Senin, 02 Maret 2009

Sumpah Deh!!

Mat 5 :33-37

Tujuan:

  1. remaja memiliki pengetahuan tentang asal mula pemakaian kata sumpah
  2. remaja mengetahui apakah sumpah boleh tau tidak dilakukan oleh remaja Kristen saat ini
  3. remaja memiliki pemahaman yang jelas tentang makna sumpah

Perkataan “sumpah deh” telah menjadi perkataan yang sangat biasa kita dengar diucapkan oleh banyak orang termasuk remaja. Bahkan kata sumpah sering kali dijadikan pernyataan untuk menyatakan suatu kebohongan agar orang lain yang mendengarnya percaya. Dan akan lebih percaya lagi ketika kata sumpah itu disandingkan dengan kata Tuhan atau Allah. Waduh... bahaya jadinya, kenapa ? karena banyak dari kita yang menggunakan kata sumpah tanpa mengetahui dengan benar apa maknanya dan dari mana asal usulnya. Padahal banyak sekali hal yang buruk dikaitkan dengan kata sumpah. Misalnya, teman-teman pernah mendengar sumpah pocong? Di film-film religi dewasa ini sumpah pocong sering kali didengungkan sebagai suatu cara pembenaran. Ternyata sumpah pocong bukan hanya ada di sinetron kita loh, masih banyak daerah di Indonesia yang menggunakan sumpah pocong untuk menyelesaikan masalah. Misalnya perselingkuhan, pencurian, penipuan dan lain sebagainya. Sumpah pocong dilakukan dengan cara memocongkan (dibalut kain kafan) orang yang ingin bersumpah, lalu ia bersumpah di hadapan al-quran, sambil dibacakan ayat-ayat suci al-quran oleh ustad yang melayani sumpah pocong tersebut. Bila benar orang itu berbohong maka ia harus rela menjadi pocong ketika ia mati nantinya. Nah itulah maksa sesunguhnya dari sumpah: yaitu ketika orang yang bersumpah benar-benar mau menanggung apapun yang terjadi bila ia sungguh mengatakan kebohongan.

KBBI mendefinisikan kata sumpah menjadi: pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci, pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar; namun lebih dari itu KBBI juga mendefinisikan kata sumpah sebagai kata-kata yang buruk, tulah, kutuk.

Sumpah sendiri sebenarnya telah dikenal dari masa nenek moyang kita Abraham. Kata sumpah berasal dari bahasa (Ibr: syawbah dan ala; Yun: horkos) Ala yang paling kuat, artinya pengutukan apabila dia tidak mengatakan kebenaran. Sumpah sendiri adalah bagian dari kebudayaan orang Israel: dimana nama Allah dilibatkan dan hukuman ilahi dinantikan apabila kebenaran dihianati dan kebiasaan ini berlanjut hingga masa perjanjian Baru.

Sumpah adalah kutukan atas orang yang melanggar kata katanya sendiri (1 Sam 19:6)atau bila ia tidak mengatakan kebenaran. Gagasan memohon kutuk atas diri sendiri, telah mendorong beberapa ahli mengemukakan, bahwa bila seorang Ibrani bersumpah atas nama Alah, maka ia memberikan kebebasan kepada Allah untuk bertindak atau mempercayakan kepada Allah tugas bertindak terhadap seorang yang melakukan sumpah atau kesaksian palsu. Orang Israel dilarang mengucapkan sumpah demi dewa-dewa. Yesus sendiri mengajarkan bahwa sumpah pada hakekatnya mengikat. Namun dalam kerajaan Allah sumpah tidak lagi dibutuhkan karena seharusnya percakapan sehari-hari orang Kristen haruslah sama sucinya dengan sumpahnya.

Alkitab mencatatat Allah sendiri juga mengikatkan diri dengan sumpah, namun Ia bersumpah atas nama dirinya sendiri dan bukan orang lain karena tidak ada seorangpun yang lebih tinggi dari Allah. Dalam sumpah yang digunakan haruslah sosok yang lebih tinggi yang bisa diberikan kewenangan. Tapi dalam khotbah di bukit, Yesus menjelaskan bahwa dalam kerajaan Allah kebijakan semacam itu membatalkan hubungan antara kebenaran dan kasih. Apa maksudnya tuh? Coba kita lihat kembali bacaan kita hari ini, apa yang bisa kita pelajari bersama dari Matius 5:33-37:

· ay 33. "Kalian tahu bahwa pada nenek moyang kita terdapat ajaran seperti ini: jangan mungkir janji. Apa yang sudah kaujanjikan dengan sumpah di hadapan Allah, harus engkau melakukannya. Hal pertama yang bias kita pelajari adalah sebenarnya sumpah itu tidak dibutuhkan bagi anak-anak Allah. Karena, sudah seharusnya, sebagai anak-anak Allah kita melakukan apa yang benar di hadapan Allah, dalam hal ini berbicara jujur, jangan mungkir/ jangan berbelok, mengelak, berbohong. Selain itu sebagai anak-anak Allah kita, bila kita berjanji untuk melakukan sesuatu, maka haruslah kita melakukannya karena kita mencintai Allah dan bukan karena terpaksa / karena terdesak sumpah (janji)

· oleh karena itu pada ayat selanjutnya 34-36 Yesus berkata:” tetapi sekarang Aku berkata kepadamu: jangan bersumpah sama sekali, baik demi langit, sebab langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, sebab bumi adalah alas kaki-Nya; atau demi Yerusalem, sebab itulah kota Raja besar. Jangan juga bersumpah demi kepalamu, sebab engkau sendiri tidak dapat membuat rambutmu menjadi putih atau hitam, biar hanya sehelai.” Kita sama sekali tidak berhak bersumpah atas apapun apalagi atas diri kita sendiri. Misalnya ada yang berkata :”biarin gue kesamber geledek deh atau biar gue ketabrak bajaj atau biar gue miskin deh. Kita sebenarnya tidak berhak mengatakan itu, karena hidup kita ini semata-mata bukan hanya milik kita sendiri, tapi terutama milik Allah. Begitu pula ketika kita bersumpah atas nama Tuhan: “Demi Tuhan deh, sumpah serius deh demi Yesus, demi Allah, gue ga bohong!!!”. Dengan mengatakan sumpah atas nama Tuhan, maka sama saja kita menantang Tuhan untuk memberi kita hukuman bila kita salah dan sebaliknya, bila tidak maka Engkau harus membela saya, membenarkan saya.

Teman-teman sesungguhnya kita sama sekali tidak berhak menentukan hukuman apa yang pantas bagi kita. Apa yang telah Tuhan lakukan, termasuk membenarkan kita dengan kematianNya di kayu salib, bukan karena kita memang layak dibenarkan, bukan juga karena kita memang benar di hadapanNya. Tapi karena Ia sungguh mengasihi kita. Apa sih dasar yang biasa kita gunakan di dunia ini untuk menyatakan ini benar dan ini salah? Tidak ada kebenaran absolute di dunia ini. Karena kebenaran itu hanyalah milik Tuhan seorang. Dan tanpa kita minta, dan tantang Tuhan untuk membenarkan kita Tuhan sudah membenarkan kita sebelum kita berbuat dosa.

Kini apa yang seharusnya kita lakukan sebagai anak-anak Allah:

1. Belajar untuk berkata jujur: Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. Gampang? Susah banget. Tapi kalian lebih suka dibohongi atau sakit karena kejujuran? misalnya dengan orang tua atau teman, apakah kalian suka dibohongi? Kaka rasa ga ada seorangpun di dunia yang suka dibohongi, kalo masih dalam keadaan waras!!! Ya karena hanya orang yang ga waras yang suka dibohongi lihat saja ke RSJ Grogol. Dan bila kita sadar bahwa kita tidak mau dibohongi maka berkatalah jujur seorang kepada yang lain!!

2. karena untuk berkata jujur itu juga bukan hal yang mudah maka kita harus mencari dasar yang tepat agar kita dapat melakukannya bukan karena paksaan tapi dengan kesungguhan. Apa dasar yang tepat? Kasih kita kepada Allah. Kita selalu ingin membahagiakan orang yang kita kasihi kan, baik itu orang tua, sahabat, pacar dan lain sebagainya. Oleh karena itu bila kita sungguh mengasihi Allah maka kita akan melakukan apa yang Ia inginkan untuk kita lakukan termasuk untuk jujur. Bila orang mengatakan, beribu gunung akan kudaki, sedalam apapun laut akan kuselami, kepada kekasihnya, apalagi buat Tuhan kan yang sudah pasti mencintai kita dengan tulus dan setia.

3. MASALAHNYA ADALAH kita kurang mencintai Tuhan, bagaimana caranya untuk da[pat mencintai Tuhan. Tentunya mencintai Tuhan, bagi sebagian kita tidak semudah lagu “Jatuh Cinta” karena Tuhan ga kelihatan. Jadi caranya adalah coba renungkan apa yang sudah Tuhan lakukan bagi kita? Dia mati karena cintaNya , karena bagi dia cintaNya kepada kita sanggup membunuh Dia di kayu salib bagi kita. Beta[pa bahagianya kita seharusnya ada Tuhan yang mau mati bagi kita, mau mengampuni dan membenarkan kita bahkan ketika kita masih melakukan dosa.

4. Oki yang terakhir dan yang terpenting adalah mengandalkan kekuatan Tuhan dalam melakukan perintahNya Karena daging lemah, walaupun Roh memang penurut. Minta Tuhan memelihara hati dan pikiran kita.

Narsisisme

Matius 22:34-40/ 2 Sam 14:25-26, 18:9-10

Apa sih arti narsis?

Dari mana datangnya narsis?

Narsis datang dari legenda Yunani tentang seorang pwmuda yang bernama NARSICUS yang terkenal tampan sekali. Suatu kali Narsicus sedang berjalan jalan di hutan, di pinggiran sungai. Saat ia sedang kehausan ia menghampiri bibir sungai lalu melihat ada sesosok pria tampan yang dipantulkan oleh sungai itu. Ia melihat bahwa laki-laki itu sangatlah elok rupanya. Setiap ia minum di bibir sungai, ia selalu melihat laki-laki yang sama juga berada disana menatapnya. Ia sendiri tidak tahu bahwa laki-laki yang dipantulkan di suangai itu adalah dirinya sendiri. Semakin hari Narsicus semakin jatuh cinta kepada sosok tersebut sehingga ia benar-benar ingin bertemu dengan sosok tersebut. Akhirnya, saking cintannya kepada bayangan dirinya yang terpantul di permukaan sungai itu, Narsicus menceburkan diri ke dalam sungai untuk mencari siapa gerangan laki-laki tampan itu? Dan akhirnya ia mati tenggelam. Dari namanya akhirnya timbulah istilah narsis.

Namun sebenarnya narsis itu apa sih? KBBI menuliskan arti dari narsisisme sebagai, rasa cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan (lebayyyy). Atau dengan kata lain narsis adalah perilaku membanggakan diri/ menganggap diri sempurna.

Biasanya narsis ini dilakukan untuk mendapatkan perhatian lebih dari lingkungan atau karena ingin menutupi kelemahan diri. Selain itu orang yang memiliki lingkungan tumbuh yang selalu mengucilkan dirinya, atau selalu menganggap dirinya rendah dan tidak berguna, dapat juga menjadi orang-orang yang narsis pada masa remaja atau pemudanya. Oleh karena itu sifat narsis biasanya keluar pada masa remaja. Kenapa?

  1. karena remaja adalah masa dimana seseorang butuh pengakuan di dalam hidupnya. Dari yang biasanya cuma dianggap anak ingusan yang tidak punya hak suara di rumah maupun di masyarakat, ingin membuktikan dirinya eksis bagi komunitas.
  2. Karena masa remaja adalah masa pembentukkan jati diri. Di masa ini seseorang akan menentukan ia mau jadi apa, dikenal sebagai orang yang bagaimana. Misalnya dikenal sebagai orang yang pandai bermain musik atau pandai bernyanyi.

Narsis ini ternyata juga dapat timbul dalam berbagai aspek kehidupan loh, termasuk kehidupan beragama. Pernah ga kita menjadi remaja yang narsis terhadap agama dan kepercayaan yang kita anut. Misalanya menganggap diri paling benar, paling diberkati, paling berhak mendapatkan keselamatan, dan lain sebagainya… wah narsis yang begitu juga bahaya loh, jadi ternyata narsis bukan hanya terjadi dalam pribadi namun juga dapat terjadi dalam suatu kelompok, yah salah satunya adalah kelompok keagamaan.

Ciri-ciri orang yang narsis adalah:

  1. merasa lebih penting dan lebih besar dari orang lain: tentu bukan karena ia memang lebih penting atau lebih besar tapi karena ia memang ingin orang lain memandang, memuji dia.
  2. memiliki fantasi setinggi langit. Bukan berarti kita tidak boleh memiliki cita-cita setinggi langit, yang membahayakan ketika kita mencita-citakan untuk sesuatu yang benar-benar mustahil terjadi.
  3. merasa memiliki status lebih tinggi dari orang lain. Lebih cantik, lebih ganteng
  4. butuh pengakuan yang berlebihan
  5. cenderung manipulatif dan mengeksploitasi orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri
  6. nggak bisa berempati dengan orang lain
  7. selalu arogan, atau mementingkan kepentingan atau keinginannya sendiri, dan menganggap kepentingan yang lain tidak perlu diperhatikan.

Sebenarnya mencintai diri sendiri itu salah ga sih?

Matius 22: 39 mengatakan bahwa mencintai diri itu ga salah. Karena mencintai diri adalah sesuatu yang manusiawi dan wajar. Orang yang tidak bisa mencintai dirinya sendiri, tidak akan pernah dapat mencintai orang lain. Kenapa? Karena ia sebenarnya tidak tahu bagimana rasanya dicintai dan bagaimana harus mencintai. Yesus mengatakan: “ kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” dan bukan “kasihilah dirimu sendiri seperti engkau mengasihi sesama manusia”. Oleh karena itu menjadi Sesutu yang wajar ketika manusia belajar mencintai dirinya sendiri. Dan setiap orang harus mencintai dirinya sendiri. Mencintai diri disini bukan berarti egois, bukan juga brarti mengutamakan diri sendiri, pokoknya gue…. Yang lain mah belakangan aja...

Cinta disini mengunakan kata agapeis, yang artinya unconditional love atau cinta yang tanpa pamrih, cinta yang diberikan tanpa mengenal kondisi apapun termasuk ketika kita mencintai diri kita sendiri. Mencintai diri berarti:

  1. menerima diri sendiri apa adanya, menerima diri dengan segala kelemahan dan kelebihan.
  2. Menerima disini juga bukan berarti menerima yang pasif, ya udah gini aja wong uda diciptainnya gini?, bukan menerima yang pesimis. Tapi menerima yang aktif yaitu terus mengembangkan diri mengembangkan kelebihan yang Tuhan kasih untuk kita gunakan.
  3. Mencintai diri juga terutama melihat diri sebagai sebuah ciptaan yang utuh dan yang berharga.

Dan bila kita sudah bisa mencintai diri dengan ‘benar’ maka kita akan mampu juga mencintai sesama manusia dengan benar, yaitu dengan menerima semua manusia dengan segala kelemahan dan kelebihannya, menerima perkembangan diri dari sesama kita, dan tentunya mencintai mereka sebagai ciptaan Allah yang utuh dan berharga juga dimata Allah.

Narsis menjadi sesuatu yang salah karena

  1. yang kita lakukan bukan pada batas sewajarnya, namun berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan tidak akan membawa hal yang baik bagi kita. Sama seperti ketika kita makan atau minum kebanyakan. Atau minum obat kebanyakan dan tidak mengikuti dosis yang telah ditentukan oleh dokter bagi kita untuk diminum. Mencintai diri adalah baik adanya. Tapi bila itu dilakukan secara berlebihan maka akan menjadi hal yang buruk bagi diri kita. Kita menjadi orang-orang yang tidak tahan kritik, yang selalu melihat kritik sebagai sesuatu yang membahayakan dan merusak diri kita, tidak menyadari bahwa kita memiliki kelemahan yang pada akhirnya dapat menghancurkan kita.
  2. saat kita mencintai diri dengan berlebihan maka cinta itu membuat kita terpaut hanya dengan diri dan kebutuhan diri sendiri. Kita menjadi orang yang lupa dengan keberadaan orang lain apalagi Tuhan. Sama yang kelihatan aja susah untuk sayang apalagi sama yang ga keliatan kaya Tuhan?

Nah sekarang gimana caranya supaya kita ga narsis?

  1. bersyukur. Maz 139:14 “ Aku bersyukur kepadaMu karena kejadianku dashyat dan ajaib, ajaib apa yang Kau buat dan jiwaku benar-benar menyadarinya” Yups kita patut bersyukur dengan segala yang telah Tuhan jadikan dalam diri kita. Baik itu dengan hidung yang pesek, mata yang sipit, itu semua baik loh di hadapan Tuhan, sempurna. Kita tidak menjadi orang yang tidak berharga di mata Tuhan ketika kita memiliki hidup pesek ata mata sipit kan?
  2. berbesar hati. Berbesar hati bila memang ada orang lain yang munkin lebih dari kita. Bukan berarti kita menjadi tidak berharga ketika ada orang yang lebih bisa mengerjakan matematika dibanding kita. Setiap orang dijadikan unik dan hanya satu. Saya tidak bisa berkata bahwa suatu saat saya akan menggantikan seorang Eka Darmaputera, karena memang saya bukan dia. Saya adalah saya yang Tuhan jadikan memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri. Tentu berbesar hati disini bukan nrimo aja tanpa mengembangkan diri seperti orangt yang diberikan 1 talenta, yang pada akhiranya mengubur talentanya itu.
  3. berkaca diri, alias jangan takabur merasa diri mulia, angkuh, sombong. Kita memang sempurna adanya. Tuhan menjadikan kita dengan sangat baik. Tapi ingat kita masih dalam kuasa daging! Dan daging itu lemah! Jadi kita sebagai manusia yang sempurna di hadapan ALLAH tetaplah manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan. Itu yang membuat kita sama sama dikatakan manusia dan bukan dewa atau Tuhan. Disitulah Tuhan menuntut kita untuk dapat mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri.

Dan tentunya jangan kita melupakan Tuhan. Karena mengasihi Tuhan Allah kita adalah yang pertama dan utama. Karena Tuhan menjadikan kita luar biasa. Tuhan yang memberikan kita kesempatan untuk menjadi manusia yang luar biasa dalam hidup kita. Oleh karena itu mengasihi Tuhan sudah seharusnya kita letakkan di tempat yang paling utama dalam kehidupan kita. Amin..

Merayakan Tuhan di Tengah Keluarga


Yoh 12:1-8

Pertanyaan:

  1. apa yang dimaksud dengan merayakan Tuhan di tengah keluarga?
  2. mengapa kita perlu merayakan Tuhan di tengah keluarga?
  3. bagaimana cara merayakan Tuhan di tengah keluarga?
  4. kapan waktu yang tepat bagi kita merayakan Tuhan di tengah keluarga?

Merayakan itu apa sih? Apa saja sih yang biasanya dirayakan? Ulang tahun, kelulusan, keberhasilan, kelahiran dan lain sebagainya. Yaaa memang sering kali kita memahami perayaan/ merayakan hanya sebatas pada event2 bahagia dimana ada makan-makan, senang-senang, ada sukacita, ada hadiah, ketemu sama saudara jauh, ramai dan lain sebagainya. Namun ternyata merayakan lebih dari hanya sekedar senang-senang. Merayakan memiliki arti memperingati: melakukan sesuatu untuk menunjukkan ‘sesuatu’ (hari, event, seseorang, dll) itu penting, atau melakukannya untuk menunjukkan penghormatan terhadap sesuatu atau seseorang.

Ketika kita merayakan Tuhan di tengah keluarga kita, berarti kita juga:

1. Harus menganggap Tuhan sebagai sosok yang penting dalam keluarga kita.

2. Merayakan Tuhan juga dilakukan atas dasar rasa hormat kepada Tuhan.

Nah kini pertanyaannya adalah, apakah kita sungguh menganggap Tuhan penting dalam keluarga kita, bagi kita? apakah kita sungguh menghormati Tuhan dalam keluaga kita? Mustahil bagi kita untuk dapat merayakan Tuhan dalam keluarga kita tanpa adanya sikap hormat kepada Tuhan dan menganggap Tuhan sebagai sosok yang penting dalam kehidupan. Coba saja kita lihat apa dan siapa yang kita rayakan dalam keluarga kita. Bukan orang yang tidak kita kenal bukan, mereka tentu orang-orang yang kita anggap penting dan memiliki peran dalam hidup kita. Misalnya : tidak mungkin kita merayakan ulang tahun tetangga kita kan? Apalagi orang yang tidak punya ‘dampak’ apa-apa buat kita.

Banyak dari kita terkadang tidak sadar bahwa Tuhan ternyata adalah sosok yang amat penting untuk kita, Ia juga adalah sosok yang membawa dampak yang luar biasa bagi kehidupan kita. karena pengorbanan diriNya di kayu salib kita dapat menikmati keselamatan dan anugerah yang luar biasa. Karena kematianNya jugalah kita bisa menikmati ibadah dalam ruang yang nyaman, bersama teman dari segala suku bangsa, tanpa ada pembatasan dan pelarangan. Namun seringkali apa yang dilakukanNya itu kita anggap angin lalu dan kita anggap sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Padahal apa yang dilakukan Tuhan sama sekali tidak biasa bahkan yang ia lakukan sungguh luar biasa bagi kita. karena sesungguhnya tidak biasa seorang Raja apalagi Tuhan datang ke dunia untuk mati, bagi orang yang dikasihiNya. Trus, apa sih pentingnya merayakan Yesus di tengah keluarga kita? apa keuntungannya? Bukannya malah jadi ribet? Kalo ada Yesus kan kita ga bebas, ga bisa marahan sama mama-papa, adik atau kakak, harus menjaga sikap dan lain sebagainya. Tapi tidakkah kita sadar bahwa Yesuslah yang mampu memberikan kita kekuatan untuk tetap saling mengasihi, saling menghormati, saling memberi dan menerima. Tidakkah kita sadar bahwa Yesus jugalah yang menyatukan dan memelihara kita sebagai keluarga?

Itulah yang dirasakan oleh Lazarus beserta saudaranya, Maria dan Marta. Bagi Lazarus, Yesus adalah sosok yang sangat penting, karena Ia telah memberikan kehidupan baru bagi Lazarus beserta keluarganya. Mujizat yang dialami oleh Lazarus membawanya kepada rasa hormat kepada Yesus. Rasa hormat itulah yang menjadi dasar Lazarus mengadakan perjamuan bagi Yesus, bukan hanya untuk sekedar mengingat apa yang telah Yesus lakukan dalam kehidupannya, namun terutama karena ia sungguh menganggap Yesus sebagai sosok penting, yang telah memberikan perubahan besar dalam kehidupannya.

Bukan hanya Lazarus yang menganggap Yesus penting, Maria, saudara Yesus juga menganggap Yesus sebagai sosok yang penting dalam kehidupannya. Bila kita mengingat apa yang dilakukan oleh Maria ketika Yesus datang ke kediaman mereka. Maria menjadi orang yang dengan setia duduk di bawah kaki Yesus untuk mendengarkan pengajaranNya. Apa yang dilakukan Maria menunjukkan Yesus sebagai prioritas utama dalam hidupnya. Dalam kisah kali ini Maria menjadi perempuan yang memberikan penghormatan dengan cara meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu murni. Minyak Narwastu pada masa Yesus dikenal sebagai minyak yang amat mahal, dan memiliki aroma yang begitu harum, yang biasanya digunakan untuk pengurapan seseorang atau sesuatu yang dianggap spesial, bisa juga digunakan untuk menyembuhkan luka.

Maria juga menyekanya dengan rambutnya (3). Rambut bagi perempuan masa itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Oleh karena itu banyak perempuan tidak memotong rambutnya. Namun bagi Maria sesuatu yang sangat berharga itu tidaklah lebih berharga dari Yesus. Maria menggunakan rambutnya untuk menyeka kaki Yesus yang sebelumnya telah dituanginya dengan minyak termahal yang ia miliki. Kaki tentunya bukan anggota tubuh yang bersih, malah dapat dikatakan merupakan anggota tubuh yang paling banyak mengandung kotoran dan kuman. Apa yang mendorong Maria melakukan semua itu untuk Tuhan, tidak lain selain rasa hormat dan kasih yang tulus kepada Yesus.

Kini apa yang dapat kita lakukan untuk dapat merayakan Yesus di tengah Keluarga kita? Apakah mencontoh apa yang dilakukan Maria? Tentu tidak, hal tersebut sudah tidak bisa dilakukan lagi. Karena YESUS juga telah berada di sorga. Namun bukan berarti Yesus tidak dapat hadir di tengah-tengah keluarga kita. Ia akan tetap hadir dan tinggal di tengah keluarga kita. hanya saja sering kali kehadiran Yesus tidak disadari bahkan Yesus dianggap tidak ada dan tidak pernah ada dalam keluarga kita. apa yang bisa kita lakukan? Apa yang harus kita perhatikan ketika kita merayakan Tuhan di dalam keluarga kita ?

1. MOTIVASI. Ay5-6. menceritakan Yudas yang sinis terhadap apa yang dilakukan Maria untuk Yesus . ia mengatakan: Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" Memang apa yang dilakukan oleh Maria pada masa itu dapat dikatakan sebagai suatu pemborosan, namun motivasi Yudas bukan motivasi yang baik. Yudas berkata demikian bukan karena ia sungguh memang peduli terhadap nasib masyarakat yang miskin. Dan ketika Yesus memilih apa yang Maria lakukan dari pada memuji saran Yudas, bukan karena Yesus tidak perduli terhadap mereka yang kekurangan. Lukas menuliskan, bahwa kehadiran Yesus sesungguhnya adalah bagi mereka yang tersisihkan baik itu secara social, ekonomi. Ia datang untuk mereka yang miskin, lapar, sakit dan terlantar. Namun Yesus melihat bukan pada apa yang diperbuat tapi apa yang ada di dalam hati manusia. Firman Tuhan kepada Samuel: “bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang didepan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Yang dapat kita pelajari dari Maria sesungguhnya adalah motivasi yang benar di hadapan Tuhan

2. MEMBERIKAN YANG TERBAIK. Maria memberi yang terbaik bagi Yesus dengan memberikan apa yang dimilikinya, yang paling berharga baginya, yang terdapat padanya. Dengan melayani sesama anggota keluarga kita berarti kita juga sedang melayani Tuhan. Jadi merayakan Tuhan di tengah keluarga bukan semata dengan pesta, penuangan minyak, tapi juga dengan melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan bagi sesama anggota keluarga kita. bukan dengan membelikan barang barang yang mahal, tapi terutama memberi dengan dasar kasih sayang. Pemberian terbaik tidak dilihat dari berapa banyak, berapa mahal yang dapat kita berikan, tapi seberapa besar hati kita kita berikan dalam pemberian kita. Karena barang paling mahalpun akan dapat kita beli bila kita punya uang, namun hati dan kasih yang tulus tidak akan pernah bisa terbeli oleh uang sebanyak apapun.

KKN

Markus 11:15- 19

Apa yang ada di benak rekan-rekan tentang KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Siapa sih yang tidak tahu arti KKN? Hampir 11 tahun silam istilah ini diperkenalkan kepada khalayak ramai. Bahkan istilah ini telah menjadi istilah yang paling sering di dengar di televisi dan juga di tulis dalam surat kabar. Menurut penelitian dan perbandingan yang dilakukan oleh suatu badan anti korupsi, Negara kita menjadi Negara terkorup ke-dua, dan bukan suatu yang mustahil bila suatu saat nanti Negara kita akan menempati urutan pertama dalam hal KKN.

KKN secara tidak kita sadari telah benar-benar merasuk dalam kehidupan kita, tidak hanya sebagai bangsa, bahkan sebagai individu yang beragama. Departemen Agama memperoleh peringkat ke dua setelah departemen kesehatan sebagai departeman yang terkorup di Indonesia. Bukankah hal tersebut memilukan? Sebagai bangsa yang dikatakan ‘takut akan Tuhan’, bangsa kita ternyata tidak takut melakukan apa yang dilarang oleh Tuhan. Jangan jangan KKN sungguh sudah merasuk ke dalam kehidupan keseharian kita loh? Jangan kira KKN hanya bisa dilakukan dalam bidang pemerintahan saja. Kita terkadang secara sadar maupun tidak sadar telah ikut menjadi oknum pelaku KKN. Berdasarkan KBBI, KKN adalah:

Korupsi : penyelewengan atau penyalahgunaan barang atau uang untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Suka memakai barang atau uang yang dipercayakan kepadanya untuk kepentingan pribadi.

Kolusi: kerja sama untuk maksud untuk maksud tak terpuji, persekongkolan

Nepotisme: perilaku yang memperlihatkan kesukaan yang berlebihan kepada kerabat dekat, kecenderungan mengutamakan kerabat sendiri, terutama untuk memegang jabatan, pangkat di perusahaan maupun di pemerintahan.

Jadi saat kita, misalnya : menyuap adik agar kenakalan yang kita lakukan tidak diketahui oleh orang tua kita, melakukan suap dan kolusi dengan guru supaya mendapatkan kunci jawaban dan lulus dengan nilai yang memuaskan, menggunakan uang atau barang yang dititipkan kepada kita tanpa ijin dari sang pemilik dan lain sebagainya. Kita sudah dapat dikategorikan sebagai pelaku KKN loh.

Ternyata KKN tidak hanya ada di Indonesia dan di dunia pada abad ke 20 ini loh, karena melalui injil markus kita diberi kesaksian Alkitab tentang praktek KKN pada masa Tuhan Yesus. Injil Markus 11: 15-19 menceritakan kepada kita apa yang para imam lakukan di bait Allah yang membuat Yesus marah besar.

Yesus marah bukan tanpa alasan yang jelas. Beberapa hal yang membuat Yesus marah adalah:

1. Ay 16 memberi catatan bahwa pelataran bait Allah digunakan untuk aktifitas jual beli. Coba kita bayangkan bila kita pergi ke pasar. Orang hilir mudik, mungkin ada yang berteriak-teriak, ada yang lalu lalang, dan lain sebagainya. Dengan suasana seperti itu, dapatkah seseorang berdoa ( beribadah ) dengan tenang? Tentu tidak kebisingan seperti itu tentu saja dapat mengganggu aktifitas peribadahan.

2. Ay 16 juga mencatat, bahwa di pelataran itu terdapat penukaran mata uang dan penjual merpati (merpati digunakan sebagai binatang persembahan bagi rakyat miskin). Memang tidak disebutkan binatang lain selain merpati, namun bila merpati sebagai kurban bakaran di jual disana, maka kemungkinan besar binatang lain yang diperdagangkan sebagai hewan bakaran juga akan hadir di sana yaitu kambing dan domba. Apa yang terjadi bila kambing dan domba ada di gereja kita. Tentu selain bising dari para penjual dan pembeli, suara kambing dan domba turut meramaikan suasana. selain itu mereka tentu mengotori pelataran bait Allah dengan segala kotoran dan makanan mereka. Menutut beberapa sumber, mereka juga menggelar dagangannya di antara pilar bait suci di pelataran dalam yang biasanya digunakan untuk pengajaran oleh para ahli taurat. Mengapa Yesus marah, karena mereka melakukan hal yang tidak pada tempatnya, dan tentu saja karena mereka menghambat bahkan menghalangi umat melakukan aktivitas beribadah di Bait Allah.

3. sebenarnya penukaran mata uang adalah layanan resmi di bait Allah. Karena perbendaharaan Bait Suci hanya menerima mata uang Yahudi, sedangkan tidak semua orang punya mata uang Yahudi karena pada saat itu mata uang Roma dan Yunani lebih umum digunakan di pasar luas. Dan layanan ini memang biasa dilakukan di pelataran bangsa-bangsa, sehingga tidak mengganggu kekudusan Bait Allah dan tentunya tidak akan menggangu aktivitas peribadahan. Lalu mengapa Yesus menjadi marah? Bukankah aktivitas perdagangan menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan? Bukan perdagangan dan penukaran uang yang ditentang Yesus, melainkan ‘permainan’ bisnis yang dilakukan oleh para pejabat bait Allah itu. Perdagangan hewan kurban yang dilakukan di Bait Allah merupakan hasil kolusi para imam dengan para pedagang hewan kurban. Pada masa itu hewan kurban dimonopoli oleh para imam dan pejabat Bait Allah, sehingga umat tidak dapat membeli hewan kurban selain di Bait Allah. Selain itu harga jual yang ditawakan kepada umat sangat memberatkan umat. Secara khusus bagi mereka yang miskin. Umat yang mengalami kesulitan ekonomi, yang hanya mampu membeli merpati sebagai hewan kurbannya untuk mengganti hewan kurban yang lebih mahal, semakin dipersulit. Padahal kurban bakaran merupakan hal yang sangat penting pada umat mada masa itu. Kurban digunakan sebagai penebus dosa dan lain sebagainya. Dan para imam mengambil keuntungan dari penjualan tersebut untuk keuntungan mereka sendiri. Oleh karena itu Yesus menyebut mereka sebagai penyamun, (ay. 17) atau dalam terjemahan aslinya lestes yang artinya pencuri.

Dengan melakukan hal tersebut, para pejabat Bait Allah dapat dikatakan menjadi orang orang yang merugikan masyarakat Yahudi, bahkan mengambil yang bukan haknya. Mereka merampok kepentingan masyarakat untuk berbakti kepada Allah. Untuk dapat beribadah umat harus mengeluarkan uang lebih banyak dari seharusnya.

Dan Yesus secara terang terangan mengutuk perbuatan mereka itu. Bukan hanya karena mereka menggunakan Bait Allah yang seharusnya menjadi tempat orang berbakti kepada Tuhan sebagai tempat utuk berdagang, namun terutama karena Yesus datang sebagai sosok yang berpihak kepada mereka yang miskin, mereka yang terbelenggu dan tertekan oleh tirani. Apa yang mereka lakukan di bait Allah adalah sesautu yang pada hakekatnya dapat merusak Bait Allah sebagai rumah doa, rumah tempat Allah berdiam. Doa disini tentu bukan hanya ibadah yang bersifat ritual, karena doa adalah bagian dari hidup, maka apa yang dilakukan oleh para imam dan pemuka agama pada masa itu, dapat merusak seluruh tatanan hidup manusia. Termasuk merusak diri mereka secara pribadi. Doa dan ibadah merupakan keseluruhan hidup manusia, bukan hanya yang kelihatan tapi terutama motivasi di balik suatu perbuatan.

Nah kini gimana caranya supaya kita juga tidak terjebak dengan perilaku yang ‘katanya’ sudah menjadi tradisi dan kebudayaan masyarakat dewasa ini. Kita sdapat melawan KKN dengan KKN juga loh! KKN macam apa yaa?

1. K pertama adalah Ketaatan kepada Tuhan. Tanpa ketaatan kepada Tuhan, manusia akan cenderung takluk terhadap godaan. Siapa sih yang ga suka dapat uang, walaupun uang itu adalah uang panas. Mengapa? Karena kata orang uang dapat membeli segala-galanya. Tanpa uang maka manusia tidak bisa hidup. Dengan meningkatkan ketaatan kita kepada Tuhan kita akan secara tidak langsung kita juga mendorong diri untuk mementingkan kepentingan dan kehendak Tuhan dari pada kehendak diri atau ego kita sebagai manusia. Kehendak Tuhan haruslah menjadi yang utama dalam hidup kita dna bukan keinginan diri apalagi yang dapat merugikan orang lain.

2. K yang kedua adalah Kekuatan dari Tuhan. Kita mungkin masih bisa taat, bila godaan belum terlalu besar. Tapi bagaimana bila godaan yang ada membuat kita lebih memilih jalan pintas melalui KKN, bagaimana bila godaan itu menyangkut kebutuhan dalam hidup, misalnya dengan menyogok guru supaya lulus, menggunakan uang untuk membiayai sanak saudara yang sedang kritis, dan lain sebagainya. Bila kita hanya mengandalkan kekuatan kita sebagai manusia, maka bukan sesautu yang mustahil kita terjebak dengan godaan KKN dan bahkan tenggelam di dalamnya. Dengan mengandalkan kekuatan Tuhan kita akan mampu menolak segala godaan yang datang dalam hidup keremajaan kita. Sama seperti Paulus yang berkata “segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku”

3. N yang terakhir adalah dengarkan Nurani. Nurani adalah suara hati, perasaan hati yang murni, alias belajar mendengarkan suara Tuhan dalam setiap langkah hidup kita sebagai manusia yang terbatas ini. Ketaatan kepada Tuhan dan meminta Kekuatan kepada Tuhan harus disertai dengan ketekunan dalam belajar mendenagr suara Tuhan yang mengingatkan kita. Ketika godaan itu datang menghampiri kita, kadang yang lebih berperan adalah pikiran atau emosi dan disanalah suara hati atau nurani kita diperlukan. Namun karena godaan terlalu besar maka nurani menjadi tertutup suaranya, nyaris….tak terdengar, bahkan tidak terdengar sama sekali. Mari kita belajar juga mendengarkan suara Tuhan dalam hidup kita agar himat Tuhan selalu membantu kita dalam menghadapi segala godaan dan cobaan.

Janganlah KKN menjadi kebudayaan dan tradisi dalam hidup keremajaan kita. Justru kita sebagai generasi muda yang takut akan Tuhan harus menjadi contoh dan pelopor dalam memberantas korupsi di negeri ini. Karena Toh kita juga yang akan menjadi pemimpin bangsa ini kelak. Kiranya Tuhan membantu kita. Amin

Kekuasaan: Menguasai atau Mengabdi?

Markus 10: 35-45

Menurut rekan-rekan, kira-kira apa yang menajdi motivasi beratus-ratus orang ingin duduk di kursi pemerintahan, baik itu dari tingkat, RT, RW, Camat, Lurah, sampai DPRD, DPR, MPR, dan kalo bisa mengendarai RI 1? Banyak hal yang menjadi alasan mereka untuk mencapai kursi pemerintahan. Ada yang memiliki motivasi membangun negeri, ada yang ingin mengentaskan kemiskinan dan kebodohan, ada yang ingin rakyat sejahtera lahir batin, ada juga yang ingin menyeragamkan masyarakat di bawah suatu ideology. Namun yang tidak pernah diungkapkan adalah ingin punya kuasa untuk dapat mengontrol orang lain, ingin punya kuasa dan segala fasilitas yang didapat seiring dengan kuasa yang dimiliki, ingin dapat puja-puji dan juga ingin dapat penghormatan.

Bila kini saya bertanya, apa motivasi kita dalam mengikut Yesus? Apa jawaban kita? Apakah ingin dapat kuasa, dihormati orang dan bahkan dapat kursi yang agung: duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus yang adalah Raja Segala Raja? Bukanlah hal yang mengherankan krtika kita memberi jawaban tersebut. Mengapa? Karena rupanya murid-murid Yesus juga pernah memiliki pemahaman yang sama dengan kita tentang kekuasaan.

Yohanes dan Yakobus memiliki motivasi untuk memperoleh kekuasaan dan kekuatan (ay. 37). Bahkan Markus menuliskan bahwa mereka tidak segan-segan meminta kepada Yesus untuk menempatkan mereka di samping Yesus kelak di kemuliaanNya. Bila kita refleksikan dalam kehidupan pemerintahan kita, banyak orang yang tidak segan-segan untuk minta “reward” atas “jasa” mereka. Pak, kan saya udah bantuin bapak, jangan lupa ya bonusnya!!

Siapa sih yang ga ingin berkuasa? Saya rasa semua manusia ingin berkuasa, karena ternyata memang berkuasa adalah salah satu kebutuhan manusia. Seperti murid-murid Yesus mereka sungguh ingin berkuasa, hingga tidak segan-segan meminta kepada Yesus untuk menempatkan diri mereka di sebelah kiri dan kanan. Pertanyaannya kini adalah apa sih istimewanya kuasa yang dimiliki Yesus, sampai kedua muridNya ini ngebet?

  1. Yesus memiliki banyak kuasa yang luar biasa yang tidak dimiliki olem manusia biasa:

Kuasa untuk menyembuhkan, untuk membangkitkan orang mati, mengusir setan, mengubah air menjadi anggur dan melakukan begitu banyak mujizat yang luar biasa.

  1. Yesus memiliki banyak pengikut yang mengagumi dan bahkan memujaNya, walaupun disisi lain banyak juga yang membenci Yesus, tapi mereka membenci bukan karena Yesus melakukan kesalahan, namun karena mereka iri dengan apa yang telah Yesus lakukan.

Jadi betapa mereka bangga bila suatu saat nanti mereka memerintah bersama Yesus dalam kemuliaanNya, duduk di samping kiri dan kananNya bak penasihat Raja. Apalagi bila mereka benar-benar “kecipratan”, bukan hanya numpang popularitas (kaya artis dan politisi masa kini) tapi punya popularitas pribadi yang dapat dijadikan “modal” (ay. 38-39). Tapi buat Yesus apa yang mereka minta merupakan sesuatu yang salah dimata Allah. Oleh karena itu Yesus berkata: “ kamu tidak tahu apa yang kamu minta.” Yohanes dan Yakobus memiliki motivasi yang salah dalam mengikut Yesus. Motivasinya adalah reward/ penghargaan.

Setiap orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus memang sudah selayaknya menderita, dicela, disesah, dihina, dan bahkan mati untuk mempertahankan iman percaya mereka. Tapi bukan bila kita telah mengalami semuannya itu maka Tuhan akan memberikan kita penghargaan untuk dapat duduk di sebelak kanan atau kiriNya. Karena cawan dan baptisan yang kita terima sama dengan salib. Salib bukanlah suatu paksaan, melainkan pilihan. Salib itu bukan tanggung jawab dan tugas yang memang harus kita lakukan, tapi sebuah pemberian diri yang utuh bagi Allah. Jadi menderita bagi Allah tidak mendatangkan uapah atau hadiah bagi kita kelak. Namun itu semua juga berarti kita buang buang waktu untuk mengikut Tuhan. Bukan berarti juga kita percuma saja menderita dan menyangkal diri bagi Yesus karena. Memang, semuanya akan menjadi percuma ketika kita hanya memiliki motivasi untuk memperoleh kekuasaan, untuk dapat memerintah bersama Yesus. Perkara mengikut Tuhan, adalah perkara memberi respon positif terhadap apa yang telah Dia lakukan untuk kita, yaitu keselamatan kekal.

Oleh karena itu kursi yang disedikan bukan untuk orang-orang yang gila kuasa, namun bagi orang orang yang dengan rendah hati memberikan dirinya dalam sebuah totalitas hidup. Tidak ada seorangpun dapat menentukan dirinya sebagai orang yang berhak atas kursi yang telah tersedia itu. Tidak seorangpun yang dengan usahanya sendiri menjadikan dirinya dapat duduk di kursi kebesaran itu. Hanya Allahlah yang dapat menetukan bagi siapakah kursi itu dianugerahkan, yaitu bagi orang-orang yang mau merendahkan diri selayaknya seorang hamba.

Ay 41. mendengar apa yang mereka perbincangkan kesepuluh murid lainnya menjadi marah kepada Yahanes dan Yakobus. Tidak disebutkan mengapa mereka menjadi marah. Bisa jadi mereka marah karena mereka merasa bahwa apa yang diminta oleh Yohanes dan Yakobus adalah sesuatu yang keterlaluan. Atau mereka merasa merekalah yang pantas mendapat tempat ke dua di sisi Yesus.

Kini coba mari kita selidiki bersama, apa sih sebenarnya fungsi dai kuasa yang kerap kali kita temukan dalam hidup sehari-hari:

Ay. 42. banyak orang menggunakan kuasa untuk mengatur orang lain, untuk menindas orang lain bahkan untuk menghilangkan hidup orang lain. Sikut menyikut untuk menjaga gengsi dan mempertahankan kekuasaan telah menjadi budaya dan tradisi agar mereka tetap eksis. Tidak mengherankan bila kita akhirnya menemukan begitu banyak orang yang melakukan segala cara untuk mempertahankan apa yang dapat ia nikmati sebagai seorang penguasa. Segala hal menjadi halal demi kekuasaan.

Begitu juga dengan kehidupan kita sebagai remaja. Mungkin kita tidak membunuh orang demi kekuasaan, namun sering kali secara tidak sadarkita telah menindas orang lain dengan kuasa yang kita miliki, kita juga sering kali menggunakan kusa yang kita miliki untuk mengatur orang lain dengan semena-mena. Misalnya ketika kita duduk di angkot atau di BUS, sering kali kita menggunakan kuasa (hak) kita untuk mendapat tempat duduk yang nyaman dan PW dengan mengorbankan kebutuhan orang lain. Begitu juga ketika kita berkendara, kita gunakan kuasa (SIM) untuk kepentingan diri kita sendiri. Tidak mengherankan bila mudah sekali menemukan orang-orang yang egois dan individual di jalan raya. Budaya main serobot, main selip, dan main kebut malah menjadi yang utama dibandingkan mengutamakan keselamatan orang lain.

Yesus membuktikan diriNya datang sebagai pelayan, bukan hanya dari perkataan tapi dari apa yang Ia lakukan bagi dunia. Bila kita renungkan dengan sungguh-sungguh, sebesar apa kuasa Yesus, mungkin kita akan mengerti apa yang ia maksudkan dengan kuasa. Ia tidak datang untuk show off padahal Ia bisa lakukan itu, bahkan Ia berhak karena Ia adalah Tuhan. Namun yang Ia lakukan adalah memberikan dirinya untuk dapat melayani sepenuhnya bagi kepentingan manusia dan bukan bagi kepentingan diriNya sendiri. Ia melakukan apa yang sulit manusia lakukan. Kuasa dalam persepsi Yesus adalah kuasa yang mengabdikan diri, kuasa yang memberi diri, kuasa yang merendahkan diri, bahkan kuasa yang menuntut pengosongan diri.

Setiap kita dianugrahkan kuasa (Mark 16:17-18) untuk menjadi anak-anak Allah, kita juga punya kuasa untuk mengusir setan-setan, untuk berbicara dalam bahasa yang baru, memegang ular namun tidak celaka, menyembuhkan orang sakit, dan terutama kita diberi kuasa untuk menjadi ANAK-ANAK ALLAH, yaitu untuk percaya dan taat kepada ALLAH (Yoh 1:12). Masalah timbul ketika kita menggunakan kuasa yang kita miliki bukan untuk melayani, bukan untuk menjadi hamba, namun untuk menguasai orang lain, baik dengan cara menghakimi orang lain, mendoktrinasi dan lain sebagainya.

Trus gimana caranya supaya kita dapat menggunakan kusa yang kita miliki ini dengan sebaik dan sebijaksana mungkin?

Hal pertama yang perlu kita sadari adalah, bahwa menjadi pelayan disini berati menjadi hamba. Pelayan bukan berarti pembantu. Kita memiliki konsep yang berbeda tentang hamba dengan masyarakat Yahudi. Bagi mereka hamba adalah:

budak yang tidak memiliki kebebasan menentukan apapun bagi dirinya sendiri. Seorang hamba bukanlah orang yang bebas dan merdeka. Berbeda dengan pembantu atau hamba dalam persepsi kita. Hamba atau pembantu yang kita miliki di rumah kita untuk membantu kita masih memiliki hak dan kebebasan untuk menentukan apa yang baik bagi dirinya sendiri. Sehingga ketika suatu kali ia ingin berhenti dari pekerjaannya, maka hal tersebut masih dapat dilakukan. Budak atau hamba dalam dunia Yahudi sama sekali tidak punya hak apapun untuk menentukan apapun bagi dirinya.

Oleh karena itu hamba juga identik dengan penderitaan, dan kesengsaraan, yang mencakup pemberian diri secara utuh dengan ketaatan penuh kepada tuannya.

Jadi yang perlu kita lakukan adalah:

  1. evaluasi diri:

apakah kuasa yang kita punya sudah kita gunakan dengan sebaik-baiknya? Dengan memberikan diri kita dalam ketaaantan penuh kepada Tuhan dan kasih kepada sesame manusia. Evaluasi diri adalah hal yang penting untuk selalu kita lakukan, karena manusia memiliki kecenderungan untuk mementingkan dirinya di atas kepentingan orang lain. Dengan mengevaluasi diri kita, berarti kita juga mau belajar untuk berubah dan menjadikan diri kita lebih baik dari sebelumnya, tentunya dalam hal ini menjadikan diri kita yang menggunakan kuasa untuk mengabdi.

  1. Kendalikan diri

Dengan belajar mengevaluasi diri, maka kita juga secara langsung belajar untuk mengendalikan diri kita. Godaan untuk menjadi atau berlaku sebagai seorang penguasa pasti ada dalam diri setiap manusia. Berkuasa telah menjadi kebutuhan mendasar dari seorang manusia, wajar dan alamiah. Namun pengendalian diri menjadi yang utama, karena ketika kita sudah tidak mampu mengendalikan diri kita atas kuasa yang ada pada kita, maka kita akan dikuasai oleh kuasa itu sendiri. Yang berhak atas diri kita adalah diri kita sendiri dan bukan kekuatan lain seperti kuasa. Bila kuasa telah menjadi yang utama dalam hidup, jangan jangan kita telah diperhamba oleh kekuatan yang bernama kuasa itu. Jadi kendalikanlah diri kita.

  1. sandarkan diri

kita tidak akan mungkin dapat mengendalikan diri kita dengan baik hanya dengan mengandalakan kekuatan diri kita sendiri sebagai manusia. Kita harus menyandarkan diri kita kepada kuasa yang lebih besar dibandingkan kita. Kita harus belajar bagaimana mengendalikan dan mempergunakan kuasa yang kita miliki hanya dengan belajar kepada yang empunya Kuasa itu sendiri yaitu Tuhan. Tanpa menyandarkan diri kita kepada Tuhan, kita kan menjadi manusia yang kehilangan arah dan tujuan dalam menggunakan kuasa yang kita miliki dan bahkan lebih buruk dari itu, kita akan menjadi orang-orang yang salah mempergunakan kuasa, yang tidak hanya dapat menghancurkan orang lain tapi terutama dapat menghancurkan diri kita sendiri.

Jangan Melupakan Tuhan Dalam Perencanaan

Yakobus 4:13-17

Manusia mana yang tidak pernah memiliki cita-cita atau harapan untuk masa depan? Setiap manusia pasti memiliki angan-angan. Baik itu anak kecil hingga oma dan opa, semua memiliki harapan untuk kehidupan masa depan. Anak kecil punya angan-angan ingin menjadi dokter, pengusaha, pengacara. Menginjak masa remaja, ditanya apa cita-citanya? Punya pacar, bisa menuntut ilmu di negeri orang atau paling tidak di universitas terkemuka di Indonesia. Setelah mahasiswa ditanya mau apa lagi? Mau cepat lulus, biar bisa cari kerja, bisa punya uang sendiri, bisa beli barang yang diinginkan tanpa harus merayu orang tua dulu. Ketika sudah bekerja jawaban yang diberikan biasanya hendak kawin…eh nikah. Sudah nikah pengen punya anak dong, mau satu, dua, atau sebelas biar bisa buat kesebelasan. Sudah punya anak, ingin supaya anak cepat besar, karena ternyata ngurus anak tidak semudah ngurus Brownie. Anak sudah besar ingin anak cepat menikah, biar ga dadi bujang lapuk atau perawan tua. Anak-anak sudah menikah semua, ingin cucu. Sudah punya cucu…ingin sehat….

Kalo udah sehat ingin kalo mati ngaak nyusahin orang, nggak pengen pake sakit apalagi harus masuk rumah sakit.

Manusia selalu punya mimpi, punya rencana untuk masa depan. Ya sesuatu yang sangat manusiawi. Kenapa? Karena kalo bukan kita yang merancangkan masa depan kita siapa lagi? Tuhan? Wah keenakan banget kalo gitu. Lagi pula hampir tidak ada tuh manusia yang membiarkan Tuhan merancangkan masa depannya secara total. “Tuhan saya ingin Tuhan ya yang merancang hari depan saya, sekolah dimana, dapet istri atau suami yang Tuhan kasih aja deh terserah, mau jelek, mau ganteng pokoknya terserah Tuhan aja deh” jadi merencanakan segala sesuatu untuk masa depan kita masing-masing itu tidak salah.

Truss yang salah apa? Yang salah adalah ketika kita menganggap segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan yang kita rancangkan. Ketika kita juga melupakan Tuhan dalam segala rencana hidup kita. Yesaya 55:8-9 mengingatkan kita bahwa rencana Tuhan bukan rencana kita, setinggi langit dari bumi, demikian tingginya jalan Tuhan dari jalan manusia. Ada kalanya kita berencana, sematang, kadang dengan susah payah, dengan meras keringat, apapun bila Tuhan tidak menghendaki itu terjadi maka tidak akan terjadi. Kenapa? Karena sesungguhnya Yak 4:14 kita tidak akan pernah tau masa depan. Hanya Tuhan yang tau masa depan kita. Apa yang akan terjadi dalam hidup kita. Oleh karena itu banyak orang mengatakan kemarin adalah masa lalu, hari ini adalah anugerah, sedangkan esok adalah misteri. Seperti lagu Ungu: andai ku tahu kapan tiba ajalku, maka aku akan bertobat kepadaMu. Dan kita sadar bahwa kita tidak akan pernah tau kapan tiba ajal kita makanya kita ga pernah bertobat!

14. hidup kita ini seperti uap, yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Maksudnya adalah bahwa hidup kita ini singkat. Mungkin ada yang Tuhan kasih bonus sampai 80 tahun. Ada juga yang hanya 20 tahun, ada yang hanya 15 tahun. Kita tidak akan pernah tau kapan kita berhenti bernafas. Waduh ka, kalo 80 tahun mah lama atuh. Tapi banyak dari mereka yang berkata “aduh ga kerasa ya udah 80 tahun, makin berkurang kesempatan untuk berbuat melayani” jangan sampai di usia 80 tahun kita menyesal, karena sudah tidak ada kesempatan lagi untuk melakukan hal yang baik. Karena sesungguhnya saat kita berulang tahun, umur kita tidak bertambah teman-teman, tapi berkurang. Setiap tahun kita mengalami pengurangan usia, dan itu artinya pengurangan kesempatan hidup.

Banyak anak muda, karena masih muda, hidup semaunya. “kapan lagi kita bisa seneng-seneng kaya gini? Selagi masih muda ya pergunakan waktu untuk melakukan apa yang kita inginkan dong, nanti nyesel loh!!” pernyataan itu tidak salah. Yang salah adalah persepsi kita tentang apa yang kita inginkan. Bila yang kita inginkan adalah melakukan apa yang baik bagi diri kita dan bagi sesame, kenapa tidak. Tapi bila apa yang kita lakukan hanya untuk kesenangan sesaat namun membawa kesengsaraan yang berkepanjangan untuk apa?

Jadi bagaimana seharusnya kita menggunakan kesempatan hidup?

1. Hidup harus kita gunakan dengan sebaik mungkin. Hidup cuma sekali dan waktu yang telah terbuang tidak akan kembali. Kita hidup hari ini besok, lusa, 20 / 40 tahun lagi bukan karena kita ingin hidup hingga batas yang kita tentukan. Tapi karena Tuhan masih mengizinkan kita untuk tetap hidup. Syukuri setiap hari yang Tuhan berikan

2. jalani hidup dengan ungkapan syukur. Jangan cuma bisa mengeluh, ulangan lagi, ujian lagi, PR lagi, diomelin lagi. Bersyukurlah bila kita masih ada yang ngomelin. kalo dibiarin aja, sampai masuk jurang sekalipun menandakan kita sudah tidak berarti lagi buat orang-orang di sekitar kita.

3. Ay 15. dengan mengatakan jika Tuhan menghendaki kami akan berbuat ini dan itu. Mengikut sertakan Tuhan dalam setiap perencanaan hidup kita. Dari masalah sekolah, masalah pacar, memilih teman hidup, pekerjaan. Kenapa kita harus mengikut sertakan Tuhan dalam segenap usaha dan rencana kita? Karena Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Pertanyaan terakhir adalah apakah kita mau mendapatkan segala sesuatu yang terbaik dalam hidup kita? Apakah kita semua adalah orang-orang yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah sehingga berhak mendapatkan yang terbaik dari Tuhan, kalo belum, marilah kita bersama belajar untuk mengandalkan Tuhan dalam segenap hidup kita…Amin