pelajar untuk menjadikan hidup orang lain menjadi lebih hidup, bukan mengambil kesempatan hidup, menghambat jalan hidup, apalagi mematikan semangat hidup orang lain. Berapa banyak dari manusia yang lebih suka menjadi ‘allah’ bagi orang lain, menguasai orang lain baik dengan kuasa, materi, ilmu pengetahuan, dan pengalaman; Merasa paling tahu hingga yang lain menjadi paling tidak tahu apa2 dan menjadi pihak yang selalu diremehkan; Merasa sudah mahir, pintar, profesional hingga yang lain tidak diberikan kesempatan untuk berbuat apa2; Merasa punya kuasa dan uang hingga yang lain dapat diperintah, digunakan, diperdayakan (bukan diberdayakan), dibinasakan; Merasa paling pantas untuk menjadi pelayan, hingga dengan mudah menghakimi, menyalahkan, berkata kasar, tidak pantas dan tidak sopan kepada pelayan yang lain. Hasilnya...kita akan menjadi manusia yang arogan, yang tidak mampu membangun kehidupan, malah menjadi neraka bagi orang lain yang mengenal kita.

3. Memiliki kesadaran untuk hidup bersama (Yoh 17:21) bukan hanya karena bersama lebih baik dari sendiri, atau karena bersama kita bisa, tapi karena adanya kesadaran bahwa keselamatan yang Tuhan berikan bagi kita adalah keselamatan yang universal, keselamatan yang dianugerahkan bagi siapapun yang bersedia menerima dan memeliharanya, tanpa batas-batas berupa perbedaan dan keanekaragaman, apapun bentuknya itu. Keselamatan adalah milik dunia, milik saya, saudara, pemulung yang biasa menghampiri rumah saudara dan saya, penjual sayur yang biasa menawarkan bahan pokok dengan harga miring, Pak Satpam yang begitu rajinnya mengetok tiang listrik depan rumah anda setiap jamnya dari pukul 1 hingga pukul 5, saudara yang duduk di sebelah anda di kursi angkutan umum atau yang berdiri di depan anda ketika mengantri tiket bioskop.

Allah Tritunggal Mengasihi Kita

Allah Tritunggal Mengasihi Kita

Amsal 8:1-4, 22-31
Maz 8
Roma 5: 1-5
Yohanes 16: 12-15

Dapatkah saudara menjelaskan apa yang dimaksud Allah Tritunggal? Bagi kebanyakan orang Kristen, Doktrin Allah Tritunggal adalah doktrin yang cukup membingungkan untuk dijelaskan. Bahkan banyak dari kita, yang telah sekian lama mengakui Allah kita sebagai Allah Tritunggal, juga tidak dapat menjelaskan apa dan bagaimana Allah Tritunggal itu. Ya, memang kita tidak dapat dengan mudah menjelaskan bagaimana ALLAH Tritunggal itu, termasuk tidak dapat mencari padanan yang dapat menjelaskan secara sederhana, dengan makna yang tepat. Tapi bukan karena kita memiliki doktrin yang tidak jelas, atau Allah kita merupakan Allah yang tidak sempurna loh! Lalu, bagaimana menyikapi berbagai macam pendapat yang membuat kita semakin bingung bahkan memojokkan kita sebagai umat Allah dan Allah yang kita sembah?

Tentunya, ketika kita mengakui Allah yang tritunggal, kita harus paham dengan benar mengapa Allah kita mendapat sebutan Allah Tritunggal. Tapi bukan berarti ketika kita pulang dari gereja ini, saudara merasa sudah mengenal dengan benar Allah yang kita sembah. Mengapa? Karena kita hanya mampu memahami Allah yang tak terbatas itu dengan keterbatasan kita memahami tindakan Allah sebagai manusia. Kita hanya mampu memahami karya Allah sebatas apa yang mampu kita pahami dengan cara pikir, pandang, pemahaman kita tentang siapa Allah, dan apa yang mungkin Ia lakukan dan beri bagi kita.

Tapi, jangan pesimis dulu. Tidak terlalu sulit kok bagi kita untuk memahami Allah walau pemahaman kita tidak akan penah menjadi sempurna. Hal pertama yang perlu kita sadari adalah pengenalan kita terhadap Allah bukan pengenalan yang semata-mata berasal dari diri kita (karena kita pandai, karena kita banyak membaca, giat berdoa dan lain sebagainya), namun karena Allah berkenan menyatakan diriNya kepada kita. Ia menjadi Allah yang senantiasa ingin mendekatkan diri, menunjukkan kasih setiaNya pada kita, agar setiap kita yang mengenalNya dapat hidup dalam perdamaian denganNya. Ia bukan Allah yang mencari popularitas, bukan juga menjadi Allah yang mencari sensasi. Ia hanya ingin kita tahu, bahwa Ia mengasihi kita lebih dari apapun dan kita begitu berharga di mataNya.

Kini, Apa buktinya? Sebenarnya kita tidak perlu bertanya lagi apa bukti Allah mengasihi kita? Karena Allah bukan kita yang lebih suka mengumbar kata-kata cinta tanpa mampu membuktikannya. Lebih dari itu Ia selalu memberikan yang terbaik kepada kita lebih dari apa yang dunia beri bagi kita, bukan? Namun karena kini kita hendak mengingat Allah kita yang adalah Tritunggal, mari kita coba memahami apa saja yang telah Ia perbuat bagi kita sebagai Allah yang Tritunggal:
1. Apa yang kita bayangkan tentang Allah Bapa? Adakah kita membayangkan Dia sebagai sosok yang besar, berbaju putih, bermahkota emas, berkumis dan berjanggut tebal layaknya Santa Claus, atau mungkin memiliki sorot mata tajam, dan senyuman hangat? Beberapa pandangan Kristen mula2 yang mengatakan bahwa Allah perjanjian Lama adalah Allah yang kejam dan penuh amarah. Ada juga yang mengatakan Allah yang kejam, dan lain sebagainya. Benarkah pendapat mereka itu? Amsal 8: 1-4, 22-31 menceritakan bagaimana Allah perjanjian Lama atau yang lebih kita kenal dan sapa sebagai Allah Bapa, ternyata bukan Allah yang kejam seperti yang banyak disimpulkan dan dinilai oleh beberapa kalangan. Ia adalah Allah yang menjadikan kita sebagai anak kesayangan, yang setiap hari dapat bermain denganNya, bahkan menjadi sumber kesenangan (baca: sukacita). Dapatkah kita membayangkan bahwa kita adalah sumber sukacita Tuhan? Ketika Tuhan melihat kita yang lucu, sedang tersenyum, atau belajar berjalan ia tersenyum sambil merentangkan kedua tanganNya? Ia adalah Allah yang menjadi Bapa kita, lebih dari bapa yang ada di dunia. Sebagai bapa sorgawi, Ia tidak hanya punya kuasa atas diri kita dan saya, baik itu kuasa untuk tetap membuat saya dan kita hidup ataupun pulang ke rumahNya, ia juga mendidik anak-anakNya, menghajarnya bila mereka salah, tahu dengan pasti apa yang mereka butuhkan dan bukan sekedar inginkan, dan yang terutama....berbeda dengan bapa atau ibu di bumi, Ia tahu dengan pasti apa yang terbaik bagi anak-anakNya.
2. Bila tadi saya mengajak kita membayangkan seperti apakah sosok Bapa, maka kini saya mengajak kita untuk membayangkan sosok Allah Yesus. Siapakah Yesus buat kita? Adakah kita menyebutnya Tuhan, Allah, nabi, tabib, sahabat??? Adakah kita membayangkan Yesus sebagai pria kecil hitam yang kekar, dengan rambut panjang dikuncir, kemana2 membawa perkakas kayu atau? Bagaimana sesungguhnya fisik Yesus mungkin tak perlu kita bahas panjang dan lebar ya... karena bagaimana tampak Yesus sesungguhNya tidak mempengaruhi dan merubah kasih dan karyaNya bagi manusia. Apa karyaNya? Untuk dapat sungguh2 merasakan karya Tuhan, pertanyaan ini mungkin dapat membantu kita, “ Bila kita adalah seorang pembunuh, yang setiap hari kerjaannya membunuh paling tidak 3 makhluk hidup, dan kita melakukannya sepanjang hidup kita, dan diakhir hidup kita Tuhan mengatakan kita tidak bersalah, bagaimana perasaan kita ?” “ Oh maaf itu tidak relevan bagi saya, saya tidak pernah membunuh!” Yakinkanlah diri kita bahwa sesungguhnya setiap hari kita membunuh, memang kita tidak membunuh dengan menggunakan pisau dapur yang ditusukkan di dada suami, isteri, anak, dan orang tua kita, tapi sayangnya lidah tidak bertulang dan kata-kata pedas yang sering kali kita katakan terhadap mereka itulah yang perlahan tapi pasti membunuh mereka. Membunuh kualitas mereka, sukacita, kedamaian, hingga menjadikan mereka makhluk yang tidak lagi dapat mengasihi dengan tulus, tidak berpengharapan dan tidak beriman. Yesus membenarkan kita, Yesus memberikan pengharapan dan perubahan hidup bagi kita, yang tidak dapat kita lakukan sendiri hanya dengan kekuatan dan kepandaian kita. Kita yang tidak berhak menerima kasih karunia, diberiNya kasih karunia berlimpah ruah.
3. Bagaimana dengan Allah Roh Kudus? Adakah Ia juga menjadi perwujudan kasih setia Allah kepada kita, manusia? Ya!! Dialah yang memampukan kita menjadi benar dan membuktikan kepada dunia bahwa kita adalah anak-anak Allah yang sudah dibenarkan, Krena pembenaran yang Ia berikan bukan ketika kita berada di alam maut atau di dalam penghakiman, namun kini, sekarang , ketika kita semua mengaku Dia sebagai Allah, Tuhan dan manusia.Roh kudus tidak bekerja nanti ketika kita sudah di alam kubur atau di hadapan taktha Allah untuk mempertangungjawabkan kehidupan kita bukan, namun Ia bekerja sekarang, disini, di hati kita. Jadi kita tidak hanya dibenarkan melalui karya Yesus namun juga dimampukan berlaku, berkata, benar menurut Allah.

Kini, apa lagi yang kurang? Ia menjadi Allah yang sempurna bagi setiap kita, tidak ada kekurangan dalam diriNya. Dalam ke-tritunggalanNya Ia menjadi Allah yang sempurna dalam karya penyelamatanNya, bagi dunia, lebih dari itu Ialah yang sanggup menyempurnakan hidup kita yang sering kali kita nilai tidak sempurna, tidak ideal. Bila karyaNya bagi kita adalah sempurna, bagaimana ia harus berwujud, berperan dan menyatakan diri bukanlah sesuatu yang harus kita perdebatkan. Karena Ia adalah Allah yang dapat berperan, berwujud, menyatakan diri sesuai dengan kehendakNya, dan tidak selalu dapat kita pahami dengan segala keterbatasan kita. Alkitab menuntun kita pada suatu keutuhan karya, bukan kepada bentuk dan wujud semata-mata. Jadi marilah kita pahami karyanya yang utuh sejak masa lampau, kini, hingga nanti, Ialah Alfa dan Omega!!